
"Iihhhh...kok ngga diangkat sih??" Tiwi menghentakan kakinya dengan kesal.
"Barangkali dia masih tidur kali, Wi...inikan liburnya dia!!" kata Shinta menenangkan hati teman sekerjanya itu.
Mereka memang berencana mau liburan ke pantai hari ini. Tapi Hans yang di telepon malah ngga diangkat.
Sementara Hans sibuk mempersiapkan diri untuk berlibur kerumahnya yang sekarang ditempati oleh keluarga Sania.
Dengan bersiul-siul riang dia keluar rumah dan menguncinya.
Dia memang hanya ingin menggunakan sepeda motor saja hari ini.
"Mumpung hari masih pagi sebaiknya aku bergegas sebelum jalanan macet menjelang akhir pekan begini!!" gumam Hans lalu melajukan motornya.
Sekitar setengah jam Hans pergi, rombongan temannya datang dengan mobil.
"Sebentar!!" kata Arman.
"Lihat, lampu terasnya menyala berarti orangnya ngga ada di rumah!!" kata Arman yang sudah hapal dengan kebiasaan sahabatnya itu.
"Ngga ada di rumah? masa iya Hans pulang ke tempat orang tuanya di Palembang?" tanya Tiwi gusar.
"Bah, yang betul aja Wi..." kata Shinta.
"Kamu pikir perjalanan Balikpapan Palembang itu dekat?? baru dia hanya dapat libur dua hari, habis buang waktu di jalan dong??" kata Shinta lagi.
"Lalu Hans pergi kemana dong?? ngga seru ah, ngga ada Hans!!" ucapnya cemberut.
"Coba aku hubungi ponselnya!!" kata Arman.
Berkali-kali Arman menelpon tetapi tidak diangkat oleh Hans.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam akhirnya Hans sampai di depan halaman rumah yang segera di sambut oleh Juned yang juga baru pulang sehabis menjemput Miko dan Miki dari sekolahnya.
"Eh, ada om Hans...mari om Juned bantu bawakan tasnya!!" kata Juned.
Hans memarkirkan motornya di halaman, dan menyusul Juned.
"Assalamualaikum???"
"Waalaikum Salam."
Hati Hans bergetar mendengar suara merdu itu. Lalu keluarlah sosok mungil yang selama ini dia rindukan.
"Juned sama Miko dan Miki sudah pulang?? eh...ada Hans juga, ayo...ayo masuk!!" ujarnya.
"Kok Hans ngga kasih kabar mau datang? jadi kamar depan bisa kita bersihkan!!" ucap Sania.
__ADS_1
Hans jadi terpaku sesaat melihat senyum yang hampir sebulan tak pernah dilihatnya lagi.
"Ngga apa-apa bu, nanti saya bisa bersihkan sendiri!!" jawab Hans.
"Ini tadi saya bawakan oleh-oleh dari sana...makanan kesukaan ibu juga ada!!" kata Hans seraya menyerahkan bungkusan yang dibawanya kepada Juned.
" Miko, Miki ganti baju sana dulu...bunda mau buatkan minuman hangat buat om Hans."
"Baik bunda..." jawab si kembar kompak.
"Juned, ajak om Hansnya istirahat dulu!!" kata Sania lagi.
"Siap bunda!!" kata Juned.
"Hans dapat cuti berapa hari?" tanya Sania saat mereka semua sedang berkumpul di ruang tengah sambil memakan cemilan yang dibawa oleh Hans tadi.
"Dua hari aja bu, dan bambang yang menggantikan selama 2 hari ini!!" kata Hans.
Hans merasa sangat bahagia bisa berkumpul bersama dengan keluarga Sania di sini.
"Om, nanti sore kita pergi kealun-alun yuk!! ajak Juned.
"Oke!! sudah lama juga om ngga pernah main ke alun-alun lagi."
*****
Dok..dok...dokkkk
"Dasar kamu ya...kerjamu cuma menggoda suami orang saja.
Tini yang kebetulan hendak menyalakan lampu di rumah Sania menjadi heran pada wanita di depannya.
"Maaf ibu ini siapa ya? kok gedor-gedor di pintu rumah orang?" tanya Tini.
"Ibu...ibu...emang gue ibu loe!!" jawabnya sarkas.
Tini yang awalnya bertanya baik-baik jadi emosi juga.
"Ya kamu memang bukan ibu saya, amit-amit juga saya punya ibu yang tak ada sopan santun dan tata krama seperti situ..." balas Tini yang sudah terlanjur jengkel tak mau kalah.
"Kamu..."
Wanita itu menunjuk Tini dengan geram.
"Iya ada apa dengan saya, tanganmu biasa aja ngga usah main tunjuk begitu!!" balas Tini lagi.
"Kamu bilang ya sama yang punya rumah ini, jangan suka mengganggu suami orang!!" katanya dengan penuh amarah.
__ADS_1
"Mengganggu suami orang? siapa suamimu memangnya?? Kata Tini jadi penasaran.
"Niko....." jawabnya.
Tini memandang wanita yang tingginya kurang lebih dengan Sania yang berdiri di depannya.
"Maksudmu Niko anaknya pak Jonathankah?" tanya Tini lagi.
"Iya..."
Mendadak Tini jadi geram mendengar penjelasan kalau wanita di depannya itu adalah istri Niko.
"Oooo jadi kamu perempuannya yang menggagalkan pertunangan sahabat saya itu?? sudah dulu kamu yang menggagalkan, sekarang kamu lagi yang berteriak-teriak macam orang kesetanan di muka rumah orang dan bilang bahwa teman saya menggoda suamimu??" ckckck...
Merah padam wajah wanita yang berdiri di hadapan Tini. Ya, dia memang Maya yang sudah tidak bisa lagi menahan emosinya karena Niko selalu mengabaikannya demi wanita yang bernama Sania.
"Oooo jadi kamu teman pelakor itu ya!! bilang sama temanmu jauhi suami saya!!" Maya berkata berapi-api.
"Kamu kalau bicara itu nyadar ngga sih?? sekarang saya tanya, siapa yang merebut siapa??? dia sudah mau menikah tiba-tiba kamu merebutnya, jadi yang sebenarnya pelakor itu siapa? kamu atau dia?"
"Kalau kamu tak mau suamimu direbut orang, ya jaga baik-baik dan intropeksi diri sendiri dulu mengapa suamimu sampai berpaling dari kamu."
"Tapi kalau saya lihat di sini, kamulah yang merebut Niko dari Sania, bukan sebaliknya...lagian sekarang dia sudah menikah dan sudah punya anak, jadi untuk apa dia mau merebut Niko darimu??"
"Dan kamu hati-hati, jangan bermain-main dengan anggota keluarga mereka kalau tidak mau badanmu yang ah...maaf saja...yang kurus ini dijadikan pergedel atau dendeng oleh anak-anaknya."
"Dan tampaknya saya harus mengingatkan kamu, rumah tingkat dua yang kamu tinggali sekarang adalah rumah Sania bersama almarhum suaminya, ngga usah cari penyakit jika hanya mau mencari sensasi menyusahkan diri sendiri, jika kamu terus menerus begini maka kamu bisa terusir dari rumah itu."
"Niko dan pak Jonathan??? jangan tanya lagi, mereka pasti akan membela Sania apalagi si kembar anak Sania itu adalah cucu pak Jonathan."
"Kamu???" kata Maya dengan geram.
"Kamu tidak usah ikut campur sama masalah saya, urus saja urusanmu sendiri!!"
"Tentu saya harus ikut campur, karena Sania itu sahabat saya..dan saya tak akan membiarkan siapapun menyakitinya termasuk kamu!!" kata Tini penuh penekanan.
"Sekarang kamu pulanglah dan saya pastikan Niko dan pak Jonathan akan tau kamu habis dari sini dan memaki-maki Sania." ancam Tini.
"Coba saja kalau kamu berani, aku akan datang mencakar-cakar mulut lancangmu itu!!" kata Maya sambil bergegas pergi!!"
"Aku takut sekali mendengarnya!!" kata Tini tertawa mengejek Maya.
"Kurang ajar wanita tadi itu, berani-beraninya dia mengejekku seperti itu!!" kata Maya sambil melangkah pergi dengan hati yang geram.
*
*
__ADS_1
***Bersambung...
Maya kena mental kayaknya di skak sama Tini๐๐