
"Kak Nuri...sehabis pulang terapi, kita jalan-jalan keliling kota sebentar ya..."
"Kamu ngga capek kah dek?"
"Aku bosan di rumah terus kak...!"
"Ya sudah kita jalan-jalan dulu terus kita mampir makan ya..."
"Kupandangi dia...mata coklatnya berbinar-binar dan senyum selalu merekah di bibirnya."
Perjalanan dari rumah kekota lumayan jauh...butuh waktu sejam baru tiba di tempat tujuan.
Kulihat habis tertawa dan bercanda, dia tertidur...
Wajah bayinya sangat imut seolah-olah tak berdosa.
Baru dua hari aku bersama dengannya, tapi dia sudah mampu membuatku jatuh cinta dengannya pada saat pertama kali aku melihatnya.
"Mas Sofwan....maafkan aku ya sudah berani jatuh cinta padamu."
"Sebisa mungkin aku akan mendampingimu sampai kamu sembuh."
"Sedikit demi sedikit akan kuhilangkan nama wanita itu di hatimu, agar kamu berhenti mengingatnya dan menyebut namanya."
Mobil Nuri sudah memasuki sebuah rumah sakit ternama di kota ini. Di sini waktu itu Sofwan sempat dirawat dan di karantina.
"Mas...mas...bangun...kita sudah sampai..."
Baby facenya tampak semakin imut saat bangun tidur.
Kami semua turun dari mobil. Kugandeng tangannya masuk kedalam.
"Suster...saya sudah buat janji dengan dokter Alvin."
"Oh silakan masuk bu...dengan pasien atas nama Sofwan Prayoga kan? Dokter sudah menunggu di dalam."
"Tapi maaf...hanya bisa satu orang yang mendampingi masuk ke dalam."
"Oh kalau begitu istrinya saja..." Kak Anya mendorong bahuku pelan.
"Mbak..." Aku ingin protes!!
"Sudah masuk saja...temani Sofwan ke dalam ya..."
Aku tak punya pilihan lain, selain mengikuti saran kak Anya. Tapi jauh di dalam hatiku aku sangat bahagia. Apalagi mas Sofwan sama sekali tak memprotesnya.
Kami berdua duduk berhadapan dengan seorang dokter berumur hampir setengah abad.
"Mbak ini istrinya mas Sofwan?"
"Iya dokter..." Kataku.
"Silakan mas Sofwan berbaring dulu di sana ya..."
Setelah melewati serangkaian pemeriksaan. "Alhamdulillah...suami anda sudah mengalami banyak kemajuan."
"Asalkan jangan bebankan banyak pikiran yang terlalu berat padanya ya...sebab jika dia berpikir keras lagi dalam fase penyembuhan ini, salah-salah dia akan stres dan mengalami depresi kembali."
__ADS_1
"Akan saya ingat dan perhatikan saran dari dokter."
Kami keluar...mas Sofwan bersikap tenang dan manis.
"Akhirnya...bagaimana kata dokter tadi dek Anggita?"
"Sejauh ini sudah sangat baik perkembangannya, mbak..."
"Intinya jangan menekannya dengan suatu masalah yang berat, sebisa mungkin hindari untuk mengungkit masa lalunya."
"Kak...aku mau makan bakso di situ..."
Kami mengikuti semua keinginannya. Berusaha menyenangkan hatinya.
"Dek Anggita sudah punya pacar ya...tak terduga kak Nuri menanyakan itu kepadaku."
"Eh belum kak...sehabis lulus kuliah keperawatan, saya langsung bekerja...jadi ngga sempat memikirkan soal pacar."
"Oh...kuliahnya dulu di mana, dek?"
"Di yogya kak...sebenarnya ayah tak setuju saya kuliah mengambil jurusan keperawatan."
"Ayah ingin saya mengambil S1 di luar negeri supaya bisa meneruskan kepemimpinan perusahaan."
"Tapi saya serahkan semua pada adik laki-laki saya..."
"Saya memilih untuk menjadi seorang perawat, sesuai cita-cita dan keinginan almarhumah ibu semasa beliau masih hidup."
"Dek Anggita suka ya sama Sofwan..."
"Kalau kamu suka pada adik kami, alangkah senangnya hati kami."
"Tapi mas Sofwan tidak suka pada saya kak, dia hanya menganggap saya sebagai susternya."
"Lama-lama jika kamu sabar menghadapinya...hatinya pasti akan luluh juga nantinya."
Aku hanya tersipu malu mendengar perkataan kak Nuri. Aku senang mereka mendukungku untuk mendekati mas Sofwan.
"Mbak...kalau boleh tau berapa usia mas Sofwan sekarang?"
"Coba kamu tebak...berapa usianya,,,"
"Sekitar 25 atau 27 tahunan gitulah..."
"Kamu yakin?"
"Yakin sih...secara wajahnya mas Sofwan innocent banget...baby face gitu..."
"Kalau Anggita usianya berapa?"
"Bulan Juli kemarin sudah 26 tahun mbak."
"Usia Sofwan waktu menikah pertama kali itu belum genap 24 tahun, sedangkan
istrinya sudah 27 tahun."
"Jadi usia Sofwan sekarang sudah 33 tahun, dek!"
__ADS_1
"Tapi kenapa wajahnya tidak nampak seperti berusia 30 tahunan ya mbak?"
"Ya mungkin dia dikaruniai wajah awet muda kali..."
"Mbak, ada yang mau saya tanyakan..bolehkah?"
"Kenapa mas Sofwan bisa berpisah dengan istrinya?"
"Saya ngga tega, setiap saat dia menyebut nama Sania yang akan datang menjenguk dan menjemputnya disini."
"Sedari awal pernikahan mereka, kami kakak-kakaknya tidak pernah menyetujuinya."
"Karena kami tau wanita macam apa Sania itu."
"Akhirnya setelah Sofwan begini...dia pergi meninggalkan suaminya, bersama dengan laki-laki yang lain."
Hebat sekali fitnahan dari Nuri. Memutar balikan kenyataan yang sebenarnya, sehingga membuat Anggita percaya dengan semua ucapan Nuri tentang Sania.
Memutar balikan fakta, bahwa Sanialah yang pergi meninggalkan Sofwan. Padahal di sini, Sania lah yang menjadi korbannya.
Akibat keegoisan, memandang orang lain hanya berdasarkan harta dan jabatan sehingga membuat matanya seolah buta dengan kekuatan cinta Sofwan dan Sania.
Mereka tidak menyadari, mereka juga turut ambil andil atas keadaan yang dialami Sofwan sekarang. Seandainya mereka tidak terlalu ikut campur, tidak selalu menghina dan merendahkan Sania, sehingga membuat Sofwan memutuskan tali silaturahmi dengan keluarganya.
Seandainya dari awal mereka bersikap baik, tentu Sofwan tidak akan terus kepikiran dan membuatnya depresi sehingga mengganggu keadaan mentalnya.
Belum lagi tekanan ekonomi yang membuatnya harus berpikir dan bekerja extra keras demi menghidupi kebutuhan keluarganya.
Itulah sifat buruknya manusia. Tidak mau disalahkan, melempar kesalahan kepada orang lain di saat dirinya sudah terpojok dengan kesalahan yang telah di perbuatnya.
Itulah yang di perbuat Nuri sekarang. Tak mau mengakui kesalahan yang telah di perbuatnya kepada adik dan adik iparnya, malah melemparkan kesalahan bahkan tega memfitnah demi menutupi kesalahannya sendiri.
Celakanya Anggita percaya begitu saja atas semua ucapan Nuri. Tanpa mencari tau kebenarannya malah ikut-ikutan mengutuk perbuatan Sania.
Malah sekarang dia jatuh cinta kepada Sofwan dan bertekad membuat Sofwan lupa pada masa lalu dan keluarganya.
Sementara Sofwan di mejanya asyik makan dan bercerita sendiri. "Kamu dan anak-anak ngga suka makan pedaskan? Ya sudah mas makan dulu ya...kalian tunggu sebentar."
"Kamu liat Sofwan, dek Anggita...masih saja dia berhalusinasi bahwa istri dan anak-anaknya duduk makan bersamanya.
"Apa kamu tega membiarkannya terus menerus hidup seperti itu?"
Anggita bangkit berdiri dan duduk di depan Sofwan.
"Jangan duduk di situ suster...nanti habis dari toilet istriku duduk di mana?"
"Mas...aku memegang tangannya...istri dan anak-anakmu pamit pulang duluan tadi."
"Iyakah...kok mereka ngga pamit padaku ya? Ngga biasa-biasanya Sania begitu...awas nanti di rumah tak jewer telinganya..."
"Pedih hatiku melihatnya seperti ini...mungkin membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membantu memulihkan kesadarannya."
Membantunya bangkit dan mau menerima kenyataan bahwa dia tak lagi bersama dengan keluarganya.
***Bersambung....
Jangan lupa like, komen dan jika berkenan vote dan favoritenya ya...Terima kasih🙏🙏🙏***
__ADS_1