
"Jika pak Sofwan menelpon lagi katakan saya datang kemari mencarinya, katakan saya tengah mengandung anaknya!!"
Pembantu tua itu hanya melongo mendengar penjelasan Vivi tadi.
"Kok seperti kucing saja ya? ninggalin anak kesana kemari?" bibi itu hanya bisa menarik napas panjang dan menggelengkan kepalanya.
"Seperti zaman memang sudah edan...dunia jadi terbalik, bukan lagi laki-laki yang mengejar wanita tetapi wanita yang mengejar laki-laki!!"
"Tetapi memang wanita mana yang sanggup menolak pesona pak Sofwan, semakin tua bukannya semakin jelek dan keriput, tetapi semakin tua malah semakin ganteng!!" bibi jadi senyum-senyum sendiri.
*
*
"Mah...minggu depan orang tua papah datang dari Kuala Lumpur, setelah mereka datang kita bisa menikah ya...supaya papah bisa merawat dan menjaga mamah dengan leluasa tanpa ada penghalang lagi."
Riko mengusap rambut Sania yang bersandar di bahunya dengan lembut.
Dia sesekali mengecup rambut yang selalu harum mewangi itu.
"Ya Allah...hamba bersyukur, sejak kecil aku berharap bisa selalu bersamanya, mencintainya dan memiliki dia selamanya...kupikir aku kebanyakan halu karena terasa aneh di usiaku yang baru 7 tahun sudah mencintai wanita dewasa ternyata cinta itu memang melekat kuat hingga detik ini!!"
Riko menyandarkan pipinya pada kepala Sania.
"Pah...mamah pengen makan yang berkuah dan anget-anget..." kata Sania.
Dia menegakkan kepalanya dan memandang Riko yang juga memandangnya.
"Apa sih yang ngga buat cintaku?" kata Riko sambil mengacak rambut Sania.
Sebenarnya jika mereka tau selisih usia Riko dan Sania seperti tante dan ponakannya tentu mereka akan tertawa. Tetapi wajah Riko yang memang lebih dewasa dari usianya dan wajah Sania yang imut, lembut dan keibuan bisa menutupi semuanya.
"Ayo..." Riko berdiri dan mengulurkan tangannya pada Sania dan menggandengnya.
Tubuh Riko yang tinggi menjulang dan tinggi Sania yang hanya sampai di lehernya saja membuat Riko leluasa merangkul tubuh mungil itu.
"Tadi Miko dan Miki mau ikut!!" kata Sania.
"Lho kenapa ngga diajak aja? sekalian ajak Dina, Juned dan Syifa sekalian tante Della biar ramai toh kita naik mobil juga!!" kata Riko.
"Memang boleh?" tanyaku.
"Ya bolehlah sayang!! aku ingin berbagi kebahagiaan bukan hanya denganmu tetapi juga dengan orang-orang terdekatmu."
"Nantilah jika papah ada waktu lagi kita akan pergi kepantai bersama-sama...oke??" kata Riko.
Aku hanya mengangguk sambil menatap bocah tampanku dulu yang sekarang sudah menjelma menjadi seorang pria dewasa.
__ADS_1
"Ayah...bukankah itu bunda Sania bundanya Dina?" tunjuk Juma dengan bibirnya.
Hari itu Niko dan Jonathan mengajak Juma pergi mengantarkan pesanan barang keluar kota dari pada Juma bengong sendirian di rumah dan setelah sore mereka baru kembali dan singgah untuk makan bakso di dekat taman dimana Sania dan Riko duduk.
Wajah Niko mengelam melihat wanita yang hingga detik ini masih dicintainya duduk makan bakso dengan mesra bersama Rivalnya.
Tangannya yang memegang sendok dan garpu bergetar menahan kekesalan dan kemarahannya.
"Niko sabar!!" kata Jonathan.
"Sania bukanlah lagi calon istrimu, jaga dan kendalikan emosimu!! ayah yakin kamu bisa!!" Jonathan menepuk pundak anaknya itu.
Akhirnya Niko memutuskan makan sambil menunduk agar perasaannya tidak tercabik-cabik oleh kemesraan dihadapannya.
"Ayo cepat makannya Juma jangan lelet seperti perempuan, lihat keadaan ayahmu sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja!!" kata Jonathan pada cucunya itu.
Posisi Sania memang duduk membelakangi tapi posisi duduk Riko tepat menghadap rombongan Niko dan dia memang sengaja memanas-manasi rival beratnya itu.
Sania sama sekali tak tahu bahwa di belakang mereka ada Niko, Jonathan dan Juma.
Setelah selesai Niko, ayah dan anaknya segera membayar dan pergi lewat pintu samping agar tidak melewati Sania dan Riko.
"Syukurin...siapa suruh jadi pengkhianat? Alena aja kutinggalkan demi bisa mempertahankan cinta sejatiku." senyum simpul Riko tersunggjng di bibirnya menatap kepergian Niko dan rombongannya.
"Kakek...Juma hampir tersedak pentol bakso tadi!!" kata Juma sambil bersungut-sungut kesal.
Wajah Niko sudah sangat mendung seperti hari mau hujan tapi ngga jadi. Jonathan hanya bisa menatap iba pada putranya itu.
"Kasihan kamu nak, seumur hidup tak pernah merasakan indahnya jatuh cinta apalagi sejak kebutaanmu beberapa belas tahun ini, begitu merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya...ternyata semesta tak berpihak kepadamu!!" bisik hatiJonathan yang juga merasakan kepedihan hati putranya itu.
"Kok papah tampak senang banget sih??" tanya Sania saat dia melihat Riko begitu bahagia.
"Ya papah sangat bahagialah apalagi jalannya bareng mamah tercinta!!" kata Riko menoel hidung mancung Sania.
"Makan yang banyak ya sayang..." ujar Riko.
"Sebab kenangan bersamamu lah yang akan menjadi teman hidupku saat kamu tiada nanti!!" jerit hati Riko karena dia tahu akan penyakit Sania yang sulit disembuhkan.
"Kok papah melihat mamah sampai segitunya?" tanya Sania.
"Papah senang karena minggu depan kita akan menikah!!" jawabnya antusias.
"Sekarang habiskan makanannya, kita akan beli sesuatu untuk makan di rumah nanti." Riko tak henti-hentinya tersenyum memandang Sania.
*
*
__ADS_1
"Ayah ada telepon dari ibu..." Juma mendatangi ayahnya yang sedang duduk termenung di teras depan.
"Ayah lagi malas untuk menerima telepon, Juma!!"
"Tapi ibu terus memaksa untuk bicara dengan ayah!!" kata Juma lagi.
Sebenarnya dia tak tega mengganggu ayahnya. Kejadian sore tadi sungguh mengguncang perasaan ayahnya, tetapi jika dia tidak menyampaikan maka ibunya akan terus menerus menelpon tanpa henti.
Dengan malas Niko menerima ponsel dari tangan Juma menunggu Maya menelpon balik.
Ddrrttt...dddrrrtttt
Ponsel di tangan Niko kembali berbunyi.
📱" Assalamualaikum...ya, ada apa Maya?"
Niko langsung to the point pada intinya. Dia tidak mau bicara berbasa-basi lagi.
📱" Mas...gimana permintaanku tempo hari untuk menjual penginapan dan menyusulmu kesana?"
📱"Kenapa sih kamu bersikeras untuk menjual penginapan itu?? kulihat hasilnya juga menjanjikan...itukan buat anak-anak nanti untuk biaya pendidikan mereka.
📱"Aku hanya ingin tinggal bersama denganmu dan membuka usaha bersama, mas!!"
📱"Tapi ini lain rumahku, Maya...sudah berkali-kali kukatakan kepadamu kan?"
📱"Sudahlah...jangan sekali-sekali kamu berniat menjual penginapan itu...aku sudah banyak mengeluarkan uang untuk memperbaikinya.
📱"Tapi kita suami istri mas, masa kita tinggal berjauhan begini??"
📱"Maya, kita memang menikah tapi bukan karena aku mencintaimu tapi hanya semata pertanggung jawabanku padamu."
📱"Jahat kamu mas...pasti gara-gara wanita yang bernama Sania itu kan?"
📱"Jangan kamu sangkut pautkan masalah kita dengan Sania...bahkan sekarang dia akan menikah, ini semua gara-gara kamu yang membuat kami gagal menikah.
Wajah Niko sudah merah menahan amarah. Selama ini yang mampu mengendalikan hawa amarahnya hanya Jonathan dan Sania, kini Sania sudah meninggalkannya karena kesalahan yang telah diperbuatnya.
Juma cepat mengambil ponsel dari tangan ayahnya, dari pada ponselnya jadi sasaran kemarahan Niko dengan membantingnya atau melemparnya kelantai??
*
*
***Bersambung...
Mohon dukungannya selalu ya guys...mampir, baca, like, komen, vote, favorit dan rate nya.!! terima kasih🙏🙏😁
__ADS_1