Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 238 Belum Ada Titik Terang


__ADS_3

Di sekolahpun Nathan seperti orang kebakaran jenggot saat tau gadis masa sekolah dasarnya itu pergi dan pindah tanpa pamit.


Tak ada seorangpun yang tau dia pindah kemana. Hanya menurut kepala sekolah, tantenya lah yang mengurus surat pindahnya.


Niko dan Juma sama-sama gusar, sama-sama kehilangan dan sama-sama tidak tau harus mencari kemana.


"Mas, kamu kok sibuk terus sih?? kapan mau ajak aku jalan-jalan??" kata maya.


"Memangnya kamu tak punya kaki ya, mau jalan aja mesti ngajak aku segala?" tanya Niko kesal.


"Ihhh jawabannya kok ngegas sih mas, biasa aja dong!!" kata Maya tanpa dosa sama sekali.


"Terserah kamu, Maya...aku dan Juma mau keluar!!" jawab Niko.


"Ikut dong mas, pakai mobilkan mas!!" rengek Maya.


"Ngga...aku dan Juma mau pakai motor saja kami mau mencari keberadaan Sania dan keluarganya." Kata Niko.


"Apa?? janda gatal itu lagi??" geram Maya kesal.


Seketika Niko menghentikan langkahnya dan menatap tajam pada Maya.


"Jaga mulutmu, Maya...aku tak segan untuk menampar mulutmu jika sekali lagi kudengar kamu mengatakan Sania seperti itu!!" geram Niko.


"kenapa kamu malah membelanya, mas?? istri kamu itu sebenarnya siapa??" teriak Maya kesal.


Niko berteriak tak kalah kesal menjawab pertanyaan Maya.


"Maya...jika bukan karenamu maka aku dan Sania itu sudah menikah bahkan mungkin kami sudah punya anak sekarang...kehadiranmu lah yang mengacaukan semuanya." sarkas Niko.


"Ayah...ayah...sudah, ayo kita pergi!!" ajak Juma, lalu mereka berlalu dari hadapan Maya.


Ahhhh....


Maya mempunyai kebiasaan kalau marah suka membanting dan merusak barang, sekali ini dia kena batunya.


Tangannya sudah bergerak mau melempar vas dari porselen kearah pigura besar foto pernikahan Miko dan Sania dulu saat ada satu tangan yang memegang tangannya kuat.


Semakin kuat dia meronta, semakin erat tangan itu mencengkeramnya.


"Maaf bu, saya harap ibu jika marah tak merusakan barang apapun di rumah ini karena ini semua peninggalan pak Miko dan isterinya ibu Sania."


"Kami semua yang tinggal di rumah ini amat menghargai, menjaga dan merawat barang-barang di sini jadi saya mohon jaga tangan ibu Maya."


Maya menoleh kebelakang dengan kesal apalagi dilihatnya yang memegang tangannya itu bibi.


"Lepaskan tangan kotormu dari tangan saya!!" teriak Maya geram.


Bibi mengambil vas porselen dari tangan Maya dan menaruhnya kembali ke asalnya.


"Tangan saya memang kotor, bu...tapi hati dan otak saya tidak!! saya numpang di sini makanya saya mempunyai tanggung jawab untuk menjaga barang peninggalan majikan saya."

__ADS_1


"Tidak main asal memecahkan barang orang lain seperti barang nenek moyang sendiri." ucap bibi tersenyum sinis.


"Saya juga istri majikanmu, sudah seharusnya kamu juga menghormati saya sebagai majikanmu." kata Maya dengan pongahnya.


Bibi menggeleng sambil tersenyum kepada Maya.


"Pak Niko dan pak Jonathan sekarang memang majikan saya, tetapi ibu Maya, bukan!!" sahut bibi.


Mendengar suara ribut-ribut di luar, Jonathan keluar dari kamarnya di lantai dua dan turun ke bawah.


"Ada apa ini bibi?? Maya??" tanyanya.


Maya langsung mengeluarkan jurus menangisnya dan mengadu karena merasa telah disakiti oleh bibi sementara bibi hanya diam saja terlebih dahulu.


"Benar begitu, bi??" tanya Jonathan.


"Saya terpaksa mencekal tangan bu Maya karena bu Maya yang sedang marah pada pak Niko hendak melempar vas dari porselen di atas meja ke pigura foto pernikahan ibu Sania dan almarhum pak Miko...tentu saja saya marah pak, itu vas kesayangan pak Miko, ibu saja dulu selalu berhati-hati saàt membersihkannya, ini kok malah mau dipecahkan oleh ibu Maya!!" jelas bibi.


"Benar begitu, Maya?" tanya Jonathan lagi.


"Yah, masa hanya gara-gara vas itu tangan saya sampai lecet begini dicengkeram bibi?? saya kan istrinya pak Niko, majikannya!!"


"Kami sekarang memang majikan bibi, tapi kami pun tak punya hak untuk merusak apapun yang ada di rumah ini karena kami juga numpang di sini!!" tekan Jonathan.


Dengan kesal Maya meninggalkan ruangan itu masuk ke kamarnya.


*


*


"Ibu Sania pindah ke tempat yang aman, Shinta...karena ibu Sania itu sedang sakit jadi butuh ketenangan" jelas Hans.


"Aku kangen sama ibu, sudah seminggu ini kita tidak makan bareng lagi pas jam istirahat, biasanya kita lesehan di taman belakang!!" kata Shinta.


"Kamu kangen tetapi perasaanku jauh lebih merindukannya, Shinta...aku sangat merindukannya!!"


"Rasanya libur besok aku ingin menjenguknya sekalian melihat keadaannya..." bisik hati Hans.


"Hans...Hans..." Shinta mengguncang lengan Hans yang sedang melamun.


"Aku bicara sama kamu kok malah dianggurin, kamu pasti sedang memikirkan ibu cantik itu kan? hayo ngaku deh!!" goda Shinta.


Ssttt...


"Jangan keras-keras Shinta, aku ngga enak jika yang lain pada dengar!!" kata Hans lagi dengan wajahnya seketika memerah.


"Cinta itu memang aneh ya?? tidak memandang harta, kasta, kedudukan juga usia!!" kata Shinta lagi.


"Contohnya laki-laki di depanku ini, nih!! ada perawan yang ditaksir malah istri orang, ada yang sepantaran yang dicintai malah yang lebih tuaan." Kata Shinta sambil menoyor bahu temannya.


Hans cuma mengangkat bahu saja menanggapi perkataan Shinta padanya.

__ADS_1


*


*


"Juma, ayah sudah bertanya kesana kemari mencari tau tentang bunda Sania dan keluarganya, tetapi hasilnya nihil."


"Iya, yah...kemana lagi kita harus bertanya, tante Tini dan om Kirmanpun tak tau keberadaan mereka semua." kata Juma.


"Ayah...boleh kah Juma bertanya sesuatu?" tanya Juma pelan.


"Apa yang mau kamu tanyakan, Juma??" kata Niko.


"Apakah ayah masih mencintai bunda Sania?" tanya Juma lagi.


Niko menarik napas berat sebelum menjawabnya.


"Juma, dulu mata ayah itu buta!! saudara kembar ayah yaitu Miko suami dari bunda Sania yang mendonorkan kedua matanya untuk ayah agar ayah bisa melihat kembali!!" jawab Niko.


"Om Miko itu sakit apa, yah??" tanya Juma lagi.


"Om Miko terkena kanker otak dan sebelum meninggal, beliau meminta untuk mendonorkan matanya."


"Ayah jatuh cinta pada wanita pertama yang ayah lihat saat mata ayah bisa melihat kembali, yaitu bunda Sania."


"Selama mengenalnya, ayah hanya bisa mendengar suara lembutnya dan membayangkan suara merdu itu menjadi pendamping hidup ayah walaupun ayah tau dia adalah istri saudara kembar ayah sendiri."


"Saat ayah melihatnya menangis di depan pusara Miko, ayah langsung terpana!! ada rasa iba melihatnya menangis pilu, lalu ayah ingat pada janji ayah untuk mencintainya dan berusaha menjadi pengganti Miko di hatinya agar dia tidak sedih dan terluka lagi!!"


"Walaupun ayah tau saingan ayah saat itu ada Sofwan dan Sultan yang juga mencintainya tetapi ayah bahagia saat Sania mulai membuka hatinya untuk ayah, mungkin karena wajah ayah mirip mendiang suaminya."


"Kami berjanji untuk bertunangan sepulang ayah dan kakek dari mengantar barang keluar kota saat itu...tetapi ternyata takdir berkata lain, kita berencana tetapi Allah juga lah yang menentukan semuanya."


"Ayah tau betapa kecewa hatinya yang rapuh itu apalagi saat itu ada seseorang yang dengan sengaja mengupload status WA dengan pernikahan ayah dan ibumu."


"Hati ayah sebenarnya juga hancur, tetapi demi memenuhi tanggung jawab ayah padamu maka ayah meninggalkannya walaupun ayah tau dia akan membenci ayah seumur hidupnya."


"Tetapi ternyata ayah salah, dia memang sempat membenci...tetapi entah terbuat dari apa hati dan perasaannya itu hingga dia mampu berbesar hati untuk memaafkan ayahmu ini, Juma!!"


Niko tampak sangat terluka mengingat itu semua. Sekarang dia benar-benar kehilangan jejak wanita yang masih sangat dicintainya itu, walaupun dia tau Sania telah menikah dan punya anak dari Riko, tetapi tak pernah melunturkan rasa cinta di hatinya untuk Sania.


Bahkan hatinya sering sakit saat melihat wanitanya itu kerap kali terluka hati dan perasaannya.


*


*


***Bersambung...


Bisa kah Juma dan Niko menemukan tempat tinggal Sania sekeluarga yang baru??


Yuk, ikuti terus kisah cinta Sania ya!!

__ADS_1


__ADS_2