
"Papah ganteng banget sih hari ini...tambah wangi lagi..."
"Mamah selalu suka bau aroma tubuh papah."
Anggita menghirup napasnya dalam-dalam sambil memejamkan matanya.
"Jangan mulai deh, mah...hari masih pagi..papah juga mau berangkat ke kantor, ngga usah pasang tampang mengundang begitu."
"Papah ih..." Anggita bergelayut manja di pundakku.
"Hati-hati di jalan ya pah..."
"Iya sayang...papah berangkat dulu ya..."
Aku tiba tepat waktu di kantor...bersamaan juga kulihat si cantikku turun dari mobil setelah cipika-cipiki terlebih dahulu.
Mukaku memerah, hatiku panas..."Kenapa? Masa aku cemburu pada Miko? Ya wajarlah cipika-cipiki, mereka kan suami istri...pengantin baru pula."
Kulihat cantikku setengah berlari menuju ruang ganti baju. Bau harum tubuh dan rambutnya begitu menggoda...rambutnya yang masih setengah kering, Ah...Pasti mereka sudah bercinta semalam.
Aku merasa darahku mendidih...ada rasa tak rela dalam hatiku mengingatnya disentuh laki-laki lain.
Tiba-tiba aku ingat...aku pernah bahkan sering mencium wangi aroma seperti yang dimiliki Sania, tapi di mana ya? Dan kapan?
Ah sudahlah...akupun tak peduli. Aku terlalu menikmati wajah pujaanku. Jika saja aku bisa menghilang, ingin aku masuk ke dalam ruang ganti secara diam-diam dan menikmati setiap lekuk tubuhnya.
"Ah gila...." Aku menelan salivaku sambil menepuk jidatku sendiri.
"Pagi-pagi aku kok berpikiran jorok gini sih?"
Cepat-cepat aku masuk ke ruangan Miko yang sekarang sudah jadi ruanganku. Aku duduk untuk menenangkan diri dari gemuruh di hatiku.
Kulihat ruanganku sudah rapi, tapi tentu bertumpuk-tumpuk tugas sudah menantiku.
Aku mulai fokus dengan tugas-tugas kantor hari ini, tiba-tiba pintu diketuk dari luar...
"Permisi pak Sofwan...Apa bapak tidak minta dibuatkan minum seperti karyawan yang lain? Jadi bisa sekalian saya buatkan..."
Deg...Si cantikku muncul dari pintu dengan suara merdunya menawarkan minum padaku...
"Saya teh manis aja ya..."Kataku sok berwibawa...aku sengaja tak mau bicara sambil memandangnya...padahal hatiku ketar-ketir tak karuan rasa.
"Tunggu sebentar ya pak..." Lalu dia menutup pintu kembali.
Tidak sampai 15 menit, dia masuk dengan membawa nampan berisi teh di tangannya.
Kupandangi dia dari masuk sampai dia menaruh teh dimejaku. Kulihat dia semakin grogi, tangannya agak gemetar. Dan aku sangat menikmati pemandangan itu.
"Ada lagi yang bisa saya bantu pak?"
"Sudah cukup...tapi saya mau kamu jangan pulang dulu nanti sore sebelum saya pulang... karena saya ingin besok pagi ruangan kerja saya harus sudah bersih."
"Baik pak..." Aku lalu pamit mundur. Padahal dalam hatiku gondok luar biasa. "Iya kalau dia cepat pulang, kalau lambat gimana?"
"Mbak Nia, kok mukanya ditekuk gitu? Kenapa? Lagi kesel ya..."
Aku berpapasan sama Rahmat di dapur. "Banget pokoknya, Mat?"
__ADS_1
"Dengan siapa mbak? Dengan pak Sofwan ya?"
"Kok kamu bisa tau, Mat?"
"Lha itu...Begitu habis keluar antar minuman dari ruangan pak Sofwan, muka mbak Nia langsung jelek jadinya."
"Ya gimana ngga jengkel, Mat...aku belum boleh pulang kalau dia belum pulang."
"Pak Sofwan mau ruangannya harus dibersihkan sekarang, bukan besok pagi."
"Lha iya kalau dia cepat pulang, kalau ngga...gimana nasibku, Mat?"
"Ngga mungkin aku minta ditunggu sampai malam oleh pak Miko, secara kantor sini dan kantor pusat, beda jauh jalurnya."
"Ya di sabari mbak...diikuti aja...jangan ngomel terus, apalagi sampai benci..."
"Awas...nanti jatuh cinta..."
"Tambah ngawur kamu, Mat...secara aku sudah bersuami."
"Kenapa ngga mbak? Allah maha membalikan hati dan keadaan lho...."
"Tapi ngga gitu juga caranya kali, Mat?"
Rahmat hanya tertawa sambil ngeloyor pergi, meninggalkan aku sendiri di dapur dalam keadaan masih dongkol.
"Kok Sania tau ya ukuran gula di tehku?" Rasanya sangat pas...padahal aku tak pernah memberitahukannya?"
"Anggita yang sudah setahun hidup bersama denganku aja, kadang kalau buat teh atau kopi masih suka kemanisan."
"Dan dia tahu aku suka teh yang kuat aroma melatinya...ah kebetulan aja kali..."
"Bun...ayah ngga bisa keluar untuk makan siang ya, pekerjaan ayah menumpuk hari ini!!"
"Iya yah...ngga apa-apa, lagian ayah jauh betul kalau harus mampir kemari."
"Mulai besok, bunda buatkan bekal aja buat ayah!!"
"Terima kasih atas pengertiannya ya, bun...Ayah love bunda so much..."
"O iya yah, kalau sore nanti pekerjaan bunda belum selesai... ayah pulang duluan aja ya...Kasihan anak-anak di rumah."
"Kok bisa belum selesai bun? Ngga biasa-biasanya..."
"Hari ini ada beberapa karyawan yang lembur, yah...dari pada besok pagi-pagi bunda kerjakan ngga kelar, mending bunda tunggu sampai mereka selesai."
"Ok bunda sayang...jangan lirik-lirikan dengan pak Sofwan ya, bunda!!!"
"Apa sih yah...ngga jelas..."
"Aduh...pak Sofwan ini lama betul sih kelarnya...di lantai 1 semua staff sudah pulang, hanya tersisa dua karyawan yang lembur di lantai 2."
"Karena kulihat Rahmat juga belum pulang."
Kringgggg....telephone di dapur berdering. Aku sampai terlonjak karena kaget.
"Iya halo pak...ada yang bisa saya bantu?"
__ADS_1
"Sania...tolong bawakan kopi dan camilan ke ruangan saya ya...mungkin jam 7 nanti malam kerjaan saya baru kelar."
"Baik pak...segera saya buatkan dan akan saya antar."
"Aduh...sialannya pak Sofwan ini..." Aku hanya bisa menggerutu saja.
Tok..tok..." Permisi pak..."
"Iya masuklah..."
Aku membawakan secangkir kopi dan toples berisi camilan untuknya.
"Kamu temani saya di sini..."
"Hah...kenapa pak?"
"Saya bilang...kamu temani saya di sini."
"Tapi pak..."
"Sudah Nia...jangan membantah saya...saya atasanmu di sini."
"Iya pak..." Jawabku lemas.
Aku duduk di sofa sambil nonton televisi. Rasanya aku lelah dan mengantuk. Biasanya jam segini aku sudah di rumah lagi nyantai sama keluarga. Nah ini aku masih nongkrong di sini kayak orang bego.
"Sania...."
"Hah, iya pak?" Aku agak gagap menjawabnya.
"Nanti temani saya makan sebentar ya..."
"Tapi saya kepengen langsung pulang ke rumah pak..."
"Ayolah Nia, temani saya makan dulu...saya yang traktir kamu."
Akhirnya dengan berat hati aku mengiyakannya. Setelah dia selesai dengan pekerjaannya, aku cepat-cepat membersihkan ruangan pak Sofwan. Lalu aku mandi dan segera mengganti bajuku.
Kulihat dia sudah menunggu di mobil sambil asyik menelpon. Ketika aku sampai dia memutuskan telephonenya dan mempersilahkanku masuk.
"Kamu mau makan apa, Sania?"
"Saya nasi mawut aja pak...Di sekitar sini ada kok warung nasi mawut yang enak."
"Nasi mawut?"
"Iya pak...bapak ngga suka ya, kalau bapak ngga suka, makan yang lain aja."
"Bukan saya ngga suka, tapi saya pernah ingat kalau saya pernah dekat dengan seseorang yang sangat suka nasi mawut...tapi saya lupa siapa orangnya."
Aku terkesiap mendengarnya...tentu yang di maksudnya itu adalah aku. Karena aku dulu waktu hamil Dina sangat suka nasi mawut, sampai dibela-belain jalan kaki berdua.
...***Bersambung.......
Apa Sofwan semakin dekat dengan Sania akan semakin ingat dengan masa lalunya?
Dukunglah terus author dengan memberi like, komen, vote dan favoritnya agar author tetap semangat dalam berkarya....Terima kasih...🙏🙏🙏***
__ADS_1