
Inginnya dia memeluk mantan istri yang sampai detik ini masih sangat dicintainya. Memberinya kekuatan dan semangat. Membantu meringankan kesedihannya. Tapi tentu saja itu mustahil untuk dia lakukan.
Bahkan tadi Sania tidak tau kalau Sofwan ada di antara para pelayat lainnya. Karena Sofwan memang sengaja tidak mau menampakan diri di depan Sania.
*****
Tahlilan malam itu berjalan lancar tapi tidak dengan hati Sania. Di dalam kamarnya dengan almarhum yang telah lama tidak di huni karena Miko lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah sakit semasa hidupnya.
Sania duduk di tepi pembaringan. Dia memandang ke sampingnya...kosong...biasanya ada Miko yang selalu menemaninya di pembaringan ini.
Lalu di pandangnya Foto besar pernikahan mereka. Tampak Sania duduk dengan anggun dan Miko berdiri sambil tersenyum dengan gagahnya diapit oleh ke tiga anak-anaknya.
"Ayah sekarang lagi apa? Pasti ayah sekarang sedang kedinginan di dalam tanah sana, di dalam sana sepi ya ayah...pasti gelap sekali...tapi ayah kan ngga takut gelap, bunda yang takut sama gelap."
Sania mengobrol sendiri dengan foto Miko seolah dia masih bersama dengannya.
Tok...tok
"Bun...Miko sama Miki rewel...mereka mau bobo sama bunda..." Kata Dina dari luar.
Aku membukakan pintu. Tampak Dina sedang menggandeng Miko dan Miki lalu Syifa dan Juned di belakangnya.
"Adik-adikmu sudah makan Dina?" Tanya Sania.
"Sudah bun, tadi Miko sama Miki sudah di suapi sama bibi juga."
"Terus bibi kemana Dina?" Sania menatap kosong keluar pintu.
"Bibi pulang sebentar mengantarkan makanan buat anaknya di rumah."
"Bunda sendiri sudah makan? Dari kemarin bunda belum makan lho...kita makan bareng lagi yok...rame-rame kayak dulu!!" Ajak Dina.
"Tapi kan dulu masih ada ayah, Dina...sekarangkan ayah sudah ngga ada!!" Jawabku pelan.
"Tapi kan sekarang ada adik Miko dan Miki, bun, coba bunda liat...mereka berdua sangat mirip dengan ayah kan?" Dina mendekatkan si kembar di hadapanku.
"Unda...unda...mamam yok..." Celoteh Miko menggemaskan.
"Unda...ayok..." Ganti Miki yang menarik tanganku.
Aku sangat terharu. Usia mereka baru 14 bulan, baru bisa jalan, dua bulan kemarin saat Miko dan Miki ulang tahun yang pertama, Miko masih mendampingi kami.
Sikecil menarik tanganku kiri kanan memaksaku untuk menuju ke ruang makan. Miko memang anaknya rada gembul dan kuat makan, makanya badannya lebih gemuk dari pada Miki yang irit kalau membuka mulutnya untuk menerima makanan.
Akhirnya kami berenam duduk di meja makan.
__ADS_1
"Miko mau makan?" Tanyaku.
"Mau..." Katanya cepat sambil menganggukan kepalanya.
Karena di temani oleh mereka, akhirnya aku bisa tersenyum dan mau makan walau sedikit. Juga sudah bisa tersenyum mendengar celoteh Syifa dan Juned.
"Bun, tadi bapak mampir kemari!!" Dina menatapku.
"Hah??? Bukannya bapakmu ada di Yogyakarta Dina?" Aku berhenti menyuap makanan ke mulutku.
"Bapak dan pak Irawan datang bun, bahkan saat ayah Miko di makamkan mereka datang, bunda aja yang ngga melihat karena bunda larut dalam kesedihan.
"Bapak berpesan agar Dina menjaga bunda dan adik-adik...karena sekarang kami sudah tidak lagi mempunyai bapak dan ayah."
"Bapak juga berpesan agar bunda jangan terlalu larut dalam kesedihan nanti bunda sakit."
"Mungkin besok sebelum pulang ke Yogya, bapak akan mampir kemari!!" Kata Dina lagi.
"Untuk apa bapakmu mampir kemari? Untuk menertawakan kehancuran bunda?" Jawabku datar.
"Jangan berkata begitu bun...belum tentu bapak seperti itu."
"Tentulah begitu Dina, semua ini terjadi awalnya karena bapakmu juga...seandainya bukan karena ulah bapakmu dan keluarganya, tentu bunda tidak akan terjerumus ke dalam luka dan penderitaan berkepanjangan seperti sekarang ini."
"Kakek ngga mampir kemari bun? Dina mengalihkan pembicaraan.
"Kakek langsung ke rumah sakit nungguin om Niko...om Niko kan habis di operasi." Jawabku.
"Sehabis di operasi nanti berarti om Niko sudah ngga buta lagi kan, bun!!" Tanya Syifa antusias.
"Setiap ngeliat om Niko, Syifa seperti ngeliat ayah Miko..."
"Ya iya lah Syifa, om Niko dan ayah Miko kan kembar...jadi miriplah!!" Kata Juned akhirnya bersuara juga.
Juned juga sangat terpukul dengan kepergian Miko, karena dia paling di sayang oleh Miko semasa hidupnya. Apapun yang diinginkan Juned selalu berusaha di turutinya.
*
*
"Sofwan, kamu sedang apa?" Pak Irawan menegur Sofwan yang sedang duduk termenung di balkon hotel tempat mereka menginap.
"Sedang menikmati indahnya malam di kota Balikpapan, yah!! Sudah lama Sofwan tak menikmatinya semenjak pindah ke Yogyakarta."
Mereka berdua duduk saling berdiam diri.
__ADS_1
"Kasihan ibu Sania itu ya Sofwan?" Pak Irawan memecah keheningan di antara mereka.
"Ibu Sania itu yang waktu itu telah mendonorkan darahnya untuk Anggitakan Sofwan?" Tanya pak Irawan.
"Ayah melihat bagaimana terpukulnya dia di pemakaman tadi, tapi dia berusaha tegar untuk tidak lagi menangis."
Sofwan menghela napas.
"Yang sedang ayah ceritakan itu adalah mantan istri Sofwan, yah!!" Batin Sofwan.
"Yah...tak adakah kemungkinan Sofwan bisa di pindah tugaskan lagi ke kota ini, yah!!" Tanya Sofwan.
"Anggita sudah tak peduli lagi dengan Sofwan bahkan dengan Aisyah, yah..."
"Ayah benar-benar minta maaf Sofwan...tapi jika kamu dan Aisyah pergi, tentu ayah akan sangat kesepian."
Sofwan tak lagi bertanya, dia juga tau akan perasaan ayah mertuanya, hanya saja sikap Anggita yang membuatnya tersiksa.
"Jika kamu masih ingin berjalan-jalan di kota ini, kita akan menunda kepulangan kita ke Yogya untuk beberapa hari."
"Ayah juga sekalian akan meninjau perusahaan kita yang ada di kota ini juga."
Bukan main senangnya hati Sofwan mendengar itu semua. Jadi dia bisa bertemu dengan anak-anaknya...bisa menjenguk kakak-kakaknya sekalian.
*
*
"Kamu itu Sultan, yang habis kehilangan siapa? Yang sering melamun siapa." Kakaknya keluar sambil membawa dua gelas kopi.
Sehabis tahlilan di rumah almarhum Miko tadi, Sultan langsung pulang. Tak tega rasanya dia melihat wajah Sania yang terus menerus di selimuti kabut duka.
"Apa lagi yang sedang kamu pikirkan, leh!! Perasaan akhir-akhir ini kamu seperti ilmuwan, berpikir terus kerjamu!!" Kakak laki-lakinya itu lalu mengambil kursi dan duduk di teras bersama adiknya.
"Melihat yang dialami oleh mba Sania, Sultan jadi teringat saat Sultan ditinggalkan oleh istri dan anak Sultan dulu."
"Rasanya dunia seolah runtuh di atas kepala Sultan."
"Mas juga kasihan sama Sania dan anak-anaknya, mereka masih kecil-kecil tapi sudah menjadi anak-anak yatim."
"Sepertinya tadi sore mas melihat Sofwan datang bersama seorang laki-laki tua...siapa dia?" Tanya kakaknya Sultan.
****Bersambung...
Happy reading....jangan lupa tinggalkan jejak berupa like, komen, vote, favorit dan rate nya🙏🙏
__ADS_1