
"Mas...Mas Sofwan kenapa?" Aku panik melihat suamiku tiba-tiba pingsan, ambruk di depan pintu saat mau berangkat kerja.
Karena tak kuat menggendongnya ke dalam, sementara tetangga lagi sepi. Kutarik dan kupindahkan sedikit dia ke tempat yang rata.
Kuraba denyut nadi di leher masih ada, walaupun tarikannya pelan hembusan napasnya juga masih terasa.
Untung Dina sedang tidur jadi dia tidak rewel.Kuciumkan aroma minyak kayu putih kehidungnya untuk mempercepat kesadarannya.
Kuraba tangan dan telapak kakinya terasa dingin. Kutepuk pipinya perlahan.
"Mas...sadar mas..."
Tujuh menit berlalu mas Sofwan mulai mengerang perlahan. Aku membantunya duduk bersender di dinding dan mengambilkannya segelas air putih.
"Mas kenapa? Apa yang mas Sofwan rasakan?"
"Perut mas sakit sekali dek...rasanya ususku seperti di pelintir."
"Sudah kesekian kalinya dalam bulan ini mas pingsan, tapi mas tidak pernah mau dibawa kerumah sakit."
"Jika tak tahu apa sumber penyakitnya bagaimana bisa diobati."
Hingga pada akhirnya suamiku mau diperiksa dan jatuhnya dirawat di rumah sakit."
Karena sering sakit-sakitan juga, akhirnya dia dipecat dari pekerjaannya.
Bayangkan saja di usia Dina yang masih 6 bulan, Bapaknya di pecat dari pekerjaannya. Masih untung mertuaku memberi bantuan finansial kepada keluarga kami.
Tapi tak mungkin juga selamanya hidup kami bergantung pada orang tua dan mertua.
Benar-benar itu sebuah awal yang sulit bagi keluarga kecil kami.
Hingga setelah hampir 2 bulan bekerja serabutan, pertolongan Allah datang juga. Doa-doa kami dijabahnya. Pertolongannya datang lewat tangan orang lain.
Waktu itu kurang 3 hari lagi akhir tahun, pak Joko teman almarhumah ibu tiba-tiba datang berkunjung kerumah.
Kami mengobrol panjang lebar hingga akhirnya beliau tahu suamiku sudah tidak lagi bekerja. Dan entah memang benar kata pepatah kalau sudah rejeki, tak akan lari kemana, tiba-tiba pak Joko menelpon menantunya dan menanyakan tentang lowongan pekerjaan tempo hari yang pernah diceritakannya.
"Sofwan, menantu bapak bilang ada lowongan pekerjaan untuk cleaning service disebuah rumah sakit."
"Kebetulan yang dicari memang laki-laki. menggantikan karyawan yang waktu itu resign, apakah kamu mau?"
"Mungkin gajinya memang tidak sebesar gaji pada waktu kamu masih bekerja menjadi maintenance dulu, tapi paling tidak bisa untuk menutupi kebutuhan keluargamu."
"Saya mau sekali pak...tidak mengapa walaupun gajinya kecil, paling tidak saya masih bisa menafkahi anak dan istri saya."
Tak lama pak Joko menelpon kembali menantunya, menyatakan bahwa mas Sofwan siap dan mau untuk bekerja
"Alhamdulillah...kamu bisa mulai besok Wan, training 3 hari dan awal tahun baru kamu sudah menjadi karyawan di sana."
"Alhamdulillah...terima kasih ya Allah...terima kasih pak Joko, pertolongannya datang melewati bapak."
Kami berdua bergantian sungkem pada pak Joko mengucapkan banyak terima kasih.
"Ya sudah bapak mau pamit pulang dulu ya..jangan lupa besok temui menantu bapak namanya pak Dedy."
"Lamaran lengkapmu bawa juga sekalian ya Sofwan."
Mas Sofwan memelukku dan Dina, rasa bahagia terpancar jelas diwajahnya.
__ADS_1
"Terima kasih dek...sudah mau mendampingi di saat susah dan senang, di saat aku sakit begini, dia mencium kepalaku."
"Tidak usah berterima kasih begitu mas, kita dulu sudah berjanji akan selalu bersama dalam susah dan senang, dalam suka dan duka."
"Sudah sana...mas Sofwan siapkan surat lamaran dan berkas-berkas untuk dibawa besok."
Setidaknya kami sudah punya pegangan hidup kembali dan berhenti merepotkan orang tua suamiku.
Setidaknya berhenti mendengar hinaan kata "beban" untukku, dari kakak-kakaknya.
*
*
"Wah...sudah rapi, sarapan dulu sebelum berangkat mas, sementara akan kusiapkan bekalnya."
"Iya dek untuk menghemat pengeluaran, kita harus bisa berhemat untuk menghadapi hari menuju keakhir bulan."
"Ya sudah, pergilah mas...semoga hari ini semua urusan di lancarkan."
"Amin...terima kasih atas doa-doanya ya dek."
Aku bahagia sekali rasanya hari ini, tidak menyangka setelah awal yang sulit perjalanan beberapa bulan kemarin, bisa berakhir bahagia dipenghujung tahun ini.
Kuantar mas Sofwan sampai di depan pintu, kulambaikan tangan mengantar kepergiannya. "Semoga mas selalu dalam lindunganNya, semangat ya mas."
"Terima kasih atas doa-doanya ya dek...Mas pergi dulu ya...Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam..."
Aku berangkat bekerja dengan penuh semangat. Semoga training hari ini sampai 2 hari kedepan lancar.
Kusapa seorang wanita yang sedang sibuk di mejanya.
Dia mengangkat wajahnya melihat siapa yang bertanya.
"Ada, dengan bapak Sofwan ya...beliau sudah menunggu di dalam."
Dia mengantarkanku masuk keruangan pak Dedy.
"Tok..tok...selamat pagi pak...pak Sofwan yang kemarin mau diinterview hari ini sudah datang."
"Silakan duduk...terima kasih ya Anggi, kamu bisa kembali bekerja lagi."
Aku duduk di depan laki-laki yang bernama Dedy. Menantunya pak Joko ini adalah HRD di sini.
"Ayah sudah cerita kemarin ke saya tentang mas Sofwan, tapi ya maaf...hanya lowongan sebagai cleaning service ini saja yang masih tersisa."
Dia membuka surat lamaranku dan meneliti serta membacanya satu persatu.
"Tidak apa-apa pak...apapun pekerjaannya yang terpenting itu halal, akan saya jalani."
kulihat dia menelpon seseorang untuk datang dan menghadapnya. Tak lama seseorang datang.
"Selamat pagi? bapak memanggil saya?"
"Iya Feby, silakan masuk dan duduk dulu...saya akan memperkenalkan cleaning service baru disini, tolong dibantu diarahkan ya!"
"Perkenalkan...saya Febyola supervisor cleaning service disini."
__ADS_1
Aku menoleh kearahnya dan bersiap menyambut uluran tangannya.
Kok perasaan aku pernah melihat wanita ini, tapi dimana ya?
"Lho...kamu Sofwan Prayoga kan?"
"Kamu lupa ya, aku teman sekelasmu waktu di kelas 12 dulu."
"Oh iya...pantas saya seperti pernah melihatmu tapi saya lupa di mana."
"Oh...kalian sudah saling mengenal rupanya...baguslah jadi tidak ada rasa canggung dalam pekerjaan."
"Iya pak Dedy, Sofwan ini teman sekolah saya dulu."
"Ya sudah, saya mempercayakanmu untuk mentrainingnya dalam 3 hari ini Feby."
"Sekali lagi saya mengucapkan banyak terima kasih atas bantuannya pak Dedy."
"Aku menjabat tangannya...sama-sama mas Sofwan...selamat bergabung ya, semoga betah bekerja di sini."
Aku dan Feby keluar dari ruangan pak Dedy.
"Pangling saya melihat penampilanmu sekarang, Feb."
"Iyalah pangling, dulu waktu SMK aku dekil dan hitam, begitukan maksudmu."
Kami tertawa. "Setahu saya kamu ini sarjana Sofwan, kenapa tidak mencari pekerjaan yang sesuai dengan keahlianmu?"
"Kamukan tahu, sekarang cari kerja itu sulit Feb, apalagi kita tidak punya dukungan orang dari dalam."
"Iya juga sih, terus di surat lamaranmu tadi apa kamu masukan Ijazah apa?"
"Yang SMK saja Feb, tidak apa-apa."
Feby mengajakku keruangan yang para anak cleaning service menyebutnya sebagai OC. Sebuah ruangan kecil yang menjadi kantor kecil bagi Supervisor dan para leadernya.
"Ini kantor kita, Di depan halaman ini kita mulai berkumpul untuk briefing datang dan pulang, kamu sementara ini masuk pagi terus ya."
"Setelah kamu menguasai area yang akan kamu kerjakan, barulah nanti saya akan memasukan kamu ke dalam shift-shift an."
Hari ini aku dikenalkan di area kerjaku yang lumayan luas. Sumpah, seumur hidup baru hari ini aku memegang yang namanya lobby duster dan stick mop.
Kalau hanya sapu dan xerok aku juga tahu, tapi tidak mungkinkan memakai sapu biasa di area seluas ini. Kapan kerjaanku akan selesai?
Feby mengajariku dengan sabar dibantu dengan teman-teman yang nantinya akan menjadi partner satu area denganku walaupun beda lantai.
Walaupun masih kaku, tapi Alhamdulillah aku bisa mengikutinya.
"Sekarang kamu sudah lumayan bisa Wan, nanti kamu bisa sambil dibantu oleh Anto dari lantai 2."
"Selamat bergabung dengan tim kami ya, semoga betah bekerja disini dan jangan lupa besok jam 6 pagi kamu sudah harus ada di OC ya, karena briefing pagi dilaksanakan pukul 6."
"Terima kasih ya atas bantuannya Feb."
"Iya sama-sama...tak tinggal dulu ya...jangan sungkan-sungkan jika ada kesulitan untuk meminta bantuan."
***Bersambung....
mohon jangan lupa like, komen dan votenya jika berkenan๐๐๐๐***
__ADS_1