Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 239 Ditempat Yang Baru


__ADS_3

Niko tampak sangat terluka mengingat itu semua. Sekarang dia benar-benar kehilangan jejak wanita yang masih sangat dicintainya itu, walaupun dia tau Sania telah menikah dan punya anak dari Riko, tetapi tak pernah melunturkan rasa cinta di hatinya untuk Sania.


Bahkan hatinya sering sakit saat melihat wanitanya itu kerap kali terluka hati dan perasaannya.


"Ayah...kemana lagi kita harus mencari bunda Sania dan keluarganya?? mereka yang di kafe aja pada ngga tau kemana bunda Sania sekeluarga perginya." Kata Juma.


Dia kasihan melihat ayahnya yang sudah nampak lelah seharian ini berkeliling mencari kabar keberadaan Sania.


"Sebaiknya kita sudahi dulu untuk hari ini, yah...besok kita sambung lagi pencarian!!" kata Juma lagi.


Mereka pulang kerumah dengan raut wajah lelah.


"Bagaimana?? apakah kalian sudah menemukannya??" tanya Jonathan saat bertemu mereka di ruang tamu.


Niko menggeleng lemah sambil duduk di sofa.


"Juma minta tolong bibi buatkan ayah teh jahe ya!!" kata Niko.


"Kenapa bukan ibu saja yang membuatkan untuk ayah?? kenapa harus bibi? apa fungsinya ibu ada di sini jika tidak bisa apa-apa??" tanya Juma datar.


"Kamu mau membuat ayah mati


keracunan karena teh ayah telah tercampur dengan Sianida??" gerutu Niko.


Tak lama terdengar suara wanita marah-marah dibarengi dengan tangisan anak kecil.


"Kenapa lagi Maya itu??" kata Jonathan.


"Sore-sore gini bawaannya bikin heboh aja!!" mereka bertiga melihat kearah pintu kamar Maya dan kedua anaknya di kamar tamu.


"Itu ibumu memang biasa begitukah?" tanya Jonathan kepada Juma yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Juma.


"Apalagi di saat ibu sedang kesal dengan ayah Samsuri pasti kami yang jadi sasarannya!!" kata Juma.


Benar saja tak lama kedua adik tiri Juma keluar sambil menangis dan mengadu pada Juma.


"Kalian kenapa?" tanya Juma pada kedua adiknya.


"Kalian dijewer ibu lagi?" tanya Juma lagi.


Maya keluar dengan raut muka kesal.


"Mas dari mana aja sih seharian suntuk baru pulang?" tanyanya pada Niko.


"Apakah setiap kegiatan yang kulakukan semua harus kulaporkan kepadamu, Maya??? ngga kan???apa kamu mau menguntitku terus??" kata Niko kesal.


"Aku bertanya wajar mas, aku ini istrimu!!" ucap Maya tak mau kalah.


"Hah...terserah kamulah...aku capek mau istirahat!!" lalu Niko beranjak pergi dan naik ke lantai 2 diikuti oleh Juma yang membawa serta kedua adiknya lalu Jonathan semua pergi meninggalkan Maya. Hanya bibi yang masih di sana sambil membereskan bekas cangkir teh dan sesekali matanya melirik Maya takut wanita itu merusak barang-barang majikannya.


"Iiihhhh...."


Lalu Maya pun kembali masuk ke kamarnya dengan perasaan dongkol dan jengkel.


*


*


"Tuan...kedai kami akan segera tutup." Pelayan kedai itu menghampiri Riko yang duduk meringkuk di bangku paling pojok


"Ohh maaf!!" Riko lalu berdiri dengan langkah sedikit terhuyung dan keluar dari kedai.


"Kasihan tuan itu ya...sepertinya dia lagi patah hati!!" kata teman pelayan di sebelahnya.


"Dia selalu membayar full untuk duduk di pojokan itu sepanjang hari hanya untuk memandang sebuah foto atau mengutak atik ponselnya."

__ADS_1


"Terkadang kudengar dia memaki seseorang yang sedang menelponnya dan sering juga kulihat dia menangis sendirian!!"


"Sudah, biarkan saja...toh dia juga bayar dan juga tidak membuat keributan di sini!!" ucap pelayan satunya.


Sejak pernikahan terpaksanya dengan Afifah dan sejak Sania sekeluarga hilang tak tau kemana, Riko jadi kacau balau sekarang.


Dia memasuki ruang tamu yang sudah gelap. Saat dia hendak melangkah menuju lift ke kamarnya di lantai 3 tiba-tiba lampu ruang tamu menyala.


Di sana duduk ayahnya dan Afifah menantu kesayangannya.


"Bagus ya bang, mulai pagi pergi baru jam segini pulang, ponsel ngga bisa dihubungi...kemana saja kamu seharian ini?" kata Afifah datar.


"Aku pergi bekerja, mengenai ponsel memang sengaja kumatikan supaya tidak ada gangguan dari pihak manapun...puas!!" jawabnya.


"Kamu bohong dengan mengatakan pergi bekerja, orang di kantor tidak ada yang tau kemana abang pergi!!" kata Afifah lagi.


"Afifah...aku lelah, bahkan aku tak punya energi lagi untuk sekedar berdebat denganmu aku mau istirahat." jawabnya sambil melangkah pergi.


"Riko....jaga sikapmu, Afifah ini istrimu!!" bentak pak Baskoro.


Riko berhenti sesaat di depan pintu lift. Dia berbalik memandang pak Baskoro dan Afifah.


"Terserah kalian...aku tak peduli!!" lalu dia berbalik masuk ke dalam lift menuju ke lantai 3.


"Dasar anak kurang ajar!!" geram pak Baskoro.


Riko masuk ke kamar dan langsung mengunci pintu kamarnya. Lalu dia segera merendam tubuh lelahnya di dalam bathtub.


"Mamah...Raftar...papah kangen kalian!!!" air mata Riko bercampur dengan air hangat di dalam bathtub.


Benar dugaan Riko. Afifah mau menyusul masuk ke kamarnya tetapi tidak bisa karena pintu kamar itu di kunci dari dalam oleh empunya kamar.


Afifah menghentakan kaki nya dengan kesal lalu berlalu masuk kr kamarnya.


"Ibu, kok pindah ke kamar tamu?? ngga mau sekamar dengan ayah lagi ya!!" kata pak Baskoro saat melihat istrinya keluar menuju kamar tamu saat dia masuk ke dalam kamar.


Dia membuka pintu kamar kemudian membanting pintu sekeras mungkin membuat pak Baskoro sampai terkejut.


Jauh di indonesia di saat semua orang mencarinya seperti buronan, Sania memulai harinya di tempat yang baru dengan penuh ketenangan.


Benar apa yang dikatakan oleh Hans, bahwa tempat ini udaranya sejuk, tenang, jauh dari keramaian hiruk pikuk kendaraan bermotor.


Pagi itu kak Della tengah sibuk melayani beberapa orang yang hendak memfotokopi berkas di toko mereka yang baru.


Letak toko itu ada di samping kediaman mereka. Sania sibuk dengan dua anak kembarnya yang hendak berangkat sekolah, Raftar bermain dengan Syifa dan Juned sementara Dina sedang menyapu halaman.


Bluk...


Raftar yang baru mulai berdiri dengan berpegangan di dinding jatuh terduduk di lantai.


"Papa...." huhuhuhu.


Tangisan Raftar dan panggilan papah yang dia sebutkan tadi sontak mengguncang perasaan Sania.


"Juned...Syifa...kenapa Raftar bisa jatuh??" teriak Dina dari halaman.


"Papah...papah!!" huhuhuhu...


Setelah mendudukan si kembar di kursinya masing-masing dan sarapan pagi, Sania segera lari keluar mengejar tangisan Raftar.


"Raftar kok bisa jatuh, Syifa??" tanya Sania.


"Ini abang bun, tadi Syifa ke dalam sebentar mau ambil mainannya Raftar dan Raftar Syifa titipkan ke abang...eh malah jatuh!!" kata Syifa membela diri.


"Ayo Muhammad Juneda, apa pembelaanmu??" tanya Sania pada putra keduanya itu.

__ADS_1


"Ngga ada bun, dasar adek Raftarnya aja ngga bisa diem, merayap terus di dinding berlagak kayak cicak saja!!" kata Juned tanpa dosa.


Sania geleng-geleng kepala lalu menggendong Raftar.


"Dasar abang...." kata Syifa kesal.


"Kan jadi bunda yang repot gendong Raftar lagi, bunda itu lho ngga boleh capek dulu!!" Syifa memperingatkan.


"Ya sudah biar abang yang antar Miko dan Miki ke sekolah sekalian abang jalan-jalan...suntuk di rumah terus!!" kata Juned.


"Yee...kalo bosan, sana bantuin tante Della di toko mumpung libur sekolah!!" kata Dina yang telah menyelesaikan pekerjaannya.


"Miko, Miki abang Juned antar sekolah ya!!" kata Juned!!


"Yeah asyik!!" ucap keduanya berbarengan.


Mungkin karena ketiganya laki-laki...mereka cocok satu sama yang lain.


"Jangan ajak adeknya main yang aneh-aneh, ya!!" pesan Sania sebelum mereka berangkat sekolah.


"Siap bun!!" kata Juned sambil menggandeng tangan kedua adiknya itu ke motor.


Setelah mereka bertiga berpamitan dan pergi, Sania mengajak Raftar bermain.


"Enda...enda...papah!!!!" celoteh Raftar kembali berdiri dan mencoba merayap berjalan sambil berpegangan di dinding.


Hati Sania sangat sedih mendengar celoteh si bungsu itu.


"Pah, jangan katakan apapun karena mamah tau bahwa papah telah mendua!!" bisiknya dalam hati.


Beberapa tetes air mata lolos dari kelopak mata lentiknya tak bisa di cegah lagi.


Dia mendengar sendiri malam itu di belakang rumah Riko sedang bicara dengan seseorang sambil sembunyi-sembunyi.


Awalnya dia hendak mengambil air minum saat pintu dapur terbuka sedikit, dan dia melihat suaminya sedang bicara rahasia dengan seseorang dan feeling seorang wanitapun mengatakam ada yang tak beres dengan suaminya itu.


*


*


"Ah...akhirnya kelar juga motor ini ku cek semuanya, aku ingin perjalanan ini berjalan mulus-mulus aja jangan sampai boy mogok lagi di jalan!!" kata Hans lega.


Dia memilih naik motor karena malas terjebak jalan macet sebelum melewati jalan tol.


"Oleh-oleh untuk yang tercinta, sudah...untuk yang lainnya juga sudah...setengah jam lagi, berangkat!!!"


Hans memang berencana untuk menjenguk Sania dan menginap di sana liburan dua hari ini. Lagian ngga apalah menginap toh juga ada Juned di sana.


Bergegas Hans mandi dan bersiap-siap pergi.


Drrttt....ddrrtttt....


"Aduh siapa lagi sih yang nelpon dalam keadaan begini??" gumam Hans agak kesal.


Dia terus mengabaikan panggilan itu saat dia melihat Tiwi lah yang menelponnya barusan.


"Iihhhh...kok ngga diangkat sih??" Tiwi menghentakan kakinya dengan kesal.


"Barangkali dia masih tidur kali, Wi...inikan liburnya dia!!" kata Shinta menenangkan hati teman sekerjanya itu.


Mereka memang berencana mau liburan ke pantai hari ini. Tapi Hans yang di telepon malah ngga diangkat.


*


*

__ADS_1


***Bersambung...


Jangan lupa mampir ya reader, baca, like, komen, vote, favorit dan rate nya selalu author tunggu🙏🙏


__ADS_2