
"Riko, kamu sudah ngga suka lagi sama aku ya!!" kata Afifah masih berusaha menggoda Riko.
"Lho dari dulu kan kita memang cuma bersahabat saja, Afifah?" jawab Riko.
"Sedangkan dengan istriku ini, aku sudah mengenalnya sejak lama sekali!!" jawab Riko lagi.
Afifah termenung mendengar perkataan Riko.
"Kita bicara di ruang makan aja yuk, Afifah sudah lama kan tidak makan masakan bi Tarmi!!" ucap bu Intan berusaha mencairkan suasana yang mulai diliputi ketegangan.
"Sekalian merayakan kesembuhan ibu!!"
Perlahan ibu Intan berdiri dengan dibantu oleh Riko lalu mereka bertiga menuju ruang makan, sementara pak cik Gunawan dan pak Baskoro sudah terlebih dahulu menuju ke sana.
Mereka berlima duduk sambil sesekali melemparkan tanya.
Bagaimana dengan pekerjaanmu di Indonesia, Riko? sukses?" kata pak cik Gunawan.
"Riko sudah setahun di sini, pak cik...jangankan pekerjaan, keluarga Riko aja di sana Riko tak tau lagi kabarnya."
Sementara Afifah hanya diam saja sambil matanya tak lepas memandangi wajah Riko yang sangat dirindukannya itu.
Riko sekarang sangat berbeda dengan Riko yang dulu. Riko dulu tengil, slengean dan rada kurang ajar tapi sekarang semua sifat itu seolah lenyap dari dirinya.
Riko yang sekarang sikapnya jauh lebih tenang, gaya bicaranya teratur dan ngga kurang ajar lagi seperti dulu.
"Benarkah wanita seperti yang dikatakan pak cik Baskoro itu yang katanya seperti tantemu mampu mengubahmu menjadi lebih baik?"
Seperti apa sih dia? aku jadi tambah penasaran!!" Afifah terus bergumam.
Sementara Riko yang duduk bersebelahan dengan ibunya sama sekali tak mau menatap Afifah.
***
"Hei ada apa sih? kok suasana kelas ramai amat?" tanya Dina saat masuk ke dalam kelas.
"Ada apa sih, fit?? pagi-pagi kok sudah heboh? terutama cewek-ceweknya tuh..."
"Kita kedatangan seorang siswa baru, dia baru saja datang dari Jakarta dan sekolah di SMA kita!!"
"Anaknya ganteng banget, Din!! kulitnya putih, tubuhnya tinggi dan wajahnya...jangan ditanya lagi!!" kata Fitria dengan berapi-api.
"Kabarnya dia dulu tinggal dan bersekolah di kota ini, lalu ikut kedua orang tuanya pindah ke Australia, lalu pindah ke Jakarta dan kemudian balik lagi ke kota kelahirannya ini...dengar-dengar dia seorang model!!" dengan panjang lebar Fitria bercerita dan aku hanya manggut-manggut saja walaupun aku sama sekali tak tertarik dengan cerita Fitria.
"Selamat pagi anak-anak..." kepala sekolah masuk bersama dengan si ganteng yang tadi menggemparkan seluruh kelas bahkan mungkin seantero sekolah.
Kelas yang tadinya riuh mendadak hening macam di kuburan saja.
"Anak-anak...hari ini di kelas kalian telah kedatangan seorang siswa baru...silakan perkenalkan dirimu di depan teman sekelasmu." lalu kepala sekolah memberikan kesempatan padanya untuk memperkenalkan diri.
"Hai teman-teman...nama saya Nathaniel Anggara...saya berasal dari kota Jakarta...kalian boleh memanggil saya dengan Nathan, Nael, Niel atau apapun itu...mohon kerja samanya ya!!"
Suasana kelas kembali riuh mendengar si ganteng itu memperkenalkan diri."
Seorang siswi yang mengumumkan dirinya sebagai siswi tercantik di kelas bertanya...
"Apakah Nathan sudah punya pacar??? kalau belum aku masih jomblo lho!!" katanya dengan diiringi suara huuuuuu....dari seantero kelas.
"Belum...saya belum punya pacar, sedang mencari yang cocok!!"
Jawaban Nathaniel Anggara malah semakin membuat heboh satu kelas..."
"Ya sudah, Nathan duduk di depan bangkunya Andina dan Fitria itu ya!!"
__ADS_1
Kelas akan segera dimulai tetapi anak-anak masih sibuk dengan percakapan mereka masing-masing.
"Sejenak aku berpikir, aku seperti kenal dengan pemilik suara itu, tapi di mana? kapan??"
"Hai...saya boleh meminjam buku catatan kimia milikmu?" tanya Nathan pada Fitria yang tepat berada di belakangnya.
"Oh...bo...boleh!!" kata Fitria dengan terbata-bata dan sedikit gugup.
Dia benar-benar shock saat berhadapan dengan pemuda tampan bermata hazel dan mempunyai lesung pipit di dua pipinya saat dia tersenyum itu.
Dina hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya itu.
Fitria menyodorkan buku catatannya dengan semangat 45.
"Saya pinjam dulu sebentar ya!!" kata Nathan lalu berbalik tanpa memandang pada Dina.
Bel istirahat pertama berbunyi pelajaran kimia dilanjutkan lagi nanti sehabis istirahat.
Dina sibuk berkutat dengan buku kimianya karena biasanya sehabis jam istirahat pak Budi langsung mengadakan ulangan harian.
Dia memang kurang pandai dalam pelajaran itu makanya dia berusaha untuk memahami lagi.
"Kamu tidak istirahat?" tanya Juma saat melewati bangku Dina.
Dina hanya melirik Juma sesaat lalu fokus lagi pada buku di tangannya.
Tapi sebagaimanapun kerasnya dia berusaha tetapi pikirannya tetap tidak fokus.
Dia memikirkan tentang Nathan si siswa baru tadi. Kembali dia mencoba mengingat di mana dia pernah melihat cowok itu.
"Hai...bisa minta tolong kembalikan buku catatan kimia ini pada temanmu, kah?? Saya sudah selesai mencatatnya.
Andina mengangkat wajahnya dan mereka saling bertatapan sejenak.
"Hai kita belum kenalan...siapa namamu jadi saya enak jika hendak menyapamu..." kata Nathan dengan ramahnya.
"Andina!!"
Jawaban singkat Andina membuat Nathan mengerutkan dahinya seperti tengah berusaha untuk mengingat sesuatu.
"Andina??? aku seperti pernah kenal dengan pemilik nama itu, tapi di mana ya?" batinnya.
"Kamu sedang belajar apa?" tanya Nathan lagi.
"Kimia..." jawab Andina singkat.
Nathan sedikit penasaran dengan gadis berwajah imut tetapi jutek ini.
Seantero sekolah mengelu-elukan dia seperti seorang pangeran tetapi gadis imut ini malah mengacuhkannya dan hanya melirik sekilas padanya sebelum hanyut lagi ke dalam buku di tangannya.
"Hei...kenapa tadi tidak ikut ke kantin bersama kami?" Juma dan Fitria masuk dan menghampiri Dina
"Hei, halo Nathan?? sudah mencatat pelajaran kimianya, kok cepat amat?" tanya Fitria sementara Juma sudah kembali ke bangkunya.
"Saya hanya sedikit mempelajarinya kok...sebab saya mendengar dari beberapa selentingan bahwa pak Budi sering mengadakan ulangan dadakandw sedikit persiapan!!" jawabannya penuh keyakinan.
Tapi catatan kimia ini banyak lho, Niel!!" ucap Fitria dengan menyebut Niel menurut keinginan hatinya saja.."
"Ngga apa-apa...saya hanya baca-baca aja dulu kok mudahan bisa ingat!!" lalu dia mengedipkan sebelah matanya pada Fitria membuat gadis itu klepek-klepek salah tingkah.
Lalu dia melirik lagi pada si imut tomboy yang duduk di sebelah Fitria, tetapi gadis itu sudah kembali fokus pada buku di tangannya.
Walaupun sudah mempelajari rumus semenjak tadi tetapi karena Dina memang kurang di bidang pelajaran kimia membuatnya hanya mendapat nilai 65. Seperti biasa Juma mendapatkan nilai 100 dan disusul secara tak terduga, Nathaniel juga mendapatkan nilai 100 membuat Fitria berdecak kagum padanya karena Niel baru mempelajari catatan kimia darinya pas jam istirahat tadi.
__ADS_1
"Wah, kamu hebat ya Niel..." kata Fitria sambil mencolek bahu Nathan.
Nathan berbalik dan tersenyum pada Fitria sambil melirik ke arah Dina. Tetapi gadis itu malah sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.
***
Dina tergesa-gesa keluar dari kelas begitu bel pulang berbunyi. Tadi dia mendapat pesan dari tante Della agar menjemput adik-adiknya di tempat tante Tini karena tadi bundanya mendadak pingsan di kafe.
Wajahnya sejak tadi nampak gelisah membuat Juma yang duduk beda barisan bangku dengan dia bisa melihat dengan jelas kegelisahan dan kekhawatiran gadis itu.
"Fit aku pulang duluan ya...." tanpa menunggu persetujuan temannya, Dina langsung kabur keluar kelas.
"Kenapa itu si gadis jutek kok terburu-buru banget!!" batin Nathan.
Baru sehari dia bersekolah di SMA ini dia sudah dibuat penasaran dengan gadis itu.
***
"Bu, ibu kenapa? kok hidung ibu mengeluarkan banyak darah? kata Tiwi karyawan kafe yang bertugas mencatat barang-barang yang datang.
Dia mulai panik saat Sania tak merespon hanya duduk bersender di kursinya dengan mata terpejam sementara kerudung yang di kenakannya sudah basah oleh darah.
"Tolong...tolong..." teriak Tiwi semakin panik membuat karyawan lainnya berdatangan.
Untung saat itu kafe belum buka. Hans yang bekerja di bagian koki dengan cepat memencet hidung Sania.
"Maaf ya bu, maaf jika saya lancang..." kata Hans.
"Cepat siapkan mobil, kita bawa bos ke rumah sakit..." teriak Hans yang segera menyadarkan karyawan lainnya.
Hans mengangkat tubuh Sania yang segera dipangku di atas pahanya Tiwi lalu dia juga yang bertindak sebagai supir karena Arman yang bertugas mengantar dan membeli keperluan kafe sedang ada di pasar dan para wanita di sana tak ada yang bisa menyetir mobil.
"Siapkan saja semua bahannya, saya akan segera kembali setelah mengantar ibu ke rumah sakit!!" perintah Hans pada Shinta yang juga bertugas di bagian dapur.
"Hans kelihatan panik banget ya!! jangan bilang Hans suka lagi sama ibu bos kita yang cantik dan baik itu." Kata Tanti yang sedang membantu Shinta.
"Hush...ngawur aja...mbok ya kalo
bicara itu disaring dulu jangan asal mengalir kayak ingus!!" kata Shinta mendelik pada Tanti yang nampak cengengesan saja.
Sementara Hans menyetir membawa Sania ke rumah sakit terdekat, Tiwi menelpon Della untuk mengabarkan bahwa Sania sedang dibawa ke rumah sakit.
Dengan segera Della menelpon Tini untuk membawa Raftar dan si kembar yang sekarang sudah mulai bersekolah di PAUD.
Sementara dia melajukan motornya menuju rumah sakit yang tadi diberi tahukan oleh Tiwi.
"Sudah lumayan lama hidung Sania tidak mimisan, sekarang mengeluarkan darah lagi...mungkin dia terlalu lelah karena akhir-akhir ini Kafe sering disewa untuk acara kantor." Gumam Della prihatin pada kesehatan adiknya itu.
Dia segera masuk ke IGD dan melihat ada Hans dan Tiwi di luar sementara Sania sedang ditangani dokter di dalam.
"Siapa yang melihat pertama kali jika ibu pingsan?" tanya Della.
"Saya bu, saya tadi masuk ke ruangan bos mau minta tanda tangan kok saya ketuk pintunya ngga ada jawaban, saya langsung masuk dan menemukan ibu sudah pingsan di kursinya dengan darah yang mengalir cukup banyak dari lubang hidungnya dan sudah membasahi jilbab yang ibu Sania kenakan.
*
*
***Bersambung...
Beban berat yang mengganjal hati dan pikirannya yang membuat Sania kambuh kembali.
Jangan lupa mampir, baca, like, komen, vote, favorit dan ratenya ya🙏🙏🙏
__ADS_1