
"Saya sangat prihatin dengan keadaan mba Nia, tapi hanya nasehatlah yang bisa saya berikan untuk mba Nia."
Digenggamnya tangan itu untuk memberi dukungan dan kekuatan, bahwa dia tak sendiri menghadapi kesedihannya.
*****
Miko dimakamkan sore ini. Dengan tabah dan berusaha ikhlas aku melihat wajah Miko untuk yang terakhir kali sebelum di kafani. Kucium keningnya dan ke dua pipinya. Wajahnya terlihat damai seperti orang yang sedang tertidur
Miko sekarang memang sedang tidur, tapi tidur untuk tak pernah bisa bangun lagi. Aku berusaha sebisa mungkin menahan air mataku.
Anak-anak juga sudah berhenti menangisi kepergian ayah mereka.
Semuanya hadir di sini terkecuali Niko karena dia masih dalam proses pemulihan sehabis operasi.
Pak Irawan dan beberapa staf tinggi lainnya juga sebagian karyawan perusahaan datang menjenguk Miko dan melihat untuk yang terakhir kali.
Pak Irawan dan tentu saja didampingi menantu kesayangannya Sofwan Prayoga bahkan jauh-jauh datang dari Yogyakarta untuk menghadiri pemakaman Miko.
Aku sudah tak melihat kekiri dan kekanan lagi karena fokusku hanya pada jasad membeku suamiku.
Aku masih berharap sebelum Miko dikafani dia akan membuka mata, terbangun lalu duduk dan memelukku seperti biasa...itulah harapanku.
Tapi harapan hanya tinggal sebatas angan. Sampai kemudian jenazah dikafani dan di sholatkan sebelum kemudian dimasukan ke dalam keranda dan di berangkatkan menuju pemakaman umum.
Sofwan ingin menghampiri mantan istrinya itu untuk mengucapkan bela sungkawa yang sebesar-besarnya tapi urung dilakukannya takut menimbulkan masalah dan semakin runyam.
"Aku ingin ikut kepemakaman suamiku, yah...aku ingin melihat lagi sebelum Miko dimasukan keliang lahat aku tidak mau ketinggalan momen ini aku ingin terus bersamanya sampai tanah akan menutup jasad Miko untuk selamanya." Aku memohon pada ayah mertuaku.
Sebelumnya Jonathan melarangku ikut karena melihat kondisiku yang benar-benar rapuh, tapi aku bersikeras dan mengatakan bahwa aku akan baik-baik saja.
Akhirnya Jonathan mengijinkan aku untuk ikut dengan didampingi olehnya dan Sultan. Sementara anak-anak dilarang ikut oleh kakeknya.
Mata Sofwan tak pernah lepas memandang mantan istrinya itu.
__ADS_1
Hatinya juga teriris pedih melihat keadaan mantannya yang kusut masai dengan mata bengkak dan tubuh ringkihnya.
"Mengapa kebahagiaan tak pernah bisa lama bersamamu, dek!! Mengapa selalu saja kesedihan dan penderitaan yang melingkari alur kehidupanmu??" Batin Sofwan ikut menjerit pilu.
Akhirnya iring-iringan berangkat kepemakaman yang ditempuh sepuluh menit dengan mobil.
Sesampainya di sana jenazah diturunkan. Perlahan tapi pasti dimasukan ke dalam liang lahat. Doa dilantunkan dan dipanjatkan mengiringi kepergian Miko.
Aku tetap berada di dekatnya saat tanah akan menimbun tubuhnya aku dengan gemetar memegangnya untuk yang terakhir kali. Semua orang di situ bahkan mendengar perkataanku.
"Selamat jalan sayangku, cintaku, pujaan hatiku...kamu adalah urat nadi kehidupanku, kamu adalah matahariku, jika tiba waktunya kelak jemputlah bunda ya ayah, tidurlah yang tenang ya...bunda dan anak-anak akan berusaha baik-baik saja...sering-seringlah mampir ke dalam mimpi bunda ya ayah, agar rasa kangen bunda bisa terobati."
Lalu perlahan tanah sedikit demi sedikit menutup dan menimbun jasad Miko.
Sultan dan Jonathan terus mendampingiku begitu pula dengan ke tiga sahabatku.
Taburan bunga dan doa terus mengiringi kepergian Miko. Saat kayu nisan terpancang tegak di atas pusara Miko, saat itulah hatiku kembali meratap pilu.
"Ayah sekarang sudah pindah ke tempat yang baru, kita sudah terpisah sangat jauh ayah...entah kapan kita bisa berjumpa lagi...entah kapan bunda bisa melihat senyum ayah lagi, mendengar tawa dan canda ayah!!"
Satu persatu pelayat pergi meninggalkan pemakaman. Begitu pula pak Irawan dan Sofwan yang nampak tak tega untuk meninggalkanku sendiri.
Sebelum pergi dia sempat berbisik pada Sultan. "Jaga Sania baik-baik ya Sultan, pastikan dia selalu baik-baik saja." Sultan hanya mengangguk.
"Sekali lagi turut berbela sungkawa ya bu...yang sabar dan tabah ya!! Kata pak Irawan dan juga pelayat lainnya.
Sofwan sengaja tak mau menampakan diri di depan Sania. Hatinya sungguh tak tak tega melihatnya.
"Ayo kita pulang mba Nia, hari sudah mau senja sebentar lagi adzan maghrib berkumandang dan hari nampaknya akan turun hujan."
"Tapi nanti Miko kehujanan dan kedinginan di dalam sana Sultan, aku ingin tetap di sini aja bersama dengannya."
"Sania, ayo kita pulang nak!! Miko akan baik-baik saja di dalam sana, kamu rajin-rajin aja kirimkan doa untuknya agar perjalanannya lancar."
__ADS_1
Aku akhirnya menurut. Aku berdiri dan sekali lagi mengusap nisan di atas pusara Miko.
"Bunda pulang ya ayah, besok-besok bunda akan ke sini lagi...kita bercerita lagi seperti sewaktu ayah masih di samping bunda. Walaupun sekarang bunda hanya cerita sendiri dan ayah sudah tidak bisa menjawabnya lagi."
Dengan dibantu oleh ketiga sahabatnya, mereka akhirnya pergi meninggalkan pemakaman yang senja itu diguyur hujan dengan derasnya.
Sania termenung menatap keluar jendela memandangi hujan yang turun.
Dingin? Tentu saja sedingin hatinya yang telah membeku. Dia memang sudah tidak menangis lagi, tapi dalam hati manusia siapa yang tau? Hatinya menangis tapi air mata tak mampu lagi dia keluarkan karena batinnya yang terlalu sakit.
"Nia, kami bertiga pulang dulu ya? Biar Sultan dan pak Jonathan yang akan menjagamu!! Kata Tini sewaktu mereka bertiga turun dari mobil.
"Yang tabah ya bestie, kami akan selalu ada untukmu..." Kata Tuti lalu mereka memeluk Sania erat.
Sementara itu...
Sofwan memandang hujan yang turun dengan derasnya dari jendela kaca hotel tempat dia dan pak Irawan menginap.
Dia jadi ingat kejadian tadi pagi saat pak Irawan ayah mertuanya menerima kabar dari kantor cabang di Balikpapan yang mengabarkan bahwa Jatmiko Sarendra telah meninggal dunia.
Dia benar-benar shock mendengarnya. Langsung terbayang olehnya bagaimana penderitaan Nia dan anak-anak saat di tinggalkan Miko.
Dia memohon pada ayah mertuanya untuk ikut serta dengan alasan bahwa Miko adalah sahabatnya.
Tentu saja tak mungkin dia mengatakan bahwa Sania yang menjadi istri almarhum Miko adalah mantan istrinya.
Sampai sekarang rahasia itu tetap tertutup rapat.
Inginnya dia memeluk mantan istri yang sampai detik ini masih sangat dicintainya. Memberinya kekuatan dan semangat. Membantu meringankan kesedihannya. Tapi tentu saja itu mustahil untuk dia lakukan.
****Bersambung....
Selamat jalan Miko...tidurlah yang tenang dalam keabadian dan bermimpilah yang indah dalam tidur panjangmu ya!!ππ
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya readers...like, komen, vote, favorit dan ratenya!! Terima kasih karena telah mau mampir dan membaca karyakuππ