Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 45 Tinggalkan Kenangan Lama... Jemput Hari Yang Baru


__ADS_3

"Nathan...Dina mau pindah sekolah di kota..."


"Yah...kenapa Dina harus pindah sih? Kita jadi tidak bisa berangkat sekolah bareng lagi?"


Sorot mata kesedihan terpancar dari mata bocah lelaki itu.


"Nanti di sana kalau Dina sudah punya teman baru, Dina akan lupa sama Nathan..."


"Dina ngga akan pernah lupa sama Nathan kok...Nathan kan teman Dina."


"Janji ya...kita akan berteman selamanya...ini adalah janji Dina dan Nathan..


*


*


"Kamu kok kayaknya sedih gitu Dina? Kenapa nak?"


"Kenapa sih kita harus pindah rumah lagi mak? Dina sedih ninggalin teman-teman di sini."


"Di sekolah yang baru nanti, Dina pasti akan punya banyak teman lagi...Miko ikut menimpali sambil membantu mengikat kardus pakaian."


:Aduh beb...coba pakaian usang gini ngga usah dibawa lagi, dibuang napa?"


"Enak betul hidupmu, Ko? Terus kalau baju-baju dibuang...kami pakai karung goni?"


"Nanti sampai di kota kubelikan lagi beb...dari pada kamu bawa begini, bikin berat-beratin aja..."


"Om Miko...nama mamak sudah belubah jadi beb kah? Pelasaan nama mamak kita itu Nia, bukan beb...


Aku mau tertawa mendengar pertanyaan dan protesan Juned barusan. Kulihat Miko menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Oh itu panggilan sayang om Miko ke ibu kalian..."


"Om sayang sama mamak kita kah? Jangan om... "


"Memang kenapa om Miko ngga boleh sayang sama ibu kalian?"


"Mimiknya mamak itu punya Syifa om....nanti Syifa malah lho sama om Miko kalau nanti mamak diambil kan mimiknya juga akan diambil."


"Mimik itu apa beb...? Miko berbisik ke telingaku..."


Mukaku jadi merah mendengar pertanyaan Miko barusan.


"Anu...aduh gimana ya cara menjelaskannya padamu?"


"Maksudnya Juned itu ini lho...aku menunjuk ke dadaku sendiri."

__ADS_1


Miko jadi ikut-ikutan melihat ke dadaku...Entah dia bego pura-pura bingung atau bingung betulan, aku ngga tau."


"Dadamu? Oh...Maksudnya yang biasa anak bayi menyusu itukah?" Dia menggaruk kepalanya sambil melihat kembali.


"Ngga usah bolak-balik diliatin juga kali, Ko?"


"Gede sih...dia bergumam lagi sambil nyengir sendiri..."


"Ngomong gitu lagi, ngga lama kulempar sandal, Ko..." Mataku sudah melotot memandangnya.


"Memang Syifa bakal marah banget ya nak?" Miko mengalihkan pertanyaannya ke Juned.


"Iya om...Syifa kalo sudah ngamuk itu ngeli banget..."


"Hanya gara-gara itu? Miko menunjuk ke dadaku...ngga usah ditunjuk gitu om Miko, sinih...ngga diduga Juned menarik kedua tangan Miko dan memegangkannya ke dadaku."


Aku yang tidak menyangka jadi terpekik kaget juga malu...


"Apa-apaan sih Ko? Aku berusaha menepis kedua tangannya."


" Ntal dulu mak...bial om Miko pegang dulu...supaya om Miko tau, kalo mimik ini punya Syifa."


"Hanya pegang, Ko...bukan mulai meremas..." Aku mendelik dan bergumam pelan padanya.


"Eh iya keterusan...habis kenyal-kenyal gimana gitu, bikin gemes aja..."Miko tersipu-sipu.


"Kalau ini punya Syifa...terus aku boleh pegang yang lain kah beb...matanya mengarah kebawah..."


"Maksudnya pegang yang lain itu apa? Ngga lama matanya Miko kak Nia colok lho ya..."


"Iya sudah ngga usah dipegang...nanti Miko masukin aja tanpa dipegang..."


"Dasar Piktor...aku menarik telinganya..."


"Sudah ya Juned...tangannya om Miko jangan megang lama-lama ya...nanti Syifanya marah...aku menurunkan kedua tangan Miko yang menempel erat di dadaku...bukan menempel aja...malah mulai meraba dan meremas.


"Nah sudah taukan om Miko...jadi ngga boleh ambil mamak...nanti Syifa malah..."


"Iya om ngga akan ngambil yang itu kok...Om mau ambil yang penting aja..yang punya Syifakan ngga bisa menghasilkan sesuatu...Tapi kalau yang akan om ambil nanti bisa menghasilkan adiknya Syifa...adiknya Juned sama kak Dina juga...


"Pak..." Aku menepuk keras bahunya Miko dengan koran di tanganku...


"Aduh...apaan sih beb...sakit tau.." Miko meringis.


" Makanya kalau ngomong jangan suka ngasal...asal jeblang aja..."


"Tapi betulkan apa yang kubilang...aku pernah liat di film itu begitu...plok...plok...ngga lama hamil kan punya dedek bayi tho..."

__ADS_1


"Hayo kamu pernah ngelakuin dengan siapa Miko?"


"Ngelakuin apa kak? Aku ngga ngelakuin apa- apa, dan dengan siapa? Ya denganmu lah nanti...jijik aku mau melakukan dengan yang lain."


"Aku hanya mau melakukannya dengan wanita yang sangat kucintai, kak...satu-satunya wanita yang akan kucintai sampai aku mati ya, kak Nia."


Aku terdiam mendengar perkataan Miko. Aku tau aku bukan lagi wanita sempurna yang bisa menyerahkan diri seutuhnya pada Miko.


"Aku tau apa yang kamu pikirkan...sudahlah aku sudah melupakan masa lalumu...karena aku juga ikut menanggung rasa bersalah pada masa lalumu."


"Toh aku bukan hanya menyayangimu, tapi juga ketiga anakmupun sudah kuanggap sebagai anak kandungku sendiri."


"Aku bukan tipe orang yang egois kak...aku sayang ibunya berarti aku harus siap menerima anak-anaknya dan juga harus siap menyayangi mereka."


"Ya sudah kita siap-siap lagi biar cepat kelar...Yuk.." Dia mengalihkan pembahasannya.


Dengan semangat kulihat Miko mengepak barang dibantu Syifa dan Juned...mereka tertawa dan bercanda...bahagia banget kelihatannya.


Berbeda dengan Dina, kulihat dia tampak murung sekali.


"Dina masih sedih ya pisah dengan Nathan? Aku membelai rambutnya."


"Iya mak...Nathan itu anaknya baik banget...Nathan suka membela Dina jika ada teman nakal yang bilang Dina ngga punya bapaklah...bapak Dina gilalah..."


"Makanya mamak membawa Dina pindah dari sini, agar semua kenangan buruk, kita kubur di sini..."


"Kita sambut hari yang baru di tempat tinggal yang baru nanti."


"Dina kan masih bisa telepon Nathan...begitu pula sebaliknya kan?"


"Nathan ngga akan lupa sama Dina, meskipun Dina jauh kan?"


"Sebagai teman yang baik, ngga gampang untuk saling melupakan, Dina...contohnya mamak dan om Miko...walaupun sudah 19 tahun berlalu, tetap saja kita menjadi sahabat yang baik."


"Begitu ya mak..."


"He-eh..." Aku mengangguk bersemangat...supaya dia tak lagi merasa sedih.


"Sudah semua beb...sudah ngga ada yang tertinggal lagi kan....semua barang sudah di naikan di mobil pick-up."


Aku melihat sekali lagi kearah dalam..."Kenangan...kamu tinggal saja di sini ya...kamu tak usah ikut aku pergi...jadilah sejarah yang akan menjadi saksi bisu kisah cintaku...kisah pilu keluargaku...tinggallah di sini selamanya."


"Untuk terakhir kali kuucapkan selamat tinggal mas...semua kenangan hidup bertahun-tahun dalam suka dan duka bersamamu, akan kutinggalkan disini. Mungkin tak mudah untuk melupakan mu apalagi menggantikanmu...tapi kuharap waktulah yang akan membantuku, untuk menggeser sedikit demi sedikit kenanganmu dari hati dan pikiranku."


Kukunci pintunya...sekalian aku kembalikan ke pemiliknya dan sekalian aku berpamitan dengan mereka, orang-orang baik yang selama ini ada dan selalu membantuku.


***Bersambung....

__ADS_1


Seperti biasa...author minta like dan komennya...Vote dan favoritenya...Terima kasih...🙏🙏***


__ADS_2