
"Kamu ingin memulai kisahku dari mana dulu Ko?"
"Dari awal perpisahan kita, sampai sekarang..."
Aku mengaduk sedotan dalam gelasku...aku mencoba mengingat kembali sebagian kenangan tentang Miko.
Flashback****
"Kak...aku mau pergi mengantar mami ke Singapura, nenekku sakit keras di sana...jadi kakek meminta mami pulang..."
Aku diam sebentar...awal kami bersama sebenarnya aku tidak punya perasaan apapun pada Miko. kuanggap dia bocah tengil yang mencintaiku hanya karena dia menganggap aku lebih tua darinya.
Tapi setelah 3 bulan bersama, dengan sifat manjanya, sifat tengilnya tapi juga kadang mampu bersikap dewasa melebihi usianya yang baru menginjak usia 15 tahun, akhirnya hatiku luluh juga.
"Berapa lama kamu akan pergi, Ko?"
"Mauku sih hari ini pergi, besok sudah balik kemari lagi kak...aku tidak sanggup lama-lama berpisah denganmu..."
"Gombal...kutepuk bahunya dengan buku di tanganku."
"Kakak....selalu saja aku dipukul...coba sekali-sekali aku dipeluk kah...di sayangi gitu...nanti kalau aku pergi lama, kakak pasti akan kesepian di sini."
Entah kenapa saat itu aku berat sekali untuk melepaskannya pergi. Aku seperti merasa omongan Miko yang akan pergi lama akan menjadi kenyataan.
Aku memeluknya dengan penuh kasih sayang, "Miko harus cepat kembali ya...kak Nia pasti akan sangat merindukan Miko."
"Kak Nia ingin minggu depan saat wisuda SMA, Miko ada di samping kakak."
"Miko merebahkan kepalanya di pangkuanku...kubelai rambutnya dengan penuh kasih."
"Kakak mau berjanji untuk selalu menunggu Miko kembalikan?"
"Selama apapun itu Miko pasti akan kembali, karena bidadari Miko ada di sini..."
Itulah hari terakhir aku bersama dengan Miko...karena saat pergi, dia tak mengizinkanku untuk mengantar kepergiannya ke bandara...dia bilang tak mau melihatku sedih.
Aku menunggunya sampai saat hari wisuda tiba, dan di situlah aku menerima kabar duka dari pihak sekolah yang mengabarkan Miko dan ibunya kecelakaan.
Ibu Almira yaitu ibunya Miko meninggal di tempat...sementara Miko kritis.
Aku tidak tahu lagi mau berbuat apa, mau menyusul tapi menyusul kemana?
Aku betul-betul kehilangan arah saat itu. Mungkin benar kata pepatah...setelah dia tiada barulah terasa kehilangannya. Dan itulah yang aku rasakan.
__ADS_1
Baru dari mulut embernya kakakku bilang ke ibu dan bapak bahwa aku sudah berani pacaran dan aku ketauan berbohong, kalau selama ini bilang mau pergi belajar kelompok dengan teman, padahal pergi dengan Miko.
Aku benar-benar dipingit hampir sebulan lamanya oleh bapak, jadi aku tidak mempunyai kesempatan lagi untuk mencari tau tentang Miko.
Aku sempat sakit karena frustasi. Sampai akhirnya ibu berinisiatif memintakan air pada seorang Kyai, agar aku bisa sedikit demi sedikit melupakan Miko.
Aku masih menanti dia kembali. Makanya saat Sofwan datang dalam hidupku awalnya aku tak terlalu merespon. Sampai ibu harus turun tangan membujukku untuk berdamai dengan masa laluku dan mau menerima Sofwan.
*
*
Miko meneteskan airmata mendengar kisahku.
"Maafkan aku baby...dia menggenggam erat kedua tanganku. Untung suasana di sekitaran kafe ini tak terlalu banyak pengunjungnya.
"Kamu tau... pasca kecelakaan itu...aku mengalami koma selama 3 bulan... didalam mimpiku kamu selalu hadir menyemangati hidupku."
"Setelah aku sadar dari koma, kakiku mengalami kelumpuhan."
"Untung kedua kakiku tak sampai di amputasi."
"Selama setahun pertama sehabis aku sadar dari komaku dan selama menjalani terapi pada kedua kakiku...aku hanya bisa home schooling."
"Ditahun kedua, aku sempat balik ke Indonesia...aku mendatangi sekolah kita dulu dan mencari tau tentangmu, tapi semua menemui jalan buntu..."
"Aku sempat mengutuki kebodohanku, kenapa dulu tidak diam-diam mengikutimu pulang...supaya aku tau di mana rumahmu."
"Aku tidak putus asa...semua tempat yang pernah kita datangi berdua, aku kunjungi...berharap aku menemukanmu di sana."
"Sampai akhirnya setelah sebulan pencarianku, kakek memintaku kembali pulang ke Singapura, untuk menyelesaikan sekolahku dan melanjutkan kuliahku di sana."
"Aku bersumpah...jika aku lulus dari universitas nanti, aku akan kembali ke Indonesia untuk mencarimu, mencari cinta pertamaku yang telah hilang."
"Sampai akhirnya penantian panjangku dan juga doa-doaku terkabul juga, awalnya aku pikir aku sedang bermimpi atau berhalusinasi melihatmu sedang mengelap kaca di depan pintu kantor...karena kamu yang sekarang jauh lebih kurus dan kulitmu lebih hitam dibandingkan dengan dulu."
"Tapi aku tidak peduli bagaimanapun keadaanmu, karena bagiku kamu tetaplah wanita tercantikku."
"Ko...sudah hampir jam 13.00, kita kembali yuk...aku harus bekerja lagi."
"Tapi kamu belum menceritakan semua tentang kisah hidupmu, beb...aku mau mendengarnya."
"Hari esok masih ada, Ko...aku pasti akan bercerita banyak tapi nanti, ya...waktunya belum pas."
__ADS_1
Kami berdua kembali menuju kantor. " Nanti turunkan aku lagi diujung jalan yang tadi ya, Ko?"
"Kenapa ngga sekalian turun di depan kantor aja sih, kak?"
Aku menggeleng. "Belum waktunya, Ko?"
"Kapan kamu mulai akan pindah kak? Aku pasti akan membantumu angkat-angkat barang."
"Aku belum ke sekolah Dina untuk minta surat pindah."
"Apa aku harus minta surat juga kak? Aku memalingkan muka memandangnya bingung..."
"Surat apa Ko...?"
"Surat yang menyatakan bahwa kamu adalah istriku!! Supaya kita tidak digerebek warga, kalo aku nginep di kontrakanmu."
"Lha kamu ngapain juga nginep di kontrakanku, Ko?"
"Ya siapa tau aku pas mau pulang, tiba-tiba hari hujankah..."
"Dasar lebay kamu, Ko?"
""Stop di sini aja Ko, biar aku pulang ke kantor jalan kaki..."
Lalu tanpa menunggu persetujuannya aku membuka pintu dan turun...Miko hanya geleng-geleng kepala saja melihat kelakuanku.
"Ingat beb...kamu masih punya hutang cerita kepadaku!!"
"Haduh....pakai acara nagih janji lagi si Miko, padahal aku ingin semua memori tentang mas Sofwan akan kuhilangkan...eh ini mau kuangkat kembali kisah ini."
Aku tidak fokus sama pekerjaanku, betapa selama ini kisah cintaku dan Miko begitu pula kisah cintaku dan mas Sofwan, miris semuanya.
Andai saja dulu aku tidak mengenal keduanya dan tidak jatuh cinta juga pada keduanya, tentu hidupku hingga detik akan baik-baik saja.
Tapi garis kehidupan sudah mentakdirkan hidupku seperti ini. Aku terkadang protes pada diriku sendiri. Aku adalah tipe orang yang sulit jatuh cinta, namun jika sudah sekali mencintai, maka sulit juga untuk melupakan dan melepaskan. Belasan tahun aku berusaha bangkit saat kehilangan Miko, mencoba keberuntungan cinta dan hidupku pada mas Sofwan, tapi ternyata juga berakhir sama.
Entah sampai kapan bisa kutemukan kebahagiaanku.
***Bersambung....
Dengan segala kerendahan hati, saya bersama keluarga memohon maaf atas segala salah dan khilaf.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1443 H..
__ADS_1
Minal Aidin Wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin***.