
Aku ingin menepis tangan Miko yang memelukku, tapi aku tak bisa.
"Tolong dengarkan penjelasan ayah, bun..ayah menikahi Alena bukan karena cinta, tapi demi memenuhi janji dengan almarhum paman Leon."
"Mengertilah keadaan ayah, bun...ayah sangat mencintai bunda dan ayah juga menyayangi paman Leon yang sudah ayah anggap seperti orang tua ayah sendiri.
"Lepaskan dulu, yah...biarkan bunda bicara!!" Aku berusaha kembali melepaskan pelukannya.
Akhirnya Miko melepaskan pelukannya. Aku berbalik menghadapnya.
"Yah...ngga ada ceritanya menikah hanya karena keterpaksaan...karena lambat laun rasa cinta itu pasti tumbuh."
"Aku tak minta ayah memilih, karena aku sadar diri kok, aku ini siapa!!"
"Aku hanya janda miskin beranak tiga... sementara ayah menikahiku saat itu masih seorang perjaka."
"Terus apa hubungannya, bun?"
"Alena itu masih perawan, yah...tentu ayah juga ingin merasakan seperti pengantin baru pada umumnya. Ingin merasakan bagaimana rasanya berhubungan dengan seorang perawan...yang tidak ayah dapatkan lagi dari bunda."
"Ngomong apa sih, bun?" Miko tampak gusar mendengar perkataanku.
"Ayah tidak peduli dengan semua itu, bun!! Jika ayah mau...sudah dari dulu ayah mencari yang perawan, tapi nyatanya tidak ayah lakukan!!"
"Karena apa? Karena ayah mencintai bunda, ayah menerima segala kelebihan dan kekurangan yang bunda miliki."
"Tapi sampai kapan juga ayah akan terus mengabaikannya? Ayah akan sangat berdosa, karena dia istri ayah juga."
"Posisinya memang tidak sah secara hukum, tapi secara agama? Dia sah di mata Allah, yah..."
Suaraku mulai meninggi...mungkin karena aku sekarang sedang hamil muda dan kadar hormonku meningkat...membuatku sangat sensitif dan mudah emosi.
"Tak mungkin juga di dalam satu atap akan bertahan dua cinta, yah...suaraku mulai melemah."
"Mungkin benar apa yang dikatakan Syifa di taman belakang tadi...lebih baik bunda membawa anak-anak pergi dari rumah ini."
"Apa??? Tidak...tidak...ayah tidak akan pernah mengizinkan bunda dan anak-anak pergi dari rumah ini."
"Ayah, mengertilah...cinta tidak mungkin terbagi...bunda ikhlas jika harus mundur."
"Bunda bukan tipe orang yang suka bersaing, lebih baik bunda mengalah saja dan memilih pergi dari kehidupan ayah."
__ADS_1
Dalam hatiku berkata, "Bunda tidak tahan melihat ayah berbagi kasih dengannya, dari pada bunda menderita sepanjang hari...maka jalan terbaik yaitu pergi meninggalkan cinta."
"Pokoknya sekali ayah bilang tidak, ya tetap tidak bun...titik ngga pakai koma."
"Sekarang bunda masuk ke kamar kita dan istirahat...ayah tidak mau melihat calon bayi ayah menjadi anak yang cengeng juga pembangkang."
"Ayah akan menyuruh Alena tidur di kamar untuk tamu."
Karena dilihatnya aku tidak bergerak dari tempatku berdiri, dengan tidak sabar Miko menggendongku masuk ke kamar.
Dari balik tirai ruang tamu, ada sepasang mata yang menatap kami dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Bang...Alena cinta sama abang, istri abang bukan hanya dia...tetapi aku juga."
"Seperti katamu tadi, aku akan membuatmu setiap saat tak merasa nyaman...kamu berhati-hatilah dengan kandunganmu, kak
Sania!!!" Alena tersenyum sinis lalu masuk ke kamar tamu.
"Ayah kangen sama bunda...bunda ngga kangenkah sama ayah?" Miko berbisik di telingaku.
"Sebenarnya bunda kangen, yah...tapi sekarang rasa kangen itu sudah berubah menjadi rasa sakit..." Batinku berucap.
"Kejadian tadi sore hampir menyebabkan kita kehilangan calon bayi kita."
"Bunda merencanakan untuk memberi kejutan untuk ulang tahun ayah, tapi ayah telah lebih dulu membawa kejutan untuk bunda."
"Bun, ayah lelah dengan semua ini...ayah ingin malam ini menghabiskan waktu berdua dengan bunda."
Aku menghela napas. Sebenarnya hasratku untuk bercinta dengan suamiku hilang sudah. Yang ada setiap berdekatan dengannya hanyalah rasa sakit hati.
Tapi aku sebagai seorang istri juga berdosa jika tidak mau melakukan kewajibanku untuk melayani suami.
"Ayah mandi sana...bersihkan diri dulu, dari pulang tadi ayah belum mandi dan juga berganti baju."
"Oke bundaku sayang...tunggu ayah sebentar ya!!" Dia mencium keningku lalu beranjak masuk ke kamar mandi.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Percintaanku memang seperti sebuah kutukan yang tidak pernah menginginkan aku bahagia."
Aku mengeluh di dalam hati. Bagaimana hatiku tak miris, dua kali pernikahanku selalu berakhir begini. Dua orang laki-laki yang kucintai, pergi meninggalkanku menikah dengan wanita lain.
Walaupun mereka menikah karena keadaan yang memaksa dan bukan keinginan mereka sendiri. Tapi tetap saja pada akhirnya, akulah yang menjadi korbannya.
__ADS_1
Sekarang maduku malah tinggal satu atap denganku. Walaupun Miko menikahinya hanya karena sebuah amanat, tapi Alena sekarang sah sebagau istri dari suamiku.
Apa yang Miko berikan padaku, juga harus Miko berikan padanya.
Aku memandang keluar jendela. "Aku tak tau harus mengadu kemana lagi ya Allah...aku tak menyalahkanmu atas takdir hidupku, tapi tolonglah hambamu ini...berikan jalan apa yang selanjutnya harus hamba perbuat?"
Rasanya aku sudah sangat lelah. Lelah dengan semua masalah dalam hidupku yang seperti tak ada ujung bahagianya.
"Perasaan hidupku ini sejak dulu menderita...terus!!! Apa aku ini memang di naungi oleh bintang kesengsaraankah?" Aku tersenyum miris mengingat kenyataan pahit yang selalu kualami.
"Hei...ibu hamil dilarang banyak melamun!!" Tanpa kusadari Miko sudah ada di sebelahku.
Aku menoleh padanya yang hanya menggunakan handuk yang membelit pinggangnya.
"Sebentar lagi tubuh itu bukan hanya akan menjadi milikku sendiri, tapi juga akan menjadi milik Alena..." Baru membayangkannya saja hatiku sudah teramat sakit, apalagi jika melihatnya langsung?
"Sayang...kamu masih memikirkan itu?" Miko duduk di sebelahku dan berbisik lembut di telingaku.
Aku hanya menggelengkan kepala. Berpura-pura untuk bisa melupakan kejadian tadi sore dan harus tampak bahagia saat berada di sisi Miko.
Dia memelukku dengan penuh kasih sayang. "Ayah juga tak pernah menginginkan semua ini terjadi, bun...ayah tak menyangka kepulangan ayah ke Singapura akan membawa petaka pada pernikahan kita."
"Percayalah bun, cinta ayah ke bunda tak pernah berubah sedikitpun...ini ujian yang harus kita hadapi bun, intinya jika kita berdua tak mampu bertahan...maka hancurlah rumah tangga yang kita bina ini."
"Ayah ingin bermesraan dengan bunda, kita lupakan dulu masalah kita, ya..."
"Biasanya setiap malam ayah meminta jatah ke bunda, sekarang sudah hampir dua minggu dedek kecil ini tak punya pegangan hidup untuk bersandar."
Mau tak mau aku tersenyum mendengar perkataannya. "Apa sih yah...ngga jelas lho ayah ini!!"
"Nah, gitu kan cantik dari pada harus merembes air mata terus?"
"Kayak ayah ngga begitu, yah...gaya betul ngajari bunda."
"Ssttt...sudah diam...waktunya tangan dan hasrat kita aja yang bicara...pokoknya ayah mau sampai subuh..."
Miko mendorongku ke tempat tidur dan kami memang tidak berkata apapun lagi setelahnya.
***Bersambung...
Sampai di mana akan bertahan uji kesabaran serumah dan seatap untuk dua cinta? Selalu minta dukungannya ya readers...komen, like, vote dan favoritnya...terima kasih🙏🙏🙏***
__ADS_1