Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 96 Pergi Untuk Waktu Yang Lama


__ADS_3

"Sofwan....cepatlah ke Yogya, kalau bisa sore ini juga..."


"Tapi besok masih ada meeting dengan client, yah...makanya Sofwan menunda keberangkatan."


"Istrimu kecelakaan, Sofwan!!! Untung Aisyah tidak dibawanya."


"Astaghfirullah...kok bisa yah??? Anggita memang mau pergi kemana???"


"Dia pergi reunian dengan kawan-kawannya di SMA dulu...mobil yang membawa mereka kecelakaan."


"Aduhhh iya, yah...Sore ini juga Sofwan akan berangkat ke Yogya."


Telepon terputus. "Aduh...banyak banget masalahku ini...padahal rencananya hari ini aku mau bertemu dengan Sania dan anak-anak... .perasaanku tidak enak tentang mereka."


"Sekarang istri di Yogya malah kecelakaan...ya sudahlah, aku batalkan saja dulu bertemu dengan anak-anak, aku langsung terbang ke Yogya aja."


Sofwan tidak tahu, pasca dia melabrak Miko di kantornya, terjadi hal yang sangat besar dalam rumah tangga Miko dan Sania.


Dia tidak tau bahwa Sania dan anak-anak sudah tidak tinggal lagi di rumah Miko.


*


*


"Bener hari sabtu minggu Dina boleh nyanyi di kafenya om Sultan, bun?"


"Asyik...jadi bisa punya uang sendiri untuk bantu-bantu bunda."


"Dina simpan saja uang itu untuk keperluan sekolah, nak!!" Aku menatapnya iba.


"Jangan bun, sekarang ayah Miko sudah tidak memberi bunda nafkah lagi, begitu pula bapak...jadi Dina harus bantu cari uang juga."


Kami berdua tak sadar kalau di luar ada Sultan yang sedang mendengarkan pembicaraan kami.


Sebenarnya dia tidak sengaja mendengarkan, dia hanya bermaksud memenuhi undanganku kemarin, tapi tak sengaja dia mendengarkan obrolanku dan Dina.


Dia menarik napas. Kasihan mereka ini, mba Nia juga dalam keadaan hamil masih mencari pekerjaan. Di saat wanita hamil lainnya duduk di rumah mengasuh anak mengurus suami, dia malah berjuang sendiri untuk menghidupi anak-anaknya.


Tok...tok...tok... Assalamualaikum...


"Itu pasti om Sultan, Dina suruh masuk om Sultannya...bunda kemarin meminta om Sultan makan malam di rumah, sebagai ucapan terima kasih kita padanya."


"Waalaikum salam...masuk om, sudah kita tunggu lho dari tadi!!!"


"Iya, terima kasih ya Dina..."


"Duduklah Sultan, kita sudah menunggu sejak tadi!"


"Iya mba, maaf tadi habis mengajar anak-anak les bahasa inggris."


"Maaf ya, kalau menunggu lama."

__ADS_1


"Ngga apa-apa kok, om...ngga usah ngerasa bersalah gitu, bunda ngga akan marah kok..." Dina mengedipkan matanya padaku.


"Dina...om Sultannya jangan digodain dong...nanti di SMP, om Sultan ini lho yang ngajar bahasa inggrisnya."


"Ayo silakan Sultan...mau ambil sendiri atau mau diambilkan?"


"Ambil sendiri aja mba, kok malah saya jadi ngerepotin mba."


"Juned sama Syifa mau bunda ambilkan? Kok Juned dari tadi cemberut aja?"


"Katanya tadi bang Juned kangen sama bapak Sofwan dan ayah Miko, bun..." Syifa nyeletuk.


Aku jadi terdiam. Memang mas Sofwan dan Miko sangat memanjakan Juned. Apapun yang diminta olehnya, pasti akan dibelikan oleh mas Sofwan dan Miko.


Ada rasa perih yang tiba-tiba merasuk di hatiku. Rupanya perubahan wajahku terlihat oleh Sultan.


"Memang Juned mau minta apa, leh..." Kata Sultan dalam bahasa Jawanya yang masih terbilang medok.


"Juned bosen di lumah telus, om...sudah seminggu di sini bunda ngga pelnah ngajak kemana-mana...paling main di tempat tante Tini."


"Juned mau hari sabtu besok om Sultan ajak pergi ke alun-alun? Di sana setiap sabtu ada pasar malam dan banyak permainannya juga."


"Tapi kita ke sananya naik angkot ya...om kan ngga punya mobil, kasihan bunda kalian kalau naik motor."


"Ok...om..." Juned tampak senang sekali.


"Nah sekarang cah bagus makan ya...jangan cemberut lagi, kasihan bunda sudah masak tapi Juned ngga mau makan."


Mujarab memang kata-katanya Sultan, Juned itu bukan termasuk anak yang gampang dibujuk, tetapi dengan kelembutannya, dia berhasil membujuk Juned.


"Om Sultan tinggal di sini sendiri ya, om belum menikah kah?" Dina membuka percakapan.


"Sudah...bahkan om menikah muda...tapi sekarang anak dan istri om sudah ngga ada..."


"Ngga ada gimana maksudnya, Sultan?" Kataku lagi.


"Sudah meninggal kecelakaan lima tahun lalu mba, jadi korban tabrak lari." Dia nampak muram dan aku jadi merasa ngga enak.


Tiba-tiba..."Tablak lali itu apa om? Nablak sambil lali gitukah?"


"Aduh...pikirku...Syifa ini main nyeletuk aja, mana bahasanya susah di mengerti lagi."


"Bukan dek, tabrak lari itu orang yang nabrak kabur ngga mau tanggung jawab, gitu kan om Sultan?"


"Benar Dina, bahkan sampai sekarang belum diketahui siapa penabraknya."


"Maaf ya Sultan, kalau pertanyaan anakku mengingatkanmu kembali pada keluargamu."


"Oh ngga apa-apa, mba...namanya juga anak-anak."


"Mba, saya boleh tanya? Maaf jika agak kepo, kok tadi Syifa bilang bapak Sofwan dan ayah Miko?"

__ADS_1


Sekarang giliran aku yang terdiam. Setelah menarik napas, baru aku menjawabnya.


"Sofwan itu suami pertamaku...kami berpisah karena pada saat itu dia kehilangan kewarasannya jadi kami dipaksa bercerai oleh keluarganya.


Lalu aku menikah dengan Miko, Pernikahan kami pun tak lama baru berjalan lima bulan, Miko dipaksa menikah dengan putri paman angkatnya.


"Kami tinggal satu rumah, dan karena sudah tak tahan aku membawa anak'anakku pergi."


"Terus yang namanya Sofwan itu, apakah sekarang sudah sadar?"


"Sudah...bahkan dia sudah menikah lagi dan sudah punya seorang anak."


"Seperti kutukan ya, mba....perjalanan hidup bahtera rumah tangga mba Sania.."


"Iya...kutukan cinta..." Kataku tersenyum miris.


*


*


Begitu aku tiba di Yogya aku langsung ke rumah sakit tempat Anggita dirawat.


Ayah mertuaku sudah menunggu kedatanganku di ruang icu.


"Bagaimana keadaan Angiita, yah?" Mertuaku menggeleng.


"Kedua kakinya harus di amputasi, Sofwan!!" Aku langsung terduduk lemas mendengarnya.


Kedua kaki Anggita hancur...di antara tujuh orang temannya, yang hidup cuma Anggita...yang lain meninggal dunia semuanya."


"Ya, Allah..." Tak tega rasanya aku melihat istriku terbaring dengan banyak alat infus di tubuhnya.


"Tapi disyukuri aja yah...nyawanya masih dilindungi oleh yang Maha Kuasa...walaupun dia harus kehilangan kedua kakinya."


"Sofwan...."


"Iya, yah..." Aku menoleh pada mertuaku.


"Tampaknya kamu harus tinggal di Yogya dalam waktu yang lama, atau mungkin untuk seterusnya di sini."


"Karena jelas Anggita ngga mau dibawa pulang kembali dalam kondisinya yang sekarang."


"Tak mungkin juga kamu harus bolak balik ke Yogya terus...satu-satunya cara, kamu minta mutasi aja kemari."


"Deg..." Berarti aku sudah tidak bisa bertemu dengan anak-anakku lagi...tak bisa melihat Saniaku lagi..." Mendadak aku terasa lemas.


Tapi aku juga tidak boleh egois, Anggita adalah istriku...dan aku juga punya anak darinya.


"Kebetulan di kantor pusat yang di Yogya ini memang lagi membutuhkan seorang manajer personalia yang baru, Sofwan."


Aku tak lagi fokus mendengarkan penjelasan mertuaku...pikiranku sudah bercabang kanan kiri...

__ADS_1


***Bersambung...


Selalu minta dukungannya ya readers...like, komen, vote dan favoritnya...terima kasih🙏🙏🙏


__ADS_2