
"Belum waktunya kamu pergi, Nia!! Apa kamu ngga kasihan sama ke lima anakmu?"
"Jika tiba waktunya nanti, ibu sama bapak akan menjemputmu...sekarang kamu kembalilah!! Banyak yang sedang menantikan kedatanganmu lagi."
Akhirnya Sania sudah sadar sepenuhnya. Dia memandang ke kiri kearah Sultan dan ke tiga sahabat karibnya. Dia tersenyum pada mereka.
Saat dia menoleh ke arah kanan, Miko berdiri di sana memegang jemarinya.
Tiba-tiba ingatannya kembali ke saat dia menelpon membutuhkan pertolongan Miko, tapi apa yang diterimanya? Dia ingat semua sekarang, mengapa dia bisa terbaring koma selama lima hari ini di ruang ICU.
Dia menarik tangannya dari genggaman Miko. Air matanya meluncur, perih rasanya mengingat bahwa suami yang dicintainya juga sudah menjadi suami wanita lain.
"Kenapa bunda lepaskan pegangan ayah?" Miko yang tadinya senang mendadak jadi bingung melihat perubahan Sania.
"Pergilah...aku tidak mau melihatmu di sini!! Aku tidak mau Alena beranggapan, dengan sakitku waktu kalian bersama akan terganggu."
Karuan saja Miko semakin bingung. "Bunda ngomong apa sih, bun? Sudah lima hari ayah selalu rutin datang kemari menjenguk dan menjaga bunda."
Aku memalingkan wajahku darinya, hatiku malah bertambah sakit rasanya.
"Miko, sebaiknya kita keluar saja...agar keadaannya stabil dulu!!" Sultan menarik tangan Miko keluar.
"Sebenarnya ada apa Nia? Miko menjagamu selalu di sini." Tini menggenggam tanganku.
"Kalian tau apa yang menyebabkan aku jadi begini? Itu semua karena ulah Miko dan Alena."
Aku lalu menceritakan semua kronologi kejadiannya tanpa ada yang tertinggal. Air mataku terus menetes sambil bercerita.
"Ya sudah..." Wati menengahi.
"Sekarang kamu tenangkan diri dulu...jika tidak, kondisimu bisa ngedrop lagi."
"Bagaimana keadaan anak-anakku, Tin?"
"Alhamdulillah mereka berlima baik semua!!!"
"Berlima?" Aku bertanya dengan bingung.
"Iya Nia...bayimu kembar laki-laki semua." Tini menambahkan lagi.
"Melahirkan? Iya...aku lupa kalau aku habis melahirkan...apakah mereka sehat, Tin? Aku ingin melihat dan menggendong mereka, aku ingin menyusui mereka..."
"Nanti setelah kamu dipindahkan ke ruangan rawat inap, kamu bisa bertemu dengan mereka, Nia..."
"Aku bisa minta tolongkah!!!" Aku memandang pada ke tiga sahabatku.
"Aku tak mau lagi melihat Miko datang ke rumah sakit ini, apalagi datang ke ruangan aku di rawat."
"Melihatnya, aku selalu terbayang kejadian itu...lama-lama aku bisa sakit jiwa karenanya."
__ADS_1
"Akan kuberi tahu pada Miko...sebaiknya kamu istirahat dulu aja, ya...." Wati mengelus rambutku.
*
*
"Sebenarnya apa yang sudah kamu perbuat sehingga mba Nia begitu membencimu, Miko?"
"Aku juga ngga tau Sultan, karena pagi itu aku berangkat ke kantor bareng Dina dan Juned."
"Setelah itu aku pulang ke rumah sebentar, karena ada berkas yang tertinggal di ruangan kerjaku."
"Nah rupanya ponselku ini tertinggal di rumah, sehingga mungkin Sania telepon...aku tidak tau."
"Sepertinya masalahnya tidak semudah itu, Miko...kalau hanya itu Sania pasti bisa mengerti...dia wanita dengan sejuta pengertian!!"
"Kalau kurasa masalah yang terjadi lebih dari itu, aku takutnya pas Sania telepon, Alenalah yang mengangkat teleponnya."
Lama Miko termenung memikirkan perkataan Sultan.
"Kurasa kamu benar, Sultan...pasti ada sesuatu yang disampaikan oleh Alena sehingga membuat Sania begitu sakit hatinya."
"Jika kamu masih mencintainya, kamu luruskanlah masalahmu, bro...jangan biarkan berlarut-larut."
"Dan untuk sementara ini kamu jangan temui dia dulu, nanti kondisi fisiknya bisa ngedrop kembali."
Sultan hanya menghela napas dalam. "Miko...jujur aku katakan, aku menyayangi mba Sania...tetapi melihat keadaanmu seperti ini, aku juga jadi kasihan."
"Niat awalmu hendak menolong Alena demi memenuhi janjimu pada ayahnya, malah menjadi neraka dalam rumah tanggamu sendiri."
*
*
"Halo...Assalamualaikum...Dina ini bapak, nak!!"
"Bagaimana kabarmu dan adik-adikmu? kalian baik-baik aja kan?"
"Kebetulan bapak lagi ada di kota ini...kemarin malam bapak sampai..sebentar sore bapak akan ke rumah ayah kalian untuk membawa kalian jalan-jalan."
"Apa??? Kalian tidak tinggal lagi di sana? Terus kalian berempat tinggal di mana?" Sofwan mulai terlihat panik.
"Astaghfirullah...kasihan kalian nak...terus ini bundamu mana, bapak ingin bicara?"
"Apa??? Koma di rumah sakit? Sejak kapan? Ya sudah kasih alamat rumah sakit dan di ruangan apa bundamu di rawat, bapak akan segera ke sana sore ini."
Setelah selesai rapat dengan para pemegang saham, setelah lewat maghrib barulah Sofwan bisa menuju ke rumah sakit yang dituju.
Dan dia mendapat informasi kalau mantan istrinya itu sudah siuman dan sudah dipindahkan ke ruang rawat inap.
__ADS_1
Lama Sofwan termangu berdiri di depan pintu. Dia menyiapkan hatinya dulu untuk bertemu dengan wanita yang sampai kini masih sangat di cintainya. Karena sejak tadi jantungnya berdegup kencang.
Dibukanya handle pintu perlahan dan masuk keruangan VIP itu.
Ruangan itu kosong karena ketiga teman Sania dan anak-anak pulang untuk istirahat. Giliran Sultan yang menjaga karena Sania tak mau lagi bertemu dengan Miko. Sementara Sultan pergi ke mesjid yang letaknya di belakang rumah sakit untuk melaksanakan ibadah sholat maghrib.
"Assalamualaikum?" Sofwan menyapa dengan ragu karena melihat mata Sania yang tertutup.
Hatinya sakit melihat kondisi Sania yang tergeletak lemah di pembaringan. Walaupun wajahnya sangatlah pucat, tapi sama sekali tak memudarkan kecantikan wanita yang telah sembilan tahun bersamanya itu.
Mendengar ada suara mengucapkan salam, Sania pikir itu suara Sultan... dia lalu membuka matanya.
Dia mengerjapkan matanya berulang kali untuk memastikan apakah dia hanya berhalusinasi atau tidak.
Dia melihat Sofwan berdiri tak jauh dari pembaringannya, sedang menatap dan tersenyum padanya.
"Dek..."
Hanya itu yang bisa diucapkan Sofwan sebelum dia akhirnya bersimpuh di dekat pembaringan Sania dan menangis melihat keadaan mantan istrinya.
"Mas Sofwan..." Tenggorokan Sania rasanya seperti tercekat saat menyebutkan nama itu.
"Ini benaran mas Sofwankan?"
"Iya...ini beneran mas Sofwan, dek!! Kenapa tidak ada yang memberi kabar ke mas Sofwan tentang keadaanmu?"
"Kami tidak mau merepotkanmu lagi mas, apalagi sekarang mas sudah pindah ke Yogya semenjak Anggita kecelakaan."
"Terus kamu membiarkan dirimu menanggung beban ini seorang diri?"
Lalu mata Sofwan beralih ke arah dua boks bayi berkelambu biru di ruangan itu.
"Itu anakmu?" Katanya sambil berdiri melihat ke dua bayi itu.
"Kok yang imut ini mirip banget sama Juned waktu masih bayi dulu ya, dek?"
Aku hanya mengangkat bahu saja mendengarnya.
Lalu Sofwan duduk kembali di depanku, dia tidak mau menggendong takut nanti malah ke dua bayi itu jadi menangis dan rewel.
"Mas tau dari mana aku di rawat di sini?"
"Dina yang memberitahu pada mas Sofwan sore tadi."
Mereka berdua asyik bercerita, sampai tak menyadari ada seseorang yang masuk dan memperhatikan mereka berdua.
***Bersambung...
Mumpung lagi semangat nih...jadi up nya juga cepat...selalu minta dukungannya ya...like, komen, vote, favorite dan rate nya...happy reading💙💙
__ADS_1