
"Bagaimana kabarnya Anggita istrimu, Sofwan? semoga kalian bertiga, baik-baik saja." Kak Nuri menelpon.
"Baik, kak! Apa kakak sudah sampaikah? Anggita bilang, kakak berdua langsung ke rumah aja, karena kita sebentar lagi juga mau keluar dari rumah sakit."
"Paling sekitar setengah jam lagi kami akan sampai, ini lagi isi bensin dulu...tunggu aja dulu ya!"
"Mereka sudah sampai di rumah kita kah, pah? kok cuma berdua? kak Juwita ngga ikut kemarikah, pah?" Anggita bertanya sambil berberes bawaan yang akan dibawa pulang nanti.
"Mungkin kak Juwita masih sibuk, mah...apalagi toko onlinenya sedang ramai, suaminya pun sedang dinas ke Surabaya."
"Kak Juwita itu orangnya beda dari yang lainnya ya, pah? 0rangnya diam, dan tak banyak bicara."
"Aku malah beranggapan dia tak begitu menyukaiku."
"Jangan suudzon dulu, mah...kak Juwita orangnya memang begitu, dia lebih banyak diamnya daripada bicaranya."
*
*
"Bun...ayah harus berangkat ke Jakarta besok, ayah mewakili perusahaan untuk berangkat."
"Kok mendadak banget sih, yah? Padahal rencananya besok kita sekeluarga mau pergi ke taman bermain yang baru di resmikan itu."
"Ayah cuma pergi tiga hari bun, sepulangnya dari sana, kita kan bisa pergi bersama anak-anak."
"Kok cemberut sih istriku sayang, ntar ayah bawakan oleh-oleh dari Jakarta, deh."
"Bunda agak kesel aja sih, yah! entahlah, akhir-akhir ini bawaannya bunda itu kesel aja, pengennya marah...aja."
"Iya, pokoknya ayah janji deh, begitu pulang kita langsung pergi ke taman bermainnya, sabar dulu ya!"
Aku juga bingung, akhir-akhir ini bawaanku itu sensitif aja. Sedikit ada yang membuatku tak nyaman, aku langsung mau marah.
"Bantu ayah meringkas pakaian yang mau ayah bawa nanti ya, bun."
Entah kenapa kali ini, aku tuh rasanya tidak ikhlas dia pergi meninggalkanku. Seperti ada sesuatu yang bakalan terjadi menimpa kami.
"Ada berapa orang dari kantor yang akan berangkat, yah? bukan cuma ayah sendirian kan?"
"Ngga, bun...ada tiga orang yang akan pergi, termasuk ayah."
*
*
"Nia, pak Sofwan minta dibuatkan teh hangat tuh..." mbak Fina masuk ke dapur menemuiku.
__ADS_1
"Kok wajahmu pucat, Nia? Kamu sakitkah?"
"Aku cuma ngga enak badan, mbak...perutku rasanya seperti diaduk-aduk gitu."
"Baru pak Miko berangkat ke Jakarta lagi tadi pagi."
"Berapa hari suamimu pergi, Nia? Sebentar aja kan?"
"Katanya sih tiga hari, semoga ngga ada hambatannya."
"Ya sudah, aku buatkan teh untuk pak Sofwan dulu ya, mbak Fina..."
Setelah jadi, aku lalu membawa nampan berisi teh keruangan pak Sofwan.
Tok...tok...tok
"Masuk aja, Nia..."
"Selamat pagi, pak...ini teh pesanan bapak." Aku cepat-cepat menaruh teh di mejanya, agar tidak lama-lama beradu pandang dengannya.
"Wajahmu pucat, Nia...apakah kamu sakit? kalau sakit istirahat aja dulu."
"Saya baik-baik aja kok, pak...hanya sedikit pusing dan agak meriang."
"Kontrak kerjamu berakhir dua minggu lagi ya, terus kamu mau lanjut lagi kah?"
"Juned, itu pasti Juned yang di maksud mau masuk sekolah tahun ini, besar sudah anak laki-lakiku itu!"
"Kalau tidak ada yang di perlukan lagi, saya mau kembali bekerja lagi, pak!" Aku mengagetkannya yang setengah melamun.
"Oh iya, silakan...nanti saya akan memanggilmu lagi jika membutuhkannya." Dia nampak tergagap.
Aku pamit mundur. Setelah aku keluar, Sofwan nampak tengah melamun memandang keluar jendela.
"Sudah setahun lebih semenjak kepergianku, aku tak lagi memberi nafkah untuk anak-anakku!! Bapak macam apa aku ini?"
Matanya tampak mengembun, terbayang kembali ketiga anak-anaknya yang selalu ceria, walaupun di tengah hidup yang serba pas-pasan.
"Tidak...aku tidak boleh larut dalam kesedihanku, aku tidak mau jika terlalu stres, maka akan berdampak pada kondisi kejiwaanku lagi."
"Aku harus mencari cara agar bisa tetap dekat dengan Sania, supaya aku bisa memberi nafkah pada mereka secara diam-diam."
"Tapi cara apa ya...supaya Sania tidak jadi resign dari kantor ini? Kasihan juga Juned tidak ada yang mengantar jemput, jika Sania bekerja."
"Ah...nanti dulu lah kupikirkan caranya." Diraihnya cangkir teh di meja dan meminumnya.
"Tak ada teh yang senikmat buatan istriku ini! takarannya selalu pas."
__ADS_1
Aku terdiam dalam lamunan. "Tapi dia bukan istriku lagi, dia istri Miko sekarang! dapatkah kuambil kembali apa yang dulu jadi milikku, ya?"
Sementara aku mulai bekerja lagi, walaupun aku merasakan kepalaku pusing dan rasanya mual sekali.
Seluruh badanku sudah ku baluri minyak angin untuk menghilangkan rasa mual dan pusingku. Walaupun tidak menyembuhkan, paling tidak sedikit mengurangi rasa sakitnya. Aku takut asam lambung yang ku derita, kambuh kembali.
Memang beberapa hari ini aku selalu telat makan. Pekerjaanku menumpuk, belum lagi di rumah aku juga sepulang bekerja harus mengurus anak-anak.
Rasanya sepi juga di tinggalkan Miko. Padahal dia pergi hanya tiga hari saja. Anak-anak kalau sudah mandi sore dan selesai makan, semuanya sibuk sendiri.
Mau menelpon ketiga teman-temanku, takut mereka juga sibuk. Aku tidak bertemu lagi dengan mereka hampir empat bulan.
"Ayah sedang apa ya...dari pagi dia tidak mengabariku apapun!!!" dan aku juga bukan tipe istri yang suka kepo dengan kegiatan suami.
"Kamu belum pulang? Temani saya makan yuk, pulang nanti?"
"Saya mau langsung pulang, pak...sebab saya tadi naik angkot, motor saya masih di bengkel."
"Sebentar saja, Sania...nanti pulangnya saya antar, kapan perlu sampai di depan pintu rumahmu."
"Mulai deh Sofwan ini..." Aku mulai meradang dalam hati.
"Tapi jangan lama ya, pak! Kasihan anak-anak saya di rumah sendirian, pak Miko berangkat ke Jakarta tadi pagi, dan bibi pulang tepat jam 6 sore."
"Miko berangkat ke Jakarta? Kesempatanku untuk bisa mengantar Sania pulang sampai ke rumahnya."
"Iya, sebentar saja kok...sehabis makan kuantar kamu pulang."
"Pak Sofwan, ibu Anggita ngga marah kah kalau bapak pulang ke rumahnya telat?" sela ku lagi.
"Ada kakak-kakakku datang, Sania...jadi Anggita tidak akan kesepian, lagian pikiranku selalu buntu jika ada di rumah Sania, "batinku."
Dalam otakku hanya terus kepikiran kamu dan anak-anak, Sania. Rasa cinta dan rasa bersalah, terus menghantuiku.
"Saya mau ganti baju dulu ya, pak! Pak Sofwan tunggu saja di parkiran, nanti saya menyusul."
"Ngga pake lama ya, Nia...kalau lama....Kalau lama kenapa, pak? Kalau lama ya tetap saya tunggu."
"Ngga jelas lho bapak ini."
"Mbak Nia mau pergi lagi dengan pak Sofwan, ya? Hati-hati mbak, di sini dinding pun punya mata dan telinga, jangan dekat-dekat dengan api nanti malah pengen main api, yang ada nanti malah terbakar sendiri."
"Aku hanya sekedar keluar bersama untuk makan aja, Mat...ngga lebih."
"Mungkin bagi mbak Nia, ini hanya sekedar makan biasa, tapi siapa yang tau di dalam hati pak Sofwan? karena filling saya mengatakan, pak Sofwan itu suka dan mungkin juga cinta sama mbak Nia."
***Bersambung....
__ADS_1
Happy reading ya reader💖💖 nyari ide itu susah-susah gampang ya...kalau nyari edi mah gampang. Jangan lupa like, komen vote dan favoritenya jika berkenan ya***...