Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 20 Arti Hadirmu


__ADS_3

Tamu yang datang masih silih berganti walaupun jenazah ibu sudah di makamkan pukul 14.00 siang tadi.


Mas Sofwan melarangku ikut ke pemakaman melihat kondisiku yang sangat terpukul karena kepergian ibu.


Ibu dan bapak mertuaku pun datang. Bapak dan mas Sofwan pergi ke pemakaman, sementara ibu mertuaku dan beberapa ibu-ibu yang lain dan teman-temanku menemaniku di rumah.


Aku sudah bisa lebih tenang dan ikhlas sekarang.


Tadi sebelum di makamkan sempat ada perdebatan karena kakakku tidak hadir. Tapi pada akhirnya karena permintaanku dan suami akhirnya ibu akan di makamkan tanpa menunggu kak Della.


Bagaimana mau menunggunya, keberadaannya pun kami tak tahu ada di mana.


Para ibu mempersiapkan makanan untuk mereka yang nanti pulang dari kubur.


Rasanya baru kemarin ibu masih bersamaku sekarang beliau sudah pergi untuk selamanya.


Padahal besok adalah hari raya Idul Adha. Biasanya tahun demi tahun kami selalu mempersiapkan makanan untuk lebaran, tapi malam ini malah malam tahlilan untuk ibu.


Dari selesai sholat maghrib, gema takbir berkumandang. Hanya sedikit orang yang datang ketahlilan karena sebagian dari mereka juga ikut takbiran di mesjid.


Ibu dan bapak mertuaku pun pulang sore tadi. Aku duduk termenung di teras depan sambil melihat anak-anak kecil yang seliweran sambil mengikuti suara takbir.


"Dek...dek..." baru setelah mas Sofwan mengguncang bahuku pelan aku tersadar.


"Makan dulu yuk...dari Isya tadi mas lihat kamu belum makan apapun, kasihan anak kita."


"Aku tidak lapar mas..." aku menolaknya.


"Ayo jangan membantah...kita makan di ruang tamu saja nanti mas suapi."


"Ibu hamil sebaiknya jangan duduk malam-malam di luar begini sendirian."


"Selain tidak baik untuk kesehatan ibu dan bayi, di takutkan juga ada mahluk yang tak kasat mata menghampiri."


Akhirnya aku masuk ke dalam dan duduk di kursi. Mas Sofwan masuk setelah mengunci pintu. Dia menuju ke dapur mengambilkan makanan untukku.


Aku tak banyak bicara. Mataku tertuju ke televisi, tapi pikiranku mengembara ke mana-mana.


Kesepian...itulah yang aku rasakan saat ini. Biasanya ada ibu tempat berkeluh kesah dan berbagi cerita. Walaupun ada suamiku tapi jika dia pergi bekerja tentu aku akan merasa kesepian lagi.


"Hayo...melamun lagi...ayo makan dulu...mas suapi aja ya..."


"Besok pagi ikut ke mesjidkah...kita sholat Ied bersama?"


"Ikut mas...sepi di rumah sendiri, tapi aku ngga masak apa-apa ya mas!"


"Kalau ngga bisa ngga usah di paksa dek."


"Habis ini segeralah tidur...hari ini hari yang sangat melelahkan untuk kita."


*

__ADS_1


*


"Bu...ibu....aku buru-buru lari masuk rumah...ibu masak apa?"


"Bu...Ibu kok ngga ada di kamarnya mas..." aku balik lagi keluar rumah.


Mas Sofwan yang baru memarkir motor jadi menghela napas panjang.


"Ibu kan kemarin sudah pergi dek...masa kamu lupa?"


Aku berdiri terpaku di depan pintu mendengar perkataan suamiku.


"Ya Allah...aku lupa...ibuku sudah tidak ada lagi...mau sekeras apapun aku memanggil, mana mungkin ada jawabnya."


Air mataku menetes deras. Biasanya sehabis pulang sholat Ied aku langsung sungkem ke ibu.


Mas Sofwan memelukku yang berdiri mematung.


"Ikhlaskan ya...agar perjalanan ibu tidak menemui hambatan."


Rasanya berat untuk mengikhlaskan sesuatu yang telah lama bersama kita. Tapi aku harus sadar, Ibu bukan lagi milikku. Ibu sudah kembali kepada penciptanya.


"Ya sudah...sekarang duduk...nanti mas yang akan menggantikan ibu memasak untuk istri tercinta hari ini...oke...Tuan putri?"


"Assalamualaikum...suara salam berbarengan di luar."


"Waalaikum salam...."


Mas Sofwan membuka pintu melihat siapa yang datang.


"Nia nya ada bang...dia baik-baik aja kan? Kami khawatir memikirkannya."


"Nia baik-baik aja cuma masih sedikit depresi."


Mereka bertiga masuk tanpa dipersilahkan lagi.


""Bumil...apa kabarmu hari ini?" Tini menyapaku.


"Kami tau kamu ngga mungkin masak jadi kita bawakan dari rumah saja."


Tini menaruh opor ayam dan ketupat di meja. Wati membawa 4 buah toples isi kue kering dan Tuti menaruh kotak berisi bolu.


"Terimakasih teman-teman...kalian memang teman-teman yang baik."


Aku memeluk mereka semua dengan rasa haru.


"Kita bersahabat sejak kecil...tentu kami akan selalu ada jika salah satu dari kami mengalami kesulitan."


"Ya sudah...kami bertiga pulang dulu...yang sabar ya Nia..." Wati memelukku kembali.


"Dimakan ya Nia...bang Sofwan...kalian tidak usah masak hari ini."

__ADS_1


Para tetangga kami memang baik. Satu persatu mereka membawa masakan untuk kami berdua. Mereka tau kami masih dalam suasana berduka.


Apa kak Della tau bahwa ibu yang telah melahirkannya telah berpulang?


Tak adakah sedikit saja rasa penyesalan dihatinya untuk kembali pulang?


Ibu telah melahirkan dan membesarkannya, melindunginya dan selalu menjaganya. Matikah sudah rasa di dalam hati kakakku ini. Sekian tahun tak pernah menberi kabar apapun.


*


*


"Mas...hari ini aku mau mengurus surat kematian ibu sekalian mau melaporkan kekantor pos tempat ibu mengambil pensiun bahwa ibu telah meninggal."


"Tak bisakah mas ijin untuk hari ini, aku tak mungkin mendatangi tempat tersebut satu persatu dengan angkot mas?"


"Tidak perlu dek...mas dapat cuti 2 hari karena mertua meninggal, jadi mas bisa mengantarmu hari ini."


"Terimakasih ya mas...ngga kebayang aku harus naik turun angkot dalam keadaan hamil begini."


"Ya ngga mungkin jugalah mas membiarkanmu sendirian dek."


"Seharian ini bapak dan mamakmu akan sibuk...Kamu di dalam perut sana jangan rewel-rewel ya sayang..." mas Sofwan mengelus perutku dan menciumnya.


"Jangan mual-mual di perjalanan karena bapak tau...mamakmu ini selalu saja muntah setiap kali perjalanan jauh."


"Ngga gitu-gitu amat juga kali mas pesannya." Aku jadi tersenyum geli mendengar penuturan suamiku.


"Nah gitu...kamu bisa tersenyum lagi...sudah 2 hari ini kamu selalu murung dan menangis, mas kan jadi khawatir melihat keadaanmu."


"Aku belajar menerima kenyataan mas, aku harus menyadari sesuatu itu tak ada yang abadi pasti akan kembali kepada penciptanya."


"Sudah waktunya aku hidup tanpa ibu, sudah waktunya aku harus mandiri karena sudah ada kamu dan calon anak kita."


"Syukurlah jika kamu sudah menyadarinya dek."


"Kita boleh bersedih...kita pasti kehilangan orang yang sudah lama ada di sisi kita,dan tiba-tiba sudah tidak lagi ada keberadaannya di samping kita."


"Tapi kita harus bisa bangkit kembali...jangan larut dalam ke terpurukan dan kesedihan."


"Hidup itu ibarat kendaraan dek...selalu maju kedepan...bukan berjalan mundur ke belakang."


"Begitu pula dengan hidup...dengan atau tanpa orang yang kita sayangi, kehidupan akan terus berjalan tanpa henti."


"Yang telah pergi tak mungkin lagi bisa kembali."


"Yang telah pergi akan menjadi sejarah dan kenangan dalam hidup kita."


"Dan yang akan datang akan menjadi bagian dari masa depan kita."


Aku menganggukan kepalaku. "Terima kasih mas atas dukungan moril yang selalu mas berikan selama ini padaku."

__ADS_1


***Bersambung...


jangan lupa berikan like dan komennya dan jika berkenan berikan votenya๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™***


__ADS_2