
"Mbak Nia, benar-benar tidak mau nyambung kontrak lagi? Iya Nia, kita biasa bertiga di sini, tiba-tiba kamu ngga ada..." Mbak Fina menimpali ucapan Rahmat.
"Kasihan anakku yang mau masuk taman kanak-kanak, mba...ngga ada yang antar jemput."
"Iya juga sih, jadi ini hari terakhir kita bersama dong, "kok aku sedih ya?"
"Kita masih bisa video call kok, mbak...toh mbak Fina sama Rahmat tau nomorku."
*
*
Aku mengambil gaji terakhirku di kasir, di lorong aku berselisihan dengan mas Sofwan.
"Dek...tidak bisakah kamu mempertimbangkan lagi untuk tidak resign dari perusahaan? Aku ingin kamu tetap di sini bersamaku!"
"Cukup, mas!" Hubungan kita sudah berakhir, kejadian malam itu hanya sebuah kecelakaan belaka."
"Aku tidak bisa jauh darimu, dek...ku mohon..."
"Mas...tolong jangan menyakiti hatiku lagi dengan sikapmu yang seperti ini? Kita berdua tau, kita tak mungkin lagi bersama...ikhlaskan saja perpisahan kita, mas."
"Permisi mas, aku mau bersiap-siap dulu." Aku berlalu melewatinya yang sedang berdiri. Tetapi..."dek tunggu dulu..."
Aku berhenti dan membalikkan badanku. Dia mengangsurkan sebuah amplop padaku.
"Amplop apa ini, mas? Bukan surat cinta dari mas Sofwan untuk akukan?"
"Kamu ini dek, kadang di situasi yang seriuspun kamu masih bisa bercanda."
"Itu kuberikan buat anak-anak kita, aku tau itu tidak sebanding dengan penderitaan kalian selama ini...jangan ditolak, aku memberikannya untuk anak-anak."
Aku menerima amplop itu dari tangannya. "Tidak usah kamu katakan bahwa uang itu dari bapaknya, biarlah mereka tetap berpikir bapaknya telah pergi jauh meninggalkan mereka."
Mas Sofwan tersenyum. Ada luka di balik senyum manisnya. "Aku berharap, kalian tidak akan pernah melupakan aku, walaupun aku tak lagi ada bersama kalian."
"Aku tak pernah sedikitpun mengajarkan kepada anak-anak untuk membencimu, mas!"
"Aku berdoa, semoga pernikahan mas Sofwan dan Anggita bahagia sampai kakek nenek nanti."
"Sayangi mereka seperti mas Sofwan menyayangi kami." Aku berusaha tegar untuk tak nampak sedih di hadapannya.
Lalu cepat-cepat aku berlalu sebelum butiran kristal bening jatuh meluncur dari dua kelopak mataku dan sempat terlihat olehnya.
"Mbak Nia, ada titipan kenang-kenangan dari teman-teman staf di lantai dua...mereka juga sedih mendengar mbak Nia mau resign."
"Mbak Nia...."
"Oh...ada apa Rahmat?" Aku menghapus dulu air mataku sebelum menoleh padanya.
__ADS_1
"Mbak Nia habis menangis ya...pasti sedih karena akan berpisah dari pak Sofwan."
"Mbak Nia harus kuat, sebagaimana kuatnya mbak Nia selama ini menjalani kerasnya hidup sendiri, berjuang sendiri untuk menghidupi anak-anak."
"Pak Sofwan hanya sebuah rangkaian kenangan masa lalu yang harus belajar mbak Nia lupakan."
"Iya, Mat...terima kasih banyak ya, atas saranmu selama ini."
"Aku bersyukur mempunyai teman-teman sebaikmu dan mbak Fina...semoga kita masih bisa bertemu lagi ya, Mat."
*
*
Tak terasa sebulan sejak kejadian malam itu dan resignnya aku dari perusahaan. Selama itu juga sejak pulang dari Jakarta, Miko menggempurku setiap malam. Alasannya mumpung dia masih muda, masih kuat berproduksi. Selalu itu saja yang di jadikannya alasan.
"Aduh...kenapa kepalaku pusing begini ya?" aku yang mau bangun untuk melaksanakan sholat subuh, terjatuh lagi di pembaringan.
"Bun...bunda kenapa?" Miko yang baru keluar dari kamar mandi, spontan menangkap tubuhku yang limbung.
"Ngga tau, yah...kepala bunda pusing banget, rasanya di depan mata itu banyak bintang-bintang bertaburan."
"Kok langitnya jadi pindah lebih dekat ke depan mata bunda? Ngga silau ya, bun...ngeliat banyak bintang-bintangnya."
"Apa sih, yah? Garing tau..."
"Lho itu tadi bunda yang bilang banyak bintangnya."
"Burung-burung yang model gimana dulu yang beterbangan, bun? besar-besarkah atau kecil-kecil?"
"Kalau kecil-kecil itu bukan burung yah, tapi kecoa terbang...tau ah...ayah makin ngawur deh..."
"Kalau ngga kuat berdiri, sholatnya duduk aja, bun."
"Ayo ayah antar ke kamar mandi untuk wudhu."
"Yah...kalau megangin bunda yang betul dong, tangannya kalau mengangkat bunda di ketiak...ya, di ketiak aja...jangan merayap kemana-mana."
"Maaf bun, habis lampunya ngga terang sih...jadi ayah salah megang." Miko senyum-senyum ngga jelas.
"Nanti di kamar pasang genset aja, yah...biar terang dan jelas keliatan."
"Gitu aja ngomel, bun...ngga baik tau untuk ibu hamil."
"Hamil dari mananya, yah? Sok tau lho ayah ini."
"Ya...kali aja tebakan ayah benar, kalau ngga benar ya, digempur lagi tiap malam."
Selesai sholat berjamaah, Miko mengajakku dan anak-anak buat jalan santai sekalian cari sarapan.
__ADS_1
Tapi dasar anak-anak...bukannya ikut malah molor lagi di balik selimut.
"Ngga apa-apa bun...kita jalan berduaan aja."
"Yah...makan mie pangsit di gang itu yuk...."
"Kok tumben bunda suka mie ayam? Biasanya selalu komen kalau makan mie, kayak makan cacing tanah."
"Iya, ya yah...mungkin pas lagi pengen aja kali, yah!"
"Pak le...pangsitnya dua ya, yah...mau pakai sawikah? Yah..."
"Ayah ngapain ngejongkrok di samping parit gitu?"
"Aduh...ayah ngga sanggup cium baunya, bun! perut ayah mual banget."
"Bunda aja deh yang makan, ayah mau duduk di sini aja..."
"Suaminya lagi ngidam ya, mbak!!" Tanya ibu yang duduk di sebelahku.
"Hah, ngidam? Apa iya ayah ngidam, ya? Tapi aku ngga ngerasain apa-apa tuh...hanya subuh tadi aja pusingnya, sekarang sudah sembuh."
Aku makan cepat-cepat. Kasihan Miko menunggu terlalu lama.
"Yah...emang enak cium hawa parit, ya?"
"Dari pada harus cium aroma mie pangsit? mending cium aroma parit, bun!!"
"Aduh...ngga biasa-biasanya ayah begini, bun? Biasanya ayah tuh suka banget sama mie pangsit."
"Ini jangankan memakannya, membayangkannya aja, ayah sudah ngga sanggup."
Aku diam saja. Aku jalan sambil menghitung...rasanya memang aku sudah telat datang bulan ini.
Saat aku berhubungan dengan mas Sofwan, itu adalah saat masa suburku. Aku tidak bisa membayangkan, jika memang aku sedang hamil, apa ini anak mas Sofwan dan juga anak Miko?
"Bun...ayah lapar nih, kita sarapan bubur ayam lagi yuk!!"
"Apa? Bubur ayam? Ngga...ngga, bunda ngga mau ah..."
Miko melirikku. "Tumben, biasanya habis dua mangkuk...ini kok malah ngga mau?"
"Jijik, yah...lembek-lembek gimana...gitu! Bunda geli ah..."
"Kalau ayah mau makan. makanlah saja...bunda biar jalan santai keliling taman dulu sementara ayah makan."
"Ya sudah, ayah makan dulu ya! Sebab ayah lagi pengen banget makan bubur ayam hari ini."
Aku berjalan sambil melamun. "Ya Allah...kenapa begini amat jalan hidupku? Jika benar aku mengandung anak keduanya, apa yang harus aku lakukan?"
__ADS_1
***Bersambung....
Happy reading, happy weekend...tak lupa mengingatkan, please🙏🙏jangan boom like tanpa membaca ya...kita saling mendukung dan saling menghargai...jangan lupa juga berikan like dan komen...vote dan favorit jika berkenan. Terima kasih🙏🙏🙏***