
"Langsung pulang aja Ko...kasihan Dina sama juned dan Syifa kalau aku mampir ke rumah lagi."
"Oo ya sudah...ntar aku tutup kios dulu ya!! Baru kita pulang."
Aku dan si kembar menunggu Niko menutup kios. Aku mengawasinya yang tengah telaten meringkas bunga-bunga dan menutup toko. Tadi sewaktu aku hendak membantu, dia melarangku dan menyuruhku menjaga si kembar saja.
Miko dan Niko memang saudara kembar, tapi sifat mereka sungguh berbeda. Miko yang tegas tetapi sedikit melo dan manja. Berbeda dengan Niko yang juga tegas tetapi humoris dan tidak manja.
"Ayah...ayah...mau itut ayah!!" Miki berusaha lepas dari pegangan tanganku.
"Angan Miki...ayah ibuk angan di anggu..." Miko berusaha mencegah saudaranya.
"Miki sama bunda aja dulu, ayah mau keluarkan motor!!" Seru Niko.
Kami seperti sebuah keluarga kecil tanpa kami sadari di kejauhan ada sepasang mata yang menatap penuh kebencian.
"Bagus kak Sania...belum ada 1000 hari di tinggal sama suami, sudah cari laki-laki aja lagi, dasar gatel!!" Alena dari kejauhan mengintai Sania, tadi dia mau mengajak Riko, tapi Riko sibuk sama urusan kliennya yang tak bisa dia tinggalkan.
"Aku heran, apa daya tariknya wanita itu sampai-sampai banyak laki-laki mengejarnya? Cantik juga aku, muda juga masih mudaan aku...bodoh semua laki-laki itu."
"Itu juga kembarannya bang Miko, apa matanya itu buta ya? Sampai tidak bisa membedakan yang tua dan yang muda, pakai acara manggil ayah lagi."
"Apa baiknya kios mereka itu kubakar saja ya? Atau aku culik saja anak kak Sania itu? Alena tersenyum smirk kearah Sania.
"Aku harus membuntuti di mana kak Sania tinggal, atau mereka tinggal di rumah besar itu juga ya? Enak betul hidupnya kak Sania ini? Mestinya aku yang ada di sana bukan dia!!"
"Aku ingin sekali pergi kemakam bang Miko, tapi aku tidak tau harus bertanya pada siapa, aku tak mungkin kembali ke rumah besar itu mereka semua pasti tak akan mengijinkan aku masuk kesana."
"Ko...kamu liat ngga orang yang pakai hodie yang berdiri di bawah pohon di seberang jalan itu, perasaanku sejak tadi orang itu berdiri di sana...apa dia sedang mengawasi kesini ya?"
"kita tidak tau dia itu laki-laki atau perempuan karena dia menutupi kepalanya dengan jaketnya dan memakai masker."
"Yang mana sih bun?" Niko ikut menoleh kiri kanan mencari orang seperti yang kumaksud.
"Yang berdiri di bawah pohon itu lho..." Tunjukku pake isyarat mata.
Akhirnya Niko ikut melirik kearah yang ku maksud. Dia menatap tajam pada sosok diseberang sana.
"Sebenarnya aku sudah melihat orang itu berdiri di sana sejak 2 hari yang lalu makanya aku memasang cctv di kios kita ini."
__ADS_1
"Sebenarnya aku juga curiga pada orang itu, tapi aku tidak punya bukti...tunggu saja sampai aku mendapatkan bukti, akan kuseret orang itu ke hadapan tuan putriku!!" Niko lalu tersenyum padaku.
Alena rupanya menyadari kalau Sania dan Niko sedang menatapnya. Dengan cepat dia menghilang ke balik pohon dan berlalu dari sana.
"Ko, jangan-jangan itu tadi Alena yang punya niat buruk padaku ya?" Kataku.
"Jangan-jangan dia punya niat jelek mau membakar toko bunga ini?" Atau mau membakar rumah kita?" Kataku lagi.
"Sudah ngga usah khawatir yang berlebihan begitu... rumah dan toko semua sudah di asuransikan...jadi kamu ngga usah khawatir lagi." Jawab Niko.
"Sebaiknya kita cepat pulang, itu si kembar sudah mengantuk!! Dan ingat, besok segera pindah kembali ke rumah lama, supaya keselamatanmu dan anak-anak terjaga."
Aku hanya mengangguk saja tanpa berniat menanggapi ucapan Niko, karena pikiranku sudah terbagi kemana-mana. Rasa was-was tentu saja ada, apalagi aku sendiri pernah mengalami nya di rumah sakit waktu itu.
"Sialan...sepertinya mereka tau aku sedang mengawasi mereka!!" Alena mengumpat begitu tiba di rumah Riko yang dia tinggali.
"Dari mana kamu Alena? Sejak tadi aku menelponmu ponselmu tidak aktif!!" Sosok Riko muncul dari dalam rumah menyamb'!ut Alena.
"Kamu orang baru di kota ini, jangan sampai kamu tersesat, akan merepotkan aku saja untuk mencarimu...aku lho juga banyak kerjaan."
"Iya Riko, aku hanya bosan di rumah sendirian jadi aku memutuskan untuk jalan-jalan berkeliling."
"Ya sudah, nanti malam ikut aku kita pergi makan keluar supaya kamu tidak bosan di rumah terus." Ajak Riko yang langsung di iyakan oleh Alena.
*
*
"Dengar-dengar istrinya cacat karena kecelakaan beberapa tahun yang lalu!!" Bisik mereka yang lain.
"Halo bro...kok cuma bawa anakmu? Istrimu mana?" Tanya Adit beserta istrinya yang tengah hamil.
"Ngga Dit, aku mengajak Aisyah saja...karena jika aku mengajak Anggita ikut serta, Aisyah takut pada mamahnya." Jawab Sofwan.
Adit hanya geleng-geleng kepala saja mendengar penuturanku.
"Kasihan kamu Wan!! Punya istri serasa bujangan aja...seperti duda aja kamu ini layaknya...duren...duda keren!!"
"Ah kamu Dit, kalau bicara terlalu melebih-lebihkan...keren dari mananya?" Kata Sofwan lagi.
__ADS_1
"Bro, yang menilai penampilan seseorang itu bukan diri kita sendiri, tapi orang lain!! Kamu aja yang ngga tau para wanita itu dari tadi membicarakanmu."
"Hei bos..." Sandro datang menghampiri kami bertiga.
"Halo Aisyah!!" Sapa Sandro pada Aisyah.
"Assalamualaikum om!!"
"Waalaikum Salam..." Sandro menjawab sambil tersenyum kecut.
"Wi, kamu ngga tertarik untuk mendekati pak Sofwan? Secara kan kalian sudah saling mengenal juga walaupun tak di sengaja?" Tanya Santi sahabatnya.
"San, mbok ya kalau ngomong itu disaring...jangan asal keluar kayak kentutmu aja!! Kamu mau menyuruh Dewi jadi pelakor? Secara kita semua tau kalau pak Sofwan itu suaminya ibu Anggita anaknya pak Irawan yang memiliki saham terbesar di perusahaan ini?" Fitri menoyor kepala Santi.
"Ya jangan sampai ketauan dong? Sekarang banyak lho...ngga usah aku contohkan di perusahaan lain, di perusahaan inipun banyak yang selingkuh...toh aman-aman aja?" Elak Santi.
"Wah ini nih yang kasih contoh kagak bener ke teman nih!! Masa kamu mau samakan Dewi sama mereka?" Kata Fitri.
"Ssttt...mereka menuju kearah sini nih!!" Bisik Santi.
Mereka bertiga terdiam memandang ketiga lelaki tampan yang akan melewati mereka.
"Selamat pagi pak..." Kata mereka kompak.
"Selamat pagi juga Santi, Fitri, Sania...." Jawab Sofwan. Mereka bertiga mengerenyitkan dahi.
"Kok Sania pak? Ini lho namanya Dewi!!" Ralat Santi.
"Astaghfirullah..." Seketika Sofwan jadi terdiam.
"Maaf...maaf...saya salah sebut, maksud saya Dewi!! Dia tersenyum menutupi kesalahan sebutnya tadi.
*
*
***Bersambung...
Sofwan di butakan oleh sosok masa lalunya yang hingga kini masih setia mengikutinya...
__ADS_1
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak ya guys!!!
Like, komen, vote, favorit dan rate nya...terima kasih😊😊🙏🙏