
"Ada apa ribut-ribut dek? siapa mereka itu?" Mas Sofwan yang baru pulang bekerja dan memarkirkan motor langsung menghampiriku.
Tetangga-tetangga sudah pada ngumpul di halaman depan rumah.
"Siapa wanita berdandan menor dengan dua orang laki-laki itu dek? sepertinya mereka orang dari pihak bank."
"Itu kak Della mas...dan memang dua laki-laki itu dari bank, mereka mau menyita rumah ibu."
"Kok bisa? apa Kak Della menggadaikan rumah ini kepada bank?" aku hanya mengangguk lesu.
"Wah...ngga bisa begini Della, kamu kok keterlaluan betul...Ini rumah peninggalan almarhum kedua orang tuamu, sekarang kamu gadaikan tanpa sepengetahuan ibu dan adikmu pula."
"Pak rt tidak usah ikut campur...ini urusan keluarga saya?" Della mendelik sewot.
"Urusanmu dengan bank itu menjadi urusanmu, tapi jangan kamu libatkan adikmu dalam urusan hutang piutangmu, Della!"
"Jangan kata kami hanya tetangga saja sedang mereka yang punya rumah saja, saya sangat yakin tidak tau menahu tentang rumah yang kamu gadaikan ini." Kata pak rt.
"Makanya jadi orang jangan terlalu naif... jangan terlalu percaya meskipun itu dengan anak dan kakak sendiri." Della tersenyum sinis.
"Keterlaluan kamu kak Della...terus jika rumah ini disita, di mana Nia akan tinggal?"
"Siapa kamu ganteng?" kak Della memandang mas Sofwan dari kepala sampai kaki.
"Saya suaminya Nia...suara mas Sofwan mulai meninggi."
"Wah...hebat juga ya adikku yang kuno dan kolot itu bisa mendapatkan suami ganteng kayak kamu."
"Yah, kalian kan bisa mencari rumah kontrakan lain, atau kalau kamu mau kamu ikut saya aja ganteng?" kak Della mengedipkan matanya pada Mas Sofwan.
Mas Sofwan memandangnya jijik. "Sudah salah, bukannya minta maaf malah bicara ngelantur!"
"Minta maaf sama adik kolotku? Ngga akan..."
"Maaf jika saya menyela, ibu-ibu...bapak-bapak...rumah ini akan disita bank karena ibu Della ini tidak mampu menyelesaikan kewajibannya kepada kami."
"Silahkan kosongkan rumah ini secepatnya."
Seandainya bukan perempuan saja, sudah kutampar kakak iparku ini. Teganya dia berbuat begini pada adik dan keponakannya.
"Sudah mas...biarkan saja...harta tidak dibawa mati...biarkan dia yang akan mempertanggung jawabkan perbuatannya diakherat nanti."
"Uang yang didapat dari hasil menipu dan mencuri tidak akan menjadi berkah buat dia, semoga suatu hari kelak dia akan mendapatkan karmanya."
"Ba****t...beraninya kamu bicara begitu pada kakakmu?" kak Della mengayunkan tangannya hendak menamparku.
"Berani kamu sampai menampar istriku, akan kupatahkan tangan kotormu ini..."
Mas Sofwan mencengkeram tangan kak Della dan menghempaskannya, membuat kak Della meringis kesakitan.
__ADS_1
"Kami akan secepatnya pindah pak...tapi cepat bawa perempuan penipu keluarga yang gila harta ini." Telunjuk mas Sofwan tepat mengarah di depan kak Della.
"Kurang ajar...mulutmu pedas seperti cabe..."
"Dasar ngga punya otak Della ini..." Banyak orang yang mengumpat dan menyumpahinya."
"Memang nyatanya kamu gila harta, jika bukan gila harta apa namanya? menggadaikan rumah orang tua tanpa sepengetahuan adik dan ibunya, dan uangnya di tilap sendiri entah untuk apa?"
"Mulutmu lebih tajam dari pada pisau ya...tidak sebanding dengan wajah gantengmu."
"Dan apa gunanya punya wajah cantik jika hanya digunakan untuk menipu, keluarga sendiri lagi yang ditipu."
"Bacot kamu..." Kak Della tampak marah sekali dengan sindiran balik dari suamiku.
"Cukup kak...pergilah, kataku."
"Kami akan segera keluar dari rumah ini, dan mulai detik ini hubungan persaudaraan kita benar-benar telah putus."
"Oh...ngga ada masalah buatku jika harus memutuskan hubungan darah dengan adik bodoh dan tak berguna sepertimu."
"Cukup...sekali lagi kamu menghina istriku, aku akan benar-benar memukulmu."
Suara mas Sofwan sudah bergetar menahan amarah, tangannya terkepal kencang. Dan aku hanya berusaha mencengkeram erat lengannya untuk menenangkannya.
"Beri kami waktu tiga hari untuk pergi pak, kata mas Sofwan."
"Baiklah pak...kami beri waktu tiga hari."
"Yang sabar ya Sofwan...Nia...untuk cobaan buat keluarga kalian." Pak rt menepuk pundak suamiku untuk tetap menyemangatinya.
"Iya pak rt, saya sebenarnya tak ada masalah, tapi saya kasihan melihat istri saya yang tampak shock dan terpukul."
"Bagi saya meninggalkan rumah ini terasa berat, tapi rejeki kami untuk menempatinya mungkin memang habis sampai disini."
"Berbeda dengan istri saya, dia sejak kecil tinggal disini dengan berjuta kenangan di dalamnya, tentu sangat berat baginya terusir paksa dari rumahnya sendiri."
"Jadi kalian akan cari kontrakan di mana?"
"Entahlah pak, dalam waktu tiga hari ini saya akan berusaha mencari kontrakan yang bulanannya sesuai dengan budget kantong kami."
"Kami doakan semoga cepat mendapatkannya, Sofwan...terima kasih pak rt."
Setelah semua orang bubar, aku dan mas Sofwan duduk di ruang tamu.
"Mas...kita akan cari kontrakan kemana? Cukupkah gaji mas jika harus membayar uang kontrakan lagi setiap bulan?"
"Nanti kita bicarakan lagi dek, sebentar sore mas mau keluar mulai mencari."
*
__ADS_1
*
Sepeninggal mas Sofwan sore itu aku duduk di teras menemani Dina bermain. Teras yang sebentar lagi hanya akan tinggal kenangan.
Kujelajahi sudut demi sudut rumah ini dan halamannya. Masih terbayang saat aku dan kak Della kecil berlari dan bermain riang dihalaman.
Terbayang ibu sedang menyapu dan menyiram tanaman, dan terbayang bapak yang selalu duduk membaca koran setiap pagi diteras ini.
Setan keserakahan telah merasuki hati kakakku, hingga tega berbuat begini.
"Assalamualaikum" ketiga temanku mampir sepulang dari bekerja di pabrik.
"Waalaikum salam..." Aku menjawab salam mereka.
"Benarkah kabar yang kami dengar Nia? bahwa kak Della datang setelah sekian lama pergi, tapi begitu datang malah membawa pihak bank untuk menyita rumah ini?"
"Iya Tin...tadi siang ramai di sini, mas Sofwan sampai izin tidak kembali bekerja lagi."
"Mas Sofwan lagi keliling cari rumah kontrakan yang bisa kami jangkau harganya."
"Keterlaluan kak Della itu! Kenapa tidak mencari di sekitar sini? seandainya rumah kontrakan bekas bang Sofwan dulu belum diisi orang lain, mending disitu aja ya..." Kata Wati.
"Disini rata-rata kos-kosan semua sih...jarang yang dikontrakan satu rumah."
"Ya Allah...berulah lagi tu orang..." Sela Tini
"Ngga kasihankah sama adik dan ponakannya?"
"Berapa hari di kasih jangka waktu, Nia?"
"Hanya tiga hari Tin, yang aku herankan itu bagaimana ibu dan aku sampai tidak tau kalau rumah ini sudah digadaikan?"
"Aku juga ngga nyangka, kepergiannya dulu sempat membawa sertifikat rumah...kita ngga mikir sampai kesana."
"Dasar kakak kamu aja tuh yang biangnya kampret, Nia..." Kata Wati.
"Mudahan dapat rumah kontrakannya ngga terlalu jauh ya Nia, jadi kita masih bisa ngumpul bareng kayak sekarang."
"Iya...Tin...semoga aja dapatnya ngga terlalu jauh."
"Berat rasanya aku meninggalkan rumah ini, teman-teman...puluhan tahun tinggal di sini dan aku berharap Dina bisa lari-lari di halaman sambil bermain."
"Hanya inilah harta peninggalan almarhum orang tuaku yang masih tersisa dan akhirnya harus berakhir di sita oleh bank, tanpa kami mencicipi seperakpun uangnya, tapi kami yang harus memikul bebannya."
"Ya sudah Nia, mudahan rejeki yang akan kalian dapatkan melebihi dari rumah yang hilang ini."
Mereka bertiga memelukku memberi semangat agar aku tidak tambah patah arang.
...***Bersambung.......
__ADS_1
Tetaplah memberi dukungan teman-teman agar author semangat menulisnya....😀😀🙏🙏***