Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 19 Ada Yang Datang Dan Ada Yang Pergi


__ADS_3

Pagi ini aku bangun dengan keadaan kacau balau.


Perutku mual dan kepalaku terasa sangat sakit seperti di ganduli batu ratusan kilo.


Sejak sehabis sholat subuh tadi rasanya kepingin muntah terus.


"Huek...huek..." aku tersender di dinding kamar mandi."


"Aduh...aku masuk angin parah ini, mungkin sering begadang malam."


Beberapa hari ini ibuku sering mengalami susah tidur. Aku sering sampai malam sekali menemani beliau.


'"Huek....dek...kamu ngga apa-apakan?" mas Sofwan langsung masuk ke kamar mandi. Tadi aku meninggalkannya sholat subuh duluan.


"Ngga tau nih mas...kepalaku rasanya pusing dan sakit juga, terus perutku terasa sangat mual."


"Ya sudah...kamu tiduran aja dulu mas mau buatkan teh hangat sebentar ya!!"


Setelah minum teh hangat buatannya, rasa mualku berkurang. Mas Sofwan terus memijat bagian belikatku. Kepalaku juga dipijatnya dengan minyak kayu putih.


"Jangan beraktivitas yang terlalu capek dulu ya, ntar sore kita ke dokter praktek,"


Aku hanya mampu mengangguk saja karena badanku terasa lemas.


"Ibu dengar dari Sofwan kamu sakit nak?"


"Agak ngga enak badan aja kok bu, ngga ada yang perlu di khawatirkan."


"Kamu istirahat aja sebab tadi pagi suamimu sudah masak dan bersih-bersih rumah sebelum berangkat kerja."


"Kamu tuh harus bersyukur mendapatkan suami seperti Sofwan, nduk..."


"Orangnya baik, bertanggung jawab dan penyayang, bukan hanya sayang sama kamu sebagai istrinya tapi sayang juga sama ibu sebagai mertuanya."


"Nggeh bu....jawabku!"


Ibu membantu memijat kepala dan belikatku ketika tiba-tiba....


"Huek...huek..." aku berlari kekamar mandi berusaha menahan muntahku agar tidak tercecer.


"Kamu sudah telat berapa lama Nia?"


'Telat apanya bu?" jawabku polos.


"Datang bulanmu yang ibu maksudkan."


"Oh iya bu...kayaknya Nia sudah telat hampir 3 minggu, memangnya kenapa bu?"


"Ada kemungkinan kamu hamil nak...tapi sore nanti kalian bawa aja kepraktek ya, untuk memastikan hasilnya."


"Ah masa sih...pikirku, paling aku ini cuma sakit masuk angin biasa."


"Ya sudah ibu ambilkan makan dulu ya, kita makan bareng di sini biar perutmu ngga kosong, jadi makan ada temannya."


Seharian ini aktivitasku sangat tidak menyenangkan. Karena begitu kuangkat badanku dari pembaringan malah mau ambruk lagi.


Aku tidak tau berapa lama aku tertidur ketika ada yang mencium pipiku yang membuatku terbangun.


"Dek...gimana keadaanmu? apa sudah baikan?"


Mas Sofwan duduk di tepi ranjang dan menggenggam tanganku.

__ADS_1


"Maaf ya mas, aku ngga bisa menyambutmu seperti biasa...kepalaku pusing sekali." kataku.


"Iya ngga apa-apa tapi ntar sore bisakan kita pergi kepraktek jadi ketahuan apa penyakitmu biar bisa lekas diobati takutnya berlarut-larut."


"Iya mas...aku sudah agak enakan kok, kita bisa pergi sore nanti.


*


*


"Pegangan ya dek nanti jatuh dari motor ngga ketahuan sama mas."


"Hati-hati di jalan ya Sofwan, Nia...jangan ngebut-ngebut..." ibu mewanti-wanti di depan pintu.


Aku keluar dari tempat periksa mengikuti dokter vania.


"Bagaimana keadaan istri saya dokter apakah dia baik-baik saja?"


"Selamat ya pak...istri anda positif hamil. Usia kandungan istri anda ini tergolong rentan jadi berhati-hati dalam beraktivitas."


"Apalagi ibu Sania ini tergolong wanita yang kandungannya lemah jadi jaga supaya tidak beraktivitas yang berat dulu."


"Saya berikan resep obat penghilang mual dan pusingnya, ya."


Kulihat mas Sofwan diam tidak tahu harus berkata apa.


Dari ekspresi wajahnya terpancar rasa bahagia dan juga masih tak percaya.


"Dek...kita akan punya anak? artinya sebentar lagi kita akan jadi orang tua."


Sepanjang menunggu antrian obat dan pulang kami tak banyak bicara, mas Sofwan hanya terus menggenggam tanganku erat.


"Sepertinya aku harus segera menyampaikan kabar bahagia ini kekeluargaku, dek."


"Apa hasilnya Sofwan...istrimu baik-baik saja kan?" Ibu menyambut kami diruang tamu.


"Alhamdulillah...ibu sebentar lagi akan punya cucu..." mas Sofwan mencium tangan ibu.


"Alhamdulillah...sudah ibu duga bahwa Nia bukan sakit biasa."


"Karena sedari kecil ibu tahu bahwa dia anaknya tidak gampang sakit, tapi mengapa sakit kepala, mual dan muntah tadi benar-benar langsung membuatnya drop."


Ibu memelukku dan mas Sofwan...pelukan haru dan bahagia untuk anak dan menantunya.


"Assalamualaikum...iya kabar Sofwan dan Nia baik bu...kami punya kabar bahagia bu...Nia hamil."


Aku terbangun mendengar suamiku sedang menelpon. Rupanya dia menelpon ibunya. Kulihat dia bahagia sekali. Akupun tersenyum bahagia, semoga bayi ini akan membawa kebahagiaan di keluarga kami nantinya.


*


*


Usia kandungaku kala itu sudah memasuki bulan kelima saat ibuku jatuh di kamar mandi yang mengakibatkan ibu kena stroke.


Sebelum berangkat kerja suamiku membantuku untuk menyeka-nyeka ibu. Mendudukkannya sebentar di bangku teras depan sambil berpanas-panas di bawah sinar matahari pagi lalu membantu menggendong ibu ke kamar lagi.


Sungguh terasa berat apalagi dengan perutku yang mulai membuncit sebisa mungkin kukerjakan semua pekerjaan.


Saat pagi mas Sofwan membantuku dan saat dia pulang jam 5 sore nanti, biasanya dia hanya berganti baju dan istirahat sebentar lalu mengerjakan sisa pekerjaan yang belum selesai kukerjakan.


Terkadang aku merasa perutku sakit dan mataku berkunang-kunang, jika sudah begitu aku beristirahat sebentar.

__ADS_1


Alhamdulillah bayi dalam kandunganku ini bukan termasuk bayi yang rewel. Tidak juga aku mengidam apapun, normal makan dan minum apapun seperti wanita yang tidak hamil.


Aku juga kasihan pada suamiku. Rasa lelahnya seharian bekerja di sembunyikannya demi keluarga di rumah. Tak sedikitpun keluhan yang kudengar darinya saat malam tiba.


Sudah 2 hari ini badan ibu panas tinggi, setiap kubujuk untuk kedokter ibu tidak mau.


Dia memberikan isyarat dengan matanya bahwa beliau tidak mau diajak kedokter.


Akhirnya suamiku mengalah dengan memanggil mantri ke rumah untuk memeriksa kondisi kesehatan ibu.


Para tetangga, teman-teman pensiun ibu dan teman-temanku bergantian menjenguk ibu di rumah. Ada yang datang membawa makanan sampai uang yang di amplopkan untuk ibu.


"Mas...aku titip obat penurun panas untuk ibu ya..." saat siang mas Sofwan menelponku.


"Iya dek...sore mas belikan...untuk siang ini masih adakan? hanya cukup untuk siang ini mas..." kataku.


"Mas...Nia istirahat sebentar ya...nanti dua jam lagi bangunkan jadi mas yang istirahat dan aku menjaga ibu kembali"


"Iya dek istirahatlah nanti mas bangunkan ya."


Aku pindah kekamar sebelah untuk berbaring sekedar meluruskan punggungku.


"Astaghfirullah...sudah jam berapa ini?" aku kaget dan terbangun. Kulihat jam sudah menunjukan pukul 3 dini hari.


Aku bergegas masuk ke kamar ibu. Kulihat suamiku tertidur menggenggam tangan ibu di kursi.


"Bu...ibu...minum dulu ya..." kuraba dahinya panasnya turun. Tapi kenapa ibu tak bereaksi ya? apakah ibuku tidur pulas sehabis minum obatnya tadi malam?


"Kok mendadak perasaanku ngga enak ya? Lalu kuraba denyut nadi di tangannya yang mulai dingin, kuraba denyut di l ehernya dan masih tak puas kuraba di bawah hidung ibu."


Kosong...hembusan napas itu sudah tak ada dan denyut nadinya pun sudah tak terasa.


"Ibu...."aku berteriak sekencang-kencang sambil mengguncang-guncang ibu.


"Bangun bu...ibu jangan pergi bu...ayo bu...buka mata ibu jangan pejam terus...ini Nia bu..."


Suamiku kaget mendengar teriakanku..."Ada apa dek?"


"Mas...kenapa mas tidak membangunkan aku...lihat ibu mas...lihat..." aku mengguncang-guncang lengannya sambil menangis histeris.


Mas Sofwan memegang kembali tangan yang yang semalam dia genggam masih terasa hangat, kini sudah dingin dan kaku.


"Astaghfirullah...mas ketiduran dek..."


Dia meraba betis ibu sampai kekaki. Ibu baru saja pergi dek...kaki ibu masih terasa hangat."


Tidak kuhiraukan lagi ucapan suamiku. Aku menangis sejadi-jadinya memeluk dan menciumi jasad ibuku yang sudah terbujur kaku.


Aku tak bisa menemani ibu di saat detik-detik terakhir sakaratul maut menjemputnya. Aku tak berada di dekatnya saat ibu kesakitan melepaskan raga dari jasadnya. Ya Allah...anak macam apa aku ini...ampunkanlah dosa-dosa hamba ya Allah, ampuni kesalahan Nia selama ini padamu bu...


Kulihat mas Sofwan menelpon pak rt dan beberapa warga yang kami tau nomor handphonenya.


Termasuk menelpon orang tua ketiga sahabatku.


"Sudah dek...yang sabar ya...kalau kamu menangis terus nanti perjalanan ibu tak tenang." Suamiku terus berusaha membujukku.


Tak lama sebagian para warga berkumpul untuk membantu.


Jenazah ibu dibaringkan di ruang tamu sebelum dimandikan. Wajahnya terlihat tenang seperti seseorang yang tengah tertidur pulas.


Tak ada lagi gambaran kesakitan ibu selama ini...semua penyakit ibu diangkat Allah sekalian dengan roh nya dibawa ke tempat yang membuat ibu tak lagi merasakan sakit dan menderita.

__ADS_1


***Bersambung....


Jangan lupa like, komen dan jika berkenan vote nya ya...Terimakasih🙏***


__ADS_2