
"Sekarang dia sudah kembali kepada yang semestinya memiliki dia, Sultan."
"Tak ada jalan lain yang dapat kamu lakukan selain mengikhlaskan dia."
"Kok ada rasa perih jauh di dalam hatiku ya, mas!!"
"Ngga apa-apa, sering berjalannya waktu...luka itu akan sembuh dengan sendirinya."
"Enak betul kalau ngomong, yah!! Ibu juga bisa, tapi yang ngelakoni ini yang berat...berjalannya waktu...emang waktu punya kaki?" Tini melotot kesal pada suaminya.
"Lha secara siapa yang waktu itu memberikan nasehat yang sesat? Kan ayah sudah pernah bilang untuk menjaga jarak dengan Sania, dia itu masih sah statusnya sebagai istri orang."
"Kan ibu ngga tau kalau Sania akan balikan lagi sama Miko, kirain mau ceraian."
"Ishhh...koe bu, jelek...bener doanya!!"
*
*
"Bunda, hari minggu ini kita jadi pindah ke rumah kita yang dulu kan?" Miko berbicara tapi mata dan tangannya masih tertuju pada laptop di depannya.
"Ayah bicara dengan siapa sih? Dengan bunda atau dengan laptop?"
Miko menghentikan kegiatannya lalu berpaling menatap istri tercintanya.
"Ya dengan bundalah, masa dengan tembok?" Dia tersenyum memandang istrinya yang agak cemberut.
"Ayahkan lagi kerja bun, selama sakit ini...ayah kerjanya dari rumah aja, takut kalau di sana tiba-tiba nanti pingsan lagi seperti waktu itu."
"Kenapa tidak di rawat di rumah sakit aja, yah!! Biar ayah cepat sembuh!!"
Miko menggeleng. "Ayah takut jika di rawat di rumah sakit, pas ayah sekarat, bunda tak ada di sisi ayah."
"Yah, bisakah kita tidak membahas soal kematian saja...bunda marah jika ayah membicarakan itu terus."
Mata Sania berkaca-kaca. "Maafkan bunda jika telah berkata kasar pada ayah, tapi ayah sendirikan yang berjanji untuk menemani bunda hingga tua supaya kita bisa melihat anak-anak dewasa dan menikah?"
Bahu Sania terguncang menahan tangis yang selalu dia simpan setiap kali jika dia melihat Miko mengerang kesakitan.
Miko memeluk istrinya, "Maafkan ayah juga ya bun, ayah sayang sekali sama bunda dan anak-anak, itulah yang membuat ayah takut berpisah dengan kalian.
"Ya sudah, ayah mau rebahan dulu ya bun...untuk menghilangkan sakit di kepala ayah."
__ADS_1
Sementara puluhan kilo jauhnya dari kediaman Sania...
"Kak nuri...Anya...kita pulang yuk!! Kalian jangan menangis terus, kasihan nanti suami-suami kalian ngga akan tenang meninggalnya."
Suasana di pemakaman sangat sunyi, hanya tinggal mereka bertiga yang masih ada di tempat itu.
Akhirnya Nuri berdiri dengan ditopang tongkatnya. Pasca kecelakaan itu Nuri dan Anya yang baru sembuh dari sakitnya harus di hadapkan dengan kenyataan bahwa mereka sudah menjadi janda.
Sofwan sudah kembali pulang ke yogyakarta kemarin. Sebab Anggita terus mengamuk di sana.
"Kak Nuri, Anya, maaf ya kalau aku sudah lancang bicara, tapi sepertinya semua yang terjadi ini adalah balasan karena kalian telah berlaku semena-mena pada Sania dan anak-anaknya dulu." Juwita berkata pelan.
Nuri dan Anya hanya terdiam. Kini mereka merasakan sekarang apa yang dulu dirasakan oleh Sania.
Ketakutan saat ditinggalkan, kesedihan, kesendirian. Persis seperti yang tengah mereka alami sekarang ini.
"Iya, kami menyadarinya walaupun semua sudah terlambat." Nuri menghela napas dan menghapus air matanya.
Wajah yang dulu selalu didongakannya dengan angkuh kini tertunduk lesu, kaki mulus indah yang begitu menggoda sekarang harus ditopang dengan tongkat supaya bisa berjalan.
"Sudahlah, ayo kita pulang...kondisi kalian berdua belum terlalu baik, angin sore terasa begitu dingin menusuk tulang."
Dengan tertatih-tatih Nuri dan Anya berjalan diikuti Juwita di belakang mereka.
*
*
"Papah jahat....papah telah berbohong pada mamah....hiks...hiks..."
"Ada apa mah? Papah baru saja menginjakan kaki di rumah sudah mamah caci maki."
"Mamah dapat informasi dari seseorang yang mamah suruh mengikuti papah...dia bilang papah datang menemui mantannya papah si Sania itu!!"
"Mah, apa salah papah menemui anak-anak papah? Lagian Sania juga sekarang sudah menikah, mah!!:
"Kasian anak-anak papah itu mah...papah meninggalkan mereka di saat mereka masih membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari papah..."
"itu berarti papah sudah ingat semua masa lalu papah?"
"Jujur sebenarnya papah sudah lama ingat akan masa lalu papah, mah!!"
"Tapi karena papah menghargai mamah, maka papah tetap hidup dalam kepura-puraan itu."
__ADS_1
"Papah tak ingin mamah beranggapan, setelah ingatan papah pulih maka papah akan meninggalkan mamah."
"Kalau papah mau, di saat mamah mengalami keterpurukan begini, papah bisa saja pergi meninggalkan mamah...tapi nyatanya papah tidak melakukan itukan?"
"Mamah benci sama papah...mamah tak pernah mau menerima kebohongan dengan alasan apapun..."
"Pergi!!!!"
Daripada Anggita terus mengamuk, aku mengalah untuk keluar dari kamar dan menggendong Aisyah.
"Ada apa lagi Sofwan? Kenapa lagi Anggita sampai mengamuk begitu?" Ayah mertuaku datang menghampiriku.
Aku lalu menceritakan semua yang telah terjadi tanpa ada yang ku kurangi dan ku lebihkan.
Mertuaku menghela napas. "Papah mungkin bisa memahami posisi kamu Sofwan, niatmu memang baik tapi coba lagi kamu berpikir, seandainya kamu yang ada di posisi Anggita...mungkin kamu juga akan merasakan hal yang sama seperti yang dia rasakan."
"Anggita sangat sensitif semenjak dia menjadi wanita yang cacat, Sofwan...tolong maklumi itu!!"
"Itu semua terjadi karena dia tidak ingin kehilangan kamu, dia tidak ingin kamu berpaling pada wanita lain dan meninggalkannya."
"Coba ayah mau tanya sama kamu, tolong kamu jawab yang jujur..."
"Masihkah kamu menyimpan perasaan spesial untuk mantan istrimu itu? Ayah tak mau memaksakanmu untuk menjawabnya, tapi jangan jadikan anak-anakmu sebagai alasan untuk mendekati mantan istrimu lagi."
Sofwan terdiam. Tidak mungkin dia mengatakan hal yang sejujurnya, kalau dia masih teramat mencintai mantannya itu...bisa tambah keruh suasananya nanti.
"Sudah kamu bawa Aisyah tidur di kamar tamu, biarkan Anggita tenang dulu...nanti ayah yang akan bicara padanya."
Aku membawa Aisyah dan menidurkannya diatas ranjang. Kasihan putri kecilku ini, semenjak kaki Anggita di amputasi dan dia hanya menghabiskan waktunya di kursi roda, Aisyah sudah tidak lagi diurusnya.
Aku membaringkan diri di samping Aisyah. Rasanya badanku ini penat sekali, bukannya datang disambut dengan senyuman dan cinta...malah disambut dengan cacian dan makian dari Anggita.
"Ya Allah...begini amat nasib rumah tanggaku? Kalau sudah begini, ingin rasanya aku kembali kepada Sania lagi."
"Sania yang mencintaiku dengan tulus, tak pernah sedikitpun pernah kudengar terlontar kata-kata kasar untukku dari bibirnya. Walaupun dia sedang dalam keadaan marah sekalipun, dia tetap menghormatiku sebagai suaminya."
"Bersamanya, aku merasa sangat dihargai...kebalikan dari sifat Anggita."
"Sekarang aku hanya bisa mengikuti alur kehidupanku saja, aku tak tau lagi apa yang harus kuperbuat!!"
***Bersambung...
Jangan lupa tekan like, komen, vote, favorit dan rate nya ya, guys...🙏🙏🙏
__ADS_1