
"Ibu...tolong teleponkan dokter keluarga, bu!!" kata Riko yang berusaha tenang menghadapi situasi yang sudah semakin tidak kondusif ini.
Lalu dia memerintahkan Johan untuk bergerak lebih cepat untuk mencari keberadaan putranya, Raftar.
Sementara Nathan dan Juma terus mengikuti mobil misterius yang mereka duga sudah membawa Raftar di dalamnya.
"Aktifkan terus GPS kamu Juma...agar Dina bisa mengikuti kita." Kata Nathan yang terlihat fokus untuk mengikuti mobil hitam itu dan mengatur jarak agar tidak terlalu mencolok jika mereka mengikuti mobil tersebut.
Sementara Dina menggunakan motor maticnya, Juned dan Syifa bergoncengan dengan memakai moge milik papah Riko.
"Bang...bisa ajakah kamu bawa moge gini?? jangan kamu jatuhkan aku di jalanan, ya?? awas memang kamu!!" kata Syifa.
"Makanya pegangan bawel...nanti kamu terbang dibawa angin!!" sahut Juned kesal.
Avanza hitam itu berhenti di sebuah gudang tua yang tak terpakai lagi.
Mereka lalu turun dan membawa balita berusia 18 bulan itu masuk ke dalamnya.
Tiga orang berpakaian hitam sudah menunggu dengan seringai mereka di dalam ditambah ada dua orang lagi yang berjaga.
"Bu bos, mau di ikat di mana bocah lelaki ini??" tanya si botak yang jadi pimpinan penculik itu.
Orang yang dipanggil bu bos itu sesaat menatap Raftar yang baru selesai menangis ketakutan.
"Halo bocah tampan anak Sania sialan?? enak ya ibumu...bisa menikah lagi dan melupakan adik kami dengan mudahnya!!" seringai iblis terpancar dari wanita itu.
"Gemesnya aku sama bocah satu ini..."
Wanita satunya menarik ujung rambut Raftar dan kemudian mencubit pipi gembulnya yang kemerahan sekuatnya sehingga balita malang itu menangis keras kesakitan.
Belum juga hilang sesunggukannya habis menangis di mobil tadi sekarang harus menangis lagi saat pipi dan seluruh badan gempalnya dicubiti dan rambutnya ditarik-tarik.
"Nathan...rasanya aku tidak tahan lagi lebih lama sembunyi di sini, bisa mati adikku disiksa sama manusia-manusia iblis di dalam sana!!" kata Juma sambil menggeretakan gerahamnya menahan amarahnya.
"Sabar Juma, sebentar lagi Dina, Juned dan Syifa tiba di sini barulah kita buat perhitungan dengan mereka, kurasa om Riko dan om Johanpun tak akan tinggal diam mendengar putranya jadi korban penculikan!!" jawab Nathan.
Ddrrrtttt....
"Siapa Nath??" tanya Juma mendengar suara getaran ponsel Nathan.
Nathan mengambil ponselnya sementara Juma mengawasi sekitarnya.
"Dina!!" kata Nathan perlahan lalu mengangkat teleponnya.
📱"Kamu dan Juma di mana?? aku, Juned dan Syifa sudah sampai dititik akhir lokasi.
📱"Kekanan sedikit ada kamu lihat tumpukan kotak-kotak besar yang tak terpakai, cepatlah kemari kita atur strategi nanti keburu adikmu bonyok di dalam sana!!"
📱"Apa?? berani sekali mereka menyakiti adikku??"
Dada Dina bergemuruh mendengar perkataan Nathan.
📱"Ya sudah...parkirlah di tempat tersembunyi lalu cepatlah kemari!!"
Tiitt...
__ADS_1
hubungan terputus. Dengan cepat dan tanpa suara ketiga anak Sania yang rata-rata memiliki ilmu bela diri itu bergerak cepat menemui Juma dan Nathan.
Sementara Riko setelah menerima telepon dari Juma yang mengirimkan lokasi di mana mereka sekarang, dengan cepat bergerak bersama anak buahnya.
"Ibu...kak Della...jaga dulu istriku dan si kembar baik-baik ya...Riko pergi menyelamatkan Raftar!!" Riko mencium tangan ibu Intan dan kak Della lalu dia mencium kening Sania yang tadi tertidur karena diberi suntikan penenang.
"Kalian bertiga bergerak ke belakang gudang dan kami berdua dari arah depan..." kata Juma memberi instruksi.
Rombongan kecil itu berbagi tugas. Dan mulai bergerak.
"Hai...siapa kalian??" teriak salah satu dari dua orang yang berjaga pada Nathan dan Juma.
"Kami??? kami pemilik gudang ini, kalian yang siapa??" ganti Nathan membentak.
"Jangan bohong!!" kata mereka lagi.
"Siapa yang bohong?? kalian mencurigakan, mau apa kalian di gudang kami??" tanya Juma.
Mendengar suara ribut-ribut di luar, si botak dan seorang kawannya keluar gudang.
"Ada apa Bas??" tanya si kepala botak memanggil temannya yang bernama Bas itu...entah Basri atau Basuni tak ada yang tau!!".
Si botak menatap lekat pada Juma dan Nathan, tiba-tiba si kepala plontos itu berkata!!"
"Lho, kalian dua pemuda yang tadi ada di persimpangan jalan itukan?? kok kalian bisa sampai kemari?? kalian mengikuti kami ya!!" tanya si botak.
"Hah??? mengikuti kalian?? apa untungnya mengikuti kamu kepala botak?" cemooh Juma yang sengaja memancing supaya orang di dalam keluar semua jika mendengar suara keributan di luar.
"Kurang ajar...para remaja ini??? berani bicara kurang ajar dengan orang tua!!" kata si botak mulai terpancing emosi.
"Minggir kalian semua, kami mau masuk mengambil barang kami di dalam." Teriak Juma sengaja senyaring mungkin untuk memancing mereka semua yang ada di dalam.
Ternyata pancingan Juma berhasil, dua dari empat orang yang ada di dalam keluar gudang.
Juma dan Nathan memasang matanya baik-baik untuk mengenali dua orang yang di duga wanita itu.
"Ada apa botak...Abas...kenapa kalian ribut-ribut??" tanya salah satu dari mereka yang memakai penyangga tubuh di tangan kanannya.
"Ini bu bos...remaja ini mengaku mereka pemilik gudang ini dan mau mencoba menerobos masuk kedalam!!" kata si botak.
Juma dan Nathan berpandangan saling mengedipkan mata lalu tertawa berbarengan.
"Sialan....apa yang kalian tertawakan, bocah??" kata si botak jadi naik pitam.
"Wah, hebat ya Juma...pincang-pincang gini jadi bos, kita yang normal aja belum bisa jadi bos...kalah lagi kita sama si cacat ini!!" lalu mereka berdua tertawa terbahak-bahak.
"Bocah keparat!!!" maki si kaki pincang itu...
"Sini kalian mendekat biar kusumbat sekalian mulut kalian yang lancang itu dengan ujung tongkatku!!" teriak si pincang lagi.
"Sabar kak..." kata orang yang berdiri di sebelahnya yang ternyata juga seorang wanita.
"Ingat hipertensimu??" katanya memperingatkan.
"Tuh nek, dengerin tuh petuah nenek di sebelahnya!!" kata Juma tertawa yang membuat hati mereka semakin panas.
__ADS_1
"Gila nih bocah berdua?? kita dipanggilnya nenek!!" kata perempuan di sebelahnya juga sudah mulai terpancing emosi.
"Lho...kenapa marah?? biasanya kan yang memakai tongkat itu para kaum nenek dan kakek...benar ngga Juma!!" kata Nathan ikut jadi kompor mleduk agar keduanya bertambah emosi karena Nathan dan Juma mulai menyadari bahwa kedua orang di depannya adalah dalang dari penculikan Raftar.
"Bocah gila bosan hidup!!!!" teriak si pincang.
"Kamu pikir kami nenek-nenek??" katanya mulai terpancing emosi juga.
Sementara di luar terjadi keributan, di dalam seorang wanita dengan dua orang pria yang berjaga-jaga sibuk mencubiti dan membentak-bentak Raftar yang sudah gemetar kesakitan sekujur tubuhnya juga rasa takutnya pada orang di depannya.
Raftar yang tak pernah kenal yang namanya bentakan apalagi cubitan mulai bayi spontan menjadi sangat tertekan karena ketakutan.
Karena sudah tak tahan melihat penderitaan Raftar adiknya, saat dilihatnya orang berhodie hitam akan menarik rambut ikal Raftar sambil membentaknya, Dina melihat disampingnya ada sebuah kaleng bekas dengan cepat diraihnya kaleng itu dan dilemparkannya kearah kepala orang itu
BLETAK....
Awhhhh...
Ternyata dia adalah seorang wanita. Sontak dua orang di sebelah si hodie terkejut dan langsung menyerang Dina.
Melihat kakaknya diserang oleh dua orang, Juned langsung bergerak membantu.
Syifa tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia mendekati si hodie.
"Mau apa kamu gadis kecil?? mau kujambak juga rambut ikalmu??" tanya orang itu sambil memegang kearah pelipisnya yang berdarah terkena lemparan kaleng dari Dina tadi.
Syifa menyeringai jahat pada si hodie.
"Sakit pelipisnya tante?? mau kutambah lagi??" tawarnya membuat si hodie memaki panjang pendek.
"Berani kamu sama orang tua??" tanyanya meremehkan Syifa.
"Beranilah...apalagi tante dan yang lain sudah menyakiti adikku..."
kata Syifa.
Tiba-tiba kaki dan tangan Syifa bergerak cepat.
Dia melancarkan tendangan putarnya kearah kepala si hodie setelah si hodie terkapar kesakitan di lantai, dengan cepat dia melepaskan ikatan di tubuh Raftar dan cepat menggendong adiknya.
Dina memberi kode pada Syifa untuk segera pergi membawa Raftar.
Tanpa diperintah dua kali Syifa menggendong adiknya menuju ketempat motor mereka disembunyikan.
Balita itu seolah tau keadaan sudah aman segera memeluk kakaknya dan tak mau melepaskannya.
Sementara di luar Juma dan Nathan berkelahi dengan si botak dan ketiga temannya sementara dua orang yang dipanggil nenek itu menyemangati keempatnya untuk menghajar Juma dan Nathan.
*
*
****Bersambung....
Siapakah orang-orang itu dan ada dendam apa mereka pada Sania??
__ADS_1
Jangan lewatkan kelanjutannya ya reader dan jangan lupa selalu dukungannya!!🙏🙏