Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 6 Kenanganmu Menyakitkanku 2


__ADS_3

"Sofwan...sebenarnya kamu ini kenapa??" Jika kamu mempunyai masalah, jangan kamu pendam sendiri, kamu lihat anak dan istrimu? Kasihan mereka."


"Atau kamu kangen pengen pulang kerumah orang tuamu kah??"


Diam membisu...seolah omongan pak rt adalah sapuan angin ditelinganya. Dia tetap tak bergeming, diam memandang kosong kedepan.


"Pak, apa mas Sofwan tidak membahayakan kami? Saya khawatir dengan keselamatan anak-anak."


"Tadi siang saja mas Sofwan melempar Juned dengan permen." Lalu kuceritakan semua yang terjadi tadi siang kepada pak rt dan pak johan, suaminya bu Darmi.


"Terus apa siang tadi teman kerja yang mengantarkan Sofwan pulang ada mengatakan sesuatu padamu, Nia?"


"Seingat saya tidak ada pak." Aku mencoba mengingat-ingat kembali.


"Apa sebelum ini suamimu ada menunjukan keganjilan dalam bersikap Nia?"


Aku diam mencoba berpikir dan mengingat. Karena jujur aku juga terlalu lelah bekerja, belum lagi harus mengurus anak-anak dan mengurus rumah.


Tetapi.."Dina ingat mak, sudah dua hari jika mau berangkat kerja, bapak selalu bertanya."


"Kemana jalan keperusahaan dek..Dan mas harus naik apa kesana... begitukan kata bapak, mak?"


"O iya pak, saya baru ingat kemarin dan tadi pagi mas Sofwan mengulang pertanyaan yang sama."


"Terus kamu jawab apa?" kata pak rt. "Ya saya jawab seperti biasa pak!!" biasanya mas Sofwan juga tahu jalan mana dan naik angkot nomor berapa.


"Sebenarnya saya sedikit bingung pak, saya pikir mas Sofwan bercanda saja seperti biasanya."


"Lalu bagaimana ini pak? apa saya harus menelpon mertua saya pak, dan menceritakan semua yang terjadi pada mas Sofwan?"


"Tampaknya memang tak ada jalan lain lagi Nia, takutnya malah kamu nanti yang disudutkan dan disalahkan oleh keluarga Sofwan!"


Glek...aku menelan salivaku. Aku sungguh-sungguh takut. Apalagi kedua kakak perempuannya kala itu sangat menentang pernikahan kami.


Apalagi mendengar berita yang telah menimpa adik mereka. Dan menyangkut soal gangguan jiwa pula, tentu ini akan menjadi masalah besar.


"Ya Allah...aku harus bagaimana ini..." Apalagi selama 9 tahun pernikahan kami, mereka berdua sama sekali tak pernah mengunjungi kami.


Hanya kedua mertuaku yang kadang-kadang datang mengunjungi kami.


Kedua orang tua mas Sofwan tidak pernah memilih-memilih. Mereka berdualah yang membuatku bisa ada ditengah keluarga besar mereka.

__ADS_1


"Tapi sekarang...apalagi semenjak ibu mertua meninggal, apa keadaan masih bisa sama?"


Mereka berdua selalu menghina kehidupan kami yang serba pas-pasan. Selalu memojokan mas Sofwan mengapa menikahiku.


Yang selalu mengatakan aku tak pantas untuknya. Dan karena itulah hubungan mas Sofwan dengan ke dua kakaknya menjadi tidak baik.


Mereka berdua jelas-jelas mengatakan tepat didepanku kala itu, Sofwan berubah semenjak memilihku untuk menjadi istrinya.


Tak bisa kubayangkan sorot kebencian mereka padaku. Itu yang membuat mas Sofwan memilih mundur membawaku jauh dari kehidupan keluarganya.


"Bagaimana Nia? Kok kamu malah melamun?"


"Eh iya pak Johan, saya tidak melamun tapi sedang memikirkan bagaimana cara untuk menelpon mereka."


"Ya sudah, cepatlah kamu berpikir, jangan terlalu lama berpikir yang pada akhirnya akan merugikanmu."


"Istirahatlah dulu, coba kamu lihat Sofwan sudah meringkuk dipojok dinding."


"Tampaknya dia juga tertidur, ajak anak-anak istirahat.


"Karena bapak lihat sepanjang siang Juned dan Syifa mainan lumpur."


"Bilang pada anak-anakmu jangan rewel agar tidak memicu kembali emosi suamimu yang bisa menyebabkan dia stres kembali."


Mereka berdua lalu pamit pulang. Menyisakan aku dan anak-anak yang tidur malam itu dengan kecemasan.


Aku tidak bisa tidur dengan nyenyak...aku takut jika mas Sofwan tiba-tiba bangun dan mengamuk.


Baru beberapa menit rasanya aku tertidur, aku dikagetkan oleh suara orang sedang ngobrol.


Ternyata itu mas Sofwan yang sedang berbincang-bincang dengan dirinya sendiri sambil tertawa-tawa.


Aku tak berani mengusik keasyikannya. Aku hanya perlahan bangun menuju dapur dan menyimpan semua benda tajam atau apapun yang bisa membahayakan ku dan anak-anak.


"Ya Allah...maafkan aku jika sudah suudzon pada suamiku sendiri, tapi alangkah lebih baik aku mengambil inisiatif terlebih dahulu?"


Bukankah memikirkan hal buruk yang akan terjadi dari awal itu lebih baik, daripada setelah kejadian baru menyadari. Aku hanya ingin mengambil langkah perlindungan untuk ketiga anakku.


Kepalaku terasa sakit karena sepanjang malam aku tidak berani tidur nyenyak. Apalagi dari dalam kamar aku mendengar mas Sofwan ber hahahihi sendirian.


Sengaja aku tidur di kamar dengan anak-anak takut mereka terganggu. Kasihan Dina, apalagi besok dia harus ke sekolah pagi-pagi.

__ADS_1


Biasanya kami tidur berempat beralaskan tikar. Anak-anak senang tidur dekat dengan bapaknya, karena sebelum tidur mas Sofwan biasanya selalu mendongeng untuk mereka.


Tapi sekarang mas Sofwan tampaknya lebih senang mendongeng untuk dirinya sendiri.


Aku memilih untuk bangun saja...apalagi kudengar adzan subuh sudah berkumandang. Aku mengambil air wudhu untuk melaksanakan kewajibanku.


Dulu sekali, di awal pernikahan kami sampai Dina hadir ditengah kami, mas Sofwan selalu menjadi imam.


Tapi sejak beberapa tahun belakangan ini, dia selalu menyuruhku untuk sholat terlebih dahulu dengan alasan dia masih capeklah...belum mandilah...ada saja alasannya.


Setiap kali kuperingatkan tentang itu dia selalu marah padaku.


Aku sholat dengan khusyuk dan berdoa memohon pada yang Kuasa agar aku diberikan jalan keluar atas masalahku ini. Sebagai seorang istri yang baik juga memohon kesembuhan untuk suamiku.


Setelah selesai aku bersiap kedapur untuk memasak dan membuat sarapan untuk keluargaku.


Karena Dina sejak kelas satu sampai sekarang tidak pernah kubiasakan memberi bekal uang. Dia selalu sarapan dirumah lalu membawa bekal untuk istirahatnya.


Aku selalu menanamkan nasehat kepada anakku. Jika orang tuanya tidak selalu punya uang untuk bekalnya. Agar dia paham dan mengerti kondisi kedua orang tuanya.


Dan Alhamdulillah ketiga anakku tidak pernah rewel untuk selalu meminta uang jajan. Hanya terkadang Juned yang agak bandel dan mulai rewel jika keinginannya tidak dipenuhi.


Tapi dengan sabar Dina membujuk adik-adiknya dengan kata-kata yang lembut yang terkadang membuatku meneteskan air mata.


"Adek..jangan rewel ya..mamak sama bapak belum punya uang, nanti kalo sudah punya uang pasti diberi."


"Kakak saja ngga pernah sangu uang dari rumah hanya diberi bekal makan dan minum dari rumah, supaya kakak tidak jajan sembarangan..supaya kakak tidak sakit."


"Nanti kalo kakak sakit...kasian mamak jadi tidak bisa cari uang tambahan buat bantu bapak."


Aku rasanya sedih juga bangga mendengarkan Dina yang selalu menasehati adiknya.


Anak umur 8 tahun itu harus belajar dari keadaan orang tuanya untuk cepat berpikir dan menjadi dewasa sebelum waktunya.


Kesabarannya dan kedewasaannya mirip dengan mas Sofwan, yang tidak mau hidup bergantung dari kekayaan keluarganya. Memilih untuk merantau sendiri mencari hidup yang layak dan merasakan susah senangnya mencari rejeki dikampung orang.


Seandainya saja dia mau, dia tidak perlu banting tulang peras keringat seperti sekarang ini. Kepala jadi kaki, kaki jadi kepala mencari nafkah untuk memghidupi keluarganya.


Dia bisa saja pergi meninggalkanku dan anak-anak, hidup kembali ditengah keluarganya dan merasakan kehidupan yang layak disana. Tapi hingga detik ini dia tidak pernah berpikir untuk melakukan itu.


Mas Sofwan terkadang menjadi jahat padaku mungkin karena penyakit kejiwaannya itu. Tapi tidak pernah sedikitpun dalam benaknya untuk punya niat pergi meninggalkan dan mengabaikan kami.

__ADS_1


***bersambung....


jangan lupa like dan komennya*** 😊😊🙏🙏


__ADS_2