
"Kamu mau ke Jakarta? tanya Sultan, dia menoleh pada Sofwan yang duduk di sebelahnya.
"Iya, tadi aku di telepon sama kantor pusat bahwa akan ada rapat penting, diambil satu orang dari setiap divisi untuk pergi." Jawab Sofwan.
"Mungkin setelah kepulanganku dari Jakarta nanti, aku akan rujuk kembali dengan Sania!!" wajah Sofwan berbinar-binar. Sementara Sultan dengan pandainya menyembunyikan perasaannya.
"Iya, semoga kalian bisa menjadi keluarga yang SAMAWA lagi!!" Sultan tersenyum dan sekali lagi dibiarkannya hati itu terluka.
"Aku pergi hari senin besok Sultan...kalau aku pergi dan Nia belum sehat, bisakah aku titip dia!! Tolong jaga dia untukku ya!!" Sultan menganggukan kepalanya.
"Tanpa kamu memintapun pasti akan kulakukan, Sofwan!! karena cintaku padanya tak bisa kamu ukur!!" bisik hati Sultan.
"Siapa keluarganya ibu Sania?" seorang perawat keluar dari ruang ICU.
"Kami keluarganya suster, apakah pasuen sudah sadar?" tanya Sofwan.
"Alhamdulillah, ibu Sania telah melewati masa kritisnya...kalian boleh menjenguknya tapi bergantian saja ya!!" suster itu tersenyum lalu meninggalkan Sofwan dan Sultan.
"Kamu dulu yang masuk Sofwan, biar aku belakangan!! kata Sultan.
"Assalamualaikum cintaku? bagaimana perasaanmu? apakah sudah baikan?" tanya Sofwan sambil mengecup sayang pipi wanita yang sebentar lagi akan rujuk dengannya itu.
Sania tersenyum walaupun wajahnya masih terlihat sangat pucat tetapi di mata Sofwan dia tetaplah terlihat sebagai wanita tercantik.
"Aku sudah lebih baik, mas!! maaf jika aku merepotkanmu lagi." Sania masih bicara terbata-bata.
"Jika kamu sudah sehat nanti, mas mau tau apa yang menyebabkan kamu bisa drop seperti kemarin!!" Sofwan membelai lembut rambut Sania.
Sania diam mencoba mengingat kejadian saat sebelum dia pingsan.
Dia berhasil mengingatnya, tapi dia tak ingin Sofwan ribut denfan Niko yang Nia ketahui sama-sama bertemperamen keras maka Sania memutuskan untuk tak mengatakan kejadian yang sebenarnya. Dia hanya mengatakan kalau kepalanya waktu itu sangatlah pusing, itu saja.
Untung Sofwan mempercayainya dan tak melanjutkan penyelidikannya tentang itu.
"Besok mas mau berangkat ke Jakarta, nanti sepulangnya mas dari sana barulah kira menikah ulang lagi ya sayang!!" ucap Sofwan sambil membelai mantan istri yang sebentar lagi akan dinikahinya itu.
Sania hanya mengangguk. Entah dia harus bagaimana. Dia jenuh dengan kata pernikahan karena dia ingat terakhir Niko mengatakan itu tapi ujung-ujungnya gagal juga yang menyebabkan kemarin dia hampir meninggal dunia.
"Berapa lama mas di Jakarta?" tanya Sania.
"Mungkin sekitar dua mingguan, dek!! semoga urusannya cepat selesai agar mas bisa cepat pulang kemari lagi...mas sudah tak sabar untuk melihat keluarga kita berkumpul lagi utuh seperti dulu."
Dipandanginya wajah sang mantan itu, entah mengapa berat sekali rasa hatinya untuk pergi meninggalkannya. Dia takut tak bisa melihat Sania lagi.
__ADS_1
Setelah itu dia keluar bergantian dengan Sultan. Sebenarnya ada rasa tak rela bisa dikatakan cemburu saat Sultan masuk kedalam ruangan.
"Assalamualaikum, selamat pagi ibu peri yang cantik dan baik hati? bagaimana keadaan nyonya pagi ini? apakah sudah lebih baik?" Sultan langsung duduk di kursi samping tempat tidur Sania.
"Waalaikum Salam, apa sih Sultan...cantik dari mananya? cantik kok penyakitan?" Sania tersenyum lalu mencoba bangun dan duduk bersender.
"Bagiku, kamu mau penyakitan kek, mau lumpuh sekalipun kek, di mataku kamu tetap wanita tercantik yang pernah aku lihat." Sultan berdiri dari kursi dan membantu Sania duduk.
"Gombal kamu Sultan!!" Sania mencubit lengannya yang memegang kedua pundaknya.
Sultan hanya tersenyum sambil meringis menahan sakit di lengannya.
"Maaf Sultan, aku nyubitnya terlalu keras ya?" Sania langsung mengusap lengan Sultan dengan perasaan bersalah.
"Aduh...ibu satu ini!! masih sakit aja cubitannya terasa sakit, apalagi kalau dia sudah sehat nanti? bisa langsung lecet lenganku." Sultan meringis lagi.
"Habis kamu sih setiap kali ketemu godain terus!!" Entah mengapa mood Sania jadi bertambah baik saat kedatangan Sultan ke kamarnya.
"Kamu mau makan apa my Queen? nanti kusuapi?" Sultan mengambil jeruk yang tadi dibawanya dari rumah, dikupasnya lalu disuapinya pada Sania.
"Ngga usah disuapi, aku malu...kayak anak kecil aja!! wajah Sania memerah karena malu.
"Ayo aaaaa...!"
Mmmmmmm....
"Hayo...kalau ngga mau buka mulut tak cium, mau?"
Aaaaaa....
"Akhirnya!!!" jawab Sultan sambil mengulum senyum.
Tunggu diancam dulu ya, baru mau nurut!!" Sultan kembali tersenyum melihat Sania yang cemberut.
Dari balik pintu, Sofwan merasakan sesuatu yang mengganjal hatinya.
"Tampaknya dia lebih bahagia jika Sultan ada di sampingnya dibandingkan dengan aku yang ada disampingnya." Sofwan terpaku disamping pintu.
"Apa mas sudah tak ada lagi dihatimu dek? mas Sofwan tau, banyak kesalahan mas Sofwan di masa lalu padamu dan anak-anak...makanya mas Sofwan berniat untuk kita rujuk kembali."
"Sultan, masih cintakah kamu pada mantan istriku itu?" bisik hati Sofwan.
Lalu diam-diam dia berlalu dari sana dan duduk kembali di ruang tunggu.
__ADS_1
*
*
"Aku sibuk Maya, aku ngga bisa setiap waktu selalu mengunjungimu...banyak pesanan yang harus kuantar bersama ayah dan toko di dua tempat yang berbeda juga membutuhkan perhatianku."
"Kan ada Sania, Della juga anak-anaknya Sania itukan sudah besar-besar...masa mereka ngga bisa mengurus toko dan pesanan?"
Suara Maya dari seberang sana juga meninggi.
"Kamu pikir Sania itu karyawanku? dia dulu calon istriku sebelum kamu datang dan menghancurkan semua impian kami!!"
Niko yang pada dasarnya memang berwatak keras saat mendapat perkataan keras dan meninggi dari Maya membuat hatinya semakin tersulut emosi. Apalagi semenjak menikah dengan Maya, Niko tak bisa lagi berbicara dengan Sania bahkan anak-anakpun tak pulang kerumah ini serta memilih tinggal di rumah lama mereka.
"Sebagian uang yang kugunakan untuk memperbesar toko adalah uang Sania, paham kamu?? Dan kisah cintaku harus kandas dan berakhir dengan kebenciannya yang mendalam padaku."
"Ayah!!"
Juma muncul di ambang pintu kamar. Berusaha menenangkan amarah Niko pada ibunya.
Juma mengambil ponsel dari pegangan Niko dan langsung berbicara pada ibunya.
"Ibu, maaf ini Juma. Bukan Juma mau ikut campur urusan kalian, tapi ayah dan kakek di sini benar-benar sibuk dan tak bisa di ganggu."
"Bukankah ayah sudah mengirim uang untuk keperluan ibu dan adik-adik? jadi Juma mohon mengertilah bu, jangan memaksa ayah terus."
Tiiittt
Maya mematikan sambungan teleponnya dengan kesal.
"Selalu saja wanita yang bernama Sania itu yang dibawa-bawa, siapa sih dia?" bukan main kesalnya hati Maya mendengar nama Sania selalu disebutkan oleh Niko.
"Maafkan kesalahan ibu, yah!! Juma sekarang jadi tau mengapa ayah tak pernah bisa untuk tinggal bersama ibu."
"Selain ayah memang tak pernah mencintai ibu, ayah juga mempunyai seorang wanita yang sangat ayah cintai dan gagal bersama karena harus bertanggung jawab pada ibuku."
*
*
***Bersambung....
Kebersamaan karena terpaksa tidak akan pernah berlangsung lama!!
__ADS_1
Jangan lupa mampir, baca, like, komen, vote, favorit dan ratenya🙏🙏