
"Ya Allah...kenapa sejak subuh tadi perutku sakit sekali? Apa aku sudah mau melahirkan ya? Tapi usia kandunganku baru masuk bulan ke tujuh!!"
Mungkin aku terlalu lelah bekerja. Bahkan aku hamil-hamil sering pulang malam. Miko sudah sering melarangku, tapi untuk apa lagi aku pedulikan? Aku butuh uang untuk membiayai anak-anakku. Aku tak mau menggantungkan hidup kepada siapapun.
"Aduh..." Aku meringis kesakitan.
Di rumah tidak ada siapapun selain Syifa. Dina dan Juned tadi pagi berangkat ke sekolah bareng Miko.
Miko sekarang semakin sering menginap di sini. Walaupun aku tidak mau lagi tidur dengannya. Mungkin juga dia punya perasaan jika Sultan menyukaiku.
"Aku mau minta tolong siapa ya...perutku semakin sakit rasanya.
"Masa aku mau minta tolong Miko? Tapi dia kan memang masih sah sebagai suamiku?"
Dengan susah payah aku berjalan kearah televisi, karena aku menaruh ponselku di atas meja televisi.
"Bruk...." Astaghfirullah...aku jatuh terduduk di lantai dapur yang memang agak licin.
"Ya Allah...apa ini? Ada darah merembes dari sela-sela pahaku.
Disela-sela rasa sakitku yang tidak tertahan aku mencoba menghubungi Miko. Lama aku mencoba menelponnya tapi bukan Miko yang mengangkat ponsel itu.
Tiba-tiba..."Ya, halo? Ada apa kak Sania menelpon? Kakak ini mengganggu keasyikan kami bercinta saja..." Terdengar suara manja Alena dari seberang sana. dibarengi suara rintihan. lenguhan dan *******.
Otomatis ponsel terlepas dari tanganku. Sekarang bukan hanya rasa sakit di perutku dan pendarahan yang kualami, tapi juga rasa sakit yang menyayat hatiku.
"Kamu jahat Miko...kamu jahat padaku...sebegitu dendamkah kamu padaku, Miko...sehingga kamu perlakukan aku seperti ini?"
"Kamu berkata waktu itu tidak pernah lagi menyentuhnya, makanya aku mengizinkanmu untuk sering-sering datang kemari, bahkan menginap di sini, tapi mana bukti perkataanmu?"
"Dari sini kamu mengaku berangkat kerja bareng sama anak-anak, ternyata kamu memutar arah balik ke rumah untuk menyalurkan hasratmu pada Alena!!"
"Aku membencimu Miko....lebih dari sebelumnya..."
Teriakanku dibarengi dengan ambruknya aku ke lantai yang sudah banyak digenangi oleh darahku.
Mendengar suara jeritanku, Syifa keluar dari kamar dan mendapatiku tergeletak pingsan bermandikan darah di lantai.
Spontan bocah perempuan berumur empat tahun itu menjerit melihatku dan untungnya dia reflek lari berteriak keluar meminta pertolongan.
Alhamdulillah ada beberapa ibu-ibu yang datang menolongku.
*
*
__ADS_1
"Halo...Assalamualaikum...Sultan...cepat kemari leh...Sania, Sultan...Sania..."
"Ada apa kak? Kenapa dengan Sania? Apa dia bertengkar dengan suaminya?
Sultan yang pagi itu baru saja bersiap akan masuk kelas dan mengajar jadi duduk kembali di kursinya.
"Bukan Sultan...Sania dibawa ke rumah sakit dia mengalami pendarahan hebat."
"Aduh...kok bisa kak? Terus siapa yang bawa dia ke rumah sakit?"
"Untung Syifa cepat tanggap dan berteriak meminta pertolongan melihat bundanya sudah tergeletak mandi darah di lantai."
"Sehingga ada beberapa ibu-ibu tetangga yang menolong juga menelpon kakak...kalau terlambat sedikit saja, mungkin nyawanya tidak akan tertolong lagi."
""Ya sudah...Sultan akan ke sana, di rumah sakit mana mba Nia dirawat kak?"
"Harapan Bunda"
Dengan cepat Sultan meminta izin untuk tidak mengajar hari ini agar bisa segera ke rumah sakit.
"Dimana kak? Sultan bergegas masuk.
"Kami menunggu di ruang tunggu operasi, Sania harus segera dioperasi Sultan."
Di sana sudah berkumpul Kak Tini, Wati dan Tuti.
""Sebaiknya jangan kak, "kata Sultan. "Agar anak-anak juga tidak ikut panik nantinya."
"Kenapa bisa begini sih, kak? Seingatku usia kandungan mba Nia itu baru memasuki usia tujuh bulan."
"Beh...Sultan hapal...kalah-kalah suaminya sendiri."
"Ngga usah berkata yang aneh-aneh, Wati..." Sela Tuti.
"Sultan sering mengantar Sania untuk check up kandungannya, Wati." Tini menambahkan.
"Tadi kakak sempat menanyakan pada Syifa, dia cuma bilang kalau bundanya menangis lalu menjerit histeris sebelum akhirnya pingsan."
Setelah dua jam lamanya kami menunggu, dokter keluar dari ruang operasi.
"Siapa suaminya pasien? Andakah?"
"Hah??? I...iya dokter, bagai mana keadaan istri saya?" Dengan cepat Sultan menjawabnya.
"Selamat...bayi anda lahir kembar pak, mereka lahir dengan selamat...tapi istri anda masih dalam keadaan koma."
__ADS_1
Mendengar itu kami semua yang ada di situ menjadi panik. Terlebih Sultan dia terlihat lebih tegang dari pada kami bertiga.
Dalam keadaan begini Wati masih sempat berbisik pada Tuti.
"Ssttt...liatlah Sultan...dia lebih panik dari kita semua, mengalahkan si brengsek Miko dan si kampret Sofwan."
"Dia selalu ada di saat Sania butuhkan, tidak seperti ke dua cecurut dan kutu busuk itu...datang dan pergi kayak jailangkung."
"Iya...kamu benar Wati, akan kusantet mereka berdua jika sampai terjadi sesuatu pada Sania." Tuti menggeram marah.
*
*
Sementara itu ada kesalah pahaman antara Miko dan Sania. Miko memang pulang lagi sehabis mengantar anak-anak pergi sekolah, tapi untuk mengambil berkas-berkas yang tertinggal.
Setelah itu dia pergi lagi tanpa dia ingat telah meninggalkan ponselnya di ruangan kerjanya.
Ponsel itu tadilah yang terus menerus berdering dan terdengar oleh Alena dan akhirnya menimbulkan niat jahatnya untuk mengerjai Sania.
Dia mengatakan sedang bercinta dengan Miko padahal apa yang didengar Sania itu hanyalah suara dari film blue yang diputar Alena untuk mengecoh Sania.
"Aduh...ponselku tertinggal di ruangan kerjaku kayaknya nih..." Miko baru sadar setelah dia mau menelpon ke rumah Sania.
"Ya sudahlah nanti aja pas jam makan siang aku telepon ke rumah...sebab perasaanku rada ngga enak, nih...ada apa ya?"
Dia sama sekali tidak tau kejahatan yang dilakukan Alena, yang menyebabkan Sania berjuang antara hidup dan mati untuk mempertahankan hidupnya dan bayi yang dikandungnya.
Siang itu Juned dan Dina pulang bersamaan karena guru kelas enam sedang rapat jadi Dina juga ikut pulang cepat.
"Kak...kok lumah sepi banget ya?" Bunda sama Syifa ke mana ya?"
"Iya, ya...ngga pernah rumah sesepi ini. Pintu luar kok di gembok, Juned!!! Apa bunda sama Syifa pergi ke rumah tante Tini, ya?"
"Kok perasaan kakak tiba-tiba ngga enak ya, dek? Apa kita susul ke rumah tante Tini aja kah?"
Mereka berdua baru berinisiatif pergi ke rumah Tini ketika Sultan datang dengan motornya.
"Kita ke rumah sakit sekarang anak-anak...bunda kalian lagi di rawat di rumah sakit."
"Bunda sakit apa, om? Perasaan tadi pagi bunda baik-baik aja!!"
"Bunda kalian sudah melahirkan, Dina!! Adik kalian kembar, laki-laki dua-duanya.
"Alhamdulillah..." Dina dan Juned mengucap bersamaan.
__ADS_1
***Bersambung....
Selalu minta dukungannya ya all readers...like, komen, vote, favorit juga ratenya agar author receh ini tetap semangat up datenya...terima kasih🙏🙏