Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 242 Asdar


__ADS_3

Mata Riko membulat sempurna melihat siapa yang berdiri di depan mereka.


Dia menepuk pipinya berkali-kali bahkan mengucek matanya untuk memastikan bahwa dia tidak sedang mengigau ataupun salah mata, begitu pula orang yang tengah berdiri di depannya. Johan pun juga terdiam sambil membandingkan!!"


"Kau..."


"Mengapa wajah tuan mirip sekali denganku? aku yakin kita bukan saudara kembar, karena aku adalah anak tunggal." kata Asdar.


Asdar dan Riko sama-sama terkejut melihat wajah mereka bagaikan pinang di belah dua.


Jika hanya melihat sepintas maka orang akan mengira mereka kembar. Asdar tidak memiliki mata elang dan tajam seperti yang dimiliki oleh Riko, mata itu terlalu lembut dan penuh welas asih...selebihnya tak ada yang dapat membedakan mereka.


"Perkenalkan tuan muda, pemuda ini namanya Asdar bin Abdullah...seperti yang dia katakan tadi bahwa dia adalah anak tunggal tidak memiliki kakak ataupun adik."


"Asdar tinggal bersama nenek dan kakeknya, di kota ini dia bekerja sebagai pelayan kedai...awal bertemupun kami sangat kaget melihat tuan muda bukannya pergi ke kantor malah memakai seragam seorang pelayan." Terang Johan.


"Lalu apa maksudmu membawa orang yang mirip denganku ini kehadapanku, Jhon??" tanya Riko masih belum bisa mengerti maksud dan tujuan sang asisten tersebut.


"Bukankah tadi tuan muda ingin pergi meninggalkan Malaysia agar bisa berkumpul kembali dengan keluarga di Indonesia?" tanya Jhon.


"Iya, benar sekali...lalu maksudmu Asdar akan bertukar pe....Astaghfirullah Jhon, kamu benar...mengapa tak terpikirkan olehku semenjak tadi!!" tiba-tiba mata Riko berbinar ceria.


"Apa yang ada dipikiran tuan muda??" tanya Johan sambil tersenyum simpul.


"Asdar...aku bisa bertukar peran dengan Asdar, kita tinggal sedikit membentuk karakter Asdar agar bisa semirip mungkin denganku!!" ujar Riko.


Dia mengelilingi Asdar sambil menilai dari cara memandang Asdar yang selalu menunduk, suara Asdar yang terlalu lembut karena wajarlah dia bersuara lembut sebagai pelayan kedai besar jika dia berkata kasar atau keras maka pelanggannya pastilah tidak mau mampir lagi ke kedainya.


"Matamu Asdar...keluarga Baskoro semua memiliki mata tajam menghunus, wajah angkuh dan dingin juga jarang tersenyum kecuali dengan orang-orang tertentu, ajarkan tentang hal itu kepadanya nanti, Jhon!!" kata Riko.


"Usahakan jangan terlalu lama, agar aku bisa segera pulang menemui keluargaku lagi!!"


Mata Riko yang selama ini kuyu dan tanpa pengharapan, sekarang penuh binar suka cita dan semangat hidup kembali.


"Soal gaji kamu tak usah khawatir, Asdar!! gajimu akan kuberi 10 kali lipat dari gajimu di kedai itu." Kata Riko.


Asdar menatap Riko berusaha mempelajari sikap dan sifat Riko yang tampak angkuh dan keras, tutur katanya yang datar dan dingin, sebenarnya berbanding terbalik dengan sifat dan karakter Asdar yang sebenarnya.


Sebenarnya dia tidak mau menerima pekerjaan ini, karena bagi orang kampung sepertinya yang telah dididik dan diajarkan bagaimana bersifat dan bersikap, tentu akan sangat sulit beradaptasi, tetapi dia tak punya pilihan lain selain menerimanya karena dia butuh banyak uang untuk biaya operasi ayahnya.


Semenjak ibunya meninggal saat dia berumur 7 tahun, ayahnya yang berprofesi sebagai guru SD tidak pernah menikah lagi.


Beliau bertekad untuk membesarkan Asdar seorang diri, karena rasa sayangnya pada putra satu-satunya dan pada almarhumah istrinya, ibunya Asdar.

__ADS_1


Hanya sayang ayah Asdar harus pensiun dini karena gagal ginjal yang dideritanya menyebabkan ayahnya harus cuci darah seminggu dua kali.


Asdar pun demi cintanya pada sang ayah harus bekerja mati-matian untuk memenuhi kebutuhan dan biaya pengobatan ayahnya karena gaji pensiunan ayahnya sebagai seorang guru tidaklah mampu mencukupi.


"Asdar, aku memberimu waktu sebulan...oh tidak itu terlalu lama, aku akan memberimu waktu dua minggu untuk mempelajari semua tentang kehidupanku dan keluargaku, jangan khawatir gajimu akan dibayar di muka." kata Riko.


"Urusi dia, Jhon dan kamu Santos...jaga mulutmu jangan sampai ini bocor, hanya kita berempat yang tau tentang ini...sekarang kamu pakailah lagi kacamata, masker dan topimu Asdar...dan mulai hari ini berhentilah kamu bekerja sebagai pelayan kedai, mengerti???" kata Riko penuh penekanan.


"Mengerti tuan muda!!" ucap Asdar.


"Bagus, sekarang kalian pergilah kita jalani dulu peran kita masing-masing sambil kamu mempelajari semua dari Johan tentang aku!!" kata Riko.


Johan dan Santos membawa Asdar pergi, sementara Riko kembali pada pekerjaannya.


Tok...tok...tok


"Iya, masuk!!" kata Riko.


Sekretaris Riko masuk. Wanita yang mengenakan hijab itu menunduk sedikit pada atasannya.


"Ada apa, Siti?" tanya Riko.


"Maaf pak, ada seorang kakek tua dan seorang anak kecil yang ingin bertemu...tadi beliau menyebutkan namanya Sanusi!!" kata Siti lagi.


"Apa??? kakek Sanusi berkunjung kemari??? suruh masuk...suruh masuk, Siti!!" ujar Riko dengan mata berbinar.


"Kakek Sanusi...Ahmed..." Riko memeluk orang tua yang dulu sudah menolongnya itu mencium tangannya lalu memeluk Ahmed.


"Angin apa yang membawa kakek kemari? seandainya kakek menelpon terlebih dulu pasti Riko akan menyuruh orang untuk menjemput kakek dan Ahmed." Kata Riko.


"Lagian mestinya Riko yang muda menjenguk kakek bukanlah sebaliknya, maafkan Riko ya kek...terlalu banyak masalah yang Riko hadapi sekarang ini!!" jawab Riko lagi.


"Abang sekarang keren!! ucap Ahmed pada Riko.


"Benarkah??" tanya Riko tertawa sambil mengucak-ngucak rambut Ahmed seperti saat dulu waktu mereka masih tinggal bersama.


"Bang, kapan abang main kerumah lagi?? nenek selalu menanyakan kabarnya abang!!" kata Amed.


"Abang masih sibuk Ahmed, nantilah jika pekerjaan abang tidak terlalu banyak nanti!!" kata Riko.


"Silakan diminum tehnya kek, Ahmed!!" Riko menyiapkan sendiri di ruangannya minuman untuk kakek Sanusi dan Ahmed.


"Nak, bagaimana keadaanmu dan pernikahanmu? apakah ayahmu masih menentang hubungan kalian?" tanya kakek Sanusi langsung pada inti permasalahannya.

__ADS_1


"Benar kek, bahkan sekarang Riko harus dijebak nikah paksa untuk menyelamatkan keluarga Riko di Indonesia dari ancaman ayah!!" kata Riko.


"Ko, kakek bertemu dengan Johan seminggu lalu...apakah Johan ada menceritakannya padamu?" tanya kakek Sanusi mulai serius.


"Tidak ada kek, menceritakan apa?" tanya Riko.


****


***Flasback on***


"Assalamualaikum!!"


"Waalaikum Salam!!"


"Halo...ini Ahmedkan?? masih ingat dengan abang?? abang yang waktu itu menjemput abang Riko!!" jawab tamu itu.


"Iya, Ahmed masih ingat...abang Johan kan?" tanya balik Ahmed.


"Benar sekali anak pintar!!" kata Johan sambil mengucek rambut Ahmed.


"Ahmed...mengapa tamunya tak disuruh masuk? malah bercakap di luar??" teriak neneknya dari arah dapur.


"Ohh, maafkan Ahmed bang sampai lupa mempersilakan masuk!!" ucap Ahmed tersipu malu.


Setelah selesai sholat dzuhur, kakek Sanusi keluar menemui Johan yang datang bersama Santos orang kepercayaannya.


"Assalamualaikum!!" kakek Sanusi memberi salam terlebih dahulu.


"Waalaikum Salam..." ucap Johan, Santos dan Ahmed bersamaan menjawab salam kakek Sanusi.


"Ada angin apa yang membawamu jauh-jauh dari kota datang kemari, Johan??" tanya kakek Sanusi.


Lalu Johan menceritakan masalah yang sedang menimpa tuan mudanya saat ini pada kakek Sanusi.


Lalu kakek Sanusi mengajak Johan ke kampung sebelah mengunjungi sahabatnya pak Abdullah dan kebetulan anak pak Abdullah yang bekerja di kota pulang menjenguk ayahnya yang sakit-sakitan.


Johan dan Santos menutup mulutnya bersamaan begitu pula dengan Ahmed saat melihat anak laki-laki pak Abdullah itu.


*


*


***Bersambung...

__ADS_1


Siapakah orang yang dilihat ketiganya sehingga mampu mengejutkan mereka bertiga?


Mohon dukungannya selalu ya reader!! terima kasih🙏🙏


__ADS_2