
Akhirnya lega juga bisa keluar dari rumah sakit. Sementara aku belum sembuh total, aku tinggal dulu di rumah Miko bersama anak-anak.
Semoga kamu betah tinggal di rumah yang sebentar lagi juga akan jadi rumahmu, beb..."
"Mamak...anak-anakku menyambut dengan suka cita..."
Mereka memelukku erat...."Ayah Miko ngga ikut dipeluk?"
"Eh...iya...lupa..." Kata Syifa dan Juned lalu memeluk Miko.
"juned, Syifa sama kak Dina main lagi ya...biarkan ibu kalian istirahat dulu."
"Kamu mau tidur di mana? Di kamarku atau di kamar anak-anak, atau di kamar tamu?"
"Di kamar anak-anak aja, Ko..."
"Kenapa tidak mau tidur di kamarku? Masih takut denganku? Kita lho di rumah sakit satu kamar."
"Tapi tidak satu tempat tidur, Ko...kamukan tidur di sofa."
"Ya sudah...terserah kamu saja, beb..."
*
*
"Aku seperti pernah mendengar nama itu, tapi di mana ya...?"
"Mah...apa yang sedang kamu pikirkan?" Sofwan menghampiri Anggita yang sedang duduk diteras.
"Ngga pah...mamah hanya sedang berusaha mengingat-ngingat saja."
"Apa yang mamah ingat? Kok kayaknya serius banget?"
"Wanita yang bernama Sania yang menjadi istri pak Miko tadi, pah?"
"Mamah seperti pernah mendengar nama itu disebut, tapi dari kita di rumah sakit kemarin sampai sekarang belum juga ingat."
Sofwan berdiri termangu. "Akupun sepertinya pernah kenal dengan pemilik mata teduh itu, tapi aku juga lupa kenal di mana..."
"Mata sebening air telaga yang selalu memancarkan kelembutan, membuat siapapun betah berlama-lama menatapnya."
"Pah...kok malah bengong berdiri di situ...sini duduk dekat mamah."
"Pah...tadi ayah telepon dari Yogya, kata beliau manajer personalia di Perusahaan ayah yang ada di kota ini, bulan depan akan naik jabatan."
"Mamah sudah meminta ayah untuk menempatkan papah di posisi itu."
"Jangan mah...papah ngga enak sama karyawan yang lain."
"Papah belum lama menduduki jabatan sebagai manajer pemasaran, mah..."
"Tapi menurut mamah, papah pantas menduduki posisi sebagai manajer personalia."
"Kinerja papah waktu masih menjabat sebagai manajer pemasaran, sangat bagus."
"Aduh...bagaimana ya? Tetap saja papah merasa tidak enak...mentang-mentang sebagai menantu dari pemilik perusahaan."
"Anggap saja sebagai rejeki dari bayi kita pah..."
"Terserah mamah sajalah...gimana baiknya."
"Pah...tadi subuh itu papah mimpi apa? Papah terlihat sangat ketakutan...tangan papah menggapai-gapai keatas seperti orang yang mau tenggelam."
"Papah mimpi berdiri di tengah kolam yang banyak kangkungnya, mah....di kolam itu juga banyak ikan gabusnya."
"Papah berniat mau menangkap ikan gabus itu untuk digoreng dan dimakan dengan tumis kangkung."
__ADS_1
"Tapi kaki papah terperosok ke dalam lumpur hisap...semakin papah berontak, semakin lumpur itu menghisap papah."
"Di dalam mimpi, papah juga melihat seorang wanita dengan tiga orang anak kecil yang terlihat panik melihat papah tenggelam."
"Makanya papah panik dan berteriak-teriak, begitukah?"
"Iya mah..."
Sofwan sambil duduk berpikir mencoba mengingat siapa wanita dan tiga anak kecil di mimpinya itu...
Tapi semua terlihat samar-samar..."Hanya yang sempat kuingat, wanita di mimpiku memanggilku dengan sebutan mas Sofwan dan ketiga anak tadi memanggilku bapak."
"Aku seperti pernah kenal dekat dengan para pemilik suara itu...tapi di mana?"
"Pah, sudah mau maghrib...masuk yuk..ngga enak buat wanita hamil."
*
*
"Beb...kepalamu masih terasa sakitkah? Jika masih sakit, akan kubawa makan malammu ke kamar."
"Hanya sakit sedikit...aku ingin makan bersama kalian di meja makan saja."
"Ko...sehabis makan malam nanti, bisakah kita bicara sebentar?"
"Tentu saja...apa sih yang ngga buat kamu, beb?"
"Nanti kalau sudah selesai makan, Dina ajak adik-adik kebkamar duluan ya...ayah mau bicara penting dengan ibu kalian."
"Baik ayah Miko..."
Terkadang aku tertawa jika mendengar anak-anakku memanggil Miko dengan sebutan ayah Miko.
"Bu...sekarangkan ibu sudah sembuh, jadi saya tidak nginep di sini lagi ya...kasihan anak saya di rumah."
"Seperti biasa saya akan datang lagi besok pagi."
"Iya bu...ngga apa-apa..."
Selesai makan dan selesai bibi bersih-bersih dan pulang, anak-anak juga main di kamar.
"Kita bicara di ruang kerjaku aja beb...tenang... ngga akan terganggu."
"Apa yang mau kamu bicarakan beb, bicaralah..."
"Aku mau tanya tentang hal yang kita bicarakan di rumah sakit."
"Apa itu?"
"Pernikahan..."
"Maksudmu beb? Apakah kamu sudah bersedia menikah denganku?"
Aku hanya mengangguk sambil menundukan wajahku...
"Kamu serius?"
Aku mengangguk lagi.
"Oh baby...aku senang banget mendengarnya..."
"Katakanlah sekali lagi...maukah kamu menikah denganku?"
"Aku mau Miko...aku mau menikah denganmu."
Miko mengangkat tubuhku berputar-putar sangking gembiranya.
__ADS_1
"Aku juga punya kabar gembira buat kamu beb...ini akan jadi hadiah pernikahan kita..."
"Apa itu, Ko...?"
"Bulan depan jabatanku sudah dinaikan. Aku dipromosikan menjadi Direktur personalia...semua karena kinerja kerjaku yang bagus selama ini."
"Tapi kantorku juga pindah ke kantor pusat...tidak di tempat yang sekarang lagi. Di tempat yang sekarang di tempati manajer personalia yang baru."
"Ko...bolehkah aku meminta satu permintaan?"
"Aku ingin masih bisa bekerja walaupun kita sudah menikah."
"Aku akan membawamu ke tempat yang baru...akan kucarikan posisi yang sesuai denganmu...bukan office girl seperti sekarang ini."
"Aku tidak mengapa walau hanya menjadi office girl, Ko...atau kamu yang malu dengan pekerjaanku?"
"Untuk apa aku malu??? Justru aku bangga padamu..."
"Baiklah aku tak akan melarangmu untuk bekerja...tapi jika suatu hari kamu telah lelah, berhentilah...aku masih sanggup untuk membiayai kalian."
"Terima kasih ya atas perhatianmu padaku dan anak-anakku selama ini, Ko!"
"Kalau kamu sudah sehat nanti...kita akan melangsungkan pernikahan kita."
"Aku ingin secara sederhana aja, Ko...toh usia kita tidak muda lagi, lagian kita berdua sama-sama tidak mempunyai keluarga."
"Aku akan menuruti apapun katamu, beb...semuanya terserah padamu saja."
Mata Miko memerah. "Kamu sedih? Aku menangkup kedua pipinya dengan tanganku."
"Aku cuma terharu...akhirnya penantian selama belasan tahun ini akan menjadi nyata."
"Nanti akan kita tentukan lagi tanggal dan hari yang baiknya, aku ingin pernikahan kita sampai tua dan hanya dipisahkan oleh maut."
"Besok kamu kan sudah mulai bekerja lagi, bagaimana sepulang kerja, kita membeli cincin untuk pernikahan kita?"
"Aku menurut saja, Ko...gimana baiknya saja."
"Beb...kamu tidak usah kembali lagi ke kontrakan...toh sebentar lagi kita juga akan menikah."
"Terus barang-barangku di sana gimana, Ko..."
"Kamu ambil mana yang penting-penting saja, yang ngga penting tinggalkan."
"Nanti hari sabtu kita kesana ya, kan pas kita libur." Aku hanya mengangguk saja.
"Ya sudah kalau pembicaraan kita sudah selesai aku mau tidur ya, Ko?"
"Beb...Hmmmm...Aku menoleh ke belakang...kiss me..."
Tanpa sempat aku mengelak, Miko meraih tubuhku. Memelukku erat dan mengecupi bibirku.
"Manis...." Apanya yang manis, Ko?
"Bibirmu...lalu tanpa memberiku kesempatan, Miko kembali ******* bibirku."
Napas kami terengah-engah menahan gelora yang bergejolak.
"Cukup, Ko...jangan sampai kita melakukan lebih sebelum kita menikah nanti."
Miko tak menjawab...dia masih mengatur napasnya yang tak beraturan.
"Sudah ya sayang...aku balik ke kamar dulu, kasihan anak-anak sudah menungguku."
"Sabar ya...jika tiba waktunya nanti...sampai subuh pun akan kita lakukan."
"Benar ya beb...kutagih nanti janjimu..."
__ADS_1
***Bersambung...
Mohon like dan komennya....Vote dan favoritenya jika berkenan....🙏🙏🙏***