Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 18 Cepat sembuh ibu...


__ADS_3

Sudah 3 hari ibu dirawat dirumah sakit, kata dokter hari ini ibu boleh pulang.


Aku dan mas Sofwan lega mendengarnya. Sembari menunggu obat aku meringkas-ringkas bawaan yang akan dibawa pulang. Rencananya aku dan ibu akan naik taxi online dan suamiku naik motor.


"Sudah siap bu? Mau naik kursi rodakah bu...aku membantu ibu turun dari tempat tidur."


"Ibu jalan aja Nia, malu naik kursi roda." Ibukan tidak cacat.


"Ya sudah kita jalan pelan-pelan aja, mas Sofwan sudah nunggu di lobby depan sambil nunggu taxi onlinenya."


"Sehabis ini ibu jangan capek-capek lagi, kan sekarang Nia sudah di rumah lagi jadi semua pekerjaan ibu bisa Nia kerjakan."


"Ibu mengerjakan yang ringan-ringan aja ya, biar Nia pekerjaan yang beratnya."


"Maafkan ibu ya nak, karena sakitnya ibu, kalian berdua jadi repot."


"Ibu jangan berkata begitu, ini kan sudah menjadi kewajiban Nia."


*


*


Kami berkumpul di ruang keluarga. Walaupun masih terlihat pucat tapi ibu sudah mau duduk berkumpul dengan kami.


"Besok Sofwan sudah mulai masuk kerja ya...kan sudah dari 2 hari yang lalu bu mas Sofwan kembali bekerja, kataku."


"Sofwan...betahkan tinggal serumah dengan ibu dan Nia?"


"Ya betahlah bu, di sini kan ada istri dan ibu mertua Sofwan."


"Syukurlah...kalau kamu betah nak!"


"Sofwan sudah menikah dengan Nia dan itu artinya ibu juga menjadi tanggung jawab Sofwan."


Kuperhatikan ibu dan suamiku yang sedang mengobrol. Mas Sofwan sedang asyik memijat kaki ibu. Kasih sayang yang diberikannya bukan hanya untukku tapi juga untuk ibuku.


*


*


"Pengantin baru...apa kabar?" Ketiga sahabatku memelukku erat.


"Maaf ya kami bertiga tidak bisa hadir di acara resepsi kalian, habis jauh banget sih."


"Baru Wati dan Tuti suka mabuk kalau naik mobil kelamaan..." Tini menimpali.


"Sssttt...Nia....gimana rasanya jadi pengantin baru..." Wati senyum-senyum berbisik menggodaku.


"Iya...Iya...ceritakan ke kita dong pengalamanmu...pasti seru kan?" kata Tini.


"Apa yang harus diceritakan sih?" wajahku bersemu merah.


"Pengalaman malam pertamamulah...pasti seru...ranjangnya goyang semua..."


"Dasar piktor...aku melempar Wati dengan tisu yang ada di tanganku."


"Apa itu piktor Nia? cowok gantengkah..."


"Dasar bolot kamu Ti...piktor itu pikiran kotor." Tuti yang sedari tadi diam menimpali.

__ADS_1


"O iya Nia...ibumu kami dengar masuk dan dirawat di rumah sakit...beliau sakit apa?"


Dengan cepat Tuti memotong pembicaraan teman-temannya, karena dilihatnya wajahku yang sudah memerah sampai ketelinga.


"Sakit liver Tut...tapi alhamdulillah kesehatannya sudah mulai pulih perlahan-lahan."


"Iya...rencananya kami mau menjenguk di rumah sakit tapi lebih baik menunggu sudah pulangnya aja lah."


"Kami dapat amanah dari tetangga dan teman-teman serta bos di pabrik...Nia!"


Tuti menarik sesuatu dari kantong jaketnya dan memberikannya padaku.


"Ini sumbangan para tetangga dan teman-teman, mungkin nilainya tidak seberapa tapi semoga bermanfaat."


"Kamu terima ya...Tuti menyelipkan ketanganku.


"Tapi ini sangat merepotkan untuk yang lain, teman-teman...lagian ibuku juga sudah sembuh kok."


'Ayo ngga boleh nolak, terima aja...Tini menambahkan sambil mengeratkan genggamamku."


"Jangan kamu lihat jumlah dan besar nilai di dalamnya tapi lihatlah ketulusannya."


"Aku sangat terharu teman-teman..." aku memeluk Tini, lalu Wati dan Tuti ikut serta berpelukan.


"Ada apaan ini kok pakai acara peluk-pelukan?" mas Sofwan keluar dari dalam rumah habis sholat isya.


"Ini mas...ibu dapat sumbangan dari warga dan teman-teman di pabrik dulu, " kataku sambil memperlihatkan sebuah amplop.


"Ya Alhamdulillah...ibu mendapatkan surat cinta dari warga dan teman-temanmu, itu artinya mereka masih peduli pada ibu dan kamu."


"Kok dapat surat cinta sih Tin...maksudnya bang Sofwan itu apa?" bisik Wati.


"Hadeuh...kumat lagi bolotnya ni anak." Tini menepuk jidatnya.


"Matamu seliwer kali Tut..perasaan suamiku dari sebelum nikah sampai sekarang biasa aja."


"Ish...kamu dek...ngga senang aja jika suaminya di bilang ganteng sama cewek lain." Mas Sofwan cemberut.


"Bukan ngga senang bang...tapi takut diambil orang..." mereka bertiga menggodaku.


"Ya sudah kami bertiga pulang dulu sampaikan aja salam buat ibu Kamsiah dari para tetangga."


"Sekali lagi terima kasih ya teman-teman, sampaikan juga ucapan terima kasih kami sekeluarga buat tetangga dan teman-teman dulu."


"Kami pulang dulu ya...Assalamualaikum..."


"Waalaikum salam..."


"Bu...ibu sudah tidur?" Aku membuka perlahan pintu kamar ibuku.


"Iya nak ada apa..." ibu bangun lalu bersender di tempat tidur.


"Kok ibu belum tidur sudah jam segini?"


"Ibu tadi sudah tidur tapi terbangun lagi."


"Ibu mimpi di datangi oleh almarhum bapakmu Nia."


"Bapak berdiri persis di tempat kamu berdiri sekarang."

__ADS_1


'Itu cuma bunga tidur bu...ibu selalu teringat bapak barangkali."


"Entahlah, tapi rasanya seperti nyata nak."


Aku cepat memotong pembicaraan ibu agar tidak berlarut-larut.


"Bu, tadi Tuti, Tini dan Wati kemari, mereka menitipkan ini untuk ibu."


Aku memberikan amplop yang cukup tebal kepada ibu.


"Ya Allah ibu benar-benar merepotkan tetangga dan teman-temanmu."


"Kamu pegang saja uang itu Nia, pergunakan seperlunya nak."


"Ya sudah jika ibu maunya begitu, sekarang ibu tidur lagi ya..."


Ibu kembali berbaring di t empat tidur lalu kuselimuti tubuhnya.


Semenjak sakit, ibu sekarang jadi pendiam dan jarang bicara. Bicara hanya seperlunya saja. Kadang aku kehilangan sosok ibu yang lemah lembut dan penyayang.


Setelah ibu tertidur lagi aku lalu keluar kamar dan kututup pintunya perlahan.


"Ibu sudah tidur?" ternyata mas Sofwan masih menonton televisi di ruang tamu.


"Sudah...baru saja, mas sendiri kenapa belum tidur?"


"Mas belum mengantuk, kalau kamu mengantuk tidurlah lebih dahulu ntar mas nyusul.


"Ya sudah Nia tidur duluan ya mas...sudah ngantuk berat sebabnya.


*


*


Aku senang sekali pagi ini. Ibu sudah segaran dan sudah mau makan lagi. Bahkan ibu sudah bisa bercanda lagi denganku dan mas Sofwan di meja makan.


"Kami senang ibu sudah benar-benar pulih sekarang."


Aku mengambilkan nasi goreng untuk ibu dan suamiku lalu kami makan bersama.


Hanya saja ada keanehan di wajah ibu. Wajahnya memang masih pucat tapi tampak bersinar berseri-seri.


Ibu tampak sangat cantik, aku seperti melihat ibu seperti saat aku masih kecil dulu.


Ibu tampak lahap memakan nasi goreng buatanku.


"Mas mau berangkat kerja dulu ya dek, jaga ibu di rumah baik-baik.


"Kalau ada apa-apa, telepon mas segera ya..."


"Iya mas...hati-hati di jalan ya...jangan ngebut-ngebut naik motornya."


"Mati ngga usah dikejar, dia bisa datang sendiri."


"Siap...di mengerti komandan...mas Sofwan memberi hormat padaku."


Lalu dia menciumku dan mencium tangan ibu sebelum berangkat.


Aku mengantar mas Sofwan sampai kedepan pintu. Kulambaikan tangan sampai dia hilang di kelokan jalan depan rumah.

__ADS_1


***Bersambung....


Jangan lupa like , komen , dan jika berkenan berikan vote ny terimakasih 😊🙏***


__ADS_2