
Della menangis dan Sofwan tak henti-hentinya merutuki kebodohannya karena telah meninggalkan Sania sendiri tadi.
"Ya Allah...jangan ambil wanitaku...jika bisa kau tukar, ambillah saja hidupku...karena aku tak sanggup kehilangan dia lagi, aku lebih ikhlas melihatnya bersanding dengan yang lain dari pada aku tak bisa melihat dia lagi selamanya."
Sofwan dan kak Della mondar-mandir di luar ruangan saat dokter Alvin keluar.
"Bagaimana keadaan adik saya dokter? Apakah dia baik-baik saja?" Kak Della memberondong dengan pertanyaan.
"Alhamdulillah...dia bisa melewati masa kritisnya...sebenarnya ada apa sehingga dia bisa tak sadarkan diri begitu?" Tanya dokter Alvin.
"Kalian kan tau penyakitnya mba Sania, dalam kondisi seperti ini dia tak bisa mendapatkan tekanan apapun karena bisa saja merenggut jiwanya...maaf jika saya bicara sedikit keras, demi keselamatan pasien sendiri." Kata dokter Alvin.
"Saya minta maaf dokter, tadi sebelum saya keluar untuk menerima telepon keadaannya masih baik-baik saja!! Makanya saya langsung kaget dan panik." Kata Sofwan.
"Ya sudah, biar mba Nia dipindahkan keruang ICU dulu untuk mencegah kemungkinan terburuknya." Lalu dokter Alvin meninggalkan Sofwan dan kak Della sendiri.
Hati Sofwan amat terpukul. Dulu dia melihat Sania sebagai wanita yang sehat tetapi sekarang kedaannya sangat ringkih.
"Kak Della, Sofwan minta pendapatnya kakak...bagaimana jika Sofwan menikah dengan Nia kembali, agar Sofwan bisa sepenuhnya menjaga dia." Sofwan segera meminta pendapat mantan kakak iparnya itu.
"Kak Della setuju saja Sofwan, tetapi bagaimana dengan kakak-kakakmu? Bukankah dulu kalian sampai berpisah karena terlalu banyak campur tangan mereka?" Jawab Della.
"Sofwan pastikan kakak-kakak Sofwan tak akan mengganggu Sania lagi kak!!" Kata Sofwan.
"Kalian bicarakanlah nanti berdua, kurasa kalau anak-anak pasti setuju melihat orang tuanya bersama lagi!!" Sofwan senang karena mantan kakak iparnya itu masih mendukungnya.
*
*
Jonathan dan Niko buru-buru balik setelah acara akad nikah selesai. Niko tak mau membuang waktu terlalu lama di sana. Maya dan anak-anaknya dari Samsuri tetap tinggal dan menjalankan usaha penginapannya, Niko memberikan tambahan modal buat Maya sementara Juma bersikeras untuk ikut ayahnya ke kota.
"Juma janji tak akan merepotkan ayah di sana...Juma ingin ikut yah, Juma mau sekolah di kota saja." Juma terus memohon hingga Niko tak sampai hati pada anak kandungnya itu.
__ADS_1
Sebenarnya bukan tanpa alasan Juma ingin pergi, sekian tahun dia selalu disiksa oleh ayah tirinya tanpa ibunya tau!! Dia ingin membuang semua trauma masa lalunya untuk bisa ikut ayah kandung dan kakeknya sendiri.
Maya yang awalnya keberatan jadi tak bisa menahan kepergian anaknya itu selain merelakannya.
"Kamu baik-baik di sana ya Juma, jangan merepotkan ayah dan kakekmu!!" Begitulah pesan ibunya sebelum dia pergi.
Jonathan, Niko dan Juma tiba di rumah pukul setengah satu siang. Suasana rumah sangat lengang dan sepi. Niko berpikir paling-paling Sania dan anak-anak serta kak Della ada di kios.
"Assalamualaikum....ibu, kak Della dan anak-anak semuanya pada kemana ya bi?? Kok rumah sepi amat?" Niko masuk kedapur menemui bibi.
Bibi menoleh pada Niko lalu matanya teralihkan pada sosok remaja yang berdiri di samping Niko.
"Oh iya lupa, kenalkan ini anaknya Niko, bi!!" Kata Niko.
"Jangan-jangan benar berita yang bibi dengar bahwa ibu mengalami shock berat sampai masuk ruang ICU lagi karena mendengar kabar pak Niko punya anak dari wanita lain sementara mereka akan berencana menikah." Begitulah batin bibi.
"Anak-anak semua ada di rumah ibu Tini sahabat ibu bersama pak Sultan juga. Kan Juned sama Syifa libur panjang...kalau non Dina sedang mendaftar ke SMK mungkin sekarang sudah berada di rumah bu Tini bersama adik-adiknya." Jawab bibi.
"Tadi pagi ibu dan ibu Della mau cek kerumah sakit diantar oleh pak Sofwan karena pak Sultan masih sakit terus tiba-tiba ibu tak sadarkan diri lalu dirawat tetapi keadaannya mulai membaik sehingga di tinggalkan ibu Della pulang kerumah mau ambil baju ganti."
"Tetapi jam 10 tadi pagi ibu Della telepon bahwa keadaan ibu gawat dan mengharuskannya masuk ruang ICU, ibu juga ngga ngerti mengapa bisa demikian pak Sofwan hanya meninggalkan ibu Sania untuk menerima telepon saat berbalik keruangan keadaan ibu sudah parah."
"Kata dokter Alvin kemungkinan ibu mengalami sesuatu yang membuatnya kaget lalu membuatnya tertekan dan mengakibatkan Ibu drop lagi." Bibi menjelaskan panjang lebar.
Niko termangu, karena dia ingat sekitar jam sepuluh itu acara resepsi sederhana pernikahannya dengan Maya walaupun hanya sebentar lalu dia pergi lagi.
"Terus bagaimana keadaan ibu, bi?" Niko tampak panik.
"Sekarang sudah lebih baik tetapi bu Della dan pak Sofwan tidak mengijinkan bu Sania dikunjungi oleh siapapun dulu." Jawab bibi.
"Berani-beraninya mereka melarang siapapun untuk menjenguk Sania?" Geram Niko.
"Itu semua untuk menjaga kemungkinan agar ibu tidak kritis lagi pak!!" Jawab bibi.
__ADS_1
"Ya sudah, kami keluar dulu bi...lanjutkanlah memasaknya." Bibi hanya menganggukan kepala saja.
Sementara Juma beristirahat, Jonathan berbicara serius denga Niko.
"Niko, apakah kritis keadaan Sania ada hubungannya dengan pernikahanmu? Dilihat dari jam dia kritis tadi tepat saat acara akad nikahmu digelar." Niko tampak berpikir mendengar perkataan ayahnya.
"Tapi acaranya kan tertutup yah...tak seorangpun diundang kecuali kerabat dekat Maya." Kata Niko.
"Coba cek di status whatsappmu mungkin ada sesuatu di sana!" Niko mengikuti saran ayahnya untuk membuka ponselnya.
Tangan Niko gemetar saat melihat status pernikahannya terpampang nyata di pembaharuan statusnya di whatsaap.
"Ayah, sumpah Niko ngga mungkin segila itu mau nyakiti hati Sania dengan mengupdate status pernikahan Niko dan Maya...ayahkan tau bahwa Niko menikahi maya hanya sebatas tanggung jawab dan kewajiban saja!!" Tangan Niko memegang ponselnya dengan gemetar, berbagai macam perasaan sudah berkecamuk di hatinya.
"Tadi sewaktu akad nikah berlangsung, di mana kamu meletakan ponselmu?" Tanya Jonathan.
"Niko taruh di kamar yah, untuk apa Niko membawa ponsel pada saat akad dan resepsi tadi? Atau ada orang yang mengambil dengan sengaja lalu mengupload foto itu?" Niko tampak berpikir.
"Yang jelas filing ayah mengatakan bahwa Sania melihat itu semua, Niko!!" Niko langsung terduduk lemas di sofa mendengar penuturan ayahnya.
"Sebaiknya Niko kerumah sakit untuk menjelaskan pada Sania ayah...Niko tidak mau kehilangan dia yah, Niko sangat mencintainya!!" Niko menutup wajahnya dengan dua telapak tangannya. Bahunya bergetar menahan gejolak perasaannya.
Dari balik pintu Juma mendengarkan semua keluh kesah ayahnya. Remaja laki-laki yang beranjak dewasa itu mengerti keadaan ayahnya tetapi dia juga bisa apa?
*
*
***Bersambung...
Akankah Sofwan dan Sania menikah kembali? Lalu bagaimana dengan Niko dan Sania?
Dukunglah terus author receh ini agar bisa terus update dan berkarya...jangan lupa like, komen, vote, favorit dan rate nya ya🙏🙏
__ADS_1