
"Sofwan itu memang sungguh keterlaluan, dulu dia meninggalkan istri dan anak-anaknya dalam kondisi kurang waras dan amnesia lalu dia menceraikan Sania dan menikah dengan Anggita!!"
"Sekarang dia berjanji pada Sania dan anak-anak sekembalinya dari Jakarta, dia akan menikah lagi dengan Sania dan akan memperbaiki hubungan mereka yang bertahun-tahun telah hancur, tetapi nyatanya...???"
"Aku heran denganmu Sofwan!! sebagai wanita dan sebagai seorang istri, apa sih kekurangan wanita itu? dia cantik, lembut, penyabar dan terutama sayang sama keluarga, tapi kamu selalu menyakiti hatinya..."
"Jangan kata dia sebagai seorang wanita, aku yang sesama pria aja dongkol, kesal, jengkel sama mulutmu yang ngga bisa memegang janjinya sendiri."
"Sekarang bagaimana? terulang lagi kan kejadian dulu? harus menikahi seseorang yang tak ingin dinikahi? aku juga mengucap syukur Riko datang tepat pada waktunya...di saat Niko melukai hatinya dan di saat kamu tak bisa menepati janjimu sendiri, Riko datang dengan cintanya yang walaupun sedikit memaksa tetapi dia tulus dengan perasaannya."
"Ceritanya kamu curhat sekaligus melampiaskan kekesalan dan kekecewaanmu, nih??" senyum menggoda terukir di wajah kakak laki-lakinya itu.
"Astaghfirullah!!"
Seolah tersadar Sultan segera beristighfar karena menyadari kesalahannya.
"Sultan, yang mas tau...jodoh itu kadang tak semulus jalan tol, banyak lika liku yang harus kamu lewati, tetapi percayalah...jika memang Sania itu jodohmu pasti kalian akan dipersatukan suatu hari nanti...mas turut berdoa untuk kebahagiaanmu, adikku!!"
"Terima kasih mas..." Sultan memeluk kakak laki-lakinya itu penuh haru sementara di balik pintu kamar, Tini kakak iparnya juga memanjatkan doa yang sama untuk adik ipar dan sahabat karibnya itu.
*
*
"Ayah...ibu...Riko akan tetap menikahi Sania walaupun tanpa restu kalian berdua!!"
Tampak ketegangan di sore itu. Kedua orang tua Riko di Kuala Lumpur yang rencananya akan pulang ke Indonesia untuk mengenal calon menantu mereka, tetapi ketika mereka tau bahwa yang akan dinikahi oleh Riko adalah Sania, gadis yang dulu semasa Riko kecil selalu ditempeli oleh Riko dan selalu pergi berdua kemana-mana seperti kertas sama perangkonya...di mana ada Sania di situlah Riko kecil ikut mengintil.
Tentu saja kedua orang tua Riko langsung tak merestuinya, mereka tahu selisih usia keduanya sangatlah jauh.
Apalagi Riko itu anak tunggal mereka, penerus bisnis ibu dan ayahnya. Dari situlah ketegangan mulai terjadi.
"Riko...kualat kamu kalau berani membantah pada kedua orang tuamu?" bentak ayahnya dari teleponnya.
"Maafkan Riko ayah...tapi untuk sekali ini saja ijinkan Riko memilih sendiri wanita yang akan mendampingi Riko...tolonglah ayah!!" Riko memohon-mohon pada kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Jika kamu sampai berani menikahi wanita yang pantas menjadi tantemu itu maka jangan harap kamu akan kami akui sebagai anak kami lagi." kata pak Baskoro dengan penuh amarah.
"Maafkan Riko ayah...ibu....tapi Riko akan tetap menikahi Sania!!" tegas Riko.
Tut...tut...tut...
Sambungan telepon langsung terputus. Riko memutuskan sambungan telepon itu.
Pak Baskoro ayah Riko duduk tersandar di sofa. Urat-urat di pelipisnya tampak bertonjolan.
"Putramu itu!!! itu akibat kamu terlalu memanjakannya semenjak dia kecil, apa-apa maunya kamu turuti, akhirnya begini kan jadinya??? Omongan orang tua dibantahnya mentah-mentah."
Ibu Intan, ibunya Riko hanya diam duduk di sofa di depan suaminya.
"Yah, tak bisakah kita mengabulkan permohonan anak kita satu-satunya itu? ibu ingin melihat dia bahagia dengan wanita pilihan hatinya itu, karena ibu juga sudah kenal dengan baik wanita yang bernama Sania...dia wanita yang sangat baik makanya Riko semasa kecil lebih lengket dengannya ketimbang dengan kita orang tuanya sendiri."
"Tapi bu, apa kata para relasi ayah nanti? mau ditaruh di mana muka kita, bu...kalian mau membuat ayah malu, hah...!!" bentak pak Baskoro pada istrinya.
"Terserah ayah sajalah, tapi jangan kaget jika nanti mereka menikah dengan ataupun tanpa restu dari kita!! Ayah tadi dengar apa yang diucapkan Riko kan??" kata sang istri lagi pada suaminya yang masih kukuh dengan pendiriannya.
Riko melempar ponselnya dengan kesal keatas tempat tidur.
Dia berteriak keras untuk melampiaskan kekesalan dan kekecewaannya.
"Jangan khawatir mah, papah akan tetap menikahi mamah karena itu sudah menjadi janji papah."
"Dengan atau tanpa restu mereka, kita tetap akan menikah."
*
*
"Nia, mengapa melamun sendirian duduk di teras begini? udara kalau sudah sore begini terasa sangat dingin....nanti kamu sakit!!"
Kak Della mengulurkan sweater dan syal agar dipakai untuk Sania.
__ADS_1
"Nia hanya teringat masa-masa yang telah lalu kak!! seandainya dulu Nia tidak menerima mas Sofwan jadi suami Nia, mungkin tidak akan pernah jadi seperti ini!!"
"Seandainya juga pernikahan siri Miko dan Alena tidak terjadi...tentu hati Nia tak akan sehancur ini!!"
"Hidup Nia seperti dilingkari oleh sebuah kutukan cinta yang seperti tak menginginkan hidup Nia bahagia."
"Nia sejak kecil sudah ditinggalkan oleh kedua orang tua Nia, lalu setelah menikah, Nia harus ditinggalkan mas Sofwan, lalu saat menikah lagi dengan Miko, pernikahan kami hanya sesaat bahagia setelah itu badai cobaan datang melanda."
"Miko harus menikah lagi dengan wanita lain dan tinggal seatap dua cinta dalam satu rumah!!"
Dellapun meringis mendengar penuturan adiknya itu...hatinya pun turut terluka dan sakit dengan penderitaan yang Sania alami.
"Sabar dek, Allah tidak akan pernah memberikan cobaan pada hambanya jika dia tau hambanya itu tak mampu untuk melewatinya."
"Berarti kamu orang pilihan yang mampu tetap bertahan dan berdiri tegar dengan ribuan cobaan datang memporak porandakan hidupmu."
"Tetapi sampai kapan Sania bisa bertahan kak?? sampai maut menjemput Nia kelak?" tanya Sania dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Sudah...sudah...kamu jangan terlalu banyak membebani pikiranmu sendiri, nanti penyakitmu kambuh kembali." jawab Della sambil memeluk adiknya itu.
"Jika kamu rileks, tenang dan tak terlalu banyak beban yang kamu pikirkan, maka kamu bisa meredam penyakitmu itu, kakak tak ingin kehilangan kamu dek!!" sahut Della yang juga sudah berlinangan air mata.
"Unda...unda...Miki nakal...." Miko berlari kepelukan Sania sambil menangis.
"Miki??? kenapa kok Miko diganggu terus?? Miki ngga boleh nakal begitu dong!!" dengan lemah lembut Sania memeluk kedua anak kembarnya itu dengan penuh kasih sayang.
Mereka tak menyadari dari kejauhan Niko sedang mengawasi mereka sambil tersenyum melihat keakraban Sania dan anak-anaknya.
"Seandainya Maya tidak muncul dalam kehidupanku, tentu saat ini aku sudah berada di sampingnya untuk ikut membantu mengasuh anak-anak!!! " batin Niko dengan perasaan sedih.
"Sekarang untuk melihat merekapun aku harus sembunyi...sembunyi begini, sungguh menyedihkan sekali kisah cintaku!!" Niko merasakan dadanya terasa sesak dengan sesuatu yang coba untuk ditahannya.
*
*
__ADS_1
***Bersambung....
Jangan lupa mampir, baca, komen, like, vote, favorit dan rate nya ya🙏🙏🙏