
"Hallo? What happened to uncle, Alena? uncle fell in the bathroom?"
"Ok..ok...i'll be back in Singapore soon..."
"Ada apa yah? Kok ayah nampak panik?"
"Paman yang selama ini mengurus rumah kakek di Singapura, jatuh dari kamar mandi, bun!!! Kayaknya paman mengalami stroke deh..."
"Terus gimana, yah?"
"Ayah harus berangkat ke Singapura hari ini, bun...ayah cuma sebentar kok di sana, ngga akan lama."
"Ngga apa-apa bunda dan anak-anak ayah tinggal sebentarkan?"
"Berangkat sajalah yah, ngga apa-apa kok bunda ditinggal...sepertinya ini darurat."
"Paman Leon sudah ayah anggap seperti orang tua sendiri, bun!!! Alena anak paman Leon sudah ayah anggap seperti adik sendiri."
"Kapan ayah akan berangkat?" Kataku.
"Hari ini juga, bun...ayah khawatir sekali dengan keadaan paman Leon."
"Maaf ya, jika ayah tidak bisa menemani Dina beli gitar hari ini..."
"Ngga apa-apa yah...anak-anak pasti ngerti kok!! Biar bunda nanti yang menemani Dina."
"Ayah ngga jadi pergi sama kita, bun?" Anak-anak protes semua.
"Ayah ada keperluan mendadak...ayah harus pergi ke Singapura sore ini."
"Kita naik motor aja nanti berempat ya!!"
Tapi kenapa perasaanku mendadak ngga enak gini, ya? Sewaktu ayah pergi ke Jakarta tempo hari, aku biasa-biasa aja...kenapa yang ini rasanya beda?"
"Ayah pergi dulu ya...Dina jaga bunda dan adik-adik di rumah ya, nak!! Ayah usahakan begitu urusan selesai, ayah segera pulang."
Miko memang tak mau diantar ke bandara. Dia memilih naik maxim saja.
Aku mengantarnya sampai di depan pagar. "Hati-hati ya, ayah...bunda doakan selamat sampai tujuan..."
"Dadah...bunda sayang...anak-anak...ayah akan segera mengabari setibanya di sana nanti...kalian baik-baik di rumah."
"Ayah akan pergi lama ya, bun!!" Dina bertanya.
"Semoga tidak lama, Din...padahal bunda mau kasih kejutan di hari ulang tahun ayah tiga hari lagi."
"Kejutan apa bun?"
"Tapi Dina jangan cerita sama siapa-siapa dulu, ya!!"
"Sebentar lagi Dina mau punya dedek bayi lagi."
"Serius bun? Bunda ngga lagi sedang bercandakan?" Aku cuma tersenyum penuh arti.
"Wih...rumah tambah ramai, dong! apalagi kalau dedek bayinya kembar...aduh, senangnya."
*
__ADS_1
*
"Ayo bun...pokoknya halus malam ini kita pelginya...Juned sama Syifa mau es klim..."
"Iya, Juned...ngga usah merengek terus...iya kita berangkat sebentar."
"Ngga mau naik motol...maunya naik mobilnya ayah Miko."
"Oo bisa banget, Juned...terus kita langsung lurus ke ugd ya..."
Juned berhenti merengek, "maksudnya, bun? Kita ngga jadi beli es klimnya?"
"Kan Juned tau, bunda ngga bisa bawa mobil...ntar kita buat jalan baru dulu ya!!! yang sepi, yang aman...jadi bunda ngga bakal nabrak..."
"Pembualannya si Juned ini..." Dina nyeletuk, "dulu aja lari di aspal ngga pakai sandal, sekarang bergaya mau naik mobil segala."
"Kalau motornya ngga muat, kapan perlu kita naik angkutan umum aja, bun!!!"
"Iya...iya...bun lame kalo naik angkutan umum...banyak olangnya!!" Syifa menambahkan.
"Kita naik motor aja, biar Juned di depan dan kak Dina sama Syifa di belakang."
"Katanya mau beli gitar buat Dina, bun...memangnya bunda taruh di depan bakal muat? Kan ada Juned di depan."
"Insya Allah muat, Dina...kalau ngga muat, biar Juned disuruh pulang jalan kaki, biar diculik orang gila...habis dari tadi cerewet melulu."
"Langsung anteng, bun...tuh ngga rewel lagi." Dina tertawa melihat Juned bungkam seribu bahasa.
"Mau...diculik orang gila?" Kataku...
"Ngga...adek Syifa aja...banyak jajannya...Juned kan ngga suka jajan."
"Hayo...kalau terus adu debat, bunda tinggal tidur nih!"
"Jangan bunda...." teriak mereka kompak.
"Ya sudah, ayo kita siap-siap dulu...nanti kemalaman nyampenya."
*
*
"Pah...mamah belikan martabak manis, dong!! yang dekat taman kota itu loh, pah!"
"Aduh, si mamah...baru juga papah nyampe rumah...belum juga hilang capeknya, disuruh pergi lagi!!"
"Kenapa ngga telepon tadi waktu mau pulang kerja?"
"Iya pah, mamah lupa..." Anggita nyengir.
"Habis tadi Aisyah rewel terus, pah...jadi mamah lupa mau telepon papah."
"Ya sudah, sebentar papah mau ganti baju dulu."
Dulu sewaktu bersama Nia, dia paling anti menyuruhku kalau dilihatnya aku baru pulang kerja.
Dia sesibuk apapun selalu menyiapkan teh hangat untukku, merapikan semua sepatu dan baju kerjaku. Kalau Anggita?
__ADS_1
"Setahun lebih menikah, jangankan merapikan...segelas air putih aja aku harus ambil sendiri."
"Aku kangen kamu, dek...kangen anak-anak...tapi sudah tak ada jalan lagi untuk kembali."
"Papah pergi dulu ya, mah!!! Ada lagi yang mau dititipkah? Jadi sekalian..."
"Popok aja kali pah!! Pampersnya Ais tinggal satu."
Aku keluar pakai celana selutut dan kaos oblong. Kuambil kunci motor di meja lalu kutinggal pergi.
"Bun...es klimnya lagi, ya...enak bun..."
"Ingat...ingat kalau sakit gigi, Juned...jangan kebanyakan makan es krimnya..." Dina memperingatkan adiknya.
"Siapa itu? Kok seperti suara Juned?" Aku mendekati kearah lele penjual es krim.
"Ya Allah...Nia dan anak-anak!!! Kangennya aku pada mereka...sudah setahun lebih aku tak melihat mereka bertiga, sekarang mereka sudah besar-besar."
"Cantiknya Dina, gantengnya Juned, dan Syifa...sangat manis..."
Ada gelora kerinduan yang tak dapat kutahan. Aku ingin bertemu anak-anakku, tapi apakah mereka tidak membenciku?"
"Mas...kenapa hanya berdiri saja di situ? Samperin mereka sana!!!"
Aku sangat kaget mendengar suara seorang wanita menyapaku dari belakang.
Aku menoleh. Sesosok wajah ayu berdiri di belakangku dan tersenyun teramat manis padaku.
"Nia...tapi mas takut mau mendekati mereka, takut mereka menolak, mas Sofwan."
"Dina, Juned, Syifa!!! lihat bunda bersama siapa?"
Mereka kompak menoleh dan berdiri tertegun memandang mas Sofwan.
Syifa langsung menggenggam lengan Juned ketakutan. Sementara Dina juga berdiri terpaku merangkul kedua adiknya.
"Bapak...suara Dina terdengar tercekat." Jelas terekam dalam ingatan mereka kekasaran mas Sofwan setahun yang lalu.
"Mereka takut pada mas Sofwan, dek..."
Anak-anak...jangan kalian takut, bapak kalian sudah sembuh, tidak sakit lagi."
"Sini anak-anak...bapak kangen sama kalian bertiga!!!
Mas Sofwan berjongkok sambil merentangkan kedua tangannya. Air matanya membanjiri berjatuhan dari kedua kelopak matanya.
Juned tanpa di komando langsung melepaskan pegangan Dina dan lari masuk kedalam pelukan mas Sofwan.
Melihat Juned lari, Syifapun lari mendekati bapaknya. Tinggallah Dina yang masih berdiri tertegun masih tak percaya.
"Sana Dina, peluk bapak...Dina ngga kangen sama bapakkah?" Aku memegang pundaknya memberi kekuatan. Aku berusaha kuat walaupun air mata juga sudah membanjiri pipiku.
Akhirnya dia melangkah pelan kearah mas Sofwan. "Bapak..." cuma itu yang keluar dari bibir mungilnya.
Mas Sofwan sibuk memeluk dan menciumi anak-anaknya. "Syukurlah kalian tidak pernah melupakan bapakmu yang tak bertanggung jawab ini, nak!!!"
"Bunda tak pernah mengajari kami untuk membenci bapak, walaupun bapak sudah meninggalkan kami semua," kata Dina.
__ADS_1
Bersambung....happy reading๐๐ reader...semoga selalu mampir di novelku ya...tetap minta dukungannya ya, like dan komen, vote dan favoritnya...Terima kasih๐๐๐