
Dia menemukan ayah sekaligus kakek yang menyayanginya dan menganggapnya ada dan memperlakukan dia dengan selayaknya.
Maya berdiri hendak menampar Juma tetapi cepat ditahan oleh Jonathan.
"Jangan sekali-kali kamu menurunkan tanganmu untuk memukul cucu saya lagi, Maya!!" ujar Jonathan geram.
"Jika kedatanganmu kemari hanya untuk membuat keributan, lebih baik kamu pulang saja sana, Maya!! kami di sini butuh ketenangan bukan butuh keributan!!" kata Niko dingin.
"Aku ingin di sini bersamamu, mas...suamiku di sini!! masa kamu di sini bersama perempuan lain??" kata Maya gusar.
"Siapa?? bibi maksudmu??" tanya Niko.
Maya mendelik kesal dengan perkataan suaminya yang tidak lucu itu.
"Jangan bercanda mas!!" sentaknya.
"Siapa yang bercanda, Maya??" balas Niko juga ngga mau kalah.
"Sudah...stop...stop!!" kata Jonathan menengahi.
"Oke, kamu boleh tinggal beberapa hari di sini, Maya...tapi tidak untuk selamanya tinggal di sini!!" kata Jonathan.
"Kami saja menumpang di sini, masa penumpang mau membawa tumpangan lain lama-lama di sini!!" jawab Niko.
"Tapi mas...." Maya tampaknya kurang puas dengan ucapan Niko dan ayahnya.
"Kalau mau, kalau tidak ya silakan pergi...Maya!! aku tidak berani memutuskan, itu urusan Sania sebagai siempunya rumah!!" jawab Niko.
"Sania lagi...Sania lagi..." jawab Maya kesal.
"Antarkan ibu Maya dan anaknya ke kamar tamu, bi!!" kata Niko pada bibi lalu beranjak pergi kembali ke kamarnya begitu pula Jonathan dan Juma, semua kembali ke kamar masing-masing meninggalkan Maya dan kedua anaknya sendiri.
Maya diantar bibi ke kamar tamu, di ruang tengah dia melewati sebuah pigura foto besar foto pernikahan Sania dan Miko bertahun-tahun yang lalu.
"Itu foto pengantin siapa bi??" tanya Maya menunjuk kearah dinding.
"itu foto pernikahan ibu Sania dan pak Miko, bu!!" jawab bibi.
"Mengapa fotonya masih tergantung di sana?? toh orangnya sudah tak ada lagi dan Sania juga sudah tidak tinggal di sini lagi?" jawab Maya dengan gaya menjengkelkannya.
"Memangnya kenapa jika bapak sudah meninggal dan ibu sudah tidak tinggal di sini? toh ini masih rumah kediaman mereka??" kata bibi sedikit kesal mendengar majikannya dijelek-jelekan.
__ADS_1
Maya hanya mengangkat bahu dengan cueknya dan berlalu masuk bersama kedua anaknya ke dalam kamar.
"Sumpah....istri pak Niko ini sangat menjengkelkan!!" geram bibi.
*****
"Heh Sania...dasar wanita sial...wanita pembawa kutukan, kamu!!" kata seorang wanita setengah baya dengan diikuti dua orang wanita lainnya.
Sania yang sedang duduk bersama Hans, kak Della dan Dina yang kebetulan mau menjemput Raftar yang tadi sempat ikut papanya kerumah sakit, spontan kaget dengan bentakan wanita yang baru datang tadi.
Dina yang jiwa mudanya masih bergejolak tentu saja tak terima mendengar bundanya dibentak di depan orang banyak seperti itu.
"Heh...ibu-ibu cacat, siapa kamu?? berani sekali kamu menghina bundaku?? apa perlu saya tendang tongkat penyangga kakimu itu biar kamu tau rasa??" kata Dina dengan geram.
"Ooohhh, pantas anaknya kurang ajar...ibunya saja tak pernah punya sopan santun!!" cibir wanita menjengkelkan itu yang tak lain adalah Nuri, Anya dan Juwita yang datang untuk menjenguk Sofwan adiknya.
"Oohhh pantas kakimu cacat, rupanya kutukan bundaku pindah ke kakimu, hati-hati nenek tua...jangan sampai tanganmu pun ikut kubuat cacat!!" ancam Dina santai.
"Apa kamu bilang?? nenek tua?? kami ini saudara bapak kamu berarti kami ini tante kamu, enak saja memanggil kakakku nenek!!" Anya ikut menambahkan.
"Kok marah dipanggil nenek?? Itu rambut kalian berdua banyak ubannya...setau saya kalau orang sudah beruban itu namanya kalau ngga kakek ya nenek!!" jawab Dina.
Hans tak lagi dapat menahan tawanya mendengar jawaban spontan dari Dina.
"Maaf ibu-ibu...jangan membuat keributan di sini jika kalian ada masalah, silakan selesaikan di luar sana, di sini rumah sakit tempatnya orang sakit bukan tempatnya orang berantem!!" kata suster tadi yang ternyata adalah suster Ayu yang menangani Sofwan di UGD waktu itu.
"Siapa yang memberi ijin wanita sial dan keluarganya itu untuk menjaga adik kami, suster??" kata Anya sambil mencibir pada Sania.
Jangankan Dina yang memang masih sulit mengendalikan emosi, sedangkan Hans dan kak Della pun hampir meledak amarah mereka mendengar kata hinaan dari orang yang baru saja mereka lihat.
Hanya Sania yang nampak tenang sambil menggendong Raftar yang tengah tertidur.
"Nyonya Anya dan nyonya Nuri yang terhormat, maaf ya...jika waktu itu suster Ayu yang berdiri di depan kalian ini tidak menelpon saya dan mengatakan Sofwan sekarat di rumah sakit bersama seorang wanita, saya juga ngga akan ada di sini."
"Karena sesungguhnya Sofwan bukanlah suami saya lagi jadi bukan menjadi tanggung jawab saya lagi, mau dia malang melintang saya tak peduli, tetapi karena atas dasar kemanusiaan yang membuat saya masih bertahan berjaga di sini sampai saya mengorbankan waktu saya untuk keluarga dan pekerjaan saya hanya untuk menjaga seseorang yang tak ada hubungan apapun lagi dengan saya.
"Ibu Sania benar bu, orang pertama yang kami hubungi adalah ibu Sania karena pak Sofwan selalu menyebut nama Sania dalam pingsannya.
"Mestinya ibu-ibu ini mengucapkan terima kasih kepada mereka semua, bukannya menghujat orang yang sudah meluangkan waktunya untuk menjaga seseorang yang tak mempunyai hubungan apapun dengan mereka."
"Maafkan kelakuan adik dan kakak saya, jika perbuatan mereka kurang berkenan." Kata Juwita akhirnya buka suara setelah sekian lamanya terdiam hanya menjadi pendengar saja.
__ADS_1
"Juwita!!" bentak Nuri pada adik keduanya itu.
"Untuk apa kamu meminta maaf pada orang-orang tak penting macam mereka?" katanya.
"Memangnya situ penting!!" kata kak Della juga akhirnya buka suara setelah tadi keributan di dominan oleh Dina dan Nuri.
"Kamu lagi, kamu siapa?" tanya Nuri semakin kesal karena semakin banyak orang yang berani menentang perkataannya.
"Aku kakaknya Sania, kenapa? kamu pikir dia seorang diri?? dia mempunyai kami orang-orang yang sayang padanya, jadi berhati-hatilah dalam berkata-kata nyonya!!"
"Ayo sudah bun, biarkan saja para orang aneh ini yang gantian berjaga, sudah waktunya bunda pulang dan beristirahat, berkumpul lagi bersama keluarga dan mengurus pekerjaan bunda yang terbengkalai.
Mereka pikir enak kali menjaga seseorang yang tidak tau kapan akan sadar dari pingsannya dan kapan akan sembuhnya." Kata Dina kesal.
Akhirnya rombongan Sania semua pergi meninggalkan Nuri, Juwita dan Anya di rumah sakit.
"Siapa sih gadis muda yang kata-katanya tajam dan menjengkelkan tadi??" tanya Nuri masih kesal.
"Dia Andina Salzabila, anak pertama Sofwan dan Sania!!" jawab Juwita.
****
Sampai di rumah Dina tampak uring-uringan, dia jadi kesal pada ketiga orang yang mengaku sebagai kakak dari bapaknya yang berarti adalah budenya sendiri.
"Seandainya tadi tidak bunda tahan, tentu sudah Dina tendang tongkat penyangga kakinya itu.
"Sudah cacat, sombong, belagu pula." Kata Dina.
"Kenapa sih kak Dina marah-marah terus sehabis pulang dari rumah sakit tadi?" kata Juned heran.
"Kakak ketemu orang cacat yang sombong!!" kata Dina.
"Sudah cacat, sombong, hidup lagi...begitukan kakak ingin bilang??? Kata Juned sambil menertawakan kakaknya.
*
*
***Bersambung...
Akhirnya Nuri terkena batunya sendiri, dia mendapati sindiran tajam dari ponakannya yang memang sudah menginjak remaja.
__ADS_1
Mohon dukungannya ya reader๐๐๐