
"Bun...hari ini terakhir ayah di kantor, karena besok sudah pindah ke tempat yang baru."
"Jadi bunda ketinggalan selama 4 bulan di sini ya, yah..."
"Kan di rumah kita sama-sama terus...Ini lho selama 3 hari, bunda ayah sekap di kamar ngga boleh keluar."
"Iya...bunda sampai jadi perkedel basah divkamar yah..."
"Habis nagihin sih bun..."
"Bun...sebentar yuk sebelum mandi kita olahraga sebentar!!"
"Emang kita mau olahraga di mana yah...di sini tempatnya sempit, alat fitnes ayah kan di luar."
"Gampang...bunda bisa ayah jadikan alat fitness sebentar, atau ayah yang mau bunda jadikan alat fitnessnya."
"Ngomong apa sih yah...kok dari tadi bunda itu kagak ngerti, ya olah raga...ya mau fitness."
"Ngga usah di tempat tidur bun, di sofa itu aja nah..."
Mukaku langsung memerah begitu mengerti arah perkataan suamiku ini.
"Maksud ayah olahraga yang begituan..."
"Ayo cepat bun...sudah berdiri nih dari tadi ngoceh melulu."
Aku tak sempat mengelak saat tanganku ditarik masuk dalam pelukannya.
*
*
Aku seneng banget...hari ini pengenalan area dan semua staff. Besok aku sudah bekerja di sini menggantikan posisi pak Miko.
Aku bisa bertemu lagi dengan si cantik yang selalu ada dalam hayalanku itu.
Rasanya kangen banget, sudah seminggu ini aku tak melihatnya. Rasanya seperti setahun lamanya.
""Kenapa sih? Aku selalu teringat terus denganmu, cantik?"
"Kamu yang selalu membuatku semangat, akhir-akhir ini."
"Pah...mau berangkat jam berapa?" Anggita keluar sambil menenteng tas kerja suaminya.
Perutnya semakin membuncit, karena hanya tinggal menghitung hari saja untuk melahirkan.
"Sebentar lagi mah...oh iya, hari ini jadwal mama kontrol ke dokter ya...jam berapa mau pergi mah?"
"Sore aja sambil nunggu papah pulang kantor...mamah ngga mau pergi diantar supir, pah."
"Iya sudah...terserah istriku aja, papah berangkat dulu ya mah!! Sofwan mencium istrinya lalu masuk ke dalam mobil.
"Selamat pagi pak Sofwan...sudah ditunggu pak Miko di ruangan beliau..."
"Terima kasih...."
Dengan langkah besar Sofwan menuju ke ruangan Miko yang besok sudah akan menjadi ruangannya.
"Tok..Tok.."
"Masuk..."
__ADS_1
"Selamat pagi pak Miko..."
"Oh pak Sofwan...selamat pagi pak ..."
"Selamat datang di tempat yang baru pak Sofwan...semoga betah di sini ya!"
"Sama-sama pak Miko...saya berharap bapak juga betah di tempat yang baru nanti."
Mereka berdua saling beradaptasi juga pengalihan tugas-tugas Miko ke Sofwan.
"Pak Sofwan mau minum apa? Biar nanti istri saya yang akan membuatnya."
"Kopi aja pak...O iya, bu Sania kok masih bekerja setelah menikah pak?"
"Iya pak Sofwan...kontrak kerjanya masih 4 bulan lagi baru berakhir."
"Kalau berhenti sekarang nanti bisa kena denda."
Sofwan tampak mengangguk-angguk entah apa yang dipikirkannya.
Tak lama aku masuk membawa dua cangkir kopi untuk mereka.
Aku tak berani mengangkat muka untuk menatap Sofwan. Aku hanya memandang Miko sebentar lalu keluar lagi.
Hari ini benar-benar melelahkan...bahkan mereka berdua makan siang di ruangan.
"Yah, kalau ayah jam 5 belum pulang, bunda pulang duluan ya!"
"Terus bunda naik apa ke rumah? Masa naik angkot?"
"Bunda numpang mbak Fina aja ya yah...kan searah."
"Ya sudah...bunda hati-hati di jalan...maaf ayah ngga bisa ngantar ya, sebab semua pekerjaan di sini harus ayah selesaikan hari ini juga."
Di dekat receptsionis aku melihat Sofwan sedang menelpon seseorang, mungkin istrinya.
Aku melangkah cepat-cepat berpura-pura tidak melihatnya. Aku memang bilang ke mbak Fina akan menunggu di parkiran.
"Ehemm..ehemmm...selamat sore istri pak Miko yang cantik...kok kayaknya terburu- buru sekali?"
Aku menundukan kepalaku sedikit, sekedar menghormatinya...karena mulai besok dia sudah akan menjadi atasanku.
"Iya pak, saya mau pulang...sudah janjian dengan mbak Fina...mari pak, saya duluan!"
Buru-buru kutinggalkan dia supaya tidak ada percakapan lagi yang terjadi antara kami.
Dia tersenyum saja melihatku. "Cantik...sikapmu semakin membuatku penasaran saja..."
"Kita lihat saja nanti...sampai di mana kamu bisa mengacuhkanku, jika aku sudah menjadi atasanmu."
"Jadi mulai besok jadi jomblo lagi dong, Nia?" Aku ikut membonceng motor mbak Fina pulang.
"Kan jomblo disini mbak, dirumahkan ketemu suami juga."
"Hati-hati, Nia...eanita yang baru menikah itu banyak godaannya."
"Ah masa sih mbak? Mbak Fina ini nakutin aja lho..." Dia hanya tertawa saja.
*
*
__ADS_1
"Bunda...." Aku tertawa juga melihat ketiga anak-anakku bisa dengan cepat merubah panggilannya.
"Kok sendiri bun...Ayah mana?" Dina langsung bertanya.
"Belum pulang, Din...tugas ayah harus diselesaikan hari ini juga!!"
"Bagaimana sekolahmu hari ini, Dina?"
"Pelajarannya sulit ya bun...banyak yang pintar-pintar."
"Yang penting kamu semangat belajar aja, Dina...4 bulan lagi mau kenaikan kelas."
"Iya bun..."
*
*
"Rasanya aku ngga sabar menunggu besok...awas saja kamu cantik, akan kubuat kamu selalu sibuk menuruti permintaanku.
"Pah...Kok belum tidur?"
"Mamah sendiri kenapa belum tidur? Tidurlah...Istirahat yang cukup, mah..."
"Mamah mau tidur kalau ada papah disamping mamah..."
Kupandangi istriku yang agak susah tidur dalam posisi miring, kasihan istriku...sebenarnya ada apa denganku? Apa kurangnya Anggita selama ini padaku, kenapa aku kok malah memikirkan wanita lain?"
"Tapi si cantik itu? Selalu saja bayangan wajahnya menari-nari di kelopak mataku."
"Semakin dia menghindariku...semakin aku penasaran."
"Aroma wangi tubuh dan rambutnya, serasa membuat aku gila ingin memeluknya."
"Mata itu, bibir indah itu, ah...aku ini sudah gila kali ya...kok malah menginginkan istri orang."
Sofwan membolak-balikkan badannya di tempat tidur. "Aku ini kenapa ya? Apa yang sudah terjadi padaku?"
Sementara di sanapun Sania juga sedang gelisah. Tapi kegelisahannya berbeda dengan Sofwan. Kalau Sofwan gelisah karena terus memikirkannya, kalau dia gelisah memikirkan besok. Bagaimana caranya sebisa mungkin menghindari Sofwan.
Karena dia sadar sekarang, antara dia dan Sofwan sudah ada jurang pemisahnya. Dinding pemisah yang tinggi yang tak kasat mata membentang menjulang di hadapan mereka.
Seandainya Sofwan sudah sadar dari amnesianya sekalipun, keadaan tetap sama. Sekarang sudah ada Anggita di sampingnya, dan di sampingku pun kini sudah hadir Miko yang selalu setia mendampingiku.
Miris memang perjalanan cinta kami, karena selalu ada campur tangan dari keluarga Sofwan, maka semuanya harus berakhir seperti ini.
Aku hanya menghela napas panjang dan menghembuskan dengan kasar. Memang sudah tidak ada yang perlu disesali akan semua yang terjadi.
"Mas Sofwan, bagiku memang tak semudah
membalikan telapak tangan untuk melupakan semua kenangan bersamamu..."
Terkadang ada saja sesuatu yang tiba-tiba muncul dan mengingatkan tentang kita kembali.
Entah secara sengaja ataupun tidak. Terkadang datangnya juga dari anak-anak.
Tak di pungkiri, Juned semakin besar semakin mirip sekali denganmu. Bahkan dia juga mewarisi bola mata coklat dan dua lesung pipitnya di pipinya.
Hanya saja, mereka seolah mengerti hingga tak pernah lagi bertanya tentang keberadaanmu di mana sekarang.
***Bersambung.....
__ADS_1
Terima kasih atas dukungan teman-teman dari bab per bab, sedikit banyaknya bisa menambah semangat author untuk tetap berkarya. Jangan lupa like, komen, vote dan favoritnya jika berkenan ya....Happy reading💙💙***