Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 92 Terungkap


__ADS_3

Aku sudah bersiap-siap untuk pulang, saat pintu ruanganku diketuk dari luar.


"Masuk..."


Sesosok laki-laki gagah masuk dengan wajah yang dingin. "Sofwan Prayoga...mau apa dia kemari?" Bisikku.


"Selamat sore pak Sofwan...ada yang bisa saya bantu?" Kataku, basa-basi.


"To the point saja pak Miko...saya minta jangan sakiti Sania."


"Saya tidak mungkin menyakiti wanita yang sangat saya cintai, pak Sofwan."


"Anda mungkin tidak menyakiti tubuhnya, tapi anda telah menyakiti hati dan perasaannya."


"Dari mana kamu tau semua itu?"


"Saya liat dengan mata kepala saya sendiri waktu kalian check-in di hotel.


Kamu menikahi wanita itu, lalu membawanya ke rumah untuk hidup bersama di bawah satu atap."


"Lalu apa bedanya dengan anda, pak Sofwan? Kamu telah meninggalkannya dan menceraikannya."


"Tentu kasus kita berbeda pak Miko...saya meninggalkannya karena amnesia yang saya alami dan itu semua di luar kemauan dan kesadaran saya."


"Sedangkan kau? Kau nyata-nyata sadar lahir dan batin, pak Miko."


"Sebaiknya kamu tak perlu mencampuri urusan rumah tangga kami, kamu hanya mantannya."


Sofwan tersenyum dingin. "Kamu yakin saya hanya mantannya?"


"Apa maksudmu pak Sofwan?" Miko mulai emosi.


"Kamu ingat sewaktu kamu dinas ke Jakarta beberapa waktu lalu?"


"Kamu tau bapak Miko yang terhormat...apa yang telah kami lakukan? Oh...indahnya malam itu..." Sofwan memejamkan matanya.


"You bastard...damn it..." Wajah Miko merah padam, karena dia tau kemana arah pembicaraan Sofwan.


Ditariknya kerah baju Sofwan dan ditinjunya. Sofwan hanya tersenyum penuh kemenangan sambil mengelap darah di sudut bibirnya.


"Jadi jika kamu tidak lagi mencintainya, aku akan mengambil dengan senang hati apa yang dulu pernah menjadi milikku...you understand?"


"Tak akan pernah..." Sekali lagi tinju Miko menghantam wajah Sofwan.


"Are you sure? Bagaimana jika anak yang di kandungnya itu bukan anakmu?"


"Keparat kau Sofwan...apa maksud ucapanmu?"


"Mungkin itu anakmu, Miko...tapi tak menutup kemungkinan kalau itu juga anakku."


"Get out of my room...." Miko berteriak seperti orang kesetanan.


"Calm down...my friend...tanpa kamu usirpun aku akan keluar dari sini."

__ADS_1


"Ingat...jika kau sakiti Sania...maka aku akan segera mengambilnya darimu...cam kan itu.."


Sofwan keluar dengan tenang dari ruangan Miko. Walaupun wajahnya bengap-bengap habis dihajar Miko.


Tentu saja sedikit banyak ucapan Sofwan mempengaruhi pikirannya. Dengan geram dia melempar foto pernikahan di mejanya ke dinding ruangan.


"Bun...kamu berhutang penjelasan pada ayah..." Tangannya terkepal.


Aku sedang duduk di taman belakang sore itu, ketika Miko menghampiriku dengan wajah merah padam.


"Jujur pada ayah, bun...apa yang telah bunda lakukan dengan Sofwan malam itu? Katakan pada ayah...anak siapa yang ada di rahim bunda?"


"Aku yang mendapat pertanyaan begitu sontak kaget dan terdiam.


"Jawab, bun...jangan hanya diam membisu...bunda tidak bisu kan?"


"Iya, ayah..." Akhirnya aku harus jujur mengatakannya.


""Jahat kamu bun....aarrgghhh...." Miko berteriak melampiaskan kekesalannya.


"Sekarang bunda ikut ayah..." Dia menarik tanganku kasar.


Dia menarik tanganku masuk ke kamar. "Duduk di situ jangan kemana-mana."


Dia lalu keluar lagi dan tak lama dia muncul sambil menarik tangan Alena masuk ke kamar kami.


"Bunda sudah sangat jahat sama ayah, dan ayah bisa lebih jahat lagi, bunda."


"Sebagai hukuman atas perbuatan bunda, bunda duduk di situ menyaksikan bagaimana ayah akan bermesraan dengan Alena di depan mata bunda."


Seperti tak punya rasa malu lagi kedua insan itu melakukan adegan demi adegan di depan mata Sania.


Sania masih duduk seperti patung batu menyaksikan kedua insan itu bercinta. Mata dan hatinya sudah tertutup, dia hanya seperti melihat udara kosong di depannya.


Sampai dia juga kaget mendengar erangan demi erangan kenikmatan dari Miko dan Alena. Dan setelah itu dia merasakan dunia berputar sangat cepat di depannya dan blep...gelap!!"


Dia bangun dan masih terbaring di lantai kamar. Miko dan Alena tidur terbadai kelelahan di atas tempat tidur.


Perlahan dia bangkit dan menuju pintu kamar. Sekali lagi dia menoleh kearah dua insan di belakangnya. Lalu dia menutup pintu kamar perlahan.


Pukul 2 dini hari. Diambilnya air wudhu dia ingin menyerahkan seluruh hidup dan matinya malam itu kepada sang pencipta. Dia ingin meminta jalan apa yang terbaik yang akan diambilnya untuk kelanjutan hidupnya dan anak-anak kelak.


"Dalam sujudku bermohon..."Ya Allah jika pergi dari rumah ini merupakan keputusan terbaik yang akan kuambil, aku akan pergi membawa anak-anakku."


"Tak ada lagi yang bisa kuharapkan di sini...dari pada aku terus menerus tersiksa lebih baik aku mengalah dan pergi."


Aku tau ini semua hukuman karena perselingkuhanku, tapi haruskah aku dihukum dengan menyaksikan persetubuhan mereka?


Keputusanku untuk pergi sudah bulat. Apalagi tadi Miko sempat berucap untuk menceraikanku setelah anak yang kukandung ini lahir.


"Ayah tak salah menceraikan bunda, bundalah yang salah telah berselingkuh dari ayah."


"Bunda doa kan semoga Alena adalah jodoh terbaik untuk ayah."

__ADS_1


*


*


Sudah tiga hari sejak kejadian itu, aku tak pernah bertemu dengan Miko. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor kalaupun di rumah, dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan Alena yang menjadi candu baru bagi Miko.


Tersisih? Tentulah...aku bagai terbuang seperti sampah!!


Kemarin aku sudah menelpon Tini untuk mencarikanku siapa tau ada rumah yang dijual murah walaupun kecil dan sederhana.


Aku terpaksa menceritakan semua masalahku padanya. Dan akhirnya, Sultan lah yang mendapatkan rumah itu.


"Harganya tiga puluh juta, Nia...kamu bayar saja setengahnya...yang setengahnya lagi nanti kamu cicil kalau kamu sudah mendapat pekerjaan."


"Karena aku tau kamu masih membutuhkan banyak biaya...tapi sudah bulatkah keputusanmu untuk pergi?"


"Tini...apa lagi yang aku tunggu? Toh sekarang ataupun nanti kami juga akhirnya harus pergi..."


*


*


Miko keluar dari kamar, hari ini tanggal merah...jadi dia libur bekerja.


"Kok rumah sepi amat ya? anak-anak pada kemana?"


"Bi...bi...kok rumah sepi amat? pada kemana anak-anak?"


Bibi masuk dan membawa secangkir kopi untuk Miko.


Walaupun dia membenci istrinya, tapi perhatiannya kepada anak-anak masih tetap sama seperti dulu.


"Lho...memang bapak ngga tau? Ibu dan anak-anak pergi dari kemarin sore...ibu cuma pesan, bapak ngga usah nyariin."


"Uhuk...uhuk..." Miko tersedak.


"Pergi kemana, bi? Kok saya ngga tau?"


"Kan bapak sibuk di kantor, pulang-pulang sudah malam terus sibuk lagi sama non Alena."


Dengan cepat Miko berdiri menuju kamar anak-anak...


"Kosong? Semua pakaian mereka, kosong...Bunda tak membawa barang apapun yang ayah belikan, semua ditinggal dan tertata rapi?"


"Apa ini? Ada surat di meja." Dengan cepat Miko membuka dan membacanya.


"***Terima kasih telah mencintaiku dan anak-anak selama ini...


Dan terima kasih juga atas luka yang telah tertoreh selama ini.


Aku sadar aku salah....Mungkin jika dengan luka dan balas dendam belum cukup....maka aku memilih pergi sambil menunggu perceraian itu tiba.


Sania....

__ADS_1


Bersambung....happy reading dan mohon selalu dukungannya...like, komen, vote dan favoritnya...terima kasih🙏🙏***


__ADS_2