Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 137 Koma


__ADS_3

Mungkin dia mengerti bagaimana keadaan mamanya. Mama yang sudah tidak peduli lagi padanya.


"Enak nasinya, pah!! Aisyah suka..." Aisyah asyik mengunyah makanannya.


"Kalau Aisyah suka besok papa belikan lagi ya!!" Aisyah cuma bisa mengangguk dengan mulut yang penuh.


"Aisyah tau...papa dulu juga ngga suka nasi mawut!!" Aku mulai curhat pada putriku.


"Terus kenapa papa sekarang suka?" Tanyanya lagi.


"Nasi mawut ini kesukaan bunda Sania." Mungkin sudah tiba waktunya aku bercerita pada Aisyah kalau dia punya saudara lain dan tidak sendirian.


"Bunda Sania itu siapa pah?" Dia masih mengunyah makanan yang kusuapkan ke dalam mulutnya.


"Bunda Sania itu bundanya kak Dina, kak Syifa dan abang Juned!! Bunda Sania adalah istri papa yang pertama sebelum papa menikah dengan mama Anggita."


"Bunda Sania itu baik ya, pah??" Tanya Aisyah.


"Bunda Sania itu orang yang paling baik sedunia, Aisyah!!" Jawabku.


"Bunda Sania ngga suka marah-marah dan bentak-bentak seperti mama Anggitakah, pah?"


"Tidak sayang...bunda Sania sama sekali tak pernah berkata kasar sedikitpun." Jawabku sambil kembali mengenang mantan istriku itu.


"Kapan-kapan kita ke tempat bunda Sania, yuk pah!! Ais pengen ketemu sama bunda."


"Tentu sayang, nanti jika ke Balikpapan lagi papa akan mengajak Aisyah ikut serta...kita akan mengunjungi bunda Sania di sana."


Krompyangggg...


Suara benda pecah lagi dari lantai atas.


"Ya Allah...kenapa lagi mamamu itu mengamuk, Aisyah!!" Sofwan hanya mengelus dada.saja.


"Pah...kapan kita pindah dari rumah ini? Aisyah takut di bentak sama mama lagi, pah!!" Aisyah mulai meringis.


"Aisyah mau sama papa aja, ngga mau sama mama...Aisyah takut pah!!!"


"Ya Allah, aku tau bagaimana tertekannya perasaan putriku selama ini...apa yang harus kulakukan ya Allah?" Miris rasanya melihat pernikahanku ini.


Flash back***


"Theo...bisakah kamu hubungi pengacaraku?" Suatu siang Miko berbicara serius dengan Theo sang asisten.


"Baiklah bos..."


Lalu Theo tampak berbicara dengan seseorang di telepon. Dan tak sampai setengah jam kemudian masuklah seorang laki-laki muda.

__ADS_1


"Kamu keluarlah dulu Theo, saya ingin bicara empat mata dengan pak Dion pengacara saya."


Setelah Theo keluar maka di mulailah pembicaraan mereka.


"Pak Dion, saya ingin membuat surat wasiat..saya takut jika terjadi sesuatu pada saya."


"Saya ingin 50 persen dari kekayaan saya beserta rumah ini dan rumah di Singapura dialihkan atas nama istri saya Sania!!! 10 persen untuk bibi pembantu saya yang telah setia mendampingi saya selama bertahun-tahun...dan 40 persen untuk ayah kandung dan saudara kembar saya."


"Tolong rahasiakan hal ini jangan sampai ada seorangpun yang tau...pak Dion bisa membacakan surat wasiat ini jika saya sudah tidak ada lagi di dunia ini, pak."


Pak Dion hanya mengangguk tampak banyak bicara. Setelah selesai dia pamit untuk mempersiapkan segalanya.


Dan Miko juga pernah bicara empat mata dengan dr. Alvin sahabatnya. Dia meminta jika operasi tidak berjalan lancar, dan dia tidak bisa selamat maka dia ingin mendonorkan matanya untuk Niko saudara kembarnya.


"Saya ingin saya tetap hidup di dalam diri saudara kembar saya, Vin."


"Saya ingin istri saya tercinta masih bisa merasakan keberadaan saya dalam diri Niko, walaupun dunia sudah memisahkan kami."


Alvin juga tak kuasa membendung air matanya mendengar penuturan sahabatnya itu.


"Tapi tolong jangan beri tahuksn soal ini kepada Sania ya, Vin...saya tidak mau membuat hatinya semakin terluka."


"Karena semenjak kami menikah, terlalu banyak luka yang telah saya torehkan di hatinya."


Kini kesepakatan telah di buat tapi bersyukur semenjak pasca operasi, kondisi Miko sudah mulai berangsur membaik.


*


*


"Insyaallah kalau ngga ada halangan, lusa nanti dipindahkan, mba!!"


Aku senang banget saat melihat Miko, Niko dan ayah Jonathan ngobrol bersama. Walaupun Miko belum bisa terlalu lama dikunjungi karena dia harus beristirahat lagi.


Aku sedang menemani Miko di ruangannya. Seperti biasa aku menemaninya ngobrol. Tiba-tiba kulihat Miko mengerenyit seperti menahan sakit yang luar biasa.


"Aduh...kepala ayah nyeri sekali bun..." Dia mengerang menahan sakit.


Miko mengalami nyeri kepala yang sangat hebat. Di puncak sakitnya yang tak tertahankan akhirnya dia pingsan kembali.


Kami semua panik dibuatnya.


Alat bantu pernapasan dipasang. Aku benar-benar shock melihat keadaan Miko seperti sekarang.


Monitor ICU terpasang. Miko mengalami koma kembali. Padahal baru seminggu kemarin dia sudah mau ngobrol denganku dan anak-anak...dengan ayah dan saudara kembarnya. Siapa yang menyangka sekarang koma kembali.


Aku menunggunya sadar. Kugenggam tangannya dan selalu kuceritakan hal-hal yang menyenangkan tentang kami entah dia bisa mendengar ataukah tidak.

__ADS_1


"Nia, kamu makanlah dulu...sejak kemarin ayah liat kamu belum mengisi perutmu sama sekali. Atau beristirahatlah dulu biar gantian ayah dan Niko yang menjaga suamimu."


"Kamu pulanglah dulu, tengok anak-anakmu di rumah...kasihan mereka, sekalian kamu mandi dan makan dulu."


Aku mendongak memandang ayah mertuaku itu. Sebenarnya aku kasihan juga pada mereka berdua. Mereka sama denganku, semenjak Miko mengalami koma kembali, kami bergantian saling menjaga.


"Apa ayah dan Niko tak apa-apa saya tinggal sebentar?" Kataku.


"Kamu pulanglah dulu...mandilah biar tubuhmu terasa lebih segar."


"Baiklah ayah...Niko...saya minta tolong titip jagakan Miko...saya pulang sebentar saja kok.


Aku bergegas mengendarai motor maticku pulang ke rumah. Alhamdulillah bibi selalu setia menjaga anak-anak selama aku menunggu Miko di rumah sakit.


"Bagaimana keadaan bapak, bu?" Tanya bibi.


"Belum ada kemajuan yang berarti bi, bapak masih koma belum sadarkan diri juga."


"Ibu tampak lelah sekali, istirahatlah dulu sejenak bu!!"


"Anak-anak gimana keadaannya bi? Apakah mereka baik-baik saja?"


"Mereka baik-baik aja bu!!"


"Saya mau mandi dulu ya. bi!!" Lalu aku melangkah menuju kamarku.


Prang....


Aku kaget bukan main, pigura photo pernikahan kami yang waktu itu sempat pecah dan sudah diperbaiki lagi oleh Miko tiba-tiba jatuh ke lantai dengan kerasnya.


"Astaghfirullah...pertanda apa lagi ini!!" Aku mengangkat pigura photo itu dan menyenderkannya di dinding dulu.


"Semoga bukan pertanda buruk seperti dulu." Aku lalu membersihakan sisa-sisa pecahan kaca yang berserakan di lantai.


Aku baru selesai mandi saat ponselku berbunyi.


📞" Assalamualaikum, iya ayah ada apa?"


📞"Cepatlah kembali ke rumah sakit, Nia...kondisi Miko kritis!!"


📞"Apa yah? Kok bisa? Tadi masih baik-baik saja


.📞"Sudah kamu tidak usah banyak nanya...cepatlah ke rumah sakit.


📞"Baik yah...waalaikum salam."


"Ada apa bu? Kok ibu tampak panik?" Bibi menghampiriku yang berdiri dengan tubuh gemetar di ruang tamu.

__ADS_1


****Bersambung....


Dukungannya selalu ya guys...jangan lupa like, komen.vote, favorit dan rate nya...terima kasih🙏🙏😊😊


__ADS_2