
Hati Afifah terasa sedih mendengar perkataan Riko itu.
"Sebegitu jijik kah dia padaku??" batin Afifah.
Lalu dia melirik kearah Asdar yang juga tengah melirik padanya.
"Iya bu biar Afifah pulang sendiri saja!!" kata Afifah.
"Aku yang akan mengantarmu pulang!!" sebuah suara tiba-tiba angkat bicara...
Riko melirik saudara kembarnya itu, dia menangkap suatu isyarat bahwa Asdar menyukai Afifah.
"Baguslah...tolong antarkan Afifah pulang ya, Asdar...biar aku menemani ibu di sini!!" kata Riko.
"Ya sudah....biar Asdar yang menemani Afifah dan Riko di sini menemani ibu..." kata ibu Intan.
Setelah mereka berdua pergi, ibu Intan bertanya pada Riko.
"Sepertinya kamu cemburu saat Afifah akan diantar pulang oleh Asdar?"
"Apa?? cemburu?? yang benar saja bu, Riko mencintai istri dan anak Riko, jika Riko tidak mencintai mereka untuk apa Riko bela-belain pulang ke Indonesia secara sembunyi-sembunyi?" kata Riko.
Ibu Intan tersenyum saja mendengar celotehan putranya. Tentu saja dia percaya pada apa yang dikatakan Riko tentang perasaannya pada Afifah, tapi ibu Intan hanya bermaksud untuk menggodanya.
"Bu, jika paman Abdullah sembuh...Riko segera pulang ke Indoesia, ya?? kasihan keluarga dan bisnis Riko di sana!!" kata Riko.
"Asdar..."
Sebuah suara halus memanggil-manggil nama Asdar dari dalam ruangan.
"Sepertinya paman Abdullah sudah sadar bu!!" kata Riko lalu beranjak berdiri diikuti oleh ibu Intan menuju ke ruangan pamannya.
Ibu Intan terpaku melihat sosok kakaknya yang terbaring lemah di tempat tidur selepas menjalani operasinya.
Sosok kakak yang dia cintai yang telah berpisah puluhan tahun lamanya.
"Asdar!!"
Riko masuk kedalam ruangan diikuti oleh ibunya.
"Kak Abdullah!!"
Suara Intan tercekat di tenggorokan saat menyebut nama itu.
Abdullah membuka matanya lebih lebar saat mendengar suara wanita yang pernah dekat dengan hidupnya.
"In..Intan Anggraini!!"
"Iya kak, ini Intan adik kak Abdullah!!" kata Intan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Mereka berdua saling berpelukan. Intan merasakan tubuh kakaknya yang semakin ringkih dibandingkan 25 tahun yang lalu.
"ini pasti bukan Asdar kan Intan? ini pasti kembaran Asdar!!" kata Abdullah.
"Bagaimana kak Abdullah bisa tau kalau dia bukan Asdar?" tanya Intan.
"Matanya tak bisa dibohongi, Intan...Asdar memiliki mata teduh seperti matamu sedang yang ini memiliki sorot mata yang tajam seperti Baskoro suamimu!!" kata Abdullah lagi.
__ADS_1
"Kak Abdullah benar, ini Riko kembarannya Asdar, sedangkan Asdarnya tadi keluar sebentar paling ngga lama lagi juga balik!!" kata Intan.
"Apakah suamimu tau jika Riko itu mempunyai saudara kembar, Intan?" tanya Abdullah.
"Sampai detik ini mas Baskoro belum pernah tau bahwa saat itu aku melahirkan dua orang putra, kak...mas Baskoro hanya tau bahwa kami mempunyai satu anak yaitu Riko saja.
"Kasihan Asdar itu Intan...demi membantu biaya pengobatan kakak, Asdar harus berhenti kuliah dan memilih untuk bekerja."
"Sejak kecil dia harus hidup dengan keadaan yang serba pas-pasan.
"Intan tau kak, selama ini Intan juga tidak tinggal diam...Intan terus mencari di mana keberadaan kalian walaupun hasilnya selalu nihil, kalian seperti lenyap ditelan bumi."
"Lalu Asdar tadi keluar kemana?" tanya Abdullah.
"Mengantarkan istrinya Riko pulang!!" kata ibu Intan.
"Hah??? istrinya Riko?? Mengapa bukan Riko yang mengantar istrinya pulang? Mengapa harus Asdar??" tanya Abdullah bingung.
"Panjang ceritanya paman, yang jelas Riko sudah punya keluarga di Indonesia dan yang ini adalah wanita pilihan yang ayah paksakan untuk Riko nikahi karena menurut ayah, dia memiliki bibit, bebet, dan bobot yang sama dengan keluarga kami sedangkan istri Riko di Indonesia hanyalah dari kalangan wanita biasa saja...oleh sebab itu ayah sama sekali tak merestui pernikahan Riko dan malah memaksa Riko menikah dengan Afifah, wanita yang diantar Asdar pulang tadi!!" jelas Riko panjang lebar kepada pamannya Abdullah.
Abdullah hanya geleng-geleng kepala saja.
"Suamimu itu sifatnya tidak berubah sejak dulu Intan...sifat egois dan mau menang sendirinya itu walaupun harus menyakiti perasaan banyak orang, dia tak peduli."
"Baginya pendapatnya selalu benar dan pendapat orang lain selalu di matanya dan di telinganya." Kata Abdullah.
"Itu benar paman, begitulah ayah...tidak tau saja bagaimana humblenya istri Riko dan keluarganya..."
"Memang sih istri Riko seorang janda, tapi apakah itu menjadi masalah?" kata Riko.
Mereka kemudian saling diam. Tak lama Asdar muncul di depan pintu mengucapkan salam.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikum Salam..." jawab kami semua yang ada di ruangan ini.
"Asdar...kamu sudah datang!!" kata ayahnya.
"Alhamdulillah akhirnya ayah sadar juga!!" Asdar menghambur kepelukan ayahnya.
Baginya mau pak Baskoro sekaya seorang sultanpun, tetaplah Abdullah di matanya ayah terbaik di antara yang terbaik. Walaupun Abdullah hanyalah seorang paman dan bukan ayah kandungnya
Riko pun merasa iri dengan kebahagiaan Asdar. Mereka memang hidup sederhana tetapi mereka begitu bahagia.
Tidak seperti dirinya yang dilimpahi kekayaan semenjak kecil tetapi hidupnya jauh dari kata bahagia, karena kedua orang tuanya selalu sibuk dengan urusan masing-masing hingga jarang memperhatikan dirinya.
Hingga datang seorang Sania muda yang sangat menyayangi dia dengan sepenuh hati membuat Riko kecil jatuh cinta pada wanita yang selalu mengasuhnya, yang telah menjadikan dia sebagai tempat sandaran keluh kesah, rengekan, dan sifat manjanya.
Rengekan dan tempat bermanja-manja di saat kedua orang tuanya jarang memberikan semua itu kepada Riko, hanya uang dan uang saja serta semua kebutuhan Riko secara materi yang mereka penuhi tanpa mereka sadar anak sekecil Riko pada waktu itu bukan hanya memerlukan materi semata tetapi juga limpahan kasih sayang dari kedua orang tuanya dan itu sama sekali jarang Riko dapatkan.
Justru Sania dan ibunya lah yang melimpahi kasih sayang itu kepada Riko.
Saat mereka pindah dan kehilangan kontak dengan keluarga Sania, Riko yang telah menjelma menjadi seorang remaja yang tampan, cerdas dan juga tajir tentunya berubah menjadi remaja yang suka hura-hura dengan gemerlapnya dunia malam.
Hanya ada tiga yang dihindarinya karena masih mengingat rasa cintanya yang begitu dalam pada Sania yaitu, main perempuan, mabuk-mabukan dan narkoba.
Senakal-nakalnya dia tetapi dia tidak mau terjerumus dalam kesenangan sesaat itu.
__ADS_1
Sampai suatu ketika saat dia yang kala itu berstatus sebagai lawyer berhasil memenangkan sebuah kasus, bersama teman-temannya sesama lawyer pergi ke bar, entah siapa yang iseng membuatnya mabuk dan bertemu juga dengan Alena yang dalam keadaan mabuk berat juga.
Sehingga malam itu dia harus menyerahkan keperjakaannya pada Alena bahkan membawa dan menampung wanita ular itu di rumahnya.
Tapi rupanya Allah tidak ingin terus menerus terjebak dalam permainan wanita ular itu, sehingga secara tak sengaja dia menemukan seorang wanita yang kala itu tengah merintih menahan sakitnya.
Iya...dialah wanita yang sosoknya sangat dia rindukan dan masih sangat dicintainya. Merintih menahan segala kesakitan. Baik sakit fisik maupun batinnya.
restu itupun tak serta merta begitu saja dia dapatkan. Banyak kendala yang harus dia hadapi kala itu terutama dari Niko dan Sofwan.
"Hei...kok kamu malah melamun!! sini duduk di samping paman bersama Asdar!!"
Abdullah melambaikan tangannya pada Riko untuk mendekatinya.
Merasa sosok pamannya sangat hangat dan bersahabat...Riko mendekat dan duduk di samping Abdullah.
"Riko iri dengan kebahagiaan paman dan Asdar...kenapa kala itu paman tidak membawa Riko saja bersama paman dan bibi atau membawa kami berdua."
"Mungkin jika bersama dengan paman dan bibi, kehidupan percintaan dan rumah tangga Riko, tidak serumit seperti sekarang ini!!" kata Riko sedih.
"Riko tidak boleh berkata seperti itu, nak...yang penting sekarang kita semua sudah berkumpul lagi walaupun ayah kalian tidak tau jika ibumu mempunyai anak lagi selain Riko!!" kata paman Abdullah membelai rambut Riko.
"Asdar aku ingin bicara empat mata denganmu sebentar!!" kata Riko pada saudara kembarnya itu.
Mereka berdua keluar dan menuju kantin rumah sakit dan mengambil bangku di pojok kantin.
"Apa yang ingin anda bicarakan denganku, tuan muda?" tanya Asdar sopan.
Riko tertawa sumbang melihat perlakuan Asdar padanya.
"Ngga usah terlalu resmi begitu Asdar, kita ini bersaudara jadi mulai sekarang biasa aja jika bersikap denganku." Riko menggenggam tangan Asdar yang menutupi wajah dengan masker dan masih mengenakan hodienya.
"Aku mau tanya padamu, Asdar...apakah kamu menyukai Afifah?" tanya Riko spontan.
Mendapatkan pertanyaan yang tiba-tiba begitu Asdar tidak langsung menjawab, dia terdiam mencerna apa maksud ucapan Riko padanya.
"Tidak usah cemas begitu Asdar, kamu kan tau aku sudah punya istri dan anak yang sangat aku cintai, aku melihat caramu memandang Afifah begitu pula sebaliknya, kalian saling menyukai."
"Jika memang kalian saling menyukai maka menikahlah...Afifah itu sebenarnya wanita yang baik, kami berteman mulai kecil dia hanya terikut oleh obsesi ayahnya dan ayah kita."
"Aku hanya minta jika aku pulang ke Indonesia nanti, menikahlah dengan Afifah...jagalah paman dan ibu, karena aku tidak bisa selalu ada di dekat mereka untuk menjaga mereka, berjanjilah Asdar!!" kata Riko menggenggam erat tangan Asdar.
"Aku memang menyukai Afifah, Riko, tapi akukan tidak tau bagaimana perasaannya kepadaku!!" kata Asdar pelan.
Riko tersenyum mendengar perkataan Asdar. Pernyataan Asdar itulah yang ditunggu-tunggu oleh Riko dan sosok seseorang yang sejak tadi berdiri di belakang Asdar dan ditahan oleh Riko dengan tangannya agar tidak bersuara dan tidak terlalu mendekat dulu tetapi cukup jelas untuk mendengar perkataan Asdar dan Riko.
Sosok itu awalnya terkejut mendengar perkataan Asdar tetapi tak lama kemudian dia perlahan tersenyum senang mendengar pernyataan Asdar tadi.
"Afifah...kamu sudah mendengar dengan telingamu sendiri kan?" kata Riko sambil tersenyum...
*
*
***Bersambung...
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan, like, komen, vote, favorit dan rate nya ya...🙏🙏
__ADS_1