
"Kamu masih mending, lha Salman belum apa-apa sudah ngorok duluan...dasar muka bantal!!" Dini cemberut memandang Salman. Sementara Salman hanya nyengir mendengar omelan Dini.
"Nah ini Anggita dan Edo diam-diaman aja nih...jangan-jangan tempur sampai subuh!! Kata Sela yang melihat keduanya anteng aja sambil sarapan pagi.
"Anggita luar biasa...aku aja sampai kewalahan ngedepin dia di atas ranjang!!" Edo tersenyum pada Anggita yang duduk di sebelahnya.
Anggita mencubit pinggang Edo. Dia akui semalam dia yang agresif. Hubungannya dengan Sofwan selama ini memang tak seperti yang di lihat kebanyakan orang yang mengatakan mereka keluarga yang harmonis.
Sofwan memang jarang menyentuhnya dengan berbagai macam alasan, paling sebulan itu dua kali itupun sudah syukur dan itupun Anggita yang bersifat meminta jatahnya terlebih dahulu.
Berdua dengan Edo yang notabene adalah laki-laki kesepian karena terlalu sering ditinggal istrinya dinas keluar kota, membuat mereka seolah haus akan kasih sayang.
"Wih...hebat dong Nggit...besarkah rudalnya Edo?" Bisik Dini di telinga Anggita.
"Banget!! Pokoknya dijamin puas!!" Anggita kembali membisiki sahabatnya.
"Jadi pengen ikut ngerasain!!" Jawab Dini sambil menelan salivanya.
"Enak aja, Edo hanya punya gue selama beberapa hari ini." Anggita kembali berbisik pada Dini.
"Kok malah bisik-bisikan sih?" Kata Vita sambil menyuapi makanan kemulut kekasih gelapnya.
"Ayo cepetan sarapannya mumpung cuacanya mendukung, kita cepat melanjutkan perjalanan agar sore kita sudah bisa tiba di puncak!!" Ucap Salman.
"Kali ini biar aku aja dulu yang nyetir Man, mumpung aku lagi semangat nih!!" Kata Doni.
"Pukul 8 tepat mereka meninggalkan penginapan setelah semalaman mereka isi dengan kegiatan penuh dosa.
Awalnya perjalanan mulus-mulus saja hingga tiba di pertengahan jalan mendaki dari arah berlawanan meluncur dengan kecepatan tinggi mobil Avanza kemungkinan mobil itu mengalami rem blong.
Doni menjadi sangat panik karena kiri kanan yang mereka lewati adalah jurang. Hingga kecelakaan maut itu tak dapat dihindarkan lagi. Kedua mobil itu sama-sama meluncur di sisi kiri dan kanan jurang.
Naas bagi mobil yang ditumpangi kelompok Anggita karena jurang tempat mobil mereka terguling lebih curam dibandingkan dengan tergulingnya mobil Avanza itu.
Tak ada satupun kelompok Anggita yang selamat kecuali Anggita, itu karena Edo dengan reflek mendorongnya keluar sebelum mobil mereka meledak.
__ADS_1
Sebenarnya ada dua alasan mengapa Anggita bersikap kasar pada anak dan suaminya selama ini.
Pertama memang karena kedua kakinya harus di amputasi dan yang kedua karena kesedihannya ditinggalkan laki-laki yang sejak malam pergumulan itu dicintainya.
Sebenarnya mereka berdua berencana untuk menggugat cerai pasangan masing-masing agar bisa melanjutkan hubungan gelap mereka hingga ke jenjang pernikahan, tetapi Allah berkehendak lain...Edo telah lebih dulu direnggutnya paksa dari sisi Anggita.
Sebenarnya Sofwan sudah tau kelakuan istrinya itu, makanya dia pun memilih kembali berselingkuh dengan Sania karena Anggita telah lebih dulu memulainya.
Dia tidak menggugat cerai Anggita pertama melihat kondisi Anggita yang cacat, karena dia tidak ingin omongan orang di luar sana yang tidak tau persis persoalan rumah tangganya mengatakan bahwa dia adalah suami yang tidak punya hati yang tega menceraikan istrinya di saat istrinya terpuruk.
Kedua karena pak Irawan yang telah dia anggap seperti ayahnya sendiri. Lelaki tua baik hati yang juga menyayanginya seperti putra kandungnya sendiri.
Dan yang ketiga tentu saja Aisyah putri mereka. Sofwan tak ingin Aisyah tumbuh menjadi seorang anak yang tak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu.
Tapi nyatanya Aisyah memang tak pernah diurus lagi oleh Anggita sampai dia berusia 3 tahun ini.
Perselingkuhan walau bagaimanapun di maafkan akan tetap menjadi seperti api dalam sekam. Contohnya sekarang Anggita berniat mengulanginya lagi dengan Lintang sahabat semasa SMA nya dahulu.
Ibarat luka borok yang baru mulai mengering lalu sering terkena air seolah busuk kembali. Itulah ibaratnya pernikahan Sofwan dan Anggita. Dan Sofwan benar-benar tidak bisa mentolerir lagi.
Dia benar-benar sudah tak sanggup lagi untuk meneruskan pernikahan yang penuh kepalsuan dan sandiwara ini.
*
*
"Maafkan papah mah, tetapi demi kebaikan kita maka lebih baik kita berpisah saja.
Anggita tercekat mendengar semua penuturan suaminya. Dia tak menyangka sama sekali yang awalnya dia yang ingin menggugat cerai Sofwan, tapi ternyata Sofwan telah lebih dahulu mengatakannya.
Penyesalan memang selalu datang di akhir, di saat dia berniat untuk memperbaiki semua kesalahannya selama ini tapi justru suaminya lah yang telah lebih dahulu menggugat cerai dirinya.
"Pah...tak adakah jalan buat mamah untuk kembali?" Anggita masih berharap suaminya memberi maaf dan membatalkan rencana gugatan cerai itu.
Sofwan menggeleng.
__ADS_1
"Jika papah memaksakan mamah untuk terus berada di samping papah maka papah juga berdosa."
"Papah tau mamah sudah tak lagi mencintai papah sejak lama dari pada papah terus membiarkan mamah untuk berbuat dosa, lebih baik sekalian mamah papah ikhlaskan untuk pergi."
"Itu adalah jalan terbaik buat kita, karena perasaan itu tak bisa di paksakan jika merasa terpaksa maka akan menyakiti diri kita masing-masing."
"Tapi Aisyah ikut mamah, karena mamah tak ingin berpisah dari Aisyah." Ucapnya setengah mengancam.
"Silakan mah, jika memang Aisyahnya mau...papah ikhlas tapi jika Aisyah tidak mau bersama mamah maka tolong jangan paksakan dia."
"Karena mamah sendiri yang telah membuat jarak dengannya selama dua tahun ini." Sofwan mengakhiri pembicaraannya dan beranjak keluar meninggalkan kamar sang istri yang sebentar lagi akan diceraikannya itu.
Sepeninggal Sofwan, Anggita menangis. Menangisi nasib pernikahannya yang kini berada di ujung tanduk. Mau menyesalpun kini tak ada gunanya lagi, semua sudah terjadi. Nasi sudah menjadi bubur, nasi yang sudah menjadi bubur tak akan mungkin menjadi nasi kembali.
Dalam keputus asaannya Anggita meraih pisau buah di atas nakas di dalam kamarnya.
"Pah...maafkan mamah jika memilih jalan yang salah ini...sekali lagi maafkan atas semua kesalahan yang telah mamah buat selama ini."
"Akibat kesenangan sesaat, aku harus mengorbankan perasaanmu dan putri kita."
"Setidaknya walaupun papah tidak bisa mencintai mamah seperti papah mencintai Sania, tapi papah tetap terus berusaha untuk mencintai dan menerima mamah."
"Mamah saja yang menjadi manusia buta mata hati dan bodoh telah menelantarkan anak dan suami selama ini."
"Selamat tinggal papah...selamat tinggal Aisyah putri mamah yang cantik semoga sepeninggal mamah nanti, suasana rumah akan membaik kembali."
"Jangan papah dan Ais yang pergi dari rumah ini kasihan eyang kakung, biarlah mamah yang mengalah untuk pergi dari hidup kalian semua."
*
*
***Bersambung...
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like, komen, vote, favorit dan rate nya ya...happy weekend readersπππππ
__ADS_1