Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 165 Iri Jadi Dendam


__ADS_3

"Siapa laki-laki beruntung yang telah mengambil hati wanitaku itu? Berani-beraninya dia mengambil tante Saniaku dari **sisik**u." Begitulah kira-kira yang ada dalam pikirannya.


Tapi kesadaranku keburu pulih. Dengan cepat dia kukejar. Tak kupedulikan lagi titipan obat dari Alena. Fokusku sekarang mengejar tante Nia sebelum dia hilang lagi.


"Bodohnya aku!!" Umpatku kesal karena terlalu lama berpikir.


Aku mengedarkan seluruh pandanganku kepenjuru halaman parkir tak kutemukan dia. Aku berjalan keluar dari tempat parkir dan benar saja di bangku-bangku sepanjang jalan yang biasanya diperuntukan bagi pejalan kaki beristirahat, kulihat wanitaku itu tengah duduk beristirahat sambil tangannya sibuk memijit hidungnya agar darah dari hidungnya berhenti mengalir.


"Ya Allah, jangan Kau ambil dia dari sampingku...aku baru saja bahagia karena telah berhasil menemukannya."


Dengan cepat kuhampiri dia yang duduk bersandar sambil memejamkan matanya. Dari belasan tahun lalu hingga sekarang, wajah ayu yang keibuan itu tak pernah berubah di makan usia. Perasaan sekarang malah bertambah dewasa dan semakin cantik.


Aku duduk diam di sampingnya, rupanya dia mulai menyadari keberadaan seseorang di sampingnya. Perlahan dia membuka matanya yang terlihat sayu.


"Lho...Riko kok ada di sini? Obat yang mau kamu tebus gimana?" Tanyaku padanya.


"Gampang tante, nanti Riko bisa balik lagi...yang penting sekarang Riko mau menemani tante hari ini."


"Lho kamu tidak bekerja?" Kataku berpaling menghadapnya.


"Cuti tante!!"


"Oh iya, gimana kabar ayah dan ibumu Ko?" Tanyaku.


"Kabar beliau baik kok, hanya beliau berdua sekarang tinggal di Korea, ayah pindah dinas kesana." Jawab Riko.


"Kabarnya nenek gimana tan?" Tanyanya lagi.


"Nenek sudah lama meninggal Ko!!" Jawabku.


"Padahal Riko sudah kangen pengen ketemu sama nenek!!" Ucapnya pelan.


"Kamu ngga dicariin sama pacarmu jika menemani tante di sini Ko? Tante ngga mau tanya kamu sudah berkeluarga atau belum karena tante lihat dari tampangmu yang bad boy begini pastilah belum berkeluarga."


Riko hsnya menyengir mendengar perkataanku.


"Riko belum punya pacar tante apalagi menikah, karena Riko menunggu satu orang untuk Riko jadikan pendamping hidup Riko."


"Oh ya? Siapa di...ah...." Sania tak melanjutkan ucapannya dia memijit keningnya yang terasa sangat sakit.


"Tante...tante kenapa? Tante baik-baik aja kan?" Riko tampak sangat khawatir sambil ikut memijit kepala Sania.


"Sakit sekali..." Rintih Sania.


Butiran keringat sebesar biji jagung membanjiri kening dan wajah cantiknya.

__ADS_1


"Tante..tante...kita balik ke dokter lagi ya...Riko ngga tega melihat tante menderita seperti ini!!" Riko memeluk erat tubuh wanita yang dikasihinya itu.


Dihapusnya keringat yang membanjiri wajah Sania dengan lengan baju sebelahnya yang tidak terkena noda darah. Tanpa sadar dikecupnya berulang kali kening dan pipi tirus itu. Hatinya juga ikut merasa sakit menyaksikan penderitaan Sania.


"Ngga usah ke dokter Ko, tante ngga mau orang satu rumah tau tentang penyakit tante, tante minum obat dari dokter tadi aja!!" Jawabnya lemah.


"Suami tante tau soal penyakit tante ini?" Tanya Riko.


Sania terdiam lalu kemudian menggeleng lemah.


"Tante tidak punya suami Ko!!" Dia menjawab perlahan nyaris tak terdengar. Tapi bagi Riko seperti sambaran halilintar di telinganya.


Akhirnya Sania menjelaskan semua dari pada dia terus dicecar pertanyaannya oleh berondong labil itu.


Riko sampai tercengang mendengar beratnya kisah hidup Sania yang harus dijalaninya bersama anak-anaknya.


Tiba-tiba....plak...


Sebuah majalah menghantam kepala Sania cukup keras, membuat kepala Sania yang memang sudah sakit jadi semakin bertambah sakit.


Dengan gusar Riko mencari sumber yang memukul tadi.


"Bagus ya Ko, aku minta tolong dibelikan obat di apotek sekalinya kamu malah enak-enakan memeluk wanita tua yang gatal ini."


"Ini juga sijanda gatal berapa banyak lagi laki-laki yang akan kamu tiduri hah??" Alena berkacak pinggang sehingga menarik perhatian orang yang lalu lalang.


Riko menghardik dengan keras sampai Saniapun kaget dibuatnya.


"Satu lagi, berani sekali lagi kamu memukul dia seperti tadi maka jangan salahkan aku jika aku yang akan balas memukulmu, mengerti???" Sentak Riko.


"Sana kamu...mengganggu kebersamaan orang saja!!" Riko mengusir Alena dari sana.


Alena menghentak-hentakan kaki sangking kesalnya kemudian berlalu dari sana. Dia tak menyangka Riko siberondong tampan akan lebih memilih Sania dari pada memilih dia yang masih muda.


"Awas kamu Sania!! Aku semakin membencimu!!" Umpat Alena dengan geramnya.


"Kamu mengenal wanita itu Riko?" Tanya Sania pelan.


"Eh...iya..." Jawab Riko gugup.


"Tante lihat dari sikap gugupmu dan melihat betapa marahnya dia melihatmu bersamaku, aku bisa pastikan kalian punya hubungan spesialkan?" Ucap Sania lagi.


Riko cuma nyengir ngga tau mau bilang apa.


"Tante sendiri? Sepertinya kalian saling mengenal?" Selidik Riko.

__ADS_1


"Dia mantan maduku!!" Jawabku singkat.


"Apa??" Riko sangat kaget mendengarnya.


"Karena kehadirannya lah yang membuat hancurnya bahtera rumah tanggaku."


Aku menceritakan lagi kejadian yang telah lalu kepada Riko.


"Lalu kamu bisa mengenal dia dari mana Riko?" Tatapku penuh selidik padanya.


Riko menggaruk tengkuknya sambil menatap ragu padaku.


"Kekhilafan tante!!" Jawabnya pelan.


"Kekhilafanmu pada wanita seperti itu bisa berujung petaka Riko, lihat contohlah aku ini!!" Aku menghela napas membayangkan semua yang pernah terjadi dulu.


"Riko, tante mau pulang dulu sepertinya kepala tante sudah tidak sakit lagi."


Berada duduk sedekat itu dengan wanita pujaannya membuat debaran jantungnya terasa sepuluh kali lebih cepat.


Jika Sania biasa saja menganggap Riko masih sama seperti Riko kecil dulu, beda halnya dengan Riko. Setiap tatapannya beradu pada netra bening wanita ayu itu, setiap itu juga wajahnya selalu memerah.


Dia malu jika ingat selalu dimandikan telanjang bulat kalau sore, selalu makan disuapi dan tidur dipeluk Sania sambil ditepuk-tepuk bahu dan pantatnya.


Itu sudah lama berlalu tapi tetap saja dia merasa sangat malu.


Karena Riko masih melamun akhirnya Nia berdiri dan mulai melangkah menunggu angkot yang lewat.


"Riko antar ya tante, Riko tak mau terjadi apa-apa dengan tante." Tanpa menunggu persetujuan Sania Riko menggandeng tangan Sania kembali keparkiran apotik menuju mobilnya.


"Tante pulang naik angkot aja Ko, sebab dari sini kerumah lumayan jauh."


"Ngga...ngga boleh, Riko ngga ijinkan pokoknya harus Riko antar."


Sebenarnya tujuan utama Riko agar dia tau di mana Sania tinggal agar suatu hari dia lebih mudah mencari Sania.


Kami berjalan berdua menuju mobil tanpa kami sadari sedari tadi Alena menatap penuh kebencian padaku.


"Mantra apa yang diucapkan wanita itu sehingga laki-laki menyayanginya? Betul-betul kamu Sania!!" Alena mengepallan tinjunya keudara.


*


*


***Bersambung...

__ADS_1


Aku yang terlahir belakangankah? Atau kamu yang telah terlahir lebih dulu yang membuat kita sulit bersatu?


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejaknya...like, komen, vote, favorit dan rate nya...terima kasih🙏🙏


__ADS_2