Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 169 Berusaha Menemukan Caranya


__ADS_3

Sofwan melirik Della yang duduk sambil termenung memandang keluar jendela mobil. Betapa dia ingat alangkah jahatnya dulu wanita itu pada Sania, Dina dan dirinya. Dengan teganya dia menggadaikan rumah peninggalan orang tua Sania diam-diam dan berfoya-foya sampai akhirnya rumah tersebut disita oleh pihak bank.


"Apakah wanita di sampingku ini benar-benar sudah insyaf atau hanya sekedar kata-katanya saja? Aku takut jika benar- benar kubawa pada Sania, dia nanti berulah lagi." Batin Sofwan.


"Kak Della, jadi selama ini kakak tinggal di mana?" Tanya Sofwan pada Della yang sedang melamun.


"Aku tak punya tempat tinggal tetap Sofwan, mau bekerja juga paling hanya kerja serabutan cukup untuk makan saja."


"Nah sudah sampai kak...kalau kakak mau tunggu di pos security silakan...mau tunggu di lobby juga silakan...Oh iya, Sofwan ada sedikit uang jaga-jaga jika kak Della lapar nanti."


"Terima kasih ya Sofwan!!" Ucap kak Della.


Sementara itu...


"Niko, kamu sibukkah? Bisakah antar aku kepasar? Stok di kulkas sudah habis!!" Kata Sania pada Niko.


"Tentu...biar sikembar kutitipkan pada ayah dulu ya!! Minta tolong ayah jaga sebentar." Aku hanya mengangguk saja.


"Pakai motor saja ya, Ko...aku ingin menghirup udara segar!!" Jawabku.


"Siap ratuku...pengawalmu akan mengantarkanmu kemanapun ratu akan pergi!!" Jawab Miko tertawa.


"Apa sih Ko, lebay tau!!" Aku juga ikut tersenyum sambil menepuk pelan bahunya.


"Nia, ada yang ingin kutanyakan padamu...bisakah kita singgah sebentar ketaman sekitar komplek?" Tanya Niko sebelum kami berangkat.


Aku mengangguk lalu naik diboncengan belakang.


Aku termangu. Di sepanjang perjalanan menuju taman aku seolah melihat kilas balik saat aku ngidam dulu. Dengan susahnya aku yang hamil dan Mikolah yang menderita karena muntah terus menerus.


"Kenapa kamu tersenyum-senyum sendiri?" Rupanya Niko memperhatikanku dari kaca spion motor.


"Aku hanya teringat saat lari pagi bersama Miko di seputaran jalan menuju taman." Jawabku.


Parit tempat Miko berjongkok dulu masih ada, begitu juga penjual bubur ayam dan mie pangsit masih berjualan di sana."


Niko menghentikan motornya saat melihat dari kaca spion aku mulai termangu sendiri.


"Kamu baik-baik saja?" Katanya sambil menatapku dari spion.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa...aku hanya mengenang kembali kenanganku dan almarhum suamiku." Jawabku.


"Kita duduk di bangku itu saja ya sambil memandang air mancur." Lalu Niko mencari tempat untuk memarkir motor dulu.


"Apa yang mau kamu bicarakan Niko?" Aku langsung pada inti pembicaraan.


Dia tak langsung menjawab. Ditatapnya dalam mataku seolah ada perasaan berat untuk mengatakannya.


"Apa kamu punya saudara kandung, Nia?" Dia mulai bertanya.


Aku sedikit heran dengan pertanyaannya.


"Ada...tapi aku sudah tak tau dia ada dimana!!" Lalu aku menceritakan asal muasal aku dan kak Della berpisah dulu.


"Nia, aku tau kamu butuh saudara kandungmu itu untuk tranplantasi sum-sum tulang belakang guna menyembuhkan penyakit kanker darahmu!!" Niko menatapku serius.


"Darimana kamu tau aku mengidap penyakit itu Niko? Satu-satunya orang yang tau hanyalah Riko karena saat itu dialah yang mengantarkanku."Jawabku.


"Itulah kamu Nia, selalu merahasiakan semua masalahmu dariku...aku sudah berjanji untuk menjagamu dan anak-anak, tapi mengapa kamu masih ragu padaku?" Tanya Niko menatapku.


"Terus di mana kita bisa mencari saudaramu itu Nia?" Niko mulai cemas karena mendengar penuturanku barusan.


"Kita harus bisa nenemukannya Nia...aku ingin meminta tolong padanya untuk menyembuhkanmu, aku tidak ingin kehilanganmu juga...aku sudah kehilangan ibuku, saudara kembarku dan aku tak ingin kamupun hilang dari hidupku.


"Nia, sebelum aku menjadi buta...aku tak pernah mempunyai teman dekat seorang wanita karena aku selalu sibuk membantu ayah bekerja mencari uang untuk kebutuhan hidup kami berdua."


"Lalu saat aku buta, harapanku untuk menemukan pendamping hidupku bertambah sirna...siapa coba yang mau dengan lelaki buta yang miskin sepertiku?" Niko menarik napas panjang.


"Mungkin kehidupanku dan Miko sungguh berbanding terbalik...Miko dikelilingi banyak wanita dengan segala ketampanan dan kemewahannya...tak pernah merasa kelaparan karena tak punya uang untuk membeli makanan."


"Sedangkan aku? Bisa makan sehari dua kali saja kami sudah bersyukur, untuk membayar uang spp saja terkadang ayah menunggak sampai tiga bulan."


"Lalu musibah besar yamg menimpaku sehingga menyebabkan kebutaanku, untung ayah selalu memberikan support untukku agar aku selalu punya semangat hidup, selalu berdoa juga berusaha semoga pertolongan Allah suatu hari nanti akan datang padaku dan ayah."


"Saat aku bisa melihat, wanita tercantik pertama yang kulihat adalah kamu...istri dari almarhum saudara kembarku sendiri."


"Jadi salahkah jika aku mencintaimu? Aku akan berusaha mencari cara agar kamu bisa sembuh dari sakitmu Nia, bagaimanapun itu." Niko menggeser duduknya lebih dekat dan menggenggam tanganku.


"Mungkin aku tak sekaya Miko, aku tak seromantis Miko, karena aku orangnya jika bicara langsung pada inti permasalahannya tak suka bertele-tele...tapi percayalah, rasa cinta yang kupunya mungkin melebihi besarnya rasa cinta Miko padamu!!" Dia menatapku yang masih diam tak tau harus bicara apa.

__ADS_1


"Aku tak memaksamu untuk menerimaku sekarang, karena kita harus fokus untuk mencari saudara perempuanmu yang hilang itu untuk kesembuhanmu."


"Ingat Nia, aku tak mau kehilanganmu...aku akan terus berusaha mengupayakan pengobatanmu."


"Ya sudah, aku tak mau kamu selalu main rahasia-rahasiaan lagi padaku seperti hari-hari kemarin, oke? Ya sudah, kita lanjutkan perjalanan lagi atau kamu mau sarapan dulu?" Tawarnya sambil menggenggam tanganku.


"Aku mau makan bubur ayam itu Niko..." Tunjukku pada penjual bubur di seberang taman.


Niko menggandeng tanganku dan mendekati penjual bubur ayam.


"Eh ibu yang waktu ngidam dan suaminya muntah-muntah itukan? Tanya bapak tua penjual bubur padaku sambil matanya menatap Niko.


"Iya pak!!" Jawabku.


"Masih ingat aja bapak ini!!" Aku tersenyum sedih.


Rupanya Niko menyadari perasaanku jadi tak enak, dia lalu mulai memotong pembicaraan.


"Bubur dua, bunda mau minum apa?" Katanya.


"Teh hangat aja!!" Jawabku.


Es teh sama teh hangat ya pak!! Pesannya lalu menggandeng tanganku menuju bangku kayu di pojok taman.


"Obatmu masih ada? Tanya Niko sambil mengaduk minumannya seraya menunggu pesanan datang.


"Tinggal sedikit, Ko!" Jawabku.


"Jangan sampai obatnya kehabisan ya!! Rutinlah meminumnya...oke? Ingat, aku tak ingin kehilangan wanita yang aku cintai!!"


"Memang sikap Niko ini agak mendominan tapi entah mengapa aku merasa kasih sayang Miko yang kurasa sempat hilang semenjak dia pergi jadi bisa kurasakan kembali...salahkah aku jika mengharap Miko hidup kembali walaupun dalam tubuh orang lain?" Batinku.


*


*


***Bersambung...


Bisakah Sofwan membawa Della bertemu dengan Sania dan maukah Della membantu adiknya itu?

__ADS_1


Jangan lupa mampir baca, like, komen, vote, favorite dan berikan rate nya😊😊


__ADS_2