Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 174 Pingsan


__ADS_3

Makanlah yang banyak sayang...agar kesehatanmu segera pulih." Niko mengambilkan makanan untuk Sania.


"Semoga kalian akan tetap bersama sampai maut memisahkan..." Doa tulus Sofwan terucap dari hatinya yang terdalam.


Dipaksa tersenyum walaupun tak ingin, dipaksa ceria walaupun tak bisa. Begitulah penggambaran hati Sofwan sekarang ini. Berpura-pura bahagia walaupun hatinya terluka.


"Aisyah, sehabis ini kita pulang ya!! Di rumahkan ada tante dan sepupumu, kasihan kalau ditinggal terlalu lama!!" Sofwan mengajak anaknya pulang sehabis makan siang ini dan setelah drama yang panjang dengan Aisyah akhirnya gadis kecil itu mau juga diajak pulang.


"Nia, bisakah kak Della bicara sebentar denganmu?" Ajak kak Della saat dilihatnya Niko bermain di luar bersama Syifa dan sikembar Miko dan Miki.


"Apa yang mau kak Della bicarakan?" Tanyaku setelah kita hanya tinggal berdua.


"Pertama kakak mau mengucapkan terima kasih padamu karena telah mau memaafkan kesalahan kakak, dan yang kedua kakak mau bertanya padamu, kak Della harap kamu jawab jujur sejujur-jujurnya pada kakak.


Kak Della menoleh kiri kanan memastikan tak ada siapapun yang mendengarkan pembicaraan mereka.


"Nia, apa kamu serius mau menikah dengan Niko?" Della bertanya juga akhirnya unek-unek yang sejak tadi mengganjal di hatinya untuk adiknya itu.


"Iya, kenapa memangnya kak??" Tanya Sania akhirnya.


"Nia, sudah tak ada lagikah perasaan cinta di hatimu untuk Sofwan?" Tiba-tiba Della bertanya tentang perasaan Sania untuk Sofwan.


"Kenapa tiba-tiba kakak bertanya seperti itu?" Tanya balik Sania pada Della.


"Ngga, kakak cuma kasihan melihat Sofwan Nia!! Kakak melihat sepertinya dia masih sangat mencintaimu, kakak bisa melihat dari sorot matanya setiap saat menatapmu."


"Tapi semua keputusan ada di tanganmu adikku, kakak hanya mendoakan semua yang terbaik untukmu." Della memeluk Sania.


"Besok kita cek ke dokter ya, jika semua memungkinkan untuk dioperasi secepatnya agar kamu bisa sepenuhnya sembuh." Della membelai rambut adiknya.


"Terima kasih atas dukungannya ya kak!!" Aku balas memeluk kak Della.


*


*


"Yah, cepat pulang...ibu tadi dapat telepon dari pihak sekolah bahwa Sultan pingsan dan dibawa kerumah sakit tadi siang." Dengan panik Tini menelpon suaminya yang masih berada di kantor.


Siang tadi sehabis mengajar, Sultan merasakan dadanya sakit dan nafasnya sesak. Belum sempat dia keluar dari pintu kelas, Sultan sudah pingsan dan segera ditolong oleh murid-muridnya dan oleh pihak sekolah segera dilarikan kerumah sakit.

__ADS_1


Tini dan suaminya buru-buru datang kerumah sakit menjenguk adiknya.


Sultan sudah sadar walaupun selang infus dan selang oksigen menghias indah di tangan dan hidungnya.


"Ono opo tho leh? Kamu tadi pagi ngga sarapankah?" Suami Tini memegang tangan adik lelaki satu-satunya itu.


"Sultan juga ngga ingat mas, sebab tadi pagi Sultan mau buru-buru berangkat kesekolah sebab hari inikan murid-murid kelasnya Sultan kena tugas upacara pengibaran bendera jadi Sultan sebagai wali kelas mereka juga harus membantu persiapannya."


"Kamu itu terlalu lelah bekerja leh...pulang dari mengajar kamu langsung mengurusi kafe lagi, pulang dari kafe sudah larut malam dan besok pagi-pagi harus kembali kesekolah lagi."


"Mas tau kamu sering menutupi kegalauan hatimu dengan bekerja dan bekerja tapi kamu mesti menjaga juga kesehatanmu sendiri."


"Sebaiknya kamu ambil cuti Sultan, agar kamu bisa lebih beristirahat menenangkan pikiranmu." Tini berkata sambil mengambilkan air dan obat lalu diserahkan pada adik iparnya itu.


Sultan menerima obat dari kakaknya dan segera meminumnya.


*


*


"Assalamualaikum...bun...bunda!!" Dina berteriak-teriak sepulang sekolah memanggil bundanya.


"Maaf bun, Dina cuma mau kasih tau kalau om Sultan tadi siang pingsan dan masuk kerumah sakit."


"Oh iya? Kok tante Tini ngga kasih kabar ya?" Sania meletakan mangkok sayur di meja makan.


"Bunda kita tengok om Sultan di rumah sakit ntar sore yuk!!" Ajak Dina sambil mencomot perkedel jagung di atas meja.


"Kamu sudah cuci tangan belum? Main comot aja ntar sakit perut baru tau rasa!!" Aku memukul pelan lengan anak gadisku itu.


"Terus nanti adik-adikmu gimana? Pasti Syifa dan Juned ngotot minta ikut kalau mendengar om Sultan masuk rumah sakit? Belum lagi Miko dan Miki juga pasti sibuk minta ikut!!" Jawabku.


"Minta tolong tante Della aja untuk menjaga bun, toh kita cuma pergi sebentar saja!!" Dina memberikan saran.


"Biasanya om Niko yang dimintain tolong jaga sikembar...lha ini kakek dan om Niko lagi mengantar pesanan keluar kota dan nanti malam baru datang."


"Ada apa sih? Kok kayaknya serius banget?" Della duduk di meja makan sambil memegang gelas minumnya.


"Ohh kak Della, kebetulan kak...Nia bisa titip anak-anak sebentar!! Nia sama Dina mau besuk Sultan kerumah sakit sebentar." Ujarku.

__ADS_1


"Kamu memangnya pergi kesana naik apa?" Tanya Della.


"Nia sama Dina naik motor aja kak!!" Jawabku


"Kenapa ngga bawa mobil aja? Kenapa mesti ribet naik motor?" Kata Della.


"Kan kak Della tau kalau Nia tidak bisa naik mobil, mending naik motor aja bisa nyelip-nyelip jika macet dijalan."


"Terserah kamulah asal jangan sampai malam ya!!! Kamu tahu calon suamimu itu over protektif padamu dan anaj-anak nanti kak Della ngga tau mesti jawab apa." Kata kak Della lagi.


Akhirnya aku dan Dina sepakat berangkat berdua saja kasihan kalau adik-adik Dina diajak, apalagi besuk orang sakit yang ada Sultan tambah stres jika anak-anakku pada kumpul semua di ruangannya.


"Bunda dan kak Dina mau kemana kok sudah rapi?" Tanya Syifa saat berselisihan di ruang tamu.


"Bunda mau antar kak Dina beli buku sebentar ya...Syifa sama bang Juned dan adik-adik di rumah saja ya...kan tante Della di rumah juga ada bibi kok, bunda sebentar aja!!" Syifa hanya mengangguk saja.


Aku dan Dina berhenti di toko buah depan gang dan membelikan buah untuk Sultan lalu kami melanjutkan perjalanan.


"Ini kamarnya bun? Kok sepi ya?" Dina celingukan di depan ruangan vip itu.


"Ini rumah sakit Dina, ya sepi lah...isinya orang sakit semua kalau mau ramai tuh di pasar sana!!" Dina jadi nyengir mendengar celetukan bundanya.


"Assalamualaikum!!"


Aku membuka handle pintu perlahan dan melangkah masuk diikuti oleh Dina.


Sultan membuka matanya perlahan mendengar ada yang datang.


"Eh Mba Nia, Dina...duduklah...kok repot-repot pakai bawa buah segala?" Katanya melihat aku menaruh keranjang buah di mejanya.


"Tini dan suaminya mana, Sultan?? Kok kamu ditinggal sendirian saja?" Aku lalu duduk di dekatnya.


"Mereka pulang sebentar paling malam datang kesini lagi." Ucap Sultan sambil mencoba bangun dan duduk bersender di bednya.


*


*


***Bersambung...

__ADS_1


Met malam minggu guys...jangan lupa untuk selalu memberi dukungannya ya!! Like, komen, vote, favorite dan rate nya!!😊😊🙏🙏


__ADS_2