Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 142 Setelah Kau Pergi


__ADS_3

"Mas juga kasihan sama Sania dan anak-anaknya, mereka masih kecil-kecil tapi sudah menjadi anak-anak yatim."


"Sepertinya tadi sore mas melihat Sofwan datang bersama seorang laki-laki tua...siapa dia?" Tanya kakaknya Sultan.


"Dia itu mertuanya Sofwan, mas!!" Kata Sultan lagi.


"Sepertinya mas tak asing melihat mertua Sofwan itu, tapi liat di mana ya?" Kakaknya Sultan tampak berpikir.


"Ya di televisi lah mas, lha wong mertuanya itu kan pengusaha terkenal...pastilah sering muncul di televisi ataupun koran."


"Iya kali ya..." Jawabnya sambil nyengir.


*


*


"Bagaimana perasaanmu Niko?" Tanya Jonathan pada putranya.


"Niko takut yah...takut operasinya gagal!! Masalahnya Niko mengalami kebutaan sudah lama sekali yah!!" Jawab Niko.


"Berdoalah pada yang Kuasa...semoga pengorbanan saudara kembarmu tak sia-sia." Jonathan berusaha membesarkan hati putranya.


"Siapkah kamu hari ini untuk membuka perban di matamu, Niko? Kata dokter Alvin sambil tersenyum.


Insya Allah siap dokter...." Jawab Niko mantap.


Perlahan perban yang membalut mata Niko dibuka. Niko mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia masih melihat samar-samar.


"Bagaimana Niko?" Tanya dokter Alvin.


"Masih samar-samar dokter...dan mata saya masih agak silau."


"Ya perlahan-lahan Niko, matamu kan juga harus beradaptasi dulu."


"Aku deg-degan yah...aku pengen melihat wajah ayah lagi, aku pengen pergi ke makam Miko untuk berterima kasih padanya, yah!!"


"Nanti kita akan pergi kesana nak!! Ayah akan mengantarkanmu."


Samar-samar itu mulai nampak terang dan semakin terang.


"Ayah, Niko sudah bisa melihat ayah dengan jelas..." Niko tampak sangat senang sekali.


"Sudah 17 tahun Niko tidak bisa melihat wajah ayah, baru sekarang Niko bisa melihat kembali, yah!!" Niko memeluk laki-laki yang sangat berjasa dalam hidupnya, yang telah merawatnya sedari kecil hingga dia setua ini.


"Sayang Niko tak lagi bisa melihat wajah ibu dan Miko, yah...seandainya Niko bisa melihat mereka, Niko akan sangat bahagia sekali."

__ADS_1


"Sepertinya besok sudah bisa pulang, kita langsung aja ke pemakaman ya yah!!" Baru kita pulang ke rumah."


"Terima kasih ya Allah, terima kasih Miko!!" Tak henti ucapan puji syukur terus menerus dipanjatkannya."


*


*


Sania duduk termenung di taman belakang. Dia seolah masih mengenang semua kenangan yang pernah dia lalui bersama suami tercintanya.


Seolah selalu terbayang Miko bicara, tertawa dan bercanda dengannya dan anak-anak...walaupun sudah seminggu Miko pergi.


"Aku tak mau hidup begini terus, aku harus move on...tapi kalau aku tetap tinggal di rumah ini, aku akan selalu terkenang pada ayah." Gumamnya.


"Apa aku kembali aja ke rumahku yang lama ya??" Aku mau bekerja lagi, aku tidak mau mengharapkan uang dari warisan suamiku terus."


"Setidaknya jika aku punya kesibukan, aku tidak merasa bersedih terus...lagian aku bisa mulai kerja sore hari di kafe Sultan."


Keputusan Sania sudah bulat untuk pindah dari rumah suaminya yang penuh dengan berjuta kenangan. Dia ingin bangkit dari keterpurukannya selama ini.


"Maafkan bunda ya ayah, bukan bunda tidak lagi mencintai ayah...tapi bunda juga punya anak-anak yang harus bunda jaga, bunda tak bisa terus menerus hidup di bawah semua kenangan ayah."


Malamnya dia dan anak-anak berunding membicarakan hal ini. Anak-anak tak keberatan kembali ke rumah lama.


Seminggu kemarin sebelum pulang ke Yogyakarta, Sofwan datang menemui anak-anak dan mantan istrinya untuk sekedar mengucapkan bela sungkawa.


Sore itu Sania dengan mengendarai motor matic kenang-kenangan dari Miko, datang berziarah ke makam suaminya. Dia hanya datang seorang diri kesana.


Tapi dari jauh dia melihat seseorang memakai hodie berwarna hitam sedang duduk terpekur di depan makam Miko.


"Siapa orang itu ya...sepertinya dia laki-laki?" Gumam Sania.


Pelan dia melangkah dan berhenti tepat di belakang orang tersebut, tapi dia hanya diam sambil memperhatikan.


Orang tersebut berdiri dan saat berbalik badan, mereka berdua sama-sama terkejut.


"Kamu Niko kah?" Sania langsung menebaknya karena orang yang berdiri tepat di hadapannya memang Niko.


Tapi bagaimana kamu bisa sampai kesini seorang diri? Mana ayah Jonathan?" Cecarnya.


Dia sama sekali tidak tau kalau Niko sudah dapat melihat berkat Miko.


"Kamu Sania?"


"Kok kamu bisa tau kalau aku Sania? Kamu kan tidak bisa melihat...maaf sebelumnya." Kata Sania.

__ADS_1


Niko tersenyum. Di pandangnya wajah ayu yang berdiri di hadapannya. Walau wajah itu tampak pucat dan kuyu, tapi sama sekali tak mengurangi kecantikannya.


"Aku bisa melihat semua berkat jasa Miko...


sebelum meninggal, Miko telah mendonorkan matanya untukku." Ucapnya.


"Jadi yang sekarang yang ada padamu adalah mata suamiku? Pantas aku merasa seolah dia hidup dan kembali bersamaku."


"Kamu tadi kemari menggunakan kendaraan apa, Niko?" Tanyaku.


"Ojek online!" Jawab Niko.


"Kalau gitu kamu bareng aku aja ya pulangnya, tapi tunggu dulu aku mau kirim doa buat suamiku dulu."


Niko hanya mengangguk dan memberi jalan pada Sania.


Aku bersimpuh di depan pusara Miko, ku usap lembut batu nisan itu seolah aku membelainya.


"Assalamualaikum...selamat sore sayangku? Apa kabarmu hari ini? Apa ayah di dalam sana baik-baik saja?"


"Kalau bunda masih kangen banget sama ayah, apa ayah ngga kangen sama bunda? Kok bunda tunggu ayah ngga mampir-mampir ke dalam mimpi bunda?" Sania terus berbicara tanpa mempedulikan kehadiran Niko di belakangnya.


"Ayah jangan marah ya jika bunda dan anak-anak mau balik lagi ke rumah bunda yang lama!!"


"Di rumah kita bunda selalu kesepian yah...apalagi sekarang sudah tidak ada ayah di sana."


"Di rumah kita, bunda selalu merasa kangen sama ayah...bunda ingin move on yah..." Tampak air mata berlinangan membasahi pipi tirus itu.


Niko menggigit bibirnya sendiri, dia juga merasa sedih melihat penderitaan iparnya itu. Dia tau sekarang Sania harus mengurus anak-anaknya seorang diri.


"Kita pulang yuk...hari sudah sore, takut kita kehujanan di jalan...mana aku ngga bawa helm lagi!!" Dia menyentuh pundak Sania yang seolah enggan berdiri meninggalkan makam suaminya.


"Ayah, bunda pulang dulu ya...besok-besok bunda mampir kemari lagi."


Mereka berdua meninggalkan area pemakaman.


"Niko, bisakah jika ada waktu kamu sama ayah ke rumah? Ada hal yang ingin aku bicarakan dengan kalian berdua!!" Kataku pada Niko.


"Bagaimana kalau sekarang aku telepon ayah untuk pergi duluan kesana jadi aku ngga bolak balik." Aku mengangguk saja mendengar perkataan Niko.


"Ko...kamu yang bawa motor ya?? Masa aku yang perempuan gonceng laki-laki?" Kataku.


"Tapi aku sudah belasan tahun ngga pernah bawa motor, nanti kita berdua mampir ke ugd ngga langsung balik ke rumah."


Mau tak mau aku tersenyum memdengar ucapan Niko yang polos itu.

__ADS_1


****Bersambung....


Happy reading...jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak ya!!! Like, komen, vote, favorit dan rate nya...terima kasih🙏🙏


__ADS_2