
Sambil menjaga Niko bermain, pikiran Jonathan terus berkecamuk.
"Apa yang harus aku lakukan ya? Aku tak ingin berpisah dari keluargaku tapi aku juga tak mau anak-anak panti menjadi korbannya."
"Aku tumbuh besar di panti itu, alangkah egoisnya aku demi agar diriku bahagia, sementara anak-anak di panti akan menderita karena ulahku.
"Maafkan mas, Mira...mas terpaksa harus mengambil keputusan ini."
Siang tadi dia mendapatkan cek senilai seratus juta rupiah dari orang suruhan mertuanya itu. Dia harus menerimanya dan meninggalkan Mira Maharani istrinya atau panti asuhan tempat dia di besarkan dulu akan di babat habis rata dengan tanah, karena tanah panti itu adalah tanah milik orang tua Mira.
Dilema...tentu yang dia rasakan sekarang. Hingga akhirnya dia harus mengambil satu keputusan!!
"Mas, besok tepat setahun usia Niko dan Miko. Bagaimana jika merayakan ulang tahun mereka dengan anak-anak panti?"
"Mas terserah kamu aja dek bagaimana baiknya." Jonathan menyerahkan keputusan pada istrinya.
Mira tampak senang sekali, di peluknya Niko yang sedang bermain di lantai sendiri.
Niko memang anak yang mandiri, dia juga tidak cengeng dan manja seperti Miko. Jika Miko di gendong oleh ibunya karena rewel, Niko hanya memandangi saudara kembarnya, kalau sudah begitu tentu Jonathan yang akan mengajaknya bermain. Oleh sebab itu Niko lebih cenderung dekat dengan ayahnya.
*
*
Persiapan untuk ulang tahun Niko dan Miko. Mira nampak sibuk di panti dibantu anak-anak dan beberapa pengurus panti. Niko dan Miko sudah dipakaikan baju baru oleh Mira. Tapi ke dua anaknya masih di kamar bersama Jonathan agar tak mengganggu persiapan di luar.
"Mas...mas...anak-anak bawa kemari..." Mira berteriak dari ruang tamu.
"Kemana sih mas Jonathan dan anak-anak ini, coba Andi ke kamar dulu tengok om Jonathan dan Niko, Miko ya!!! Iya tante, kata Andi."
Tak lama...
"Tante...tante..." Andi berteriak lari keluar.
"Ada apa Andi kenapa berteriak-teriak?" Ibu Sofi pengurus panti menegur Andi.
"Tante Mira, Miko menangis sendirian di kamar...om Jonathan dan Niko tak ada di dalam kamar!! Andi hanya menemukan ini di atas meja." Andi menyerahkan sepucuk surat pada Mira.
Dengan tangan gemetar Mira menerima surat itu membuka dan membaca isinya.
"Mira istriku sayang, mas pergi membawa Niko bersama mas..."
"Kamu tau kan bagaimana perjanjian orang tuamu dulu?"
"Mas harus menepatinya demi kebaikanmu, Miko dan anak-anak panti."
"Kemarin mas mendapat cek seratus juta rupiah dari orang tuamu..."
"Sudah mas cairkan, dan mas tinggalkan lima puluh juta buat Miko dan sisanya mas bawa buat keperluan Niko nantinya."
"Kembalilah pada orang tuamu, sayang...biar Niko kubawa bersamaku...."
__ADS_1
"Mas sangat mencintai kalian, tapi mas tidak bisa mengorbankan banyak orang untuk keegoisan mas sendiri..."
"Jaga dirimu dan rawat anak kita Miko baik-baik ya dek..."
"Jika kamu kelak menemukan pria yang tulus mencintaimu dan Miko, menikahlah!!!"
"Mas ikhlas dunia akherat..."
"Sekali lagi maafkan mas ya dek, semoga kamu dan Miko selalu dalam lindungan Allah SWT."
Dari laki-laki yang selalu mencintaimu...
Jonathan
"Tidaaakkkk..." brukkk...
Mira Maharani pingsan setelah sebelumnya berteriak histeris.
Para penghuni panti berteriak panik melihat keadaan yang seperti ini...
Sementara itu di dalam bis yang akan membawa Jonathan dan Niko pergi jauh...
Tampak Jonathan berkali-kali menciumi kepala Niko yang sedang tertidur lelap dalam pangkuannya.
Air mata Jonathan tak henti-hentinya mengalir mengingat nasib pernikahannya dan Mira!!! Juga mengingat nasib anak kembarnya.
"Ya Allah...apakah selalu begini nasib orang miskin sepertiku?" Rasanya hidup ini tak adil untukku dan keluargaku."
"Mas janji, kamulah wanita terakhir dalam hidup mas...mas akan berusaha merawat Niko seorang diri sampai dia dewasa kelak."
"Selamat tinggal istri dan anakku tercinta..."
Bis yang membawa mereka bergerak semakin jauh meninggalkan terminal...meninggalkan cinta dalam kesedihan dan kesendiriannya.
Jonathan sengaja membawa Niko, pertama karena Niko memang lengket dengannya ketimbang dengan ibunya. Dan juga sejak bayi, Miko selalu sakit-sakitan...menyebabkan Mira lebih mencurahkan kasih sayangnya pada Miko ketimbang Niko. Ke dua dia memang sangat mencintai Niko.
*
*
Jonathan menangis dalam diamnya mengingat peristiwa puluhan tahun lalu.
"Mira...kini kamu sudah tenang di sana, maafkan mas ya Mira, yang tak ada di sampingmu saat menjelang kematianmu."
"Semoga dari atas sana kamu dapat melihat Niko anak kita."
Tok...tok...suara ketukan tongkat Niko menggema di lantai.
"Kenapa ayah menangis? Apa ayah teringat ibu?" Niko mendekati Jonathan dan meraba pipi laki-laki yang sudah keriput di makan usia tapi sama sekali tak mengurangi sisa-sisa ketampanannya di masa lalu.
"Sudahlah yah...ibu sudah tenang di sana, jangan ditangisi lagi!! Niko saja sudah bisa mengikhlaskan kepergian ibu."
__ADS_1
"Maafkan ayah ya, Niko...jika ayah tak membawamu pergi, tentu sampai kini kamu masih bersama ibumu dan tidak menderita seperti sekarang ini."
"Tapi Niko akan kehilangan sosok ayah yang Niko cintai mulai Niko kecil." Niko memeluk ayah yang sangat di cintainya.
"Sekarang Niko malah kepikiran Miko terus, yah!! Semoga tak terjadi apa-apa pada Miko ya, yah...Niko sangat khawatir."
"Semoga saja Niko..."
"Seandainya kamu bisa mendapatkan pendonor mata untukmu, bisa kamu lihat bagaimana miripnya kalian berdua."
"Yah, bisakah ayah ceritakan pada Niko bagaimanakah rupa ibu?" Niko duduk bersimpuh di samping kursi ayahnya.
"Ibumu itu seorang wanita yang sangat cantik dan baik, Niko."
"Kami bertemu saat mobil yang dikendarai ibumu mogok di tengah jalan."
"Saat itu ibumu baru beberapa hari di indonesia, bahasa indonesianya saja masih terbolak-balik."
"Ibumu baru datang dari New York setelah bertahun-tahun menempuh pendidikan S1 dan S2 nya di negeri paman Sam itu.
Jonathan mulai bercerita sambil sesekali mengenang almarhumah istrinya tercinta.
*
*
Dia baru pulang mengantarkan barang di sore hari yang awalnya hujan gerimis lalu hujan semakin deras seperti tumpah dari langit.
Di dalam pandangannya yang terbatas dia melihat seorang wanita basah kuyup di pinggir jalan sambil menendangi mobil yang di kendarainya.
Karena iba akhirnya Jonathan turun dari mobil boks nya.
Dia mengambil payung dan memakainya lalu mendekati wanita yang tampaknya butuh pertolongan itu.
"Selamat sore menjelang petang nona!! Apa ada yang bisa saya bantu??" Jonathan menawarkan kebaikannya sambil memayungi wanita yang memunggunginya itu.
Wanita itu menoleh kepada sipenyapanya. Alangkah kagetnya Jonathan melihat wajah yang sangat cantik dan kuyup terkena siraman hujan.
"Mobil mogok saya..." Setengah berteriak dia berbicara karena melawan derasnya air hujan,
"Apa? Mobilmu mogok??" Jonathan berteriak juga.
Wanita cantik itu hanya mengangguk. Tampak tubuhnya sudah menggigil kedinginan.
"Nona....maukah kamu masuk dulu berteduh di dalam mobil boks saya sambil menunggu hujan reda? Nanti saya akan membantu untuk melihat kerusakan mobilmu."
Si cantik itu tampak ragu...mungkin dia takut kalau Jonathan itu bukan orang baik-baik!!
***Bersambung...
Mohon dukungannya untuk author receh ini ya readers dengan memberi like, komen, vote, favorit dan rate nya...terima kasih🙏🙏
__ADS_1