Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 114 Terbawa Perasaan


__ADS_3

Aku sedang duduk di teras sambil menjaga si kembar yang tertidur. Anak-anak belum pulang, tadi siang mas Sofwan ijin membawa anak-anak untuk jalan-jalan.


"Bunda...." Sebuah taxi online berhenti di depan halaman. Mas Sofwan dan anak-anak turun sambil menenteng belanjaan.


"Kok si kembar dibawa keluar dek? Nanti mereka masuk angin lho..."


Miko menurunkan belanjaannya dan menghampiri ke dua bayi kembarku.


"Miko...Miki...anak bapak!!! Tidur melulu...bangun gih...masa bapak dari datang sampai pulang tadi di cueki melulu?"


"Mas...kalau digendongi terus begitu ntar mereka malah ketagihan minta gendong terus lho..."


"Bialin bunda....kan ada bapak yang nanti bantuin gendong Miko sama Miki..." Mas Sofwan menggendong mereka bergantian dan menciumi mereka dengan penuh kasih sayang.


"Ya Allah...seandainya mas Sofwan masih menjadi suamiku seperti dulu, tentu aku sangat bahagia mendengar perkataannya tadi."


Mendengar dia sekarang mengatakan akan menjaga Miko dan Miki, malah membuat hatiku merana.


"Mas mau minum? Sebentar ku ambilkan ya!!!" Aku segera mengalihkan hatiku yang tadi sempat baperan.


"Memang bekas jahitan di perutmu ngga apa-apa?" Nanti kebanyakan gerak takutnya jahitannya ada yang terbuka, secara kan belum kering betul."


"Coba kita masih tinggal di kontrakan kita yang dulu ya dek, setiap hari mas akan carikan ikan gabus untuk kamu makan agar lukamu cepat mengering."


Aku beradu pandang lagi dengan mas Sofwan. Masih ingat saja mantanku ini pada kebiasaan kami dulu.


"Iya...terus mas ngajak anak-anak semua nyemplung ke rawa dan membiarkan pakaian kalian semua kena lumpur!!!"


Mas Sofwan tertawa mendengar ucapanku. "Iya...kamu yang selalu ngomel panjang pendek kan??? Tapi yang paling doyan makannya!!" Dia berdiri mendekatiku sambil menggendong Miki dan mengacak rambutku.


Aku tak mau terlalu larut dalam perasaan. Aku segera ke dapur untuk membuatkan teh dan mengambilkan cemilan untuk mas Sofwan.


Aku bertemu dengan Dina di dapur yang sedang minum.


"Bun...tadi Dina dan adik-adik dibelikan bapak perlengkapan sekolah terus kita diajak makan...lalu kita keliling lagi."


"Bunda...seandainya keluarga kita bisa utuh berkumpul lagi seperti dulu ya...Dina bahagia banget!!!"


"Dina...ingat...bapak sekarang sudah punya keluarga baru, jangan terlalu banyak mengharap nak!!"


"Tak lama lagi bapak akan kembali ke Yogya, dan kita tak tau...mungkin bapak tak bisa kembali ke sini lagi."


Tanpa aku dan Dina sadar, mas Sofwan mendengarkan percakapan kami dari balik tirai.


"Jika kita memang masih di takdirkan yang Maha Kuasa untuk berjodoh, aku pasti akan kembali untukmu dan anak-anak dek!!!"


"Cinta mas pada kalian tak akan pernah pudar dan tak akan pernah bisa tergantikan oleh apapun dan siapapun."


"Hayo...bapak ngapain di sini? Ngintipin bunda, ya!!!!" Syifa dan Juned datang mengagetkannya.

__ADS_1


Aku dan Dina juga kaget mendengar celetukan Syifa. Berarti mas Sofwan mendengarkan semua yang kami ucapkan tadi.


"Mas ngapain berdiri di situ? Aku loh mau keluar bawakan teh dan cemilannya."


"Biar mas aja yang bawa ke depan dek...kasihan kamunya."


Kami duduk di teras depan. Mas Sofwan sibuk bermain dengan si kembar yang dipaksanya bangun.


"Pak, bapak pulang masih belapa hali lagi?" Tiba-tiba Juned bertanya.


Mas Sofwan yang asyik memainkan jari tangan Miko dan Miki, lalu beralih kepada Juned.


"Besok sore tugas bapak sudah selesai di kota ini, Juned!!! Bapak harus pulang karena ibu Anggita sedang sakit di sana, dan adik Aisyah sendirian."


"Telus, kapan bapak akan main kemali lagi dan menjenguk kita?"


"Juned..." Aku segera mengalihkan pertanyaannya. "Bapak pasti main kemari lagi, tapi kapan-kapan ya!!!"


"Bapak akan sering-sering telepon kemari kok Juned!!" Mas Sofwan mengelus kepala Juned.


"Dek...bolehkah malam ini mas nginep di sini? Mas mau tidur sama anak-anak...mas masih kangen sama mereka, karena mas ngga tau kapan bisa kembali ke kota ini lagi!!"


Aku hanya mengangguk saja. Aku juga tidak bisa melarangnya, walaupun hubungan kami sudah berakhir, tapi hubungan bapak dan anak akan tetap terikat walau sampai kapanpun.


"Terima kasih ya dek...bagi mas kamu tetap wanita terbaik yang pernah singgah di hati dan hidup mas Sofwan."


*


*


Dengan tergopoh-gopoh bibi lari ke kamar majikannya.


"Ada apa pak Miko?" Bibi melihat gelas pecah di lantai.


"Bi...kepala saya sakit sekali...dan tangan saya yang memegang gelas ini tiba-tiba mati rasa, bi!!"


Miko mengerang di tempat tidur sambil memegangi kepalanya.


"Bapak istirahat aja dulu, sudah beberapa hari bapak tidak mau makan dan kurang tidur."


"Mau saya teleponkan dokter pak?"


"Ngga usah bi, saya mau istirahat saja...saya kangen istri saya, bi!!! Saya ingin bersama dengan istri dan anak-anak saya..."


"Sebenarnya saya salah apa lagi bi? Kenapa sekarang ibu sangat membenci saya?" Miko menangis. Merasakan sakit yang tak tertahan di kepalanya, juga sakit di hati menahan kerinduannya.


Bibi sampai menangis melihat penderitaan yang kini dialami majikannya.


"Apa mau bibi panggilkan non Alena, pak?"

__ADS_1


"Saya tidak mau bi...saya ingin Sania di sini, bukan Alena!!"


"Pak, saya teleponkan ibu saja ya pak...bibi ngga tega melihat keadaan fisik bapak semakin ngedrop terus hari demi hari."


"Tapi ibu membenci saya bi...pasti ibu ngga mau menemui saya lagi!!"


"Kita kan belum mencoba pak, lagian ini bibi yang meminta kepada ibu untuk datang kemari...semoga ibu mau pak!!"


Dengan cepat bibi berlari menuju dapur mengambil ponsel miliknya untuk menelpon Sania.


"Kenapa bibi kok panik gitu?"Alena yang mengambil air dingin di kulkas menyapanya.


"Bibi mau menelpon bu Sania, non!!"


Alena menaikan alisnya. "Untuk apa bibi menelpon kak Sania? Sudah bagus dia tidak tinggal lagi di rumah ini...kok mau di telepon lagi."


"Non...ini bapak yang meminta bibi menelpon ibu, bapak sakit non...bapak kangen pengen ketemu ibu."


"Biar saya aja yang mengurus bapak bi, ngga usah telepon kak Sania...lagian kak Sania kan baru keluar dari rumah sakit, masa dia mau disuruh jalan ke sana ke mari sehabis melahirkan begitu?"


Dengan seringai liciknya Alena tersenyum pada bibi lalu dia menuju kamar Miko.


Ceklek...


"Bunda??? Bundakah itu??"


"Ini Alena bang, kudengar dari bibi bahwa abang sedang sakit!!"


"Keluarlah Alena...abang ingin ketemu istri abang!!"


"Bang...Alena ini kan juga istri abang...Alena ingin merawat abang di saat abang sedang sakit begini!!"


"Keluar....."


Miko membentak Alena yang tetap ngeyel ingin bersama dengan Miko di dalam kamar.


"Abang keterlaluan...selalu saja kak Sania yang abang utamakan...abang lihat kondisi abang sekarang karena siapa? Karena istri kesayangan abang itu!!"


"Sania tidak bersalah Alena, dia tidak pernah bersalah....kesalahan terbesar abang adalah menikahimu yang membuat hancurnya bahtera rumah tangga abang...kamu paham?"


Semakin Miko meledak-ledak terbawa emosi, kepalanya terasa semakin sakit.


Mendengar suara ribut-ribut di kamar, bibi masuk.


"Non...sebaiknya non keluar dulu supaya tidak memperparah keadaan dan kondisi bapak!! Non Alena bukannya menenangkan, malah membuat bapak semakin stres saja."


***Bersambung....


Happy reading...happy weekend guys....dukungannya selalu ya!!! Like, komen, vote, favorite dan rate nya. Yang mendukung, author doakan semoga selalu di murahkan rejeki dan selalu dalam lindunganNya...Terima kasih🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2