Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 217 Memulai Hidup Yang Baru


__ADS_3

Dina masuk ke ruang makan hendak mengambil minum jadi berhenti saat dia melihat bundanya sudah mulai mau makan kembali.


"Dina sangat senang bun, melihat bunda bisa kembali seperti dulu...kita semua memang sangat terpukul dengan kepergian om Sultan yang tiba-tiba...tapi jangan lantas membuat kita juga ikut larut dalam kesedihan!!" ucapnya.


"Om Sultan ingin setelah kepergiannya, kita tetap menjalani hari-hari seperti biasa lagi."


*****


"Keterlaluan ya kamu, maya!!! sudah kubilang, aku tak ingin menjual penginapan itu, karena separuh dari kepemilikannya adalah atas nama Juma!!"


Sore itu Niko tampak kesal luar biasa karena lagi-lagi Maya bertindak semaunya sendiri untuk menawarkan penginapan itu ke orang lain padahal dia tau sertifikat kepemilikannya ada di tangan Niko.


Tak lama kemudian Maya pun menelponnya...


πŸ“±"Halo, bukan aku yang keterlaluan mas!! tapi mas Niko yang keterlaluan...kita suami istri tapi kita hidup berjauhan...kenapa mas? kamu takut jika kita tinggal satu rumah nanti kamu tidak bisa berselingkuh lagi dengan mantanmu yang bernama Sania itu kan?"


πŸ“±"Kamu bicara apa sih, Maya? sudah berapa kali harus kubilang bahwa aku dan Sania itu tidak ada hubungan apa-apa? malah aku, ayah dan Juma tinggal di rumah warisan suaminya ini!!"


πŸ“±"Pokoknya jika mas ingin penginapan ini tidak dijual maka ijinkan aku dan anak-anak untuk menyusulmu ke sana."


Tut...tut...tut..


"Maya....maya...dasar ngga jelas!!" Niko membanting ponselnya ke atas kasur sangking kesalnya.


"Bagaimana sayang??? kamu berhasil mendesak Niko untuk mau menerimamu tinggal bersamanya?" tanya selingkuhan Maya yang bernama Darma itu.


"Beres...jika aku tinggal satu rumah dengannya jadi aku bisa mencari di mana dia menyimpan sertifikat tanah penginapan itu."


"Sekalian aku bisa memantau suamiku supaya tidak diambil oleh pelakor!! kata Maya yang membuat Darma merasa senang mendengarnya.


"Jadi selama aku tak ada nanti, kamu tidur saja di kamar atas tempat kamar peraduan kita, Darma!!" kata Maya.


"Tentu sayang, aku akan menunggumu kembali beserta dengan sertifikat itu agar kita bisa menjual penginapan ini!!"


Maya tersenyum lalu merangkak naik ke atas tubuh Darma. Menjelajahi senti demi senti dada bidang lelaki itu dengan lidahnya. Itulah yang membuat Darma tergila-gila pada wanita itu hingga kini.


"Kenapa kamu kok tampaknya murka banget hari ini??" Jonathan yang baru pulang menyapa Niko di ruang tamu.


Tampak wajahnya sangat gusar dan merah padam menahan amarahnya.


"Hati-hati...ntar keluar tanduk dari kepalamu dan keluar asap dari hidungmu!!" kata Jonathan.


"Maya yah...dia ngotot mau pindah kesini dan mau menjual penginapan juga...siapa yang ngga kesal coba." Kata Niko sambil meraup wajahnya.


"Apa sih maunya wanita itu? dia kan tau penginapan itu untuk anak-anaknya kelak lagi pula penginapan itu sekarang sudah ramai semenjak kamu renovasi di sana sini...kok setelah ramai malah mau di jual!! aneh..."


"Itu sudah yah, aku bingung dengan jalan pikiran Maya...aku menikahinya bukan karena aku mencintainya tetapi sebagai bentuk tanggung jawabku pada Juma dan dari awal dia tau soal itu!!" kata Niko.

__ADS_1


"Atau ada hal lain yang diincar oleh wanita itu, Niko? yah mungkin saja dia kesulitan menjual penginapan itu tanpa surat kepemilikan tanah yang sah!!" kata Jonathan.


"Kok ayah sampai berpikiran seperti itu?" tanya Niko dengan nada menyelidik.


"Entahlah tapi perasaan ayah yang mengatakan demikian." kata Jonathan.


****


"Riko, besok kita berangkat ke kota ya... untuk mengurus paspor dan visamu semoga kamu bisa cepat pulang kembali ke tanah air."


Kakek Sanusi menemui Riko yang sedang membantu istrinya memungut telur-telur ayam di sangkarnya.


"Alhamdulillah...semoga Riko bisa cepat pulang ya kek, sudah berbulan-bulan Riko pergi sampai dikira meninggal sama semua orang."


Wajah Riko tampak berseri-seri dia sudah membayangkan bertemu dengan istri dan anak-anaknya.


"Tunggulah papah pulang mah, semoga kita bisa cepat bertemu lagi dan berkumpul lagi."


Sementara Sania di indonesia...


Sania sedang bersiap pagi itu untuk berangkat ke kafe seperti janjinya tempo hari pada para karyawan kafe.


Sania bermaksud mengecek langsung pembukuan, sampai stok bahan-bahan makanan yang diperlukan kafe tersebut.


Mungkin jika dia selalu menyibukan diri setiap hari seperti ini dia bisa belajar melupakan Riko dan mengikhlaskan kepergian Sultan.


"Bunda berangkat ke kafe dengan siapa?" tanya Dina yang juga tengah bersiap untuk berangkat ke sekolah.


"Apakah tante Tini dan suaminya juga akan mendampingi bunda selama beberapa hari ini?" tanya Dina.


"Tentu saja Dina juga pastinya akan dibantu oleh karyawan lainnya...tak mungkinkan bunda langsung dilepas sendiri."


"Semangat ya bun, semoga hari ini dan kedepannya sukses!!" Dina memberi pelukan semangat untuk bundanya.


"Nanti malam Dina juga akan membantu untuk menyumbangkan suara Dina lagi seperti dulu...jadi kita tidak perlu merekrut penyanyi dari luar." katanya antusias.


"Memang kamu sanggup??? seharian belajar terus malamnya nyanyi lagi?" tanya Sania.


"Insya Allah bunda, Dina sanggup kan Dina tidak sendiri...Juned dan Syifa itu suaranya juga bagus dan merdu, suaranya bunda juga sangat bagus jadi kita bisa bergantian menyanyi menghibur pengunjung kafe...semoga pengunjungnya akan selalu ramai."


Sania menggunakan motor maticnya untuk tiba di tempat tujuan.


Memang siang hari kafe itu hanya dijadikan tempat makan biasa, tempat nongkrong dan kumpul-kumpul juga biasanya digunakan orang-orang kantor untuk mengadakan acara ataupun pertemuan dengan kolega bisnisnya.


Baru setelah menjelang malam suasananya diubah menjadi nuansa melow dengan diiringi musik dan diiringi lagu-lagu.


"Akhirnya kamu datang juga, selamat datang dan selamat bergabung dengan kami semua di kafe ini ibu Sania!!" sapa Tini.

__ADS_1


"Semoga dengan bergabungnya ibu di sini akan memberikan ide-ide kreatif yang juga akan memajukan kafe ini."


Mereka saling berkenalan satu dengan yang lain untuk lebih mengakrabkan diri.


Sania juga berencana untuk menambah menu baru di kafe tersebut agar pengunjung bisa lebih di manjakan oleh cita rasa yang berbeda.


*****


Sudah beberapa hari ini Sania nampak di sibukan oleh pekerjaannya yang baru. Anak-anaknya pun juga turut ikut membantu bundanya.


Della sangat senang melihat perkembangan Sania yang tidak lagi murung dan mengurung diri saja di kamarnya.


Siang dia pulang ke rumah atau Della yang akan membawa si kembar dan Raftar ke kafe.


Terkadang Niko juga Jonathan berkunjung ke sana untuk sekedar makan siang atau mengajak Raftar dan si kembar bersama Della ke sana.


Kak Della sekarang tampak akrab dengan Jonathan. Mereka sering mengasuh anak-anak berdua.


Hubungan Niko dan Sania juga lebih membaik tidak seperti dulu yang selalu terlibat perang nuklir di antara keduanya.


Juma dan Dina juga tidak lagi bermusuhan. Mungkin mereka melihat orang tuanya sudah akur sehingga tak ada lagi untungnya bagi Dina untuk meneruskan permusuhan ini.


"Kamu capek?? istirahatlah dulu...setelah keringat yang menempel di tubuhmu mengering baru kamu pergi mandi!!" kata kak Della menyambut Sania di ruang tamu.


"Miko, Miki dan Raftar kemana kak? kok sepi apa mereka sudah tidur?" tanya Sania pada kakaknya.


"Mereka ada di rumah kakeknya...tadi sore Jonathan dan Niko menjemput mereka katanya mau jalan malam mingguan."


Sania hanya menggeleng-gelengkan kepala saja mendengarnya.


"Terus Dina, Juned sama Syifa apa sudah tiba di kafe?" tanya Della.


"Tampaknya mereka selalu antusias dan bersemangat untuk menyanyi ya!!" kata Della.


"Ya asal jangan mengganggu pelajaran mereka saja, kak...terutama Syifa kurangi jadwalnya nyanyi di kafe, fokus juga sama pelajarannya karena sebentar lagi dia akan ujian."


Setelah mandi Sania berniat untuk melanjutkan membaca buku harian milik Sultan yang dia simpan di bawah bantalnya.


Dia menarik napas panjang terlebih dulu sebelum membuka buku diary itu. Sesaat kerinduannya pada lelaki berkulit hitam manis itu tiba-tiba muncul mengisi ruang kepala dan hatinya kembali. Seolah dia merasakan Sultan sedang duduk di sampingnya, menemani dia ngobrol seperti biasanya, mendengarkan semua keluh kesahnya walaupun sekarang mungkin versinya yang berbeda.


Mungkin sekarang dalam dunianya yang berbeda, Sultan hanya mampu mendengarkan curhatan dan keluhan serta isak tangis Sania tanpa mampu menyentuhnya lagi seperti dulu.


*


*


***Bersambung...

__ADS_1


"Alam kita kini boleh berbeda, aku bisa melihatmu tanpa kamu bisa melihatku...aku bisa melihatmu tanpa aku bisa menyentuhmu, tetapi ijinkan aku untuk bisa melihat senyuman manis yang selalu terukir di bibirmu."


Mohon dukungannya selalu ya guys...like, komen, vote, favorit dan ratenya selalu kunantiπŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ™πŸ™


__ADS_2