Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 91 Serba Salah


__ADS_3

Mataku mengawasi Juned dan Syifa yang sedang bermain pasir, tapi pikiranku tak tau entah di mana.


Kuaktifkan kembali ponselku. "Wih...panggilan tak terjawab puluhan banyaknya, dari Miko dan dari mas Sofwan." Aku bergumam.


Kuabaikan mereka semua. Rasanya aku ingin kembali pulang ke rumahku yang dulu. Kangen rasanya sama suasana di sana.


Drrttt...ddrrttt...


Kulihat siapa yang menelpon. Mas Sofwan.


"Halo assalamualaikum...ada apa mas?"


"Kamu di mana? Dari semalam mas hubungi ngga bisa."


"Aku ngga kemana-mana, mas..."


"Hari sabtu besok, mas akan pergi ke Yogya... mungkin seminggu mas Sofwan di sana."


"Sebenarnya kalau tadi kamu belum bisa mas hubungi, mas mau nekat datang ke rumah Miko menemuimu dan anak-anak."


"Iya, mas..." Jawabku


"Kok suaramu terdengar serak, tho... dek? Kamu habis menangis?" Jujur sama mas, ada apa? Apa berkaitan dengan ke pulangan Miko dan wanita itu?"


"Ini sekarang kamu di mana? Kok mas mendengar suara deburan ombak?"


"Aku sama Syifa dan Juned main di pantai, mas!!"


"Terus Dina?"


"Dina ya masih sekolah tho... mas!!!"


"Miko sudah membawa wanita itu pulang ya, dek!!"


"Sudah mas, kemarin...dan mereka mengakui sudah menikah siri di Singapura sana."


Hati Sofwan miris melihat nasib mantan istrinya. Dia mengepalkan tinjunya. "Awas kau Miko, jika terjadi sesuatu pada Saniaku, kubunuh kau..."


"Aku mengikhlaskan dia menikah denganmu, bukan untuk kamu sakiti...tapi untuk kamu cintai dan sayangi, melanjutkan tugasku untuk menjaga dia."


"Seandainya kamu tau Miko... hingga detik ini aku masih sangat mencintainya."


"Mas janji, sepulangnya dari Yogya...mas akan langsung menemuimu dan anak-anak."


"Terserah mas Sofwan saja!!" Kataku.


"Sudah ya mas, aku mau menjemput Dina dulu...Assalamualaikum"


""Waalaikum salam cintaku" Bisik Sofwan pedih.

__ADS_1


Karena hari ini jumat, Dina pulang cepat. Jadi hanya sebentar kami di pantai lalu aku menjemput Dina di sekolahnya.


Dengan malas kuajak anak-anak pulang ke rumah. Baru mau masuk pagar aja moodku sudah ngga enak.


Ternyata benar, rupanya ayah dan Alena sedang duduk di ruang tamu. Mungkin dia mau makan siang di rumah. Yang membuatku semakin sedih, selama hampir enam bulan menikah, Miko tak pernah pulang makan siang di rumah. Kini setelah ada kehadiran Alena, Miko pulang pas jam istirahat.


"Salahkah aku cemburu? Bisakah aku terus berbagi cinta dan berbagi tempat tinggal dengan madu ku?"


Suara anak-anak yang berisik membuat mereka berdua menoleh kearah pintu.


"Halo...anak-anak ayah sudah pulang sekolah? Kok pergi tadi pagi ngga pamit dan salim sama ayah, sih?"


Anak-anakku langsung terdiam. Tidak seperti biasanya juga. Biasanya Juned dan Syifa langsung lari kepelukan Miko, sekarang mereka hanya diam saja berdiri mematung.


"Lho, kenapa berhenti? Ayo kita masuk...salim sana sama ayah..." Aku menegur anak-anakku.


"Ngga bun...kita ikut masuk sama bunda aja...kita tidak mau mengganggu ayah!!" Jawab Juned, pelan.


Suara Juned memang pelan, tapi bagaikan tamparan di wajah Miko. Hatinya mendadak sedih mendengar anak-anak berkata demikian.


Akupun juga langsung melewati Miko. "Bun, dari mana aja...kenapa pergi tadi pagi tidak pamit sama ayah?"


"Terus juga ayah telepon, ponsel bunda ngga aktif."


Lalu menyahutlah Alena. "Kak, sebagai istri yang baik kalau mau pergi kemana-mana itu izin sama suami, ini malah pergi diam-diam."


Aku yang memang sudah gondok dan jengkel jadi berhenti tepat di depan mereka. Melihat itu Miko mulai cemas.


"Bun..."Miko berdiri dan mendekatiku. "Sudah bun, nanti bunda sakit lagi seperti kemarin."


Miko mau meraih tubuhku tapi dengan cepat kutepis. "Tidak perlu yah...bunda sudah baikan...jangan ganggu bunda, bunda mau istirahat di kamar anak-anak."


Melihat itu Alena hanya tersenyum sambil mengangkat bahu dengan cueknya.


"Bun...kok istirahat di kamar anak-anak sih...ayah temani ke kamar kita ya..."


Aku tak menggubrisnya lagi, lalu melangkah menuju kamar anak-anak.


Miko ikut menyusulku ke kamar anak-anak. Sementara senyum licik menghiasi wajah cantik Alena. "Akan kubuat rumah ini jadi neraka bagimu, akan kuambil pelan-pelan bang Miko darimu."


"Bun...tunggu ayah dong...kita ke kamar aja yuk..."


"Ayah...ayah pulang mau istirahat dan makan siang di rumah bersama istri baru ayahkan? Ya sudah...makan siang sana...jangan lupa sholat Jumat..."


"Bukan begitu bun...bun..."Suara Miko terhenti saat aku mengangkat tanganku untuk memberhentikan pembicaraannya.


"Cukup yah...bunda lelah mau istirahat...kembalilah keluar, temani istrimu."


Miko tau...kalau sudah bicara begitu, tidak ada apapun yang bisa merubah pendirianku. Akhirnya dia mengalah lalu keluar lagi.

__ADS_1


"Alena...sehabis makan siang, abang mau sholat Jumat sekalian berangkat kerja lagi."


Bibi memandangi wajah tuannya dengan perasaan iba. Jelas sekali kalau Miko sangat tertekan dengan keadaan ini.


"Kok makannya tidak dihabiskan, pak? masakan saya tidak seenak ibu, ya..."


"Enak kok bi, cuma saya aja yang tidak selera makan...perut saya masih terasa mual."


"Biasa memang begitu pak, ibu kan sedang hamil dan bapak yang ngidamnya...nanti juga akan berhenti sendiri."


"Bang...Alena juga mau hamil seperti kak Sania dong..."


Miko mendelik kearah Alena..."Ngomong apa sih kamu Alena??? Kok malah ngelantur jadinya."


"Kan Alena istri abang juga..."


"Tau ah..." Miko berdiri menyudahi makannya.


"Abang mau kembali ke kantor lagi...kamu jangan cari masalah dengan Sania ya...abang tidak mau dia stres yang akan berakibat buruk pada kehamilannya."


Miko melewati kamar anak-anak dan berhenti di sana. Dia membuka sedikit pintu kamar dan mengintip ke dalam. Dilihatnya anak-anak sedang bermain sendiri, sementara di atas pembaringan, dia melihat istrinya sedang tidur meringkuk di sana.


Karena posisi tidurnya menghadap pintu, Miko jadi leluasa memandang wajah ayu yang sedang tertidur itu.


Wajahnya pucat dan kedua matanya masih terlihat sembab dan bengkak karena kebanyakan menangis.


Syifa menoleh kearah pintu. "Kok ayah beldili saja di situ? Kalau mau masuk, ya masuk saja!!!"


"Tapi jangan belisik ya, ayah...bunda balu saja teltidul...sejak pagi bunda menangis telus."


Hati siapa coba yang tidak akan sedih...anak berusia tiga tahun itu sudah mengerti keadaan ibunya.


"Syifa sini...ayah mau tanya?" Syifa berdiri lalu mendekati Miko.


"Ayah mau tanya apa?"


"Sejak pagi habis mengantar kak Dina dan bang Juned...Syifa sama bunda pergi ke mana lagi?"


"Bunda sama Syifa pelgi ke lumah tante Tini...bunda nangis telus di sana...habis itu jemput bang Juned telus kita main di pantai, lalu jemput kak Dina...telus pulang."


"Bunda sama Syifa tadi sudah makan?"


"Syifa sih makan di lumah tante tapi bunda ngga makan...pas tadi makan bakso aja, bunda makannya cuma dikit."


"Jadi bunda ngga makan nasi mulai pagi?" Syifa hanya menggeleng.


Ingin rasanya dia mendekat dan memeluk tubuh yang tertidur dengan posisi meringkuk itu. Dia ingin berbagi kesedihan seperti dulu, tapi tampaknya sekarang sudah tak mungkin lagi.


***Bersambung...

__ADS_1


Selalu minta dukungannya ya readers...like, komen, vote dan favoritnya...terima kasih🙏🙏🙏***


__ADS_2