Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 50 Dirawat


__ADS_3

"Nah kan aku bilang apa, Ko? Aku pasti dirawat...aku jadi lesu mendengarnya."


Terbayang gimana jadinya anak-anak di rumah tanpaku."


"Sudah beb...kamu tenang aja...nanti anak-anak kubawa ke rumah sementara, yah kalau kamu mau selamanya juga ngga apa-apa sekalian kamu jadi istriku."


"Miko...."


"Kenapa beb...apa kamu tak mau menikah denganku? Masih adakah dia di hatimu?"


"Aku mau, Ko...tapi tidak dalam waktu-waktu dekat ini ya..."


"Yah...padahal aku sudah kebelet..." Miko cemberut.


"Kalau kebelet ya ketoilet sana...kok lapor ke aku..."


"Kebelet mau itu baby....Miko menunjuk ke bawahku..."


"Nah...Nah...kurang ajarnya tangan itu...nunjuk sembarangan aja."


Miko cengengesan saja...aku memang sudah ngebet beb...dan bohong kalau kamu bilang kamu juga ngga kebelet..."


"Hihhhh gemesnya aku sama Miko ini...ngga taukah dia, aku ini lagi sakit?"


"Permisi pak...ibunya mau saya ambil darahnya dulu ya..." Perawat masuk ke ruangan kami.


"Oh silakan sus...Miko berdiri dan pindah ke samping kanan."


Kulihat si suster cantik sebentar-sebentar mencuri pandang kearah Miko yang sedang menelpon.


"Sudah ya bu...pak...darahnya mau dibawa kelaboratorium dulu...hasilnya malam, paling lambat besok ya..."


"Terima kasih ya suster..." Dia mengangguk sambil tersenyum dan keluar.


"Ko....aku memanggilnya...."


"Hmmmm....ada apa beb...kamu perlu sesuatu?"


"Suster tadi cantik ya? Hmmm...terus kenapa???"


"Dia sering melirikmu..."


"Ya biar aja...dia kan punya mata...yang penting aku ngga..."


"Ngga apa, Ko? Ngga salah lagi kah???"


Aku tau Miko tipe orang yang ngga suka digoda. Kutunggu saja pasti sebentar lagi dia akan ngomel...


"Ngomong apa sih beb??? Nah...Nah..benarkan...suaranya mulai meninggi tanda dia mulai kesal."


"Aku ngga suka ya...kamu membicarakan perempuan atau laki-laki lain di depanku."


"Aku tidak butuh mereka, aku hanya butuh kamu."


"Ternyata belasan tahun berlalu tidak membuat sifatnya berubah...aku sedikit lega...memang Miko dan mas Sofwan berbeda...kalau Miko langsung marah jika digoda soal perempuan lain, tapi kalau mas Sofwan dulu hanya senyum-senyum saja."


"Iya sayang...maafkan aku...aku memeluk mesra lehernya dan menciumi pipinya.

__ADS_1


"Aku lagi telepon bibi, supaya menjemput anak-anak dibawa ke rumahku."


"Tadi juga aku sudah pesan sama mereka bertiga, kalau ibu sama ayah Miko sampai siang ngga pulang, itu berarti ibu Nia dirawat di rumah sakit."


"Jadi mulai malam ini sampai ibu Nia sembuh, mereka tinggal bersama bibi di rumah."


"Besok biar aku yang akan mengantar Dina ke sekolahnya yang baru ya, beb..."


"Terima kasih atas semua kebaikanmu pada keluargaku ya, Ko...hanya Allah yang akan membalasnya kelak."


"Kamu sekarang tidur dan istirahatlah...aku sambil mengerjakan laporan untuk besok ya..."


*


*


"Miko...aku bosan di kamar terus...bisakah kamu mengantarku ke taman rumah sakit, supaya aku bisa menghirup udara segar?"


"Aku ingin merasakan segarnya udara sore di luar."


"Oke tuan putri...whatever you want..."


Aku dan Miko berjalan bergandengan di sepanjang koridor rumah sakit menuju taman belakang.


"Apa yang masih kamu rasakan beb?"


"Badanku masih lemas dan kepalaku masih agak sakit, tapi kalau dibawa rebahan terus rasanya bosan juga."


"Kok tumben taman agak sepi ya beb..."


"Iya ya...mungkin pasien pada malas keluar sudah sore begini...karena udaranya juga agak dingin."


Deg...."Itukan mas Sofwan dan wanita di sampingnya itu kan yang kemarin bersamanya di warung lalapan."


Aku melihat perutnya yang agak membuncit di balik dasternya. Malam kemarin karena agak remang dan mereka sedang duduk, jadi tak kelihatan kalau wanita itu sedang hamil muda.


"Mataku memanas, hatiku kembali perih melihat kenyataan yang kulihat di depanku."


Miko menyadari itu, dengan cepat dia merangkulku dan membawa aku pergi dari sana.


Terlambat...mereka berdua yang di sana melihat kearah kami dan berjalan menuju tempatku dan Miko berdiri.


"Selamat sore...." Dengan senyum khasnya mas Sofwan menyapa kami berdua.


"Kalian yang kemarin malam ada di warung lalapan kan?" Wanita cantik itu ikut menyapa.


"Iya...Siapa yang sakit?" Miko juga balas bertanya.


"Istri saya mas....tadi malam ngeplak parah, saya takut berpengaruh pada kandungannya."


"Ini anak pertama kami mas, jadi kami harus ekstra menjaganya."


Badanku bergetar hebat, aku berusaha menahan air mataku sebisa mungkin.


"Kalau mbaknya sakit apa? Sofwan menyapaku sambil tersenyum, sepasang lesung pipit di pipinya kulihat semakin dalam."


Aku dan dia bertatapan. Tapi Miko cepat menyela, "Istri saya terkena malaria...untung cepat terdeteksi jadi bisa cepat ditangani."

__ADS_1


"Kok bisa mas...di sekitar rumah banyak genangan air atau dekat sungaikah? Istrinya ikut bicara."


"Iya... di samping rumah kami waktu itu dekat kolam kangkung, sela Miko."


"Kolam kangkung?" Sofwan tampak mengerenyitkan dahinya... di dalam bayangannya ada suara tawa dan canda anak-anak dan selintas ada seorang wanita yang berdiri sedang memanggil mereka.


Tapi wanita itu berdiri membelakanginya, dan anak-anak itupun hanya terlihat samar-samar.


Dan itu juga yang sering berulang-ulang di mimpikannya.


"Kenapa pah? Kepala papa sakit lagi? Wanita cantik itu tampak khawatir."


"Ngga apa-apa mah...kita kembali keruangan aja yuk..."


"Maaf ya mas...Saya dan istri saya balik keruangan dulu."


"Oh iya...kita sudah dua kali bertemu, siapa namanya? Sofwan menjulurkan tangan pada Miko."


"Jatmiko....dan istri saya Sania..."


"Sofwan...dan istri saya Anggita..."


"Siapa tadi nama istrinya mas? Anggita bertanya."


"Sania....kata Miko mengulangi..."


Raut wajah mas Sofwan tampak biasa saja, berbeda dengan wanita di sampingnya...keningnya mengerenyit seperti mengingat-ingat sesuatu.


Aku sepertinya pernah mendengar nama itu, tapi di mana ya...?"


"Ya sudah mbak Anggita dan mas Sofwan, kami juga balik keruangan dulu ya...istri saya badannya menggigil lagi terkena angin sore."


Agak limbung aku berbalik, untung Miko cepat merangkulku sehingga aku tidak sampai jatuh.


Lama Sofwan memandangi Miko dan Sania sampai mereka hilang di belokan koridor.


"Aku sepertinya tak asing dengan tatapan mata itu."


"Mata yang memancarkan kelembutan dan kehangatan."


"Aku seperti kenal dan pernah melihatnya...tapi di mana? Aku sungguh-sungguh tak bisa mengingat semuanya."


"Ayo pah...kita balik yuk...hari sudah mau senja..."


Anggita menggandeng tangan Sofwan masuk kedalam.


"Kamu baik-baik saja, sayang?"


Aku menoleh pada Miko. "Aku bohong jika aku bilang aku baik-baik saja, Ko!!"


"Aku heran, kenapa dua hari ini kita harus berturut-turut bertemu dengan mereka ya?"


"Allah sedang menguji hatimu...apakah kamu memang sudah bisa move-on darinya atau hanya sekedar kata-katamu belaka."


Aku diam mendengar ucapan Miko barusan. "Benarkah aku belum bisa move-on dari mas Sofwan?"


***Bersambung....

__ADS_1


Happy reading....Semoga suka dengan ceritanya...Dan jangan lupa terus mengingatkan like, Komen, vote dan favoritenya jika berkenan...Terima kasih🙏🙏🙏***


__ADS_2