Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 136 Kenangan Nasi Mawut


__ADS_3

"Kalau Sofwan masih memaklumi yah, tapi tolong Aisyah jangan dibentak seperti itu...kasihan nanti terganggu pada perkembangan mentalnya."


Aku menggendong Aisyah lalu membawanya masuk ke kamar setelah sebelumnya aku menatap Anggita yang kupikir sudah kelewatan.


Sudah hampir dua bulan ini juga kami tak lagi pernah bertegur sapa. Aku juga malas menyapa duluan kalau ujung-ujungnya hanya bentakan dan caci maki yang aku terima dari istriku sendiri.


Sebenarnya aku ingin membawa Aisyah keluar dari rumah ini, tapi eyang kakungnya terlalu sayang pada Aisyah sehingga dia tidak mengizinkan kami pergi.


Demi Aisyah aku harus kuat. Karena sebenarnya berkali-kali Anggita mengusirku dari rumah ini bahkan memintaku untuk menceraikannya. Aku memang tak pernah mengatakan kepada ayah mertuaku tentang semua itu. Aku terlalu menghormati dan menyayangi beliau seperti ayahku sendiri.


Hanya mba sri dan bibilah yang tau bagaimana kasarnya perkataan Anggita yang sering dilontarkannya padaku.


Terkadang aku berpikir, mungkin inilah karma yang telah aku terima karena dulu telah menyia-nyiakan istri dan anak-anakku.


"Ah...sedang apa mereka dan bagaimana kabar mereka sekarang ya?? Apakah mereka baik-baik saja?"


Sekembalinya aku dari Balikpapan waktu itu, aku tak pernah lagi sempat menghubungi mereka. Waktuku hanya habis mengurus kerjaan dan mengurus Aisyah.


Kupikir juga sekarang Sania sudah bahagia karena dia sudah bersama Miko kembali.


*


*


"Hei papa muda...melamun aja kerjaanmu, apa sih yang kamu pikirkankan bro??"


Sandro dan Adit temanku satu kantor menepuk pundakku keras.


"Apa kamu masih memikirkan ucapan Anggita itu, Wan?" Tanya Sandro.


"Iya San, rasanya aku tertekan banget ada di rumah...aku ingin keluar dari sana tapi kasihan sama putriku."


Ke dua temanku ini tahu persis bagaimana kasarnya Anggita jika menghardikku dan membentakku.


"Kamu diperlakukan seperti bukan seorang suami saja."


"Mestinya Anggita itu bersyukur dalam keadaan cacat begitu, suami masih merawat dan masih mau bertahan dalam kondisi dan situร si begini."


"Coba aku yang diperlakukan sepetti itu, sudah kucari selingkuhan di luar rumah...toh punya istri cacat tak bisa melayaniku lagi, jahat pula tutur katanya." Sandro menggerutu dengan kesal.


"Itukan kamu San, kalau Sofwankan beda...dia tipe suami yang setia." Timpal Adit.


"Aku juga tipe suami setia, Dit!!"


"Iya San kamu tipe suami setia, setiap tikungan ada." Adit tertawa mengekeh.

__ADS_1


Aku hanya tersenyum saja mendengar ocehan ke dua sahabatku ini. Kami bertiga sama-sama pindahan dari kantor yang ada di Balikpapan...dan di mutasikan kemari.


Adit baru saja menikah sementara Sandro masih memilih menjomblo sampai sekarang. Dia tak mau direpotkan dengan urusan pernikahan, katanya.


Apalagi dia melihat riwehnya urusan rumah tanggaku, belum lagi Gita istri Adit yang posesif.


"Hei...besokkan kita libur tuh, Gita juga lagi pulang ketempat orang tuanya, kalian mau ngga kita pergi keluar, yuk!!"


"Makan, nonton atau apapunlah itu!!" Seru Adit.


"Kalau aku sih oke-oke aja, secara lho ngga ada yang akan marah sekalipun aku tidak pulang ke rumah entah kalau duren yang satu ini!!" Sandro memonyongkan bibirnya padaku.


"Duren apanya sih San? Sofwanlah masih punya istri." Timpal Adit.


"Gimana Sofwan? Ayolah kita refresing menghilangkan penat di kepala kita." Adit dan Sandro kembali membujukku.


"Okelah...tapi ngga lamakan? Kasihan putriku kalau lama-lama di tinggal dengan pengasuhnya." Akhirnya aku menyetujuinya.


Akhirnya kami sepakat besok sore mau jalan bertiga.


***


Aku naik motorku dengan santai, aku hari ini sengaja pulang pergi naik motor karena suasana jalan di kota Yogyakarta ini sering macet di kala sore begini.


"Kok tiba-tiba aku pengen makan nasi mawut ya?? Ah, sebaiknya aku mencari warung penjual nasi goreng, biasanya kan jual nasi mawut juga." Gumamku.


Aku sudah sampai di warung penjual nasi goreng Arema. Aku ingat sewaktu di Balikpapan dulu, biasanya nasi goreng arema selalu memanjakan lidah dan harganya pun pas di kantong.


Aku memesan dua porsi nasi mawut, satu untukku satu dibungkus untuk Aisyah nanti.


Sudah lama juga aku tak makan nasi mawut ini. Nasi mawut adalah kesukaan Sania, selalu itu ke itu saja yang di pesannya apalagi saat hamil Dina, hampir setiap hari pesanannya nasi mawut...aja!!


"Mas kangen sama kamu dan anak-anak, dek!!" Sekarang kita sudah terpisah jauh, mas lah yang telah membuat kita jadi terpisah seperti ini."


Gara-gara nasi mawut ini jadi membangkitkan kenangan tentang mantan istriku.


Aku lagi asyik menyantap makananku sambil melamun membayangkan Sania yang lemah lembut berada makan bersamaku.


Tiba-tiba...


"Bangkunya kosong ya, mas?" Sebuah suara menyapaku.


Aku yang melamun jadi tersentak kaget. Aku mendongak mencari asal suara yang menyapaku.


"Astaghfirullah..." Kembali aku jadi terkejut lagi.

__ADS_1


"Sania?"


Wanita yang berdiri di sampingku mirip banget dengan Sania.


"Maaf mas, saya Dewi bukan Sania...saya mau minta mas nya untuk geser dikit, saya mau duduk."


"Oh maaf ya mba, silakan duduk...saya sebentar lagi makannya selesai kok."


"Maaf ya mba, tadi saya pikir mba Dewii itu Sania...habis mirip banget, yang membedakan cuma rambutnya."


"Iya, ngga apa-apa kok mas, oh iya dengan mas siapa?" Tanya Dewi.


"Sofwan Prayoga..." Aku berinisiatif mengulurkan tanganku terlebih dulu.


"Pasti ada kenangan terindah dengan Sania ya mas, sampai-sampai saya disangka mas Sofwan adalah Sania."


Sofwan tertawa miris. "Dia mantan istri saya, mba!!" Ujarku.


"Oh, maaf sebelumnya ya mas!!" Dewi tampak ngga enak hati.


"Saya sudah selesai, saya duluan ya mba Dewi..." Pamitku padanya.


"Oh, mari mas silakan."


Aku keluar menenteng sebungkus nasi mawut untuk Aisyah di rumah, semoga dia belum tidur jadi aku bisa menyuapinya.


Sepeninggalku...


"Mas Sofwan itu orangnya ganteng banget, kok bisa bercerai dengan istrinya, ya?? Ah pasti mereka sudah tidak lagi berjodoh." Dewi bertanya dan menjawab sendiri pertanyaannya.


Saat aku pulang Aisyah lagi duduk di depan televisi menonton kartun kesayangannya.


"Assalamualaikum, Aisyah Khumairah anak papa yang cantik!!"


"Waalaikum salam...papa bawa apa?" Dia bangkit dari duduknya dan mencium punggung tanganku.


"Papa bawa nasi mawut, papa suapi ya!!" Aisyah langsung mengangguk cepat.


Putriku ini tak pernah memilih-milih makanan, dia selalu memakan apapun yang disajikan bibi atau jika aku lagi membawa makanan begini. Dia pasti memakannya.


Terkadang aku kasihan pada Aisyah, dia tumbuh dan lebih cepat dewasa dari usianya sendiri. Apalagi bicaranya memang sudah tidak cadel lagi.


Mungkin dia mengerti bagaimana keadaan mamanya. Mama yang sudah tidak peduli lagi padanya.


***Bersambung...

__ADS_1


Happy reading...dukungannya selalu ya readers...like, komen, vote, favorit dan rate nya...terima kasih๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


__ADS_2