Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 168 Bertemu Della


__ADS_3

"Apa sih Dina, itu lho gajimu waktu menyanyi di kafe om Sultan juga gaji bundamu." Kembali wajah Sultan memerah mendengar candaan gadis usil yang beranjak dewasa itu.


"Oh...kirain surat cinta untuk bunda!!" Dina tersenyum-senyum melihat wajah Sultan semakin merah.


Dina membuka amplop bagiannya.


"Lho om, ini terlalu banyak...kan honor Dina ngga sampai segini??" Dina sibuk membolak balikkan amplop di tangannya.


"Sudah ngga apa-apa kamu terima aja, kan bisa kamu belikan buku dan peralatan sekolah!!" Jawab Sultan.


"Terima kasih ya om Sultan, semoga om Sultan bertambah rejekinya dan semoga om Sultan berjodoh dengan bundanya Dina!!"


"Amin...Eh, maksudmu apa?" Sultan gelagapan masuk dalam jebakan kata-kata remaja cantik yang wajahnya semakin dewasa semakin plek ketiplek mirip sekali dengan Sania.


Dina tertawa geli melihat Sultan yang gelagapan sambil menahan malu.


"Sudah ah...om balik kesekolah om dulu ya...salam buat adik-adikmu, Dina!!" Ucap Sultan.


"Untuk bunda ngga dititipin salam om? Salam kangen kek, salam sayang kek!!" Kata Dina.


"Ngga usah macam-macam Dina, om ngga mau bermasalah dengan para ponggawa bundamu." Lalu Dina mencium tangan Sultan sebelum mereka berpisah.


"Alhamdulillah, dapat rejeki dari om Sultan!!" Dina mengucap syukur atas rejeki yang di dapatnya hari ini.


"Dina tau om Sultan orang yang sangat baik, om Sultan dulu selalu ada untuk kami di saat susah maupun senang...semoga saja om bisa mendapatkan wanita yang baik juga contohnya seperti bunda Sania, bundanya Dina...amiin!!" Ucap Dina.


*


*


"Pah...nanti sore kita main tempat bunda Sania yuk...ini kan hari sabtu, papahkan kerjanya hanya setengah hari ya pah!!" Aisyah tampak merengek pada Sofwan papanya.


Sebenarnya Sofwan mau banget kesana tapi dia sungguh tak enak dengan tatapan tajam Niko kala memandangnya.


Dia sadar dia bukan siapa-siapanya Sania lagi sekarang.


"Ayolah pah, kebanyakan mikir nih papah!!" Rengekan Aisyah semakin menjadi-jadi


"Iya...iya...sore kita kesana, pakai mobil saja sekalian kita ajak kakak-kakakmu jalan-jalan siapa tau bunda Saniamu mau ikut juga." Ujar Sofwan menenangkan putrinya itu.


"Asyik...jalan-jalan..." Seru Aisyah gembira sekali.


Sofwan hanya geleng-geleng kepala. Bahkan Aisyahpun malah lebih nyaman bersama Sania ketimbang dengan mamanya sendiri.

__ADS_1


"Dek...seandainya penyakit hilang ingatan ini dulu tidak menyerangku, tentu sampai sekarang kita masih bersama!!" Hati Sofwan menghangat saat mengenang kehidupan rumah tangganya bersama wanita baik hati itu.


"Papah...kenapa papah tidak menikah saja dengan bunda Sania? Kan Aisyah tidak kesepian lagi, di sana ada kakak-kakak...ada sikembar yang gemesin juga!!"


Uhuk...uhuk...


Sofwan terbatuk-batuk mendengar permintaan Aisyah barusan.


"Papah kan bilang bahwa papah sudah ngga sama mamah lagi, jadi papah bisa balikan lagi dong sama bunda Sania!!" Kata Aisyah dengan entengnya.


"Aduh...anakku ini pinternya...pinter banget malah!!" Sofwan bergumam sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Dia pikir menikahi Sania itu semudah membalikan telapak tangan apa?" Bibir Sofwan mengerucut.


"Sudah...sekarang Aisyah habiskan sarapannya dulu, sebentar lagi yang menjaga Aisyah akan datang dan papah juga mau siap-siap kekantor dulu ya!! Dengan pintarnya Sofwan mengalihkan pertanyaam Aisyah.


"Nanti sepulang kerja, kita bersiap tempatnya bunda Sania ya!!" Sofwan membelai rambut Aisyah.


Sofwan mengendarai mobilnya tidak terburu-buru karena ini juga hari sabtu jalanan di kota Balikpapan tidak terlalu padat di pagi ini karena sekolah negeri biasanya libur dan orang kantorpun banyak yang libur.


"Siapa itu duduk di bangku pinggir jalan? Kok kayaknya kenal tapi siapa ya? Mana pakaiannya compang-camping begitu?" Sofwan memperhatikan sambil mencoba mengingat-ingat kembali.


"Kok wajahnya mirip-mirip Sania ya? Coba aku berhenti saja, jadi penasaran!!" Sofwan menepikan mobilnya sambil terus memandang wanita yang duduk itu.


"Kak Della?" Sapa Sofwan.


Dia menoleh dan menatap Sofwan juga sambil berpikir.


"Siapa ya? Apa kita pernah saling mengenal?" Jawab wanita itu.


"Kamu kak Della kakaknya Saniakan?" Tanyaku.


Dia mengerenyitkan dahinya menatapku lama.


"Kamu suami adikku kan?" Akhirnya dia mengenali juga.


"Kak Della sedang apa duduk di sini?" Tanyaku.


"Aku mau pulang tapi tidak tau mau kemana...suamiku mencampakkanku bahkan aku tega menjual rumah yang telah adikku tinggali selama ini."


"Sania tidak bersamamu?" Dia melongokan kepalanya mencari-cari.


Aku menghela napas panjang.

__ADS_1


"Aku dan Sania sudah bercerai empat tahun yang lalu kak!!" Kataku pelan.


"Kok bisa? Terus kemana adikku itu setelah bercerai denganmu? Keterlaluan sekali kamu ini Sofwan, pasti kamu berselingkuh dari adikku ya?" Della menatap Sofwan dengan tajam.


"Aku bukan laki-laki seperti itu kak Della, panjang ceritanya sampai kami berpisah kak!!" Sofwan mencoba menjelaskan.


"Lalu di mana adikku sekarang Sofwan? Aku ingin menemuinya, aku ingin meminta maaf atas semua salah dan dosaku padanya dulu...sekarang aku sudah menerima karma dari semua perbuatanku." Sesal Della.


"Dia tinggal di rumah almarhum suaminya kak!!" Kata Sofwan.


"Almarhum suaminya? Maksudmu setelah berpisah denganmu dia menikah lagi lalu sekarang suaminya juga meninggal begitu?" Sofwan mengangguk mengiyakan.


"Kasihan adikku, berat sekali cobaan hidup yang dia alami selama ini."


"Siapa suami keduanya itu Sofwan?" Tanya Della lagi.


"Mantan pacarnya dulu sewaktu di SMA, kalau ngga salah dia pernah cerita dulu begitu."


"Miko?" Gumam kak Della.


"Kakak kenal juga?" Tanyaku.


"Sania itukan tidak punya teman laki-laki jadi aku tau dia memang tak pernah dekat dengan siapapun selain dengan Miko dan denganmu."


"Sofwan, bisakah aku minta tolong antarkan aku kepada Sania? Aku mau minta maaf, terlalu banyak kesalahan yang telah kuperbuat di masa lalu padanya...kasihan adikku itu." Della termenung mengingat semua kesalahannya.


"Begini saja kak, ini Sofwan baru mau berangkat kerja...apa kak Della mau ikut Sofwan langsung atau menunggu dulu?" Tawar Sofwan.


"Kalau menunggu aku harus menunggu di mana Sofwan? Tidak mungkin aku duduk sampai siang di sini!! Aku ikut kamu sajalah walaupun harus menunggu di pos security." Kata Della.


Dan Saofwan akhirnya menyetujui permintaan mantan kakak iparnya itu untuk ikut bersamanya kekantor.


Sofwan melirik Della yang duduk sambil termenung memandang keluar jendela mobil. Betapa dia ingat alangkah jahatnya dulu wanita itu pada Sania, Dina dan dirinya. Dengan teganya dia menggadaikan rumah peninggalan orang tua Sania diam-diam dan berfoya-foya sampai akhirnya rumah tersebut disita oleh pihak bank.


*


*


***Bersambung...


"Hayo siapa yang masih ingat Della? Itu ada diawal-awal cerita!!"


Jangan lupa mampir, baca kemudian tekan like, komen, vote, favorit dan rate nya🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2