Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 151 Akulah Penjaganya


__ADS_3

"Kak Sania...keluar kamu...jangan bersembunyi di belakang ipar dan mertua kita, jangan jadi wanita pengecut!!" Teriaknya menggema di seantero rumah yang megah itu.


Niko menggeram marah, dia tak terima jika Sania dikatakan seperti itu. Tapi Jonathan menahannya dan berusaha menenangkan emosi putranya.


"Ipar dan mertua kita? Sejak kapan ayah dan saya menjadi ipar dan mertuamu? Jangan mimpi kamu wahai wanita."


"Saya tak peduli siapa kamu dan apapun dulu statusmu dan Miko...andai saudaraku itupun masih hidup, saya yang akan menghalangi kamu dan dia menyakiti wanita malang itu."


"Sekarang pergi dari sini sebelum saya berbuat kasar padamu."


"Apa hakmu mengusir saya dari sini?" Geram Alena.


"Tentu saya berhak, Miko sudah mewariskan rumah ini kepada Sania dan anak-anaknya...dan Sania memberi amanat kepada kami untuk tinggal di rumah ini dan menjaganya dari kedatangan tamu tak diundang sepertimu.


"Saya juga berhak atas rumah ini karena bang Miko juga suami saya."


"Tak ada hak apapun kamu di sini, kamu hanya sekedar istri sirinya itupun dia sudah menceraikanmu, kamu adalah istri yang tak dianggap."


"Pergilah...kami sudah muak melihatmu sejak tadi, wanita yang tak punya adat sopan santun seperti orang yang tak berpendidikan saja."


"Orang yang tak mengenyam pendidikanpun masih tau menempatkan diri dan bersikap, tapi kamu? Saya heran, bagaimana bisa saudara kembar saya yang pintar dan punya jabatan tinggi di perusahaan tapi mau menikahi wanita tak jelas sepertimu."


Semakin tajam dan pedas kata-kata yang dilontarkan Niko pada Alena, membuat Alena terkesiap tak percaya pada ketajaman lidah laki-laki yang berdiri di depannya.


"Pergilah nyonya...jangan sampai Niko berbuat kasar padamu!! Dia Niko bukan Miko...dia mampu melakukan apapun untuk mempertahankan sesuatu yang disayanginya."


"Awas saja kau, saya tak akan tinggal diam...kupastikan kau dan juga wanita yang kamu bela beserta anak-anaknya ada dalam masalah besar." Sahut Alena teramat marah.


"Coba saja, sedikit saja kamu menyentuh kulit mereka, maka tangan saya sendiri yang akan membunuhmu...saya tak peduli walau harus di penjara seumur hidup sekalipun, kamu ingat-ingat saja itu."


Dengan gemetar menahan hawa amarah dan kebencian yang begitu besar, Alena pergi meninggalkan rumah itu.


Niko menatap kepergian Alena dengan tatapan dingin.


Jonathan hanya bisa mengelus dada. Dia tahu benar watak putranya yang satu ini. Hidup yang keras tanpa asuhan seorang ibu membuat Niko seperti ini.


Hidup yang serba kekurangan dan ditambah lagi kebutaan yang dialaminya selama belasan tahun membentuk Niko menjadi pribadi yang sangat keras.


"Ayah...kita harus membawa Sania dan anak-anak kembali kemari lagi."


"Niko takut akan terjadi sesuatu pada mereka...Wanita tadi, siapa namanya yah? Tampaknya juga tidak main-main dengan ancamannya."


"Wanita ini rupanya yang menyebabkan keretakan rumah tangga saudaramu dan hampir menyebabkan perceraian di antara mereka."


"Niko paling membenci jika ada seseorang yang telah merebut paksa kebahagiaan orang lain."

__ADS_1


"Aku yang kini menggantikan saudaraku untuk menjaga dan melindungi kalian dari siapapun"


"Aku harus membawa mereka kembali lagi ke rumah ini agar aku bisa selalu mengawasi mereka."


*


*


Alena yang marah melampiaskan kemarahannya dengan pergi minum ke bar.


Dia sangat marah dan membenci Niko. Bagaimana bisa laki-laki yang terlihat sangat ramah dan murah senyum itu bicaranya lebih tajam dari pada silet dan menusuk langsung ke dalam hatinya.


Lalu dia teringat lagi kata-kata Niko dan ayahnya yang mengatakan mereka adalah ayah dan saudara kembarnya.


"Bagaimana mungkin? Sepengetahuanku ayah Miko itu adalah Alvino Sarendra...tapi laki-laki tua itu tadi memang sangat mirip wajahnya dengan Miko dan Niko.


"Dan mereka bilang bang Miko sudah meninggal dua bulan yang lalu?" Tiba-tiba kelopak mata Alena memanas. Bagaimanapun dia masih sangat mencintai mantan suami sirinya itu.


"Bang Miko, maafkan Alena yang tak ada di sisi abang saat abang menghembuskan napas yang terakhir."


"Alena masih cinta sama abang, bahkan hingga detik ini Alena tak pernah bisa melupakan malam saat kita bercinta dua tahun yang lalu."


"Kepa*rat kau kak Sania!! Kau apakan bang Mikoku?"


"Aku tak akan tinggal diam, aku harus membuatmu merasakan kepedihan seperti yang aku rasakan."


"Aku harus memata-matai rumah itu...agar aku bisa membuat perhitungan pada wanita yang telah mengambil orang yang kusayangi."


"Cantik...kenapa minum sendiri? Apa enaknya mabuk sendiri? Enak kalau kita mabuk bareng-bareng!!" Sapa seorang lelaki muda pada Alena.


"Aku suka pada lelaki dewasa, bukan berondong sepertimu...pergi kau sana bocah!!" Alena menghalau laki-laki di depannya.


"Aku memang berondong tapi kalau soal urusan ranjang boleh kau bandingkan cantik, aku yakin aku lebih baik dari para lelaki dewasamu itu."


"Aku tidak percaya padamu, pergi kau sana aku tak ingin di ganggu."


Brownies itu menangkap tangan Alena dan mengecupnya berulang-ulang. Alena yang sudah mabuk terus menceracau.


"Mas saya bawa teman saya ini sebelum dia mengacau di sini!!" Si bartender hanya mengiyakan saja.


Kembali malam itu terulang seperti saat bertemu Faisal dulu.


*


*

__ADS_1


"Assalamualaikum!!"


"Waalaikum salam!!"


"Eh..om Niko, pagi banget jemput bundanya." Syifa membukakan pintu buat Niko.


"Belum kok sayang, om cuma ada perlu sama bunda sebentar."


Niko melenggang masuk dan langsung duduk di ruang makan seperti biasanya.


Di sana Dina, Juned dan si kembar sedang makan bersama.


"Makan om!!" Tawar Dina.


"Niko, pagi banget kemarinya...aku belum siap-siap...kan masih mau antar Juned dan Syifa sekolah dulu baru antar Dina."


"Aku ada sesuatu yang harus kubicarakan denganmu berdua, Nia."


"Tapi baiknya anak-anak mendengar juga sih!!"


"Memangnya ada apa sih? Kok sepertinya penting banget?" Aku mengambilkan nasi goreng buat Niko.


"Nia, kemarin saat aku dan ayah bersantai di teras...kami kedatangan tamu tak diundang." Dia berhenti sejenak lalu menyuap makanannya.


"Kamu tau siapa yang datang? Aku tak tau namanya tapi dia mengaku istrinya almarhum Miko."


Deg!!


Aku merasakan jantungku berdetak berkali-kali lebih cepat.


"Alena!!


Satu nama yang membuatku dulu harus pergi meninggalkan suamiku sendiri. Satu nama yang nyaris membuat kami bercerai.


Nama yang tak ingin kusebut lagi dan wajah yang tak ingin kuingat apalagi kulihat.


"Dia datang ke rumah dengan gayanya seperti yang punya rumah. Berteriak-teriak mencarimu dan Miko."


"Tentu saja aku sangat emosi, jika tidak mengingat dia seorang wanita...sudah kuhajar dia."


*


*


****Bersambung....

__ADS_1


Penjaga hati telah datang, perasaan apa sebenarnya yang tengah dirasakan Niko saat ini?


Jangan lupa jejak cintanya guys...like, komen, vote, favorit dan rate nya...😊😊🙏🙏


__ADS_2